Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 92

Memuat...

bundar, begini jernih cahayanya, malah semuanya, sama besarnya!" kata pengikut ini.

Pembicaraan ini terdengar sampai keluar jendela, orang- orang jahat yang lagi mengintai jadi merah matanya, hati mereka jadi gatal, hampir mereka tak sanggup mengatasi diri sendiri. Tapi mereka ditugaskan untuk mengintai saja, buat lekas pulang dengan laporan, supaya ketua mereka bisa berdamai dulu, agar dia orang tak bentrok satu dengan lain. Begitulah, lekas-lekas mereka berlalu dengan berpencaran.

Kapan Sin Cie telah duga orang sudah pergi semua, ia goyang-goyang tangan kepada Seng Hay, untuk menitahkan orang itu tidur, ia sendiri tertawa, ia naik ke pembaringan tanpa benahkan lagi mutiara itu.

Besoknya pagi, perjalanan dilanjuti, terus sampai dua hari, mereka tidak tampak rintangan suatu apa. Ketika itu mereka sudah lewati batas wilayah kota Ceelam. Sementara itu Sin Cie dapat kenyataan, orang-orang jahat yang arah dia jadi semakin banyak, hingga Seng Hay, yang tadinya tenang, jadi tak tenteram juga hatinya. Ia ini pun bingung, kenapa orang masih belum mau turun tangan. Maka akhirnya, ia usulkan si anak muda akan tukar jalan darat dengan jalan air.

"Di air aku mempunyai banyak sahabat," ia mendesak. "Kita naik perahu sampai di Thian-cin, di sana kita mendarat, untuk melanjuti sampai di Pakkhia. Dengan begini benar kita ambil jalan mutar dan memakan tempo jauh lebih banyak akan tetapi keselamatan kita lebih terjamin."

Sin Cie tertawa atas usul itu.

"Aku justeru hendak serahkan harta ini kepada orang- orang gagah kita dan pencinta-pencinta Negara!" katanya. "Umpama harta ini habis tersebar, masih tidak apa! Bukankah harta ada benda sampiran belaka? Untuk kita, kewajiban membela Negara adalah yang utama!"

Mendengar itu, Ang Seng Hay lantas tidak banyak omong lagi.

Itu hari sampailah mereka di Ie-shia, dimana mereka cari hotel.

Ceng Ceng tidak betah berdiam saja, seorang diri ia pergi pesiar di sekeliling kota. Tidak demikian Sin Cie, yang insyaf entah berapa banyak mata yang incar harta-karunnya itu, dari itu bersama-sama A Pa, ia tak mau meninggalkan hotelnya.

Berselang kira-kira satu jam, Ceng Ceng pulang dengan wajah berseri-seri, tangannya menenteng dua bumbung bambu kecil dalam mana masing-masing terdapat seekor jangkrik, yang masing-masing sedang mengasi dengar suara ngeringnya tak sudahnya. Yang seekor ia terus serahkan pada Sin Cie seraya bilang: "Aku beli dua-puluh chie seekornya. Sebentar malam kau gantung di kelambumu, pasti suaranya enak didengarnya..."

Sin Cie tertawa, dia menyambutinya. Tapi segera ia tertawa pula.

"Eh, adik Ceng, tadi ditengah jalan kau ketemu siapa?" tanyanya.

Ceng Ceng agaknya tercengang. "Tidak. " jawabnya.

"Bebokongmu orang telah berikan tanda," Sin Cie kasih tahu.

Tidak tempo lagi, Ceng Ceng lari kedalam kamarnya, untuk buka bajunya, guna periksa tanda yang dihunjuki itu. Ia telah lihat satu bundaran kapur. Mungkin tanda itu diberikan selagi tadi ia membeli jangkrik, saking gembira, ia sampai tidak merasakannya. Maka itu, ia puji kelicinannya orang yang memberikan tanda itu tapi ia pun mendongkol.

"Tolong kau bantu aku cekuk orang itu, untuk hajar dia!" Kata ia pada Sin Cie setelah ia ketemui pula si anak muda.

"Kemana aku mesti cari dia?" tanya Sin Cie sambil tertawa.

Ceng Ceng berpikir, tapi segera ia dapat jalan.

"Pergilah kau pesiar sendirian, berlagaklah sebagai orang tolol," ia kata kemudian.

"Jadi aku mesti pesiar seperti kau tadi, supaya orang pun datang untuk beri tanda di bebokongku?" Sin Cie tegaskan sambil tertawa. "Benar!" si nona pun tertawa. "Lekaslah pergi!"

Anak muda ini tak tega untuk menampik, maka ia pergis etelah pesan nona ini bersama Seng Hay untuk waspada menjaga harta mereka.

Ie-shia ada sebuah kota yang ramai, walaupun sudah mendekati malam, orang-orang banyak yang berdagang dan berbelanja, pelbagai kereta dan kuli-kuli masih saja berjuang untuk masing-masing kehidupannya atau pekerjaannya.

Sin Cie berjalan dengan sewajarnya sebagai seorang asing, akan tetapi dengan diam-diam, ia telah memasang mata, karenanya tak nanti orang curigai dia kendatipun ia sering celingukan. Demikian ia dapat tahu ada seorang menguntit ia sejak ia mulai keluar dari pekarangan hotel.

"Bagus, kau jadi makin kurang ajar!" kata ia dalam hatinya. "Tidak saja hartaku, diriku pun kau awasi! Kau beri tanda dibelakangnya adik Ceng, apakah artinya itu! Tidakkah dengan begitu kau seperti keprak rumput hingga ular mabur, hingga aku jadi dapat ketika untuk berjaga- jaga?"

Tidak usah pemuda ini berpikir lama, untuk ambil kesimpulan.

"Rupanya ada rombongan yang ingin temahai sendiri hartaku ini," pikir ia. "Mereka telah beri tanda supaya lain orang melihatnya dan lain orang tak berani mengganggu."

Sin Cie jalan terus, dengan sikapnya seperti tak ada perhatian, tapi sekarang ia telah ambil putusan akan bertindak bagaimana. Ia tetap masih dibayangi, ia menuju ke sebuah bengkel besi akan tonton tukang-tukang sedang bikin golok. Ia berdiri diam bagaikan orang kesengsam, tapi ia tahu, si penguntit dekati padanya. Mendadakan saja ia berpaling seraya tangannya menyambar tangan orang itu di bagian nadi.

Orang itu kaget, apapula segera ia merasakan sebelah tangannya seperti mati, maka tempo pemuda kita tarik tangannya, untuk dituntun dengan perlahan-lahan, ia mengikuti tanpa buka suara, seperti ia sudah tak dapat kuasai diri sendiri. Ia dituntun sampai di sebuah gang kecil dan sepi.

"Kau orang siapa?" tanya Sin Cie.

Orang itu ketakutan dan kesakitan, sampai ia mandi keringat.

"Tolong lepaskan tanganku, tuan, nanti tanganku patah," dia memohon.

"Jiaklau kau tidak mau bicara, batang lehermu pun aku nanti potes!" Sin Cie bilang.

"Aku nanti bicara, aku nanti bicara, tuan," sahut orang itu ketakutan. "Aku adalah orang sebawahan See Ceecu dari Ok Hou Kau."

"Bukankah kau hendak memberi tanda bundaran di bebokongku? Apakah artinya itu?"

"See Ceecu titahkan aku berbuat demikian, apa maksudnya, aku tidak tahu."

"Dimana adanya sekarang See Ceecumu itu?"

Orang itu celingukan, agaknya ia jeri untuk mengasih tahu.

Sin Cie gunai tenaganya, hingga orang itu meringis, ia takut bukan main.

"See Ceecu pesan aku untuk malam ini pergi ke kuil Sam Kong Sie di luar kota untuk menemui dia," ia buka rahasia. "Baik, hayo kau antar aku kesana."

Benar-benar orang ini takut, ia mengantarinya, terus sampai di kuil.

Ketika itu, di rumah berhala masih sepi, belum ada seorang lain. Itulah sebuah kuil tua sekali dan sudah rusak, tidak ada penghuninya. Sin Cie periksa semua ruangan, juga depan dan belakang, akhirnya ia totok urat gagu dari bajingan itu tubuh siapa ia lantas lemparkan ke dalam kotak patung. Kemudian lagi ia tak usah menunggu terlalu lama, akan dengar suara banyak orang lagi mendatangi. Maka segera ia sembunyikan diri diantara patung sang Buddha yang besar.

Yang datang itu ada beberapa puluh orang, mereka duduk berkerumun di ruang pendopo. Segeralah terdengar suaranya seorang perempuan:

"Giam Lo-sie, Lo-ngo, pergi kamu berdua saudara membawa empat saudara, untuk menjaga di empat penjuru, di atas genteng juga!" demikian satu titah.

Dua orang yang dipanggil dua saudara she Giam yang keempat dan kelima sudah lantas bertindak keluar, untuk jalankan titah itu, maka di lain saat, Sin Cie pun dengar suara di atas genteng.

"Kamu boleh cerdik tapi sekarang aku sudah ada di sini!" ia tertawa dalam hatinya.

Sebentar lagi datang pula serombongan orang, suara mereka berisik ketika suara mereka saling menegur, saling berbahasa saudara satu dengan lain.

Turut apa yang Sin Cie dengar, mereka adalah dari delapan rombongan atau delapan gunung dari wilayah Shoatang, karenanya dia tak berani berlaku sembarangan. "Tentang barang-barang yang diangkut telah didapatkan penjelasan," terdengar suara perempuan yang bermula tadi. "Barang-barang itu adalah permata-permata yang tak dapat ditaksir harganya, pengiringnya ada dua anak muda yang tak tahu apa-apa tetapi pembelanya adalah Ang Seng Hay, satu anggota dari Put Hay Pay. Dia ini tak ada kecelanya tapi sepasang tangan mana sanggup layani dua pasang? Hanya, memandang muka sesama kaum, jangan kita ganggu jiwanya."

"Untuk merampas harta itu, tak usah See Ceecu pusing memikirkannya," kata satu suara. "Apa yang penting adalah cara pembagiannya. Kita perlu mengatur terlebih dahulu, supaya kita tak usah merusak persahabatan."

"Aku adalah yang pertama mengetahui harta itu," kata satu suara keras dan kasar," maka menurut aku, setelah barang itu berada di tangan kita, di dalam sepuluh, Ok Hou Kau dapat dua bagian, Sat Pa Kong juga dapat dua bagian, lalu yang lainnya masing-masing satu bagian."

"Bagus benar!" pikir Sin Cie. "Kamu telah pandang barangku seperti milikmu sendiri dan sekarang asyik mengatur pembagiannya, untuk dipesta-pora!"

Lalu terdengar satu suara lagi: "Kenapa kau masing- masing menghendaki dua bagian? Menurut aku, baik kita bagi rata saja, seorang satu bagian."

Sampai di sini, suara jadi ramai, masing-masing memberi usulnya.

"Dibagi sepuluh bagian tidak adil, dibagi delapan tidak adil juga," kemudian kata satu suara tua tetapi keren. "Ok Hou Kau terdiri dari beberapa ribu jiwa saudara, tapi Sat Pa Kong dan Loan Sek Cay cuma terdiri dari tiga-ratus orang. Apakah mereka mesti mendapat bagian rata? Maka usulku adalah Ok Hou Kau ambil dua bagian, yang lain-lain

639 masing-masing satu bagian. Aku minta See Ceecu yang atur cara bekerja kita."

Kebanyakan orang anggap usul ini pantas, mereka suka menerimanya, karena itu, sisa yang lainnya lantas menurut saja.

"Sekarang sudah ada kecocokan, maka baik ditetapkan, besok kita turun tangan," berkata orang yang dipanggil See Ceecu, ketua she Cee. "Aku memikir desa Thio-chung, dari itu baiklah masing-masing rombongan berkumpul di sana."

Usul ini dapat persetujuan, dari itu tak ayal lagi, mereka saling pamitan dan lantas bubaran, hingga sebentar kemudian, kuil tua itu jadi sunyi senyap pula.

Sin Cie muncul dari tempat sembunyinya, tanpa perdulikan pula bandit atau orangnya See Ceecu, ia langsung menuju hotelnya, kepada Ceng Ceng ia tuturkan hasil "pesiarnya" itu.

Ceng Ceng bengong berpikir.

"Jumlah mereka besar sekali, pasti mereka tak dapat dipukul rubuh semua, tak bisa dibunuh habis," katanya. "Bagaimana pikiranmu?"

"Jikalau nanti mereka pegat kita, kita bersikap tenang- tenang saja," Sin Cie bilang. "Kita mesti cari tahu, siapa kepalanya di antara mereka, lantas paling dulu kita cekuk padanya. Aku percaya rombongan mereka tidak berani turun tangan terus."

Post a Comment