Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 63

Memuat...

Mulut itu tersenyum semakin lebar. "Ha-ha-ha, bukan main galaknya! Pantas sekali, wataknya galak dan perbuat¬annya pun kejam. Kenapa sih engkau menyeret-nyeret kedua orang muda ini. Nona? Apa kesalahan mereka?"

Giok Cu semakin mendongkol. "Hwesio tua, buka telingamu baik-baik dan dengar omonganku! Semua urusan kami bertiga ini tidak ada sangkut pautnya dengan seorang tua renta seperti engkau! Minggir atau terpaksa aku tidak akan sungkan lagi terhadap seorang tua renta!"

"Sian-cai , seorang anak perempuan yang berjantung

naga! Eh, Nona Kecil, kalau pinceng (aku) tidak mau minggir, lalu apa yang akan kaulaku kepada pinceng?" "Aku akan mendorongmu sampai engkau jatuh!" Giok Cu mengancam.

"Ho-ho-ho, bagus sekali. Pinceng tidak mau minggir sebelum engkau melepaskan dan membebaskan kedua orang anak yang sudah kehabisan tenaga itu!"

Kini Giok Cu benar-benar marah tidak dapat menahan dirinya lagi. melepaskan lengan kedua orang remaja itu, lalu mengerahkan tenaga sin-kang dan mendorongkan kedua tangannya ! arah perut yang gendut itu. Kakek gendut itu tidak mengelak atau menang bahkan mendorong perutnya yang gendut ke depan, seperti sengaja menyerahkan perutnya untuk dipukul atau didorong.

"Plukkk!" Kedua telapak tangan Giok Cu mengenai perut itu dan ia terkejut bukan main. Ia merasa seolah-olah mencorong agar-agar yang lunak dan yang menyedot semua tenaga dorongnya sehingga tenaganya lenyap dan sama sekali tidak berhasil, seperti mendorong air saja!

Akan tetapi, Giok Cu adalah seorang dia yang keras hati. la masih belum mau menerima kenyataan bahwa ia berhadapan dengan orang pandai, melainkan mengira bahwa hwesio itu memang emiliki perut yang luar biasa sehingga tidak dapat diserang dengan dorongan tenaga sin-kang.

"Hemmm, engkau mencari penyakit sendiri!" katanya dan kini tangan kirinya memukul dengan telapak tangannya yang berubah menjadi kehitaman! Itulah tamparan yang mengandung hawa beracun! Memang inilah satu di antara watak yang mewarisi Giok Cu dari gurunya, yaitu ganas terhadap lawan! Tamparan itu merupakan ilmu pukulan beracun yang berbahaya. Melihat ini, kakek gundul itu agaknya tidak mengetahuinya, hanya mulutnya saja yang menyeringai dan matanya terbelalak kaget. "Omitohud……….. sungguh tak terkira kekejiannya… !"

"Dukkk!" Tangan yang menampar itu bertemu dada yang banyak dagingnya, akan tetapi sama sekali tidak lunak seperti perut tadi, melainkan keras seperi baja sehingga Giok Cu merasa telapak tangannya nyeri dan panas, sebaliknya, kakek itu seperti tidak merasakan pukulan beracun itu!

Kini Giok Cu menjadi marah sekali, dan ia mulai menduga bahwa ia berhadapan dengan seorang kakek yang pandai. Akan tetapi, kakek atau nenek, karena menentangnya, berarti musuhnya yang harus dirobohkan agar ia dapat melanjutkan pelariannya bersama dua orang muda itu. Siapa tahu kakek ini mempunyai niat yang jahat! Tanpa banyak cakap lagi, ia pun lalu menyerang! dengan dahsyatnya, tangan kanan mencakar ke arah kedua mata lawan, tangan kiri mencengkeram ke arah lambung!

"Omitohud ………., seperti harimau muda yang ganas… !"

Kakek itu menjyjerakkan tongkatnya, mendorong kearah kedua kaki Giok Cu dan. tubuh gadis itu terpelanting dan

terbanting keras ke atas tanah! Giok Cu terbelalak seperti dalam mimpi saja ia tadi terpelanting. Karena kepalanya terasa pening, ia mengguncang-guncang kepalanya mengusir kepeningan sebelum bangkit berdiri lagi.

Sementara itu, dua orang muda yang melihat betapa penolong mereka itu berkelahi dan dibuat jatuh bangun oleh hwesio tua, cepat mereka menjatuhkan diri berlutut di depan hwesio itu.

