Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 07

Memuat...

Setelah tiba di rumahnya, Tan Siucai jatuh sakit. Tabib yang memeriksanya mengatakan bahwa ada empat tulang rusuknya yang patah dan retak-retak, dan selain itu, Tan Siucai juga menderita luka dalam yang cukup parah dan yang mengharuskannya tinggal di atas pembaringan selama sedikitnya satu bulan! Tan Siucai teringat akan ancaman Ma-ciangkun. Dia harus pergi dari Tung-kang. Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, mana mungkin dia dapat pergi? Berjalan kaki jauh. Tidak mungkin. Menyewa kereta lebih tidak mungkin lagi, karena dia tidak punya uang.

Dipanggilnya putranya pada keesokan harinya setelah semalam suntuk dia tidak tidur dan mempertimbangkan masak-masak apa yang harus dilakukan.

“Dengar baik-baik. Kota Nan-ning terletak di sebelah barat, di seberang sungai Si-kiang. Engkau harus menyeberang sungai itu dan menuju ke barat. Dengan bertanya-tanya, tentu engkau akan bisa menemukan kota Nan-ning.”

“Tapi kenapa aku harus pergi kesana sendiri saja, ayah? Engkau sakit, aku harus merawatmu. Kalau ayah takut akan ancaman perwira itu, mari aku antar ayah pergi meninggalkan dusun ini.”

“Tidak, anakku, dan jangan membantah. Semua sudah kupikirkan baik- baik. Kau pergilah ke Nan-ning, dan disana engkau carilah rumah seorang saudara angkatku. Ayahmu ini hidup sebatangkara, hanya dengan engkau seorang, akan tetapi ada seorang saudara angkatku yang bernama Sie Kian. Dia membuka toko obat di kota Nan-ning dan kaucarilah dia, serahkan surat ini kepadanya. Dia yang akan mengatur semuanya, menolong kita pergi dari sini kalau perlu dan... dan dialah satu-satunya orang yang dapat kauharapkan bantuannya kalau aku... tidak dapat menolongmu seperti keadaanku sekarang. Nah, cepat kau berkemas, Ci Kong.”

Ci kong tidak banyak membantah lagi. Dia tahu bahwa keputusan yang diambil ayahnya itu tentulah yang terbaik untuk mereka. Dan dia dapat menduga bahwa keadaan memang gawat dan tentu ayahnya sudah memperhitungkan segalanya, maka diapun tidak ragu-ragu lagi walaupun ada juga rasa bingung dalam hatinya menghadapi perjalanan jauh ke tempat yang selamanya belum pernah diketahuinya itu.

Tidak banyak bekal yang dapat diberikan oleh Tan Siucai kepada puteranya, akan tetapi yang dia serahkan kepada Ci Kong adalah seluruh uang yang dimilikinya.

Setelah siap, Ci Kong berlutut di dekat dipan ayahnya dan sasterawan itu menahan keluarnya air matanya. Tidak, dia tidak boleh memperlihatkan kelemahan di depan puteranya yang menghadapi perjalanan sukar dan jauh. Dia mengulur tangan menyentuh kepala Ci Kong, dibelainya rambut di kepala itu.

“Anakku yang baik, aku menyesal sekali tidak mampu memberi kehidupan yang lebih baik untukmu, bahkan kini terpaksa engkau akan mengalami kesengsaraan dengan melakukan perjalanan jauh yang melelahkan. Akan tetapi aku yakin bahwa engkau anakku yang baik, pandai membawa diri dan berani menghadapi segala macam kesukaran. Pergilah, anakku, dan carilah Sie Kian sampai dapat. Dialah satu-satunya orang yang boleh kauharapkan, boleh kita harapkan, dan jangan sampai hilang di jalan suratku untuknya itu.”

“Baiklah, ayah, akan kulaksanakan semua perintah ayah. Harap ayah pandai-pandai menjaga diri dan jangan lupa minum obat yang telah diberi oleh sinshe kemarin.”

Anak itu merasa bersedih dan terharu sekali harus meninggalkan ayahnya dalam keadaan sakit seperti itu, namun dia mengeraskan hatinya dan menahan diri agar tidak menangis.

Baru setelah dia meninggalkan rumah, sambil berjalan Ci Kong menangis, mengusapi air mata yang menuruni sepanjang kedua pipinya. Dia tidak tahu betapa pada saat itu, setelah dia pergi, ayahnya juga mengusapi air mata dengan ujung lengan bajunya.

Tentu saja hati orang tua ini merasa hancur membayangkan betapa terpaksa anaknya yang masih begitu kecil harus melakukan perjalanan sukar seorang diri, bahkan mungkin anaknya mulai sekarang akan hidup sebatang kara di dunia yang kejam ini. Dia sudah mengambil keputusan. Sakitnya takkan sembuh, ini dia dapat merasakan benar. Biarpun tabib itu hendak menyembunyikan kenyataan, dia sendiri dapat merasakan. Apalagi dia tidak mempunyai cukup uang untuk biaya pengobatan dirinya sampai sembuh, kalau hal itu mungkin. Dan diapun teringat akan ancaman Ma-ciangkun yang dia tahu bukan merupakan gertakan kosong belaka. Sekali waktu ancaman perwira gendut itu tentu akan dilaksanakan, dan dia tidak ingin puteranya ikut tertangkap nanti. Ci Kong harus bebas dan satu-satunya jalan hanyalah lebih dulu pergi secara diam-diam dari Tung-kang.

Syukur kalau puteranya dapat bertemu dengan Sie Kian, saudara angkatnya di Nan-ning. Andaikata tidak dapat jumpa, setidaknya Ci Kong sudah pergi jauh dari Tung-kang dan aman dari ancaman malapetaka yang datang dari Ciu Wan-gwe dan Ma-ciangkun.

Kini keputusannya telah tetap. Dia tidak boleh mati konyol begitu saja. Sehari itu, juga pada malam harinya, Tan Siucai tiada hentinya menulis, dengan huruf besar-besar di atas kertas bertumpuktumpuk sampai habis kertas- kertasnya baru dia berhenti. Kemudian, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia membawa kertas-kertas itu, berjalan terhuyung-huyung, menuju ke pasar yang berada di tengah-tengah dusun.

Kemudian, di tempat yang belum begitu ramai karena masih amat pagi itu, Tan Siucai menempel-nempelkan semua kertas yang sudah ditulisinya itu di atas papan-papan, pada dinding-dinding toko, pada batang-batang pohon. Tentu saja hal ini menarik perhatian orang, dan sebentar saja tempat-tempat itu penuh dengan kerumunan orang, dan dapat dibayangkan betapa kagetnya semua orang ketika membaca tulisan-tulisan Tan Siucai.

Mereka saling pandang dan saling bertanya-tanya, apakah sasterawan yang mereka hormati dan kagumi tulisannya itu kini sudah menjadi gila! Tulisan-tulisan itu adalah protes-protes terhadap para pejabat, dan protes akan adanya madat yang meracuni bangsanya. Di antaranya terdapat kalimat keras. “Para pendekar… dimana kegagahan kalian? Apakah kalian membiarkan saja bangsa kita menjadi pemadat-pemadat lemah yang mudah dihina orang?”

Dan ada lagi kecaman-kecaman keras terhadap para pejabat.

“Apakah para pembesar mengorbankan rakyat hanya untuk memenuhi kantong hasil perdagangan candu?”

Dan banyak macam lagi kata-kata yang mengejutkan semua orang karena kata-kata itu jelas merupakan protes keras dan dapat dianggap sebagai mengandung hasutan-hasutan pemberontakan!

Banyak orang yang sudah mengenal Tan Siucai memberi nasihat agar sasterawan itu menyingkirkan semua tulisan itu. Akan tetapi hal ini membuat Tan Siucai marah dan dia berkata lantang.

“Kalau bangsa kita sudah begini pengecut, apa yang dapat diharapkan?

Anak cucu kita akan menjadi hamba-hamba madat yang hina!”

Makin siang, makin banyak orang berkerumun dan tak lama kemudian, tentu saja pembesar setempat mendengarnya dan Tan Siucai ditangkap! Ketika Ciu Wan-gwe mendengar akan hal ini, cepat dia menghubungi Ma Cek Lung yang segera mengirim pasukan untuk mengambil alih tawanan dari dusun Tung-kang itu. Sebagai seorang tawanan berat, seorang yang dicap sebagai pemberontak, Tan Siucai lalu dibawa ke Kanton sebagai seorang tawanan yang diborgol kaki tangannya, diperlakukan kasar dan dijaga ketat seolah-olah dia seorang yang amat berbahaya! Padahal, napas sasterawan itu sudah empas empis dan sukar sekali dia menggerakkan tubuhnya, karena tarikan-tarikan dan pukulan-pukulan, serta perlakuan kasar yang didapatnya dari para perajurit ketika dia diseret, membuat luka-luka di tubuhnya semakin parah.

Dan apa yang diduga oleh kebanyakan orangpun terjadilah. Tan Siucai meninggal dunia di dalam tahanan tanpa memperoleh kesempatan membela diri di depan pengadilan! Banyak orang tahu bahwa di balik kematian Tan Siucai ini tentu tersembunyi rahasia.

Siapapun maklum akan kelihaian sasterawan itu dalam kesusasteraan, dan andaikata sasterawan itu dihadapkan di pengadilan, tentu akan banyak yang dibicarakan, banyak yang akan dibongkarnya mengenai kebejatan-kebejatan yang terjadi. Dan hal itu amatlah berbahaya bagi para pejabat setempat. Lebih aman dan mudah kalau sasterawan yang memang sudah menderita luka dalam yang parah itu mati saja sebagai seorang tahanan.

Pada waktu itu, yang menjadi kaisar dari kerajaan Ceng-tiauw atau kerajaan Mancu adalah Kaisar Tao Kuang, seorang kaisar yang tidak berhasil mempertahankan kejayaan Kerajaan Mancu yang selama puluhan tahun dibina oleh mendiang Kaisar Kian Liong sehingga menjadi besar dan kuat.

Semenjak Kaisar Kian Liong meninggal dan singgasana diserahkan kepada Kaisar Cia Cing (1796-1820) sampai kini diduduki Kaisar Tao Kuang, putera Kaisar Cia Cing, Kerajaan Ceng-tiauw terus merosot. Pemberontakan terjadi dimana-mana, para pembesar mabok kekayaan dan kedudukan, terjadi perebutan kekuasaan di antara para pembesar, dan penindasan kaum pembesar terhadap rakyat jelata untuk menambah isi gudang kekayaan mereka, korupsi terjadi dimana-mana.

Di bawah pemerintahan Kaisar Cia Cing setelah Kaisar Kian Liong meninggal, rakyat mulai mengenal madat. Mula-mula madat itu didatangkan oleh para pedagang dari India, karena memang dari sanalah datangnya madat itu. Setelah banyak orang mencobanya dan mulai ketagihan, perdagangan madat ini menjadi semakin subur.

Post a Comment