Halo!

Pedang Ular Merah Chapter 63

Memuat...

"Huayen khan, aku adalah seorang gadis kang ouw pembasmi orang-orang jahat seperti kau mana bisa dibandingkan dengan isterimu? Agaknya kau selalu memandang rendah kepada setiap orang wanita, karena mengingat akan istrimu sendiri yang kau biarkan bermain dengan laki laki lain!"

Biarpun omongan yang dikeluarkan oleh Eng Eng ini disertai senyum simpul, akan tetapi tajamnya melebihi ujung pedang yang menikam dada Huayen khan dan Ang Hwa. Dua orang ini belum pernah dihina orang seperti ini, tentu saja mereka menjadi marah sekali. Huayen khan saking marahnya tidak dapat berkata sesuatu, hanya kedua tangannya saja yang bergerak secepat kilat dan lima batang anak panah melayang ke arah tubuh Eng Eng! Gadis ini memperlihatkan kepandaiannya yang benar-benar mengagumkan sekali.

Bagi orang lain, anak-anak panah itu datangnya amat cepat dan sukar sekali diikuti oleh pandangan mata sehingga amat sukar dilihat. Akan tetapi bagi Eng Eng, ia dapat melihat jelas datangnya anak panah ini. Dua batang melayang agak rendah, mengarah perut dari kanan kiri. Dua lagi mengarah dada dari kanan kiri dan sebatang lagi menuju ke arah kepalanya! Karena anak-anak panah ini datangnya berbareng maka Eng Eng lalu mengeluarkan suara keras dan tubuhnya bergerak amat mengagumkan dan mengherankan.

Sekali bergerak saja, kedua kakinya dengan tendangan berantai telah memukul runtuh dua batang anak panah, dan lagi yang menuju ke arah dadanya dapat ditangkap oleh kedua tangannya dan yang menuju ke kepalanya dapat dielakkan sambil menundukkan mukanya! Selagi semua orang terheran-heran, Eng Eng berseru lagi dengan nyaring,

"Keledai tua, kau makanlah sendiri anak panahmu!" sambil berkata demikian, dua tangannya terayun ke depan dan dua batang anak panah yang tadi ditangkap dengan tangannya kini melayang bagaikan kilat menyambar ke arah pemiliknya.

Huayen-khan masih bengong menyaksikan kelihaian Eng Eng menghindarkan diri dari serangan lima batang anak panahnya. Kini melihat sinar terang menyambar ke arah perutnya, ia kaget sekali dan cepat ia lalu melompat turun dari kudanya karena tidak ada jalan untuk menangkis atau mengelak lagi. Ia selamat dari tusukan anak panahnya, akan tetapi kudanya yang berbulu abu-abu meringkik keras lalu roboh, keempat kakinya berkelojotan lalu diam!

Ternyata bahwa Eng Eng melepaskan dua batang anak panah yang disambitkannya itu kedua jurusan, sebatang ke arah Huayen khan dan yang kedua ke arah kuda itu yang tepat mengenai dada dan menembus jantung! Bukan main marahnya Huayen khan melihat kejadian ini. Saking marahnya, ia sampai menjadi lupa mempergunakan pikiran sehat lagi. Bila ia tidak begitu marah, tentu ia dapat mengetahui bahwa gadis di depannya ini sama sekali tidak boleh dibuat permainan dan tentu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Akan tetapi ia sedang marah sekali dan nama Huayen-khan bukanlah nama yang baru saja muncul. Dia adalah seorang tokoh yang amat terkenal, bahkan bangsa Mongol dan Tartar sendiri merasa keder mendengar nama ini.

Orang-orang Mongol memberi julukan "Panah setan" kepadanya, sedangkan orang-orang Tartar memberi nama poyokan "Golok Peminum darah".

Tentu saja kini baru bertemu pertama kali sudah diperhina dan dipermainkan oleh seorang gadis muda, kemarahannya memuncak. Ia mencabut golok besarnya dan menerjang maju sambil berseru keras. Dalam kemarahan dan juga kesombongannya ia memandang ringan kepada lawan ini, sehingga ia lupa memberi aba-aba kepada pasukannya untuk menyerbu.

Oleh karena semua anggauta pasukannya amat takut dan taat kepada Huayen-khan yang galak dan keras, maka mereka tidak ada yang berani turun tangan dan hanya menanti sampai kepala mereka merobohkan gadis fihak musuh yang lancang dan berani itu. Akan tetapi ternyata kali ini Huayen khan kecele besar sekali. Baru saja goloknya menyambar, tiba-tiba berkelebat sinar merah dan ia merasa seakan-akan pangkal lengannya akan copot dari pundaknya!