"Lo-suhu, harap jangan ganggu penolong kami… !" kata

yang pria.

"Lo-suhu, Li-hiap itu mengajak kami dari dari ancaman bahaya maut. Ia menolong kami, bukan menyiksa!" kata yang wanita. "Ahhh? Ehhh?" Hwesio tua muka hitam itu terbelalak. "Omitohud…….. apa yang telah pinceng lakukan ini… ?"

Kepeningan sudah meninggalkan kepala Giok Cu dan ia sudah melangkah maju untuk melawan kakek itu lagi. Akan tetapi pada saat itu, nampak dua bayangan berkelebat dan disusul bentakan nyaring, "Giok Cu… !!"

Gadis itu terkejut setengah mati ketika mengenal suara subonya. Ia menoleh dan ternyata Ban-tok Mo-li dan Hok houw Toa-to Lui Seng Cu sudah berdiri situ dengan mata menyinarkan marahan. Sementara itu, dua orang muda yang masih berlutut, kini terbelalak dan memandang dengan muka pucat dan tubuh menggigil. Gadis itu malah sudah mulai menangis sesenggukan saking ketakutan Hwesio tua bermuka hitam memandangi semua ini dengan alis terangkat dan sinar mata melirik ke sana-sini penuh selidik.

Ban-tok Mo-li marah bukan main, Ketika semalam terjadi kebakaran besar pada gudang di samping rumahnya, ia mengira ada penyerbuan musuh, maka bersama Lui Seng Cu ia keluar dai membantu para pelayan memadamkan api yang berkobar besar. Untung api dapat dipadamkan sebelum melahap bangunan induk. Akan tetapi tidak nampak tanda- tanda adanya penyerbuan musuh sehingga Ban-tok Mo-li merasa terheran-heran. Juga ia merasa heran mengapa muridnya, Bu Giok Cu, tidak muncul membantu orang-orang memadamkan api. Setelah ia dan Lui Seng Cu kembali ke kamar, barulah ia tahu! Dua orang muda yang mereka culik telah lenyap dan juga Giok Cu tidak berada di dalam kamarnya! Ia pun teringat ketika muridnya itu pernah menentang akan dikorbankannya dua orang muda, maka siapa lagi kalau bukan muridnya yang kini menghalangi hendaknya dan membebaskan dua orang muda itu?

Malam tadi ia pun sudah melakukan pengejaran, akan tetapi karena malam gelap, ia pun menunda pengejarannya sampai keesokan harinya. Bersama Lui Seng Cu ia melakukan pengejaran secepatnya. Tidak sukar bagi dua orang datuk yang berpengalaman ini untuk menemukan jejak langkah tiga orang itu dan mengejar secepatnya sehingga akhirnya mereka dapat menyusul Giok Cu bersama dua orang muda yang hendak dibebaskannya.

"Giok Cu, apakah engkau hendak lawan dan memusuhi aku, gurumu diri? Engkau membakar gudang dan membawa lari dua orang tawananku! yang menjadi, kehendakmu? Engkau hendak menentang aku, ya?" bentak Ba tok Mo-li marah sekali dan pandang matanya kepada muridnya yang biasanya penuh kasih sayang itu kini panas membakar, penuh kebencian.

Giok Cu maklum bahwa ia tidak berdaya. Yang dikhawatirkannya terjadi dan ia menyesal sekali mengapa dua orang yang coba ditolongnya itu demikian lemah sehingga tidak mampu berlari cepat, dan ia pun melirik ke arah hwesio gendut itu penuh sesal, seolah-olah sinar matanya menyalahkan hwesio itu yang menghambat pelariannya. Kemudian ia menghadapi subonya, sikapnya sama sekali tidak takut-takut, bahkan ia seperti orang nekat, siap untuk menerima hukuman apapun juga tanpa takut.

"Aku tidak menentang Subo, akan tetapi aku menentang tindakan Subo yang terbujuk orang jahat dan kejam, yaitu dia itu!" Dia menuding kepada Lui Seng Cu. "Subo membunuhi orang-orang muda tanpa dosa secara tidak tahu malu. Aku hanya ingin mencegah Subo melakukan kekejian seperti itu, maka aku sengaja membakar gudang dan mencoba melarikan korban-korban ini. Habis, kalau membujuk Subo dengan kata- kata halus tentu akan percuma saja!"

Post a Comment