Tegur seorang laki-laki gendut yang sedang memangku seorang pelacur dan bergurau dengan teman-temannya yang masing-masing dikawani seorang pelacur pula.
Mereka, empat orang itu, duduk menghadapi arak mengelilingi sebuah meja bundar dan agaknya mereka ini lebih suka minum-minum di situ ditemani pelacur dari pada menghisap madat atau melacur di dalam kamar. Atau mungkin juga mereka tadi sudah puas menghisap madat. Orang bermuka kehijauan yang mengaku bernama A Ceng itu melambaikan tangan sebagai balasan salam.
“Aku sudah puas menghisap, dan ada keperluan penting. Besok aku datang lagi!”
A Ceng melanjutkan langkahnya keluar dari rumah berpintu merah itu. Si Kaki Besi memberi syarat kepada tiga orang kawannya. Merekapun segera meninggalkan pelacur-pelacur itu, dan dengan berindap-indap mereka berempat keluar pula dari tempat itu melalui pintu samping, dengan sikap yang amat mencurigakan. Empat orang wanita pelacur itu saling pandang dengan heran, akan tetapi seperti biasa, mereka tidak perduli dan segera memperbaiki muka dan rambut mereka dengan bedak, pemerah bibir dan sisir untuk menanti datangnya lain tamu iseng. Malam masih terlalu panjang bagi mereka ini.
A Ceng berjalan menyelinap di antara rumah-rumah penduduk dan tiba- tiba dia berhenti di dekat tempat terbuka yang sunyi, memandang ke kanan kiri dan belakang, karena dia seperti mendengar suara yang mencurigakan. Dari sikapnya yang penuh curiga dan waspada, dapat diduga bahwa dia tidak sedang berjalan-jalan biasa melainkan ada suatu urusan penting yang sedang dikerjakannya. Melihat si gendut, wajah A Ceng yang tadinya terkejut nampak lega.
“Ah, kiranya engkau, toako! Ada apakah menyusulku? Aku tidak meninggalkan hutang di rumah Pintu Merah.”
“Aku harus memeriksanya dulu, sobat… apa isi bungkusan itu.” Wajah yang kehijauan itu berobah pucat dan matanya terbelalak. “Aku tidak mengambil apa-apa, tidak mencuri apa-apa. Ini adalah barangku sendiri!”
“Heh, mana aku tahu kalau belum kulihat isi buntalan itu?” hardik si gendut, dan dengan sikap mengancam dia mendekati A Ceng, diikuti tiga orang temannya yang jelas memperlihatkan sikap mengurung dan mengancam.
“Toako, sekali lagi kuperingatkan bahwa aku tidak mencuri apa-apa, dan ketika memasuki rumah Pintu Merah aku sudah membawa barangku ini.” Bantah pula orang yang mengaku bernama A Ceng.
“Ha-ha! Kaukira kami orang-orang bodoh atau buta? Engkau bukan bernama A Ceng, melainkan she Phek, seorang buaya darat dari sebelah utara Kanton. Engkau mengaku bernama A Ceng dan engkau membawa barang yang selalu kaurahasiaka. Hayo buka dan perlihatkan kepadakami!”
“Baiklah... baiklah...!” kata A Ceng, dan diapun menurunkan buntalannya dari gendongan dan meletakkannya di atas tanah.
Ketika dia membuka buntalan itu perlahan-lahan, empat orang itu membungkuk di sekelilingnya, karena mereka ingin melihat lebih jelas apa isi bungkusan itu dan tempat itu hanya mendapat penerangan sedikit saja dari lampu yang tergantung di rumah agak jauh dari tempat itu.
A Ceng tidak membuang waktu lagi. Melihat betapa empat orang itu kebingungan menggosok-gosok mata dengan kedua tangan, diapun cepat meloncat berdiri dan membagi-bagi pukulan dan tendangan yang dilakukan penuh pengarahan tenaga sinkangnya.
“Bukk...! Dess...! Kekkk...!”
Tiga orang teman Si Kaki Besi terjungkal ketika dua pukulan mengenai lambung dan sebuah tendangan mengenai selangkangan. Mereka roboh dan muntah darah, lalu pingsan. A Ceng mendesak terus, kini menyerang Si Kaki Besi dengan pukulan maut ke arah leher. Akan tetapi Si Kaki Besi agaknya lebih pandai dari pada kawan-kawannya. Dia dapat mendengar angin tendangan itu dan cepat meloncat ke belakang. Ketika dia mendengar gerakan A Ceng menyerbu ke depan, cepat dia menggerakkan kedua kakinya bergantian, dan memang Si Kaki Besi ini tidak sia-sia saja mempunyai julukan itu. Kedua kakinya dapat melakukan tendangan berantai yang amat cepat dan amat kuat, sehingga biarpun A Ceng yang menjadi kaget cepat mengelak ke samping, tetap saja sebuah tendangan menyerempet pahanya dan diapun roboh terguling. Akan tetapi tendangan itu tidak tepat sekali, dan A Ceng bergulingan menjauh sehingga tendangan-tendangan berikutnya yang dilakukan ngawur itu tidak mengenai sasaran. Sayang bagi Si Kaki Besi bahwa dia belum dapat membuka kedua matanya yang masih terasa pedas dan perih terkena pasir yang tadi disambitkan A Ceng.
Maka kini dia hanya menyerang dengan ngawur, mengandalkan pendengarannya saja. Sementara itu A Ceng atau yang lebih tepat sebenarnya bernama Phek Kiat itu, sudah meloncat lagi dan menjadi marah sekali. Lawannya yang sudah tak mampu membuka mata itu masih dapat menendangnya sehingga hampir saja dia celaka. Dengan cepat dan kuat dia lalu menyerang dari samping. Si Kaki Besi mendengar angin serangan ini dan berusaha menangkis, akan tetapi tangkisannya luput dan sebuah pukulan yang keras mengenai lambungnya.
“Bukk...!”
Tubuh yang gendut itu terpelanting. Sebelum dia dapat bangkit, sebuah tendangan mengenai dadanya dan kembali dia terjengkang. Phek Kiat tidak memberi kesempatan lagi kepadanya dan menghujankan pukulan dan tendangan. Sebuah tendangan yang tepat mengenai tengkuk membuat Si Kaki Besi itu roboh terkulai dan tidak mampu bergerak lagi.
Melihat empat orang lawannya sudah menggeletak tak berkutik lagi, si muka hijau itu menyeringai puas dan kini nampaklah bentuk mukanya yang kejam, sinar matanya yang licik dan senyumnya yang menyeramkan. Diperbaiki lagi buntalannya, dan diapun cepat meninggalkan tempat itu. Peristiwa itu terjadi amat cepatnya, di tempat sunyi dan gelap sehingga terjadi tanpa diketahui orang lain.
Akan tetapi agaknya tidak demikian. Ketika A Ceng atau Phek Kiat meninggalkan tempat itu dengan berlari cepat dan ringan, sesosok bayangan berkelebat dan terus membayangi orang bermuka kehijauan itu. Bayangan ini memiliki gerakan yang amat cepat dan ringan, sehingga langkah kakinya ketika berlari tidak menimbulkan suara apapun. Namun, Phek Kiat agaknya merasa sesuatu yang tidak enak maka beberapa kali dia menoleh dengan tiba-tiba.
Hebat sekali gerakan bayangan itu. Begitu Phek Kiat menoleh, dia sudah menyelinap dengan kecepatan seperti terbang, dan setiap kali Phek Kiat menengok, dia tidak melihat apa-apa karena bayangan itu telah bersembunyi di balik pohon atau dinding rumah.
Phek Kiat melanjutkan larinya menuju ke pinggir kota yang sepi dan di bagian ini tidak ada rumahnya karena daerahnya terdapat banyak rawa dan sawah. Phek Kiat tiba di atas sebuah jembatan yang tua. Sunyi dan gelap di tempat ini, hanya diterangi bintang-bintang yang memenuhi langit. Dan begitu tiba di tempat itu, Phek Kiat bersuit perlahan. Tak lama kemudian suitan itu dibalas orang, dan muncullah seorang laki-laki dari bawah jembatan. Agaknya sejak tadi dia sudah menanti di situ dan seperti juga Phek Kiat, orang itu juga membawa sebuah buntalan hitam.
“Sin-touw (Maling Sakti), engkau sudah di sini pula? Bagus!” kata Phek Kiat dengan hati lega dan girang, apalagi melihat betapa orang berpakaian hitam- hitam itu memondong sebuah buntalan hitam yang bentuknya persegi panjang. “Phek Kiat, aku belum pernah melanggar janji. Engkau... sudah membawa...itu…?” tanya si baju hitam yang disebut Maling Sakti itu dengan
suara agak gugup.
Lalu Maling Sakti menoleh ke kanan kiri seolah-olah merasa takut kalau- kalau pembicaraan mereka dilihat atau didengar orang lain. Akan tetapi tempat itu sunyi, tidak nampak sesuatu selain berkelap-kelipnya bintang-bintang di langit dan tidak terdengar sesuatu kecuali kerik jengkerik di sawah-sawah kering.
“Ha, jangan khawatir, sobat. Akupun bukan orang yang suka melanggar janji. Nih, sudah kubawa, lengkap seperti yang kauminta. Tigapuluh kati, sedikitpun tidak kurang, barang murni tidak campuran pula.” Phek Kiat menunjuk bungkusannya.
“Sobat Phek, tolong, beri aku sedikit dulu, sudah tiga hari aku tidak mengisap, badanku sakit semua rasanya, tolonglah... kau tentu membawa yang sudah dicampur tembakau, bukan?”