Hui Im diam saja, hanya menundukkan mukanya yang berubah merah. Ia sendiri tidak tahu apakah ia harus gembira ataukah berduka mendengar pujian pemuda itu kepada tunangannya.
Sementara itu, ketika mendengar tantangan pemuda itu yang disusul suara tertawa para penonton, Kiu-bwe-houw Gan Lok menjadi merah mukanya dan dia sudah marah sekali. Dicabutnya pecut berekor sembilan dari punggungnya dan begitu pecut itu dia gerak-gerakkan ke udara, terdengar suara meledak-ledak nyaring. Sembilan ujung pecut itu bagaikan ular-ular hidup menyambar-nyambar. Melihat ini, semakin besar rasa khawatir di hati Han Beng. Orang ini memang lihai, pikirnya, dan memiliki pandang mata kejam. Orang seperti ini amat berbahaya, tidak akan pantang untuk membunuh tanpa sebab. Diam-diam ia memungut beberapa butir kerikil dan menggenggamnya dalam persiapannya ntuk melindungi tunangan Hui Im. Biarpun dia tidak mempunyai hubungan apa pun dengan keluarga Tang, akan tetapi mendengarkan percakapan mereka tadi, dia pun tahu bahwa orang kurus tinggi pemegang cambuk berekor sembilan itu adalah seorang pemeras. Hal ini saja sudah membuat hatinya condong berpihak kepada keluarga Tang, apalagi mengingat bahwa pemuda itu adalah tunangan Hui Im. Kini dia pun tahu bahwa berita tentang dibasminya keluarga Souw di kota raja dengan tuduhan pemberontak telah tersiar dan agaknya dipergunakan oleh orang berjuluk Harimau Ekor Sembilan itu untuk memeras keluarga Tang.
Melihat betapa lawannya sudah mengeluarkan senjata pecut, Tang Ciok An lalu mencabut pula pedang yang tadi tergantung di pinggangnya. Dia pun bukan seorang bodoh walaupun wataknya agak tinggi hati. Pemuda ini sejak kecil digembleng oleh ayahnya dan dia pun cukup awas untuk melihat bahwa lawannya adalah seorang yang lihai dan berbahaya maka melihat lawan memegang senjata aneh, dia pun mengeluarkan senjatanya.
"Bocah sombong, majulah kalau engkau ingin dihajar oleh cambukku!" bentak Gan Lok.
"Engkau yang datang mencari perkara, maka engkaulah yang lebih dulu maju menyerang," kata pemuda itu dan sikap ini diam-diam dipuji Han Beng. Cerdik juga pemuda itu, walaupun berwatak tinggi hati. Namun sudah sepatutnya kalau tinggi hati. Bukankah dia seorang pemuda yang tampan, kaya raya, gagah perkasa dan berkedudukan baik dan terpandang di kota itu?
"Bocah sombong, sambutlah cambukku!" Bentak Gan Lok dan dia sudah menyerang dengan sambaran cambuknya dari atas. Sedikitnya empat dari sembilan ekor ujung cambuk itu menyambar dan menyerang dan atas, datang dari berbagai penjuru ke arah kepala, leher dan pundak pemuda itu. Berbahaya sekali serangan itu, akan tetapi Tang Ciok An masih dapat mengelak dengan loncatan ke belakang sambil memutar pedangnya sehingga empat ekor cambuk yang menyambar itu tidak mengenai sasaran. Secepat kilat, Ciok An sudah membalas dengan terjangan ke depan sambil menusukkan pedangnya ke arah perut lawan. Namun, serangan ini dapat pula digagalkan oleh Gan Lok yang meloncat ke samping dan kini pecutnya yang tadi sudah diputarnya ke belakang, sudah menyambar lagi ke depan. Sekarang bukan hanya ada empat ekor yang menyambar, melainkan tujuh ekor ujung cambuk itu menyambar cepat dan ganas, yang diarah adalah bagian-bagian tubuh yang lemah dan ubun-ubun kepala sampai ke pusar!
