Han Beng sudah dapat menguasai perasaan hatinya yang tadi terasa tidak enak, bahkan pedih. Dia memaksa diri tersenyum dan matanya mengeluarkan siinar gembira. "Wah, kalau begitu, engkau tentu akan disambut dengan penuh kebahagiaan oleh mereka, Siauw-moi! Kalau mereka itu mendengar akan nasibmu yang buruk, tentu keluarga tunanganmu itu akan merasa kasihan dan semakin sayang padamu. Hayo, kita percepat perjalanan ini. Aku ingin sekali melihat engkau disambut dengan bahagia oleh mereka!"
Kini, dengan mengenakan pakaian baru yang bersih, dua orang muda itu melanjutkan perjalanan. Hubungan mereka semakin akrab dan keduanya saling ocok, menemukan kebaikan-kebaikan baru pada diri masing-masing, dan mereka saling mengagumi, saling suka, merasa senasib sependeritaan. Han Beng merasa kasihan sekali kepada Hui Im, juga mendapat kenyataan betapa gadis ini memang berwatak baik, ramah dan menyenangkan. Sebaliknya, Hui Ini juga amat kagum kepada Han Beng, merasa berhutang budi, bukan saja karena pemuda ini pernah menolong dan menyelamatkannya, juga budi Han Beng ketika mengantarnya mencari pamannya merupakan budi yang amat besar karena pemuda itu di sepanjang perjalanan mem¬perlihatkan sikap yang amat ramah, sopan dan baik sekali. Seorang kakak kandung belum tentu akan sebaik ini sikapnya. Diam-diam Hui Im merasa suka dan tertarik sekali, akan tetapi setiap kali ia teringat bahwa dirinya sudah ada yang punya, bahwa ia telah terikat perjodohan dengan pemuda lain, ia menahan diri dan hendak melupakan perasaannya yang sedang tumbuh terhadap Han Beng. Tidak, bantahnya pada diri sendiri, ia tidak boleh mengharapkan yang tidak-tidak! Ia adalah seorang calon isteri pemuda Iain. Akan tetapi, kadang-kadang di waktu malam, kalau mereka berdua tidur di dalam hutan, di kuil tua ataupun rumah penginapan dimana Han Beng lalu menyewa dua buah kamar yang berdampingan, Hui Im suka menangis seorang diri. Ia merasa khawatir sekali. Khawatir kalau-kalau tunangannya merupakan seorang pemuda yang tidak menyenangkan, tidak sebaik Han Beng, atau kalau-kalau ia akan kehilangan Han Beng!
Kelopak Cinta takkan berbunga oleh sekadar tarikan daya kemilaunya emas permata mulianya kedudukan dan nama tampan dan cantiknya rupa halusnya tutur sapa
baiknya budi bahasa!
Cinta adalah sinar matahari harumnya bunga setaman-sari embun lembut di pagi hari Cinta itu Keindahan
Cinta itu Kebenaran Cinta itu Kenyataan Cinta itu TUHAN!!!
oooOOooo
Kita tinggalkan dulu Han Beng yang dengantar Hui Im mencari paman atau calon ayah mertuanya di kota Pei-Shen yang cukup jauh, dan mari kita tengok keadaan Bu Giok Cu, dara lincah jenaka dan nakal manja yang jatuh ke tangan seorang iblis betina seperti Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu dan menjadi murid kesayangannya itu.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Giok Cu hampir saja men jadi korban kecabulan dua orang murl datuk dari Liong-san yang bernama Oui Kok Sian. Untung bahwa muncul Ban tok Mo-li menyelamatkannya. Ban-tok Mo-li membunuh Gak Su dan setelah Ouw Kok Sian mintakan ampun untuk muridnya yang ke dua, yaitu Ji Ban To, Ban-tok Mo-li mengampuni dan memberi obat untuk menyembuhkan luka yang di derita Ji Ban To akibat pukulannya. Dan setelah peristiwa itu, Giok Cu yang berusia lima belas tahun berlatih silat ini makin tekun karena ia tahu bahwa untuk dapat hidup aman, ia harus meniliki ilmu setinggi-tingginya untuk melindung diri sendiri.