Lengannya tergetar hebat dan matanya menjadi silau oleh cahaya api yang berpijar keluar dari goloknya yang beradu dengan pedang merah di tangan nona itu. Ketika ia cepat menarik kembali golok besarnya, ternyata golok besarnya itu rompal sedikit karena beradu dengan pedang itu. Bukan main kagetnya hati Huayen-khan. Golok besarnya adalah sebuah golok pusaka yang ampuh dan keras, bagaimana sekarang sampai dapat gempal sedikit ketika beradu dengan pedang nona yang nampaknya amat tipis dan tidak kuat itu? Akan tetapi Eng Eng tidak memberi kesempatan kepadanya untuk banyak melamun, karena segera pedang merah di tangannya itu berobah menjadi segulung sinar merah yang bergulung-gulung bagaikan seekor naga merah mengamuk!

Huayen khan bukan anak kemarin sore yang baru kali ini menghadapi lawan tangguh, maka ia cepat memutar goloknya, mengimbangi kecepatan gerakan lawan dan sambil menangkis dan mengelak, iapun membalas dengan serangan-serangan kilat yang tak kalah berbahayanya. Akan tetapi, baru bertempur lima belas jurus saja, seperti orang-orang lain yang pernah menghadapi Eng Eng dalam pertempuran, kepala Huayen-khan telah menjadi pening dan pandangan matanya kabur.

Ia menjadi bingung sekali karena sesungguhnya gerakan pedang dari gadis ini luar biasa anehnya. Tampaknya demikian kacaunya seperti orang mabok memutar pedang, tetapi di dalam kekacaubalauan ini tersembunyi daya tempur yang luar biasa kuatnya, gerakannya kacau, akan tetapi setiap serangan amat cepat dan berbahaya sedangkan ilmu silat pedang yang nampak kacau balau itu ternyata amat sukar untuk dipecahkan dan amat sukar untuk diserang.

Setelah ia dapat mempertahankan diri sampai dua puluh jurus, Ang Hwa yang melihat keadaan suaminya mulai terdesak hebat dan bingung oleh sinar pedang yang merah itu, menjadi tidak sabar. Sambil mengeluarkan suara keras ia lalu melompat turun dari kudanya, menghunus pedangnya dan menyerbu. Melihat betapa Eng Eng dikeroyok, piloko hendak turun tangan. Akan tetapi, Eng Eng berseru.

"Saudara Piloko, biarlah dua ekor anjing ini kau serahkan kepadaku. Lebih baik kau pimpin kawan-kawan untuk mengusir musuh-musuhmu itu!"

Piloko tidak berani membantah, maka ia lalu memberi isyarat kepada kawan-kawannya. Mulailah orang orang Cou itu bersorak sambil menyerbu orang-orang Ouigour yang tidak menyangka-nyangka sama sekali. Terjadilah perang tanding yang amat ramai dan hebat, perang tanding yang kacau balau di luar pintu gerbang dusun itu. Piloko dan isterinya mengamuk hebat, memimpin kawan-kawan mereka menyerbu musuh yang menjadi kacau karena tidak mendapat pimpinan dari kepala mereka. Adapun Huayen-khan dan Ang Hwa yang mengeroyok Eng Eng, tiba-tiba menjadi terkejut sekali ketika Eng Eng mengeluarkan pekik yang nyaring dan gerakan pedang merahnya makin hebat saja.

Sekali sabet sambil mengerahkan tenaga, golok di tangan Huayen khan patah sampai di gagangnya dan ketika kakinya terayun ke arah Ang Hwa, nyonya muda ini menjerit ngeri dan tubuhnya terpental sampai tiga tombak jauhnya. Baiknya Ang Hwa pernah mendapat latihan ilmu Iweekang yang cukup tinggi dari cabang persilatan Kun-lun pai, maka biarpun ia menderita luka di dalam lambung dan mulutnya mengeluarkan darah, namun ketika tertendang tadi ia masih sempat mengerahkan tenaga penolakan hingga lukanya tidak membahayakan nyawanya. Akan tetapi, sepak terjang Eng Eng ini sudah cukup membuat hati mereka menjadi gentar sekali.

"Serang dia!" seru Huayen khan kepada para pembantunya yang segera menyerbu dan mengeroyok Eng Eng. Sebentar saja Eng Eng dikeroyok oleh sepuluh orang Ouigour yang terkenal memiliki kepandaian lumayan.

Akan tetapi, begitu pedang Eng Eng menyambar-nyambar di sana-sini terdengar seruan kesakitan, disusul robohnya orang-orang yang mengeroyoknya. Dalam beberapa gebrakan saja Eng Eng telah membabat roboh lima orang pengeroyok dengan cara sama mudahnya dengan orang membabat rumput saja!