Pemuda itu terkejut bukan main. Biarpun dia sudah memutar pedangnya dan kembali meloncat ke belakang, namun nyaris lehernya terkena ujung cambuk. Kemudian, Gan Lok terus menyerang bertubi-tubi dan pemuda itu hanya mampu mengelak sambil menangkis saja. Dia merasa seperti dikeroyok oleh sembilan orang lawan. Ujung-ujung cambuk itu memang lihai sekali, menyerangnya bertubi-tubi dari sudut- sudut yang tidak terduga sehingga Ciok An sama sekali tidak mendapatkan kesempatan untuk membalas. Pemuda ini hanya mampu melindungi tubuhnya saja dan terus main mundur. Jelas bahwa dia terancam ba haya dan sewaktu- waktu tentu akan dapat dirobohkan lawan!
Melihat ini, Tang Gu It merasa khawatir sekali. Dia pun dapat melihat betapa puteranya terdesak dan diam-diam dia terkejut. Puteranya sudah memilik kepandaian yang cukup tinggi, hanya sedikit selisihnya dengan tingkatnya sendiri. Kalau Ciok An sama sekali tidak mampu membalas serangan lawan itu, berarti bahwa dia sendiri pun tidak akan dapat menandingi Kiu-bwe-houw Gan Lok!
Akan tetapi, tiba-tiba dia terbelalak! Terjadilah perubahan pada perkelahian itu! Kini bukan Ciok An yang terdesak hebat, melainkan keadaannya berbalik dan Gan Lok yang terdesak oleh pedang di tangan Ciok An! Permainan cambuk ekor sembilan yang tadi demikian lihainya, kini kacau balau dan bahkan beberapa kali ada ujung cambuk yong saling belit dan menjadi ruwet! Apakah yang sesungguhnya terjadi? Tidak ada yang tahu kecuali Han Beng sendiri, Bahkan Gan Lok sendiri pun hanya dapat merasa terkejut dan terheran-heran. Dia hanya merasa betapa beberapa kali pangkal lengannya terasa nyeri, kesemutan hampir lumpuh seperti terkena totokan, dan permainan cambuknya menjadi kacau, bukan hanya karena lengannya setengah lumpuh, akan tetapi juga beberapa kali ekor ujung cambuknya seperti tidak mau menuruti gerakan tangannya, melainkan menyeleweng dan saling libat sampai menjadi ruwet. Tentu saja dia terkejut sekali dan bingung sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dirinya. Yang mengetahi presis hanyalah Han Beng karena hal itu terjadi akibat ulah pemuda ini. Meliha betapa pemuda tunangan Hui Im terancam bahaya sehingga Hui Im sendiri dapat melihat ini dan gadis itu tampak gelisah, diam-diam Han Beng mempergunakan jari telunjuknya untuk menyentil sebuah kerikil yang menyambar dengan amat cepatnya dan menotok pang kal lengan Kiu-bwe houw Gan Lok dai membuat lengan itu setengah lumpuh. Kemudian, beberapa kali Han Beng me nyentil kerikil lain yang tepat mengenal ekor-ekor ujung cambuk yang menjadi kacau dan saling belit!
Setelah Gan Lok menjadi bingung permainan cambuknya menjadi kacau balau, kini Ciok An mendesak dengan pedangnya dan akhirnya dia berhasil melukai pundak kiri dan paha kanan lawan.
Gan Lok meloncat ke belakang, lalu menghentikan permainan cambuknya, menjura kepada pemuda itu.
"Baiklah, hari ini aku mengaku kalah. Akan tetapi hari-hari masih banyak dan kelak aku akan menembus kekalahan hari ini!" berkata demikian, dia lalu mengambil gucinya yang masih kosong dan meninggalkan tempat itu.
Tentu saja semua orang bertepuk tangan memuji dan saking gembiranya melihat betapa perkelahian itu berubah dengan kemenangan di tangan puteranya, Tang Gu It gembira bukan main.