Akan tetapi ada satu hal yang membuat hati Giok Cu merasa tidak suka sekali, bahkan ia membenci orang yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam kehidupannya bersama subonya. Orang itu adalah Lui Seng Cu yang berjuluk Hok-ouw Toa-to itu, bekas perampok tung¬gal yang kini menjadi penyembah Thian-te Kwi-ong dan yang sudah mempengaruhi hati Ban-tok Mo-li sehingga subonya itu kini ikut pula menjadi penyembah patung Thian-te Kwi-ong untuk mencari ilmu awet muda dan panjang umur! Dan agaknya, Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia menempel" Ban-tok Mo-li dan kini senang sekali pria itu datang bertamu dan kalau datang, tinggal di situ sedikitnya sepekan, dan jelas bahwa dia menjadi kekasih baru dari Ban-tok Mo-li yang amat percaya dan amat memanjakan tamunya atau kekasihnya ini! Ban-tok Mo-li adalah seorang wanita yang walaupun usianya sudah lima puluh tahun namun masih cantik pesolek, mewah dan kaya raya. Tentu saja Lui Seng Cu merasa betah tinggal di rumah iblis betina ini karena dia bisa memperoleh segala-galanya untuk memuaskan nafsu- nafsunya. Di lain pihak, Ban-tok Mo-li juga rupanya sudah tergila-gila kepada pria Hok-houw Lui Seng Cu memang seorang yang berpengalaman, biarpun usianya sudah lima puluh tahun lebih, namun berwajah ganteng, dengan tubuh yang tinggi tegap dan nampak jauh lebih muda daripada usia sebenarnya. Yang membuat Giok Cu merasa tidak senang adalah karena sikap Lui Seng Cu terhadap dirinya. Kurang ajar! Hanya itulah menurut anggapannya. Sepasang mata itu memandang dengan cabul, senyumn juga dimaksudkan untuk memikat, kata-katanya selalu mengandung sindiran kotor dan sinar mata orang itu kadang-kadang aneh dan menakutkan, bahkan kadang-kadang melalui sinar matanya, beberapa kali ia masih seperti tertarik dan seperti dipaksa untuk bertekuk lutut kepada pria itul
Yang membuat hati Giok Cu menj makin tidak senang adalah peristiwa mengerikan yang beberapa kali terjadi sejak Lui Seng Cu sering datang dan berdiam di rumah gurunya. Agaknya tidak cukup satu kali saja pemimpin agama baru itu mengharuskan Ban-tok Mo-li mengorbankan nyawa sepasang orang muda. Semenjak itu, sudah dua kali gurunya dan Lui Seng Cu menculik seorang muda dan seorang gadis, dan kemudian, pada keesokan harinya, Giok Cu melihat pasang orang muda itu telah menjadi mayat dan diam-diam dikubur di kebun belakang oleh para pelayan subonya yang selalu mentaati perintah subonya. Para pelayan wanita itu pun menimbulkan perasaan tidak suka dan jijik di dalam hati Giok Cu. Mereka itu, biarpun masih muda dan cantik-cantik, namun telah menjadi hamba-hamba nafsu sehingga mereka itu bersedia dengan penuh kegembiraan untuk melayani para tamu ia yang bermalam di rumah Ban-tok Mo-li, tentu saja atas persetujuan, bah¬ankan perintah Ban-tok Mo-li. Gadis ini sama sekali tidak tahu bahwa memang demikianlah watak gurunya. Segala macam kecabulan yang dilakukan gurunya dan para pelayannya, bagi gurunya merupakan hal biasa saja, pengisi waktu senggang atau semacam iseng-iseng untuk mencari kesenangan! Melihat semua itu, sudah lama kali tumbuh kebencian di dalam Giok Cu. la memang membutuhkan bimbingan subonya dalam ilmu silat, melihat betapa subonya sayang kepadanya, ada pula rasa sayang di dalam hatinya terhadap wanita iblis itu. Akan tetapi, sepak terjang subonya sungguh mendatangkan rasa muak dan benci di dalan hatinya.