Huayen khan yang pergi menolong istrinya menjadi makin gelisah melihat betapa orang-orangnya banyak yang menjadi korban dan tewas dalam pertempuran itu. la segera memondong tubuh Ang Hwa yang masih pingsan dan melompat ke atas kuda putih, kuda tunggangan Ang Hwa yang terkenal baik dan cepat sekali larinya, lalu berseru.

"Mundur semua!"

Setelah memberi aba-aba mundur ini, Huayen-khan lalu membalapkan kudanya lari dari tempat itu. Piloko dan Yamani tidak berani mengejar, adapun Eng Eng yang tadinya ingin mengejar dan menewaskan dua orang itu, tidak mempunyai kesempatan karena ia masih dikeroyok dan dikurung oleh orang orang Ouigour. Ketika ia berhasil merobohkan tiga orang pengeroyok dengan sekali serangan sehingga yang lain menjadi jerih dan mundur, ternyata kuda putih yang ditunggangi oleh Huayen-Khan telah lenyap dari situ, hanya suara derap kakinya saja terdengar sudah amat jauh.

Orang-orang Ouigour ketika mendengar aba-aba yang dikeluarkan oleh Huayen-khan tidak mau membuang banyak waktu lagi, lalu melarikan diri meninggalkan mereka yang tewas dan terluka.

Pertempuran kali ini adalah pertempuran pertama yang mendatangkan kemenangan besar sekali bagi fihak bangsa Cou, maka tentu saja mereka menjadi amat gembira. Makin kagumlah semua orang terhadap Eng Eng, bahkan malam itu lalu diadakan perayaan untuk merayakan kemenangan itu serta untuk menghormati Eng Eng. Dalam perayaan ini, Piloko dan Yamani mengajukan usul, yakni mengangkat Eng Eng sebagai kepala suku bangsa Cou!

Akan tetapi Eng Eng cepat menolak dengan manis sambil berkata,

"Kalian ini sungguh keterlaluan. Bagaimana seorang gadis muda yang bodoh seperti aku hendak dijadikan kepala suku bangsa? Memang tak perlu kusangkal lagi bahwa mungkin dalam ilmu silat, aku mempunyai kepandaian paling tinggi diantara kalian semua. Akan tetapi, kepandaian silat saja masih belum bisa membikin orang menjadi seorang kepala suku bangsa! Bagaimana aku berani menerimanya? Untuk mengatur diriku sendiri yang sebatang kara ini saja bagiku masih amat membingungkan, bagaimana aku harus mengatur penghidupan ratusan orang? Ah, tidak, saudara piloko, maafkan saja, pengangkatan ini aku sama sekali tidak berani terima."

Tiba-tiba Piloko menangis sambil berkata dengan perlahan, akan tetapi terdengar oleh semua orang yang berkumpul di situ.

"Ah, memang nasib bangsaku amat buruk. Agaknya sudah menjadi takdir bahwa suku bangsa Cou harus lenyap dari muka bumi ini. Tadinya kita mengira bahwa Bunga Dewa akan membebaskan kita dari penderitaan dan kehancuran, akan tetapi setelah dia menolak, sama artinya dengan keputusan dari langit bahwa bangsa Cou harus lenyap. Kalau Suma Iihiap tidak mau memimpin kita, akhirnya tentu kita akan ditinggalkan dan..... kalau sampai terjadi hal demikian, lalu bangsa Ouigour atau bangsa lain menyerang kita, apa yang dapat kita lakukan? Sudahlah"memang sudah nasib kita yang amat buruk, keselamatan kita hanya tergantung kepada Suma lihiap saja dan sekarang dia tidak mau menerima permintaan kita""

Ucapan ini dikeluarkan dengan suara terisak-isak tertahan sehingga semua orang menjadi terharu dan di sana-sini terdengar suara tangis orang-orang perempuan, termasuk Yamani. Eng Eng menarik napas panjang.

"Saudara Piloko, kau tidak adil! Dengan omonganmu ini, bukankah berarti bahwa kalian hendak mengikat diriku disini? Aku sendiri sudah cukup menderita, hidup sebatang kara, tidak tentu tujuan, tidak tahu apakah yang akan terjadi dengan diriku, ditambah kalian hendak mengikat aku di sini, lalu apakah aku tidak berhak pula untuk mencari kebahagiaan hidup? Semenjak kecil aku sudah hidup penuh kepahitan, kegetiran, kesengsaraan dan sekarang"setelah aku berjasa.... ah, masihkah aku harus menambah beban hidupku dengan memikirkan kehidupan ratusan orang bangsamu"?"

Bicara sampai di sini, Eng Eng teringat akan keadaannya sendiri dan karena terharunya, menangislah gadis pendekar ini! Ia menubruk dan merangkul Yamani, lalu menangis tersedu-sedu, belum pernah ia menangis sesedih itu.

Gadis perkasa ini memang selamanya belum pernah menjadi demikian sedihnya, dan baru kali ini, di tengah orang-orang yang bersimpati kepadanya, yang memilihnya sebagai kepala, ia demikian terharu sehingga ia menangis dengan hati terasa bagai diremas-remas! "Diamlah, nak. Maafkan kami yang terlalu mengingat keadaan sendiri. Diamlah, anakku yang baik, kau memang pantas dikasihani." kata Yamani sambil mendekap kepala gadis itu. Eng Eng makin merasa terharu dan mendengar hiburan ini, tangisnya makin menjadi. Ia merasa betapa suara Yamani itu penuh dengan kasih sayang, dan ia yang selama ini merasa rindu akan kasih sayang seorang ibu, kini tiba-tiba merasa bahwa alangkah baiknya dan senangnya kalau Yamani menjadi ibunya!

"Tidak, tidak. Kalian tidak salah apa-apa, memang sudah seharusnya aku melindungi dan membantu kalian orang-orang baik dan tertindas ini. Biarlah aku menjadi anakmu, biarpun aku tidak menjadi kepala, akan tetapi sebagai anakmu aku akan membelamu. Siapa saja yang berani mengganggu ayah bundaku juga bangsaku, akan kuhajar habis-habisan!"

Ucapan ini dikeluarkan dalam bahasa Cou maka semua orang dapat mendengar dan mengerti artinya. Bukan main girangnya semua orang, terutama sekali Piloko dan Yamani sendiri. Mereka saling pandang dan hampir tak dapat mempercayai pendengaran mereka. Yamani lalu memeluk Eng Eng sambil berkata.

"Anakku... Eng Eng anakku sayang""

"Aku... dan juga kau, ayah. Jangan khawatir, aku akan memberi latihan ilmu silat kepada kawan-kawan kita. Sebelum keadaan kawan-kawan kuat dan boleh diandalkan, aku takkan meninggalkan kalian semua."

Bukan main girangnya Piloko mendengar betapa gadis pendekar ini menyebutnya ayah. Wajahnya berseri-seri. la merasa seakan-akan anaknya yang dulu telah meninggal dunia karena sakit kini telah hidup kembali. Matanya yang biasanya bermuram ini kini menitikkan dua butir air mata.

"Anakku, kau baik sekali. Terima kasih kepada Dewa yang agung yang telah mengirim bunga dewa kepadaku. Alangkah besar kehormatan yang kunikmati dapat menjadi ayah dari bunga dewa!"

Setelah berkata demikian, Piloko lalu berlutut dengan kedua tangan terangkat ke atas sebagai penghormatan dan pernyataan terima kasih kepada penghuni langit! Melihat hal ini, Yamani dan semua orang yang berada di situ, lalu ikut pula berlutut seperti yang dilakukan oleh Piloko.

Melihat kesungguhan wajah dan sikap mereka, Eng Eng merasa betapa tulang rusuknya menjadi dingin, maka iapun lalu ikut berlutut seperti yang dilakukan oleh ayah dan Ibu angkatnya serta sekalian orang Cou yang berada di situ.

Mulai hari itu, Eng Eng mulai melatih ilmu silat lebih lanjut kepada orang-orang Cou yang belajar makin giat dan rajin lagi sehingga mereka mendapat kemajuan pesat. Selama itu tidak nampak gangguan lagi dari fihak Ouigour sehingga orang orang Cou hidup dengan aman dan tenteram, menyangka bahwa Huayen-khan telah mendapat hajaran dan tidak berani muncul lagi. Akan tetapi dugaan mereka ini sebetulnya salah sekali, karena orang seperti Huayen-khan tak mungkin dapat mengalah begitu saja.

Baiknya hal ini dapat diduga oleh Eng Eng yang sengaja untuk sementara waktu tidak mau meninggalkan Piloko dan anak buahnya. Sementara itu, para penyelidik yang disuruh oleh Piloko untuk mencari jejak Sim Tiong Kiat seperti yang dikehendaki oleh Eng Eng ternyata kembali nihil. Mereka telah merantau ke selatan sampai ke kota raja, akan tetapi tidak dapat mencari pemuda itu di kota raja atau kota-kota lain.

Post a Comment