Kawanan penjahat kaget berbareng merasa lucu, hingga akhirnya mereka pada tertawa, sedang si orang she Tie sendiri nampaknya sangat bingung dan kuatir, dengan susah payah dia mencoba akan mengatasi diri, supaya ia bisa berdiri tetap.
"Jikalau kau berani, kau turunlah!" Ceng Ceng menggoda.
A Kiu ingat, itu adalah kata-katanya Hong Liu tadi. Ia bersenyum.
Melihat semua itu, See Thian Kong lantas berseru: "Tam Hiantee, kurunglah itu bocah! - lebih dahulu, singkirkan dia!"
Hu-ceecu itu kena disadarkan seruan orang she See ini, tidak lambat lagi, ia tiup terompetnya, maka semua berandal dari Shoatang hunus senjata mereka masing- masing, semua maju ke arah Sin Cie, untuk kepung anak muda ini.
Menampak ancaman itu, A Pa bersama-sama Ceng Ceng dan Ang Seng Hay dekati si anak muda, maka itu ketika kawanan berandal mulai menyerang, mereka bisa lantas menangkis. Seng Hay bersenjatakan golok, Ceng Ceng bergegaman pedang, tetapi A Pa, si empeh gagu, bertangan kosong, dan yang belakangan ini main cekuk sesuatu penyerangnya, untuk lempar-lemparkan tubuh mereka satu demi satu, hingga semua berandal jadi heran, hingga mereka jeri untuk mendekatinya. Mereka pun takut serang Sin Cie, yang berkelahi seperti si empeh gagu itu - dengan tangan kosong juga!
Sambil berkelahi, Sin Cie berlompat, hingga ia dapati See Thian Kong, siapa sedang rebah di tanah dengan dua orang jagai padanya. Dua orang ini lihat musuh datang, yang satu menyambut dengan goloknya, yang satu lagi segera gendong ketuanya, untuk diajak menyingkir.
Atas serangan golok, Sin Cie berkelit sambil mendak, kakinya bertindak terus, setelah molos dari serangan, ia sampai kepada penjahat yang satunya, yang gendong Thian Kong, begitu lekas ia jambret pundak orang, penjahat itu menjerit kesakitan, hingga lantas saja dia lepaskan ketuanya, maka dengan leluasa, pemuda kita tanggapi si orang she See, tubuh siapa ia kempit, untuk dibawa lari ke kereta besar, ke atas mana dia lompat bersama.
"Hai, kamu sayangi atau tidak jiwanya dia ini?" dia berseru pada semua berandal.
Semua berandal itu menjadi melongo, tidak ada satu juga yang berani bergerak.
Sin Cie memberi tanda kepada A Pa, lantas si empeh gagu menyerbu ke kalangan Ceng Tiok Pay.
Orang-orang Ceng Tiok Pay berdiam sedari tadi, menampak datangnya orang ini, mereka angkat senjata mereka, untuk meirntangi, akan tetapi A Pa telah dapatkan pelajarannya Bok Jin Ceng, dia tak takuti alat-senjata orang banyak itu, dia maju terus hingga ia dapat dekati Thia Ceng Tiok.
Dari tempatnya yang tinggi, Sin Cie awasi A Pa, yang segera bakal berhasil, ia merasa girang, akan tetapi tiba-tiba, ia tampak A Kiu, yang peluki tubuh ayahnya, numprah di tanah sambil menangis menggerung-gerung, hingga ia berbalik menjadi kaget. Ia insyaf, apabila si ketua menutup mata, sulit untuk ia urus anggauta-anggauta Ceng Tiok Pay itu. Maka ia lantas berseru: "Seng Hay! Lekas panggil pulang saudara A Pa!"
Seng Hay menurut, segera ia tinggalkan musuh- musuhnya, akan hampirkan si empeh gagu, di depannya dia ini, dia pun buat main kedua tangannya, atas maa A Pa segera menoleh kepada si anak muda.
Sin Cie geraki tangannya dengan cepat.
Melihat tanda itu, A Pa lantas kembali, akan hampirkan si anak muda.
"Pegang dia ini!" kata Sin Cie, yang serahkan See Thian Kong yang keadaannya seperti setengah hidup dan setengah mati.
