Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 70

Memuat...

Mereka memasuki pekarangan rumah sete!ah menembus toko ke belakang, dan Ciok An yang sejak tadi merasa tidak senang dengan kehadiran Han Beng segera bertanya, "Akan tetapi, siapakah dia Ini?" Dia menuding ke arah Han Beng. "Dia ah, sebaiknya kalau kita bicarakan semua di dalam. Bagaimana, Paman?" kata Hui Im.

Pamannya mengangguk. "Baik, memang seharusnya begitu. Mari kita masuk ke dalam saja. Engkau juga, orang muda," ajaknya kepada Han Beng yang kembali bersikap ragu-ragu ketika mendengar pertanyaan tunangan Hui Im tadi.

Tuan rumah membawa dua orang tamu muda itu ke ruangan dalam dan mereka disambut pula oleh isteri Tang Gu It yang tentu saja merasa terkejut akan tetapi juga girang melihat betapa keponakan suaminya atau juga calon mantunya itu berada dalam keadaan selamat, walaupun seperti juga puteranya, wanita ini mengerutkan alisnya ketika melihat bahwa gadis calon mantunya itu datang bersama seorang pemuda yang tidak mereka kenal sama sekali.

"Paman Tang Gu it, dan Bibi, perkenankan saya lebih dulu memperkenalkan Saudara ini. Dia bernama Si Han Beng, dan Toako inilah yang telah mengantar saya sampai ke sini. Toako, mereka inilah keluarga Tang seperti yang saya ceritakan kepadamu. Ini adalah Paman Tang Gu it dan isterinya, dan dia. dia adalah Kanda Tang Ciok An.”

Han Beng bangkit berdiri dan menberi hormat kepada tiga orang itu yang disambut dengan dingin saja oleh mereka bertiga, terutama sekali oleh Ciok An dan ibunya. Dua orang ini tetap merasa tidak suka melihat gadis itu diantar oleh seorang pemuda asing dalam melakukan perjalanan yang demikian jauhnya.

"Nah, sekarang ceritakan apa yang telah terjadi dengan Ayahmu. Ketahuilah, Hui Im. Baru-baru ini aku sendiri pergi ke kota raja berkunjung ke rumah keluargamu. Akan tetapi yang kudapat hanyalah berita yang mengejutkan itu. Aku mendengar pula bahwa engkau lolos dan tidak ada seorang pun tahu ke mana engkau pergi. Bagaimana kini tiba-tiba dapat muncul di sini?" Hui Im lalu bercerita tentang pertentangan antara keluarganya dengan Ang-kin Kai-pang, dan tentang fitnah yang dilontarkan Ang-kin Kai-pang kepada ayahnya sehingga ayahnya dituduh pemberontak.

"Kalau tidak ada Toako Si Han Beng dan gurunya, kiranya saya pun tak mungkin dapat selamat. Bahkan Ayah dan Susiok juga diselamatkan oleh Toako Han Beng dan gurunya, akan tetapi mereka berdua tewas karena luka-luka mereka. Karena saya tidak mempunyai tempat tinggal lagi, tidak mempunyai keluarga, maka satu-satunya tujuan adalah datang kepada Paman dan Toako Han Beng demikian baiknya untuk mengantar saya sampai ke sini."

Suara Hui Im mengandung kedukaan, akan tetapi ia tidak lagi menangis. Sejak melakukan perjalanan dengan Han Beng, ia banyak mendengar tentang isi kehidupan dan ia pun telah pandai mengubah sikap yang keliru.

"Hemmm, engkau melakukan perjalanan sejauh itu, selama berhari-hari, berdua saja dengan pemuda ini, Hui Im? Itu namanya tidak sopan dan tidak pantas!" isteri Tang Gu It berkata dengan alis berkerut dan mulutnya meruncing tanda bahwa hatinya tidak senang.

"Benar, Bibi.Habis dengan siapa? Toako Han Beng ini penolong saya dan dia suka mengantar. "

"Memang kurang pantas kalau seorang gadis melakukan perjalanan jauh yang berhari-hari lamanya bersama seorang pemuda bukan sanak keluarga," kata pula Ciok An. Mendengar ucapan calon ibu mertua dan calon suami itu, Hui im tidak mau membantah, hanya menundukkan mukanya dengan alis berkerut.

"Sudahlah! Biarpun tidak pantas, akan tetapi kalau keadaan memaksa, mau bagaimana lagi? Apakah kalian menganggap bahwa lebih baik Hui Im melakukan perjalanan seorang diri? Lebih tidak pantas lagi, juga tidak aman," kata Tang Gu It. "Hui Im, sukurlah kalau engkau selamat. Tidak perlu engkau bersedih. Tinggallah di sini dan setengah tahun kemudian, pernikahan antara engkau dan Ciok An kami rayakan di sini."

"Aih, kalau saja aku berada di sana, Im-moi, tentu tidak akan terjadi malapetaka menimpa keluarga Ayahmu. Aku akan lebih dulu membasmi perkumpulan pengemis-pengemis hina itu sebelum mereka dapat bertindak jahat!" kata Ciok n kepada tunangannya. "Jaman sekarang ini memang kita tidak boleh percaya kepada sembarang orang, Moi-moi. Lihat saja tadi, Si Kiu-bwe-houw Gan Lok. Namanya saja besar, akan tetapi dia bukan lain hanyalah seorang pemeras. Untung ada aku! Benarkah engkau tidak menemui halangan sesuatu ketika engkau pergi meninggalkan kota raja kesini, Moi-moi. Tidak ada yang berbuat jahat kepadamu?"

Hui Im memandang kepada tunangannya, dan menggeleng kepala. "Tidak terjadi apa-apa. "

"Benarkah? Tidak ada misalnya laki-laki yang mengganggu dan menggodamu?" Ciok An melirik ke arah Han Beng. "Engkau seorang gadis muda yang cantik menarik, Moi-moi. Aku tidak akan merasa heran kalau banyak pria tergila-gila kepadamu dan mencoba untuk ber¬buat kurang ajar kepadamu!"

Hui Im maklum bahwa tunangannya itu diam-diam secara tidak langsung merasa cemburu kepada Han Beng. la mengerutkan alisnya dan kini mengangkat muka memandang tajam kepada Ciok An.

"Koko! Apakah engkau menuduh aku berbuat yang tidak- tidak, melakukan hal yang tidak sopan dan tidak tahu malu dalam perjalananku ke sini?" Ia mengajukan pertanyaan ini dengan pandang mata tajam dan suara meninggi. "Aih, tentu saja, Moi-mol. Tentu saja engkau tidak melakukan sesuatu yang tidak baik. Akan tetapi, biasanya laki- laki yang suka kurang ajar kepada wanita. Dan engkau melakukan perjalanan berhari-hari bersama seorang laki-laki asing. "

"Koko! Toako ini adalah Si Han Beng, seorang pendekar sejati! Dia adalah murid dari Sin-tiauw Liu Bhok Ki dan Sin- Ciang Kai-ong! Sedikit. pun dia tidak pernah memperlihatkan sikap yang buruk kepadaku!"

Post a Comment