"Kiu-bwe-houw, tunggu dulu !" teriaknya sambil meloncat ke dekat orang yang mau pergi itu dan dia mengeluarkan sepotong perak. "Aku bukan seorang yang pelit dan setiap ada orang yang datang minta sumbangan, sudah pasti kuberi. Nah, inilah sepotong besar perak kuberikan untuk sumbangan!" Dia melemparkan potongan perak itu yang dengan cepat masuk ke dalam guci yang dipangku! Gan Lok.
oooOOooo
Gan Lok melotot. Pemberian itu dirasakan sebagai penghinaan dan mukanya menjadi merah. Akan tetapi dia mengangguk tanpa berkata sesuatu pun, lalu pergi dengan tergesa-gesa, mukanya merah padam karena malu, penasaran dan marah. Diam-diam Kiu-bwe-houw Can Lok masih merasa bingung dan heran. Jelas bahwa dia tadi hampir memperoleh kemenangan dan pemuda itu didesaknya sehingga tidak mampu membalas serangannya. Akan tetapi, mengapa lengan kanannya tiba-tiba menjadi setengah lumpuh dan ekor-ekor cambuknya menjadi kacau balau? Kemudian menyadari. Ah, tentu ada orang pandai diam-diam membantu pemuda itu. Kalau yang membantu itu adalah Tang Gu It sendiri, maka betapa hebat kepandaian orang itu! Dia pun menjadi jerih sekali.
Ciok An sendiri merasa bangga bukan main. Matanya bersinar-sinar wajahnya yang tampan itu berseri ketika dia memasukkan pedangnya ke sarung pedang yang tergantung dipinggangnya. Bibirnya tersenyum manis dan dengan congkak dia memandang ke sekeliling, menikmati pandang mata orang banyak yang ditujukan kepadanya dengan kagum. Para penonton itu segera bubaran dan tentu saja menjadi juru- juru warta yang amat baik sehingga nama Tang Ciok An disanung-sanjung dan dipuji-puji.
Hanya dua orang yang tidak meninggalkan tempat itu.mereka adalah Han Beng dan Hui Im. Setelah semua orang pergi, Hui Im lalu menghampiri Tang Gu It dan Ciok An yang sudah bergerak hendak memasuki toko mereka, dan Han Beng hanya mengikuti gadis itu.
“Paman !” Hui Im berkata sambil memberi hormat
ketika ia berhadapan dengan Tang Gu It. Pria berusia lima puluh tahun yang berperawakan gagah dan berwibawa itu, dengan pakaian yang jelas menunjukkan bahwa dia seorang hartawan, menjadi heran mendengar sebutan itu. Dia memandang kepada Hui m dan juga kepada Han Beng. Agaknya dia sudah lupa sama sekali kepada keponakan yang juga menjadi calon mantunya ini, apalagi karena dia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis itu akan muncul di situ
.
"Maaf, siapakah Nona. ?" tanyanya sambil mengerutkan
alisnya dan memandang tajam. Juga Ciok An memandang kepada gadis itu, lalu kepada Ha Beng yang mendampinginya.
"Paman, lupakah Paman kepada saya? Saya Souw Hui Im. "
"Ahhh!" Tang Cu It berseru kaget dan kini baru dia mengenal keponakannya itu. Juga Ciok An tertegun dan mengamati gadis yang cantik itu dengan jantung berdebar, akan tetapi alisnya berkerut ketika dia melihat ada seorang pemuda sederhana namun tampan, seperti seorang pemuda dusun, yang menemani tunangannya itu.
"Mari, mari kita masuk dan bicara di dalam. !" kata Tang
Gu It sambil memandang ke kanan kiri. Tentu saja timbul kekhawatiran di dalam hatinya kalau-kalau ada yang mengetahui bahwa gadis ini adalah puteri Souw Kun Tiong yang dituduh memberontak.
Hui Im mengangguk dan menoleh pada Han Beng. Pemuda itu nampak ragu untuk ikut masuk, akan tetapi gadis itu berkata, "Marilah, Toako."