Kini, hati Giok Cu kembali merasa penasaran dan juga gemas sekali. Lu Seng Cu kembali datang bertamu dan seperti biasa, pria itu selalu berada di dalam kamar subonya. Kalau ada tamu Ini, subonya juga jarang keluar sehingga, tidak memberi petunjuk lebih lanjut dalam ilmu silat yang sedang dilatihnya Dan yang lebih menjengkelkan hatinya, malam itu kembali subonya dan Lui Seng Cu menculik sepasang orang muda yang mereka bawa masuk ke dalam kamar!
la harus menyelamatkan dua orang muda itu, tekad hatinya. Akan tetapi, bagaimana? Kalau dia mempergunakan kekerasan, bagaimana mungkin akan berhasil? Ia tidak akan mampu melawan subonya, juga tidak akan menang melawan Lui Seng Cu! Membujuk subonya dengan halus? Hasilnya hanya dampratan dan makian yang hanya akan lebih menyakitkan hatinya. Akan tetapi, ia tahu bahwa sepasang orang muda itu tentu akan menjadi mayat pada keesokan harinya dan akan dikubur di dalam kebun belakang yang luas itu! Tidak, ia harus mencegah terjadinya pembunuhan lagi, pembunuhan sepasang orang muda yang sama sekali tidak berdosa! Ia harus men¬cari akal dan mencegah pembunuhan itu, apapun resikonya.
Malam itu sunyi dan menyeramkan. Udara dingin sehingga para pelayan w¬nita yang belasan orang banyaknya, yang juga bertugas sebagai penjaga, malam itu agak malas untuk meronda. Apalagi, siapa yang akan berani mengganggu rumah kediaman majikan mereka? Yang berjaga hanya dua orang wanita, dan mereka pun sudah duduk melenggut di ruangan depan, di serambi depan yang mereka jadikan sebagai pusat penjagaan di waktu malam. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh nyala api yang cukup besar, di sebelah kanan bangunan. Gudang telah terbakar dan api sudah bernyala tinggi!
"Kebakaran! Kebakaran……!" Mereka berteriak-teriak sambil membangunkan teman-teman mereka, menggedur kamar mereka di belakang. Para wanita itu menjadi gugup dan panik, segera mencari air untuk memadamkan kebakaran yang sudah membesar itu.
Keributan itu pun membuat Ban-tok Mo-li dan tamunya, Hok-houw Toa-to Lu Seng Cu, berlarian keluar dari dalam kamar. Mereka menduga bahwa tentu ada musuh yang menyerbu dan membakar gudang. Mereka sama sekali tidak tahu betapa ketika mereka berlarian keluar kamar, ada bayangan hitam menyelinap masuk ke dalam kamar itu dengan gerakan yang cekatan sekali. Bayangan ini bukan lain adalah Giok Cu yang telah menggunakan akal membakar gudang untuk menolong dua orang muda yang diculik gurunya dan tamu gurunya.
Ketika berada di dalam kamar gurunya, kamar yang sudah dikenalnya, dengan pembaringan yang lebar dan perlengkapan yang mewah itu, Giok Cu terbelalak mukanya berubah merah. Hampir ia tidak dapat melihat keadaan itu lebih lama lagi dan meninggalkan kamar, kalau saja ia tidak ingat bahwa ia masuk kamar ini untuk menyelamatkan orang. Ia melihat betapa dua orang muda itu, yang usianya masih muda sekali kurang lebih enam belas tahun, berada di atas pembaringan dalam keadaan telanjang bulat dan tidak mampu bergerak karena tertotok. Gadis remaja itu hanya memandang dengan mata terbelalak dan air mata bercucuran, sedangkan pemudanya memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak ketakutan!
Giok Cu cepat menotok mereka, membebaskan mereka dari pengaruh totokan sehingga keduanya mampu bergerak kembali. "Sssttt, jangan berisik. Cepat pakai pakaian kalian dan ikuti aku. Aku akan membebaskan kalian dari sini!" bisik Gi Cu. Dua orang muda itu tentu saja menjadi gugup dan secepatnya mereka mengenakan pakaian mereka dan tak lama kemudian mereka sudah mengikuti Gi Cu keluar dari dalam kamar, lalu melarikan diri melalui kebun belakang yai sunyi. Mereka melihat betapa orang-orang sedang sibuk memadamkan kebakaran besar di samping rumah.
Karena tidak sabar lagi melihat betapa gadis remaja itu sukar berlari karena tubuhnya menggigil ketakutan, Gi Cu menggendongnya, dan berlarilah sambil menarik tangan pemuda itu yang juga ketakutan. Mereka menghilang ditelan kegelapan malam.
