Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 05

Memuat...

“Aku bisa bekerja, aku bisa mengemis...” kata anak itu dengan tabah. Kakek itu tertawa bergelak, hatinya senang bukan main.

“Bagus! Engkau anak baik. Jangan khawatir, aku akan mengajarkan ilmu padamu. Setidaknya ilmu mencari makanan, seperti ini. Lihat!”

Kakek itu menutup kipas bututnya, dan tiba-tiba dia menyambitkan kipas yang tertutup itu ke atas pohon. Terdengar suara mencicit satu kali, dan kipas itu jatuh lagi ke bawah pohon bersama seekor tupai putih yang telah mati karena lehernya tertusuk ujung gagang kipas.

Lian Hong terbelalak girang dan iapun segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek yang duduk bersila itu.

“Aku mau menjadi cucumu, kek!” Kakek itu merangkulnya.

“Bagus sekali. Siapakah namamu, anak baik?” “Namaku Siauw Lian Hong, kek.”

“Lian Hong, nama yang bagus. Dan aku tidak punya nama, akan tetapi orang-orang ada yang mengenalku sebagai Bu-beng San-kai (Pengemis Berkipas Tanpa Nama). Ha-ha…! Hong Hong, aku lebih suka menyebutmu Hong Hong, apakah kau pernah makan panggang daging tupai?”

“Belum, kek,” jawab Lian Hong, memandang bangkai tupai yang seperti tikus berekor besar itu dengan ragu dan jijik.

“Nah, sekarang engkau akan merasakannya. Enak sekali! Mari kuberi pelajaran pertama, yaitu menguliti tupai dan memanggang dagingnya!”

Karena sikap kakek itu selalu gembira, sebentar saja Lian Hong yang masih kecil itu dapat melupakan kedukaannya. Akan tetapi setiap kali duduk termenung seorang diri, bibirnya komat-kamit dan kakek itu dapat menduga apa yang diucapkan bibir kecil itu, karena pernah dia mendengar cucunya mengigau di waktu tidur.

“Ciu Lok Tai, Gan Ki Bin, Lok Hun...!”

Kematian Siauw Teng dan istrinya mungkin dianggap bunuh diri oleh para tetangga, dan urusan itupun segera mereka lupakan. Akan tetapi tidak demikian bagi Tan Siucai, seorang sasterawan miskin yang hidup berdua saja dengan putera tunggalnya di dusun Tung-kang.

Tan Siucai adalah sahabat baik mendiang Siauw Teng. Dia seorang sasterawan berusia sekitar lima puluh tahun yang hidup menduda setelah istrinya meninggal dunia, bersama puteranya yang berusia tujuh tahun. Sasterawan ini hidup sederhana. Penghasilannya hanyalah menuliskan surat- surat atau tulisan-tulisan indah untuk penduduk dusun itu yang membutuhkannya. Pekerjaannya setiap hari hanya menulis, kalau tidak ada pesanan orang, tentu dia menulis, membaca buku, itulah pekerjaannya setiap hari. Putera tunggalnya, Tan Ci Kong, sejak kecil diajar membaca dan menulis, sehingga dalam usia tujuh tahun, anak itu sudah pandai menulis indah, bahkan membaca kitab-kitab kuno.

Terdapat kecocokan antara dia dan mendiang Siauw Teng. Sasterawan ini menghargai kegagahan dan kejujuran Siauw Teng, sebaliknya bekas guru silat itupun kagum akan kepandaian sasterawan itu menulis indah dan membuat sajak. Apalagi di antara keduanya ada suatu ikatan batin, yaitu keduanya berjiwa patriot.

Kematian Siauw Teng amat menyedihkan hati sahabat itu, sehingga begitu mendengar akan musibah yang menimpa keluarga sahabatnya, siucai itu menghibur dirinya dengan minum arak sampai mabok dan tidak ingat apa- apalagi. Tan siucai sudah tahu bahwa sahabatnya adalah seorang pemadat. Sudah berkali-kali dia menasihatkan, akan tetapi Siauw Teng yang juga pada hakekatnya sudah tahu akan keburukan dan bahayanya menghisap madat, sudah tercengkeram dan tidak mungkin dapat melepaskannya lagi.

Akan tetapi Tan Siucai yang mengenal baik kegagahan temannya, tidak percaya bahwa temannya itu melakukan bunuh diri bersama istrinya. Juga dia merasa berduka sekali mendengar akan hilangnya Siauw Lian Hong, anak perempuan yang diam-diam diharapkannya kelak akan dapat dijodohkan dengan putera tunggalnya. Dia tidak percaya sahabatnya melakukan bunuh diri. Maka dia merasa penasaran, dan mulailah dia melakukan penyelidikan pada para tetangga sahabatnya itu. Dalam penyelidikannya ini, orang-orang yang menaruh rasa hormat kepada Tan Siucai menceritakan apa adanya. Seorang diantara mereka ada yang melihat ketika pada pagi hari sebelum terjadi musibah itu, istri Siauw Kauw-su kelihatan berjalan diantar oleh dua orang petugas Ciu Wan-gwe.

“Saya sempat bertanya dan ia menjawab bahwa ia akan pergi membantu dengan pekerjaan menjahit di rumah keluarga Ciu yang akan mengadakan pesta pernikahan.” demikian seorang tetangga wanita menceritakan. Cerita ini tentu saja tidak berarti bagi orang banyak, karena dianggap biasa. Akan tetapi tidak demikian dengan Tan Siucai, apalagi ketika dia mendengar bahwa sahabatnya itu pernah menerima pemberian banyak madat oleh Ciu Wan-gwe. Timbul kecurigaannya. Mengapa pedagang madat yang kaya itu memberi madat kepada sahabatnya yang dia tahu tidak akan mampu membeli banyak madat? Dan kenapa pula istri sahabatnya harus membantu di rumah keluarga kaya itu? Dia sudah mendengar desas desus akan sifat mata keranjang Ciu Wan-gwe, yang kabarnya sudah banyak mengganggu anak istri orang mengandalkan harta dan kekuasaannya.

Akan tetapi apakah yang dapat dilakukan seorang Tan Siucai, sasterawan lemah miskin itu terhadap seorang Ciu Wan-gwe yang kaya raya dan berpengaruh, bahkan menjadi sahabat dari para pembesar di kota Kanton?

Tiba saatnya pesta pernikahan puteri Ciu Wan-gwe. Seperti biasa, jika yang mempunyai kerja itu orang kaya, sumbangan dipilih yang paling berharga. Sebaliknya, kalau yang mempunyai kerja itu orang miskin, jarang ada yang mengirim sumbangan, kalaupun ada, maka sumbangan itupun tidak berharga. Hal ini jelas membuktikan bahwa dibalik pemberian sumbangan itu, walaupun tidak diakui oleh para penyumbangnya, tersembunyi pamrih, mengharapkan imbalan yang besar dan menguntungkan pula. Betapa tidak? Memang sudah membudaya bagi kehidupan manusia di dunia ini untuk menyembunyikan pamrih di dalam setiap perbuatannya!

Di anatara sumbangan-sumbangan dari tamu-tamu Ciu Wan-gwe, ada satu sumbangan berupa gulungan kertas, dan setelah dibuka ternyata berisi sebuah sajak yang berbunyi:

SELAMAT KEPADA SEPASANG MEMPELAI SEMOGA HIDUP PENUH BAHAGIA DAN DAMAI SEMOGA TIDAK RUSAK RUMAH TANGGA MEREKA OLEH MADAT SEPERTI SIAUW YANG SENGSARA!

Tentu saja hati hartawan Ciu terkejut bukan main ketika dia membaca sajak itu, dan cepat-cepat dia menyuruh orang-orangnya menyingkirkan sajak itu agar tidak terbaca oleh para tamu. Dia mengutus orang-orangnya untuk mendatangi pemberi sumbangan, dan tahulah dia bahwa pemberi sumbangan itu tidak dapat membaca, dan bahwa sajak itu dipesan dari Tan Siucai. Jadi Tan Siucailah orangnya yang bertanggung jawab.

Baru tiga hari kemudian setelah pesta pernikahan puterinya selesai, dia segera mengutus orang memanggil Tan Siucai. Pada hari itu, masih ada tamu di dalam rumahnya, di antaranya adalah seorang komandan militer dari Kanton yang bernama Ma Cek Lung, seorang komandan pasukan kenamaan kota Kanton.

Ma Cek Lung ini seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun lebih, bertubuh tinggi besar dengan perut gendut dan tubuh yang kokoh kuat, wajah yang keras dan kejam menyeramkan.

Ciu Wan-gwe sedang menjamu komandan Ma ini ketika pelayan melaporkan bahwa Tan Siucai yang dipanggil sudah datang.

“Suruh dia menunggu di luar sampai kami selesai makan!” kata Ciu Wan- gwe dengan sikap congkak, dan pelayannya dengan senang hati melaksanakan perintah itu dengan sikap yang lebih congkak lagi.

Biasanya memang demikian. Untuk menyampaikan kekejaman atau kesombongan, bawahannya lebih hebat dari pada atasannya, makin ke bawah semakin menciut. Hukuman yang datang dari atas, makin ke bawah semakin berat dan menjadi bahan pemerasan atau perbuatan-perbuatan yang lebih kejam, sebaliknya sumbangan yang datang dari atas, makin ke bawah semakin berkurang sampai hampir habis. Pahit dan aneh tetapi nyata.

“Kamu diperintahkan untuk menunggu di sini dan tidak boleh pergi kemanapun sebelum majikan kami keluar menerimamu!”

Lalu sambil mengangkat hidung, pelayan itu pergi meninggalkan tamu itu di halaman depan!

Tan Siucai tersenyum pahit. Dia tidak merasa heran. Sudah banyak ia melihat kenyataan seperti itu. Dia adalah seorang tamu yang diundang, akan tetapi diperlakukan seperti seorang pengemis saja. Karena dalam undangan itu si pesuruh menyatakan bahwa Ciu Wan-gwe hendak memesan tulisan dan dia diharuskan membawa perabot menulis, maka kini dia menurunkan kotak berisi kertas dan alat-alat tulis. Lalu duduklah dia di atas peti itu di halaman gedung sambil menyeka keringat dengan ujung lengan bajunya yang lebar, baju potongan khas sasterawan. Dia sudah siap menghadapi segala hal. Ketika menerima panggilan Ciu Wangwe, dia dapat menduga bahwa kemungkinan besar panggilan ini ada hubungannya dengan tulisan yang dia lakukan untuk melampiaskan rasa penasaran di dalam hatinya itu. Karena menduga hal yang buruk, maka ketika puteranya, Ci Kong, mau ikut, dia melarangnya. Dia tidak ingin puteranya hadir menyaksikan kalau sampai terjadi keributan.

Ciu Wan-gwe yang bernama Ciu Lok Tai adalah seorang laki-laki berusia sekitar limapuluh tahun. Tubuhnya tidak besar, akan tetapi gemuk sehingga muka dan lehernya kelihatan seperti membengkak. Matanya lebar dan hartawan yang terkenal mata keranjang itu adalah seorang pesolek. Kumisnya yang kecil dipelihara rapi, mukanya putih bersih, tentu dicukur setiap hari dan bahkan ada bekas-bekas bedak, seperti muka seorang thai-kam (pembesar kebiri) saja. Dia mengenakan topi batok hitam dan kuncirnya kecil bergantungan di belakang kepala. Bajunya dari kain sutera yang mahal dan dia duduk dengan punggung yang agak membungkuk, mulutnya tersenyum mengejek, dan matanya yang lebar itu memandang kepada Tan Siucai penuh selidik.

Orang kedua yang bertubuh tinggi besar tidak dikenalnya, akan tetapi dia dapat menduga bahwa orang ini tentulah seorang perwira, kentara dari bajunya dan juga dari sikapnya walaupun pakaiannya tidak seragam penuh. Dan memang orang itu adalah Ma Cek Lung, komandan pasukan keamanan di Kanton yang galak. Melihat sikap komandan ini saja sudah mendatangkan rasa tidak suka dan juga khawatir di dalam hati Tan Siucai.

Akan tetapi dengan sikap ramah buatan, Ciu Wan-gwe menegur ramah. “Ah, kiranya Tan Siucai yang datang? Ma-ciangkun, inilah Tan Siucai,

sasterawan pembuat tulisan dan sajak paling pandai di Tung-kang, bahkan mungkin di seluruh Kanton.”

Dengan sikap acuh dan memandang rendah, kemudian menggumam. “Benarkah? Hemm, hal itu masih perlu dibuktikan dulu.”

Tan Siucai menjura.

Post a Comment