A Pa sambuti itu orang tawanan. Sin Cie terus lari kepada A Kiu. "Bagaimana?" tanyanya.
"Suhu mati!. " jawab si nona sambil menangis.
Sin Cie periksa hidung orang, yang telah tidak bernapas, akan tetapi kapan ia pegang dadanya ia rasai jantung yang masih memukul perlahan-lahan.
"Jangan kuatir, aku nanti tolong dia!" ia bilang. Sin Cie baliki tubuhnya Thia Ceng Tiok, hingga ia bisa lihat lima batang paku yang nancap di bebokongnya, ialah sebab utama dari kecelakaannya jago itu tak perduli dia sebenarnya liehay dan tangguh. Untungnya darah sudah tidak keluar lagi.
Tidak ayal lagi Sin Cie totok jalan darah thian-hu-hiat dan yong-coan-hiat orang, menyusul mana darahnya jago itu lantas mulai jalan pula, maka selang sedikit lama, ia mulai sadar, kedua matanya bisa dibuka.
Bukan kepalang girangnya A Kiu.
"Suhu! Suhu!" ia memanggil, berulang-ulang.
Ceng Tiok dengar itu, ia ingat akan dirinya, ia manggut- manggut.
"Jadi dialah gurumu?" tanya Sin Cie. "Aku sangka dia adalah ayahmu."
Si nona manggut.
"Terima kasih untuk pertolongan kau," ia mengucapkan. Sementara itu, A Pa dengan diikuti Ceng Ceng dan Ang
Seng Hay dengan pondong tubuhnya See Thian Kong, sudah campuri diri dalam rombongan Ceng Tiok Pay.
Kawanan berandal Shoatang yang lihat pemimpinnya kena ditawan, sudah lantas maju untuk menolongi, akan tetapi percobaan mereka dirintangi oleh pihak Ceng Tiok Pay, hingga karenanya, mereka kedua pihak jadi bertempur dengan hebat, hingga dalam tempo pendek telah ada korban-korban jiwa dan terluka.
"Jikalau pertempuran ini berlanjut lagi sekian lama, mesti rubuh lebih banyak korban," kata Ceng Ceng kepada Sin Cie.
Si anak muda tidak menyahuti, dia Cuma bersenyum.
678 Sedang asyiknya pertempuran berlangsung, Tie Hong Liu yang masih berada di atas susunan peti besi telah terdengar seruannya: "Celaka! Tentara negeri mendatangi! Ribuan jumlah mereka! Lekas mundur! Oh, puluhan ribu jumlah mereka! Mundur, lekas mundur! Lekas!"
Chungcu dari Cian-liu-chung ini berada di tempat tinggi, tidak heran apabila dialah yang dapat melihat paling dulu.
Semua orang kaget, dengan sendirinya berhentilah mereka berkelahi, semua mengawasi dengan bengong ke arah dari mana katanya tentara negeri mendatangi.
Dari jurusan tersebut segera tertampak mendatangnya tiga penunggang kuda, kemudian ternyata, mereka ini terdiri dua dari pihak berandal Shoatang, yang satu dari Ceng Tiok Pay. Hampir berbareng, bertiga mereka perdengarkan seruan: "Tentara negeri mendatangi!"
Tie Hong Liu jadi nekat, dengan beranikan diri, dia lompat turun dari susunan peti besi, sesampainya ia di tanah, ia rubuh hingga ia bergulingan tiga kali, Baru ia dapat bangkit berdiri, dengan merasai sakit sekali kepada kedua kakinya, tetapi tanpa perdulikan itu, ia sambar seekor kuda untuk dinaiki, untuk segera ajak kawan-kawannya angkat kaki dari situ.
Sin Cie sambar tubuhnya See Thian Kong, untuk dilemparkan kepada kawan-kawannya, maka kawanan berandal itu tolongi pemimpinnya, untuk dikasih naik di atas bebokong kuda, buat segera dibawa kabur ke dalam rimba.
Pihak Ceng Tiok Pay juga perdengarkan suitan berulang- ulang, habis itu mereka tolongi kawan-kawan mereka yang terluka, lalu tetap dalam empat barisan, mereka undurkan diri dengan lekas. Maka di lain saat, sunyi-senyaplah medan pertempuran itu dimana ketinggalan saja Sin Cie serta rombongannya.
Lantas si anak muda berlaku sebat. Ia lompat naik ke atas susunan peti, untuk lempar itu turun satu demi satu, di bawah, A Pa menyambutinya, untuk dimuatkan ke kereta mereka.
Ceng Ceng tertawa atas kesudahannya kekalutan itu. "Banyak orang telah menjadi korban, tetapi uang kita,
satu chie pun tidak lenyap!" katanya dengan gembira dan
puas.
Tidak antara lama terdengarlah suara terompet disusul berisiknya banyak kuda, kemudian terlihat satu pasukan tentara lagi mendatangi.
"Di sana ada tentara negeri, kawanan berandal tentu tak berani muncul pula," kata Sin Cie. "Mari kita lanjuti perjalanan kita!"
Walaupun ia mengucapkan demikian, pemuda ini toh mesti periksa dulu rombongannya, yang tidak kurang suatu apa, dari itu sebelum mereka sempat berangkat, pasukan negeri mendahului sampai di antara mereka.
"Kamu bikin apa?" tanya satu perwira yang bersenjatakan golok panjang. Dia ini pimpin dua ratus serdadu, yang terpecah dalam dua barisan.
"Kami penduduk baik-baik yang sedang bikin perjalanan," sahut Sin Cie.
"Kenapa di sini ada tanda-tanda darah, dan pelbagai alat- senjata?" tanya pula perwira itu.
"Barusan ada penjahat pegat kita, lantaran datangnya tentara negeri, mereka kabur sendirinya," sahut Sin Cie pula. Sementara itu, muncul satu pasukan tentara lain, yang lantas menyerbu ke dalam rimba, untuk kejar kawanan berandal.
Perwira tadi melirik kedalam kereta dimana mereka lihat peti-peti besar.
"Barang-barang apakah itu?" tanyanya dengan tawar. "Itulah barang-barang keperluan kami sehari-hari." "Coba buka, aku hendak lihat!"
"Semuanya pakaian, tidak ada lainnya."
"Aku perintah buka, kau mesti buka! Perlu apa banyak mulut?"
"Kami tak bawa barang-barang haram, untuk apa dilihat?" Ceng Ceng campur bicara.
"Hei, bocah, kau kurang ajar!" bentak perwira itu. Dan cambuknya melayang.
Ceng Ceng berkelit untuk sabetan itu.
Perwira itu percaya, isinya peti mesti barang-barang berharga, dalam sedetik itu muncullah hatinya yang temaha.
"Hei, bocah, kau berani melawan?" dia bentak pula, untuk gunai ketikanya. "Hayo, saudara-saudara, sita barang-barang itu!"
Untuk rampas milik rakyat jelata, tentara itu biasanya tidak berayal, maka itu begitu dengar titah "mensita", segera mereka meluruk ke arah kereta.
Si perwira tak berhenti sampai di situ, karena ia tahu, ada kemungkinan Sin Cie beramai nanti majukan pengaduan kepada pembesar terlebih atas, maka kembali dia berseru: "Kawanan berandal ini berani lawan tentara negeri, bunuh mereka semua!"
Lalu ia mendahului angkat goloknya, untuk dipakai menyerang.
Sin Cie jadi gusar.
"Coba kita bangsa lemah, apa kita tidak bercelaka?" dia pikir sambil kelit dari bacokan, setelah mana ia membarengi lompat untuk hajar bebokong orang.
Perwira itu hanya satu orang peperangan biasa saja, dalam kesebatan ia kalah jauh dari si anak muda, maka itu, dengan gampang ia kena dihajar, hingga tubuhnya lantas rubuh terjungkal dari atas kudanya, malah jiwanya pun melayang dalam sekejab!
Menampak itu, semua serdadu menjadi kaget, lantas mereka berteriak-teriak: "Penyamun merampas angkutan! Penyamun rampas angkutan!"
Sementara itu Ceng Ceng bersama A Pa dan Seng Hay telah labrak buyar barisan serdadu itu, yang lari serabutan ke empat penjuru, akan tetapi di belakang mereka itu ada lagi satu pasukan besar, maka Sin Cie, yang rampas goloknya si perwira, maju untuk mencoba menahan, sedang Ceng Ceng bertiga ia perintah lindungi kereta-kereta mereka untuk berlindung masuk ke dalam rimba.