Giok Cu tidak memberi kesempa kepada pemuda itu untuk beristirahat sejenak pun. Biarpun pemuda itu sudah terengah- engah, ia memaksanya berlari terus. Kini ia menurunkan gadis yang digendongnya dan mengajak mereka berdua lari memasuki hutan kemudian, di dalam kegelapan yang membuta, Giok Cu terus menarik tangan mereka untuk pergi semakin jauh. Ia sendiri sudah halal akan jalan setapak di hutan itu, maka ia mampu menjadi petunjuk jalan dalam cuaca yang gelap itu, hanya diterangi bintang-bintang di langit, itu pun masih dihalangi oleh daun-daun pohon yang lebat.
Baru pada keesokan harinya, ketika matahari pagi mulai mengirim sinarnya untuk mengusir kegelapan malam, terpaksa Giok Cu berhenti karena gadis dan pemuda remaja itu sudah tidak kuat lagi dan mereka berdua sudah menjatuhkan diri di atas rumput. Gadis remaja it menangis dan pemuda itu pun merintih! ketika keduanya berlutut di depan Giok Cu.
"Terima kasih atas pertolongan Li-hiap (Pendekar Wanita) yang telah menyelamatkan nyawa saya… " kata muda itu. "Li-hiap, engkau telah membebas kan saya dari ancaman maut yang amat mengerikan, sampai mati saya tidak akan melupakan budi ini " kata gadis itu.
Giok Cu mengangkat kedua tangan-ya dengan tidak sabar. "Sudahlah, tidak ada gunanya semua ini. Aku tidak minta terima kasih, akan tetapi aku minta agar kalian berdua bangkit lagi dan melanjutkan pelarian ini. Kita masih harus lari jauh untuk benar-benar dapat bebas dari ancaman maut ini!" Giok Cu sama sekali tidak takut akan keselamatan diri sendiri. Yang ditakutinya adalah kalau sampai gurunya dan Lui Seng Cu dapat menyusul mereka, tentu kedua orang muda ini akan ditangkap kembali dan ia sama sekali tidak akan mampu melindungi mereka.
"Tapi, kaki saya……… lecet-lecet dan nyeri… " keluh pemuda
itu.
"Dan saya sudah tidak kuat lagi, Li-hiap… " kata yang
gadis.
"Kalian harus kuat! Hayo, kita lari lagi!" kata Giok Cu menyambar lengan mereka untuk melarikan diri. Dua orang muda itu merintih, mengeluh, tersaruk-saruk dan jatuh bangun, akan tetapi Ciok Cu tidak peduli dan terus menyeret tubuh mereka.
Tiba-tiba ada sebatang tongkat menyelonong dan menghalang di depan Giok Cu. Ketika Giok Cu mengangkat muka memandang, kiranya yang memegang tongkat itu adalah hwesio yang tua renta usianya tentu lebih dari tujuh puluh tahun. Hwesio ini kulitnya hitam sekali seperti pantat kwali hangus, perutnya gendut bukan main seperti kerbau hamil, akan tetapi muka yang hitam itu memiliki sepasang mata yang ramah " mencorong, dan mulutnya selalu tersenyum-senyum. "Omitohud… ! Seorang gadis remaja yang begini manis
dan gagahnya, ternyata memiliki watak yang amat jahat suka menyiksa orang lain! Nona, sungguh amat tidak baik kalau kaulanjutkan menyiksa dua orang ini yang sudah kehabisan tenaga, kaupaksa dan kau seret untuk berjalan, bahkan berlari. Dimana prikemanusiaanmu?"
Giok Cu adalah seorang yang galak, apalagi sekarang ia merasa tidak bersalah, disangka yang bukan-bukan oleh seorang kakek tua renta berkepala gundut yang perutnya gendut. Ia membe¬lalakkan matanya, memandang penuh kemarahan dan ia menudingkan telunjuknya ke arah perut yang gendut itu.
"Hwesio tua! Apa kau kira prikemanusiaan sudah diborong semua oleh hwesio-hwesio gendut seperti engkau? Apa kaukira perutmu yang gendut itu terlalu penuh oleh kebaikan dan prikemanusiaan sehingga manusia macam aku tidak mengenalnya lagi? Hayo minggir dan jangan menghalang di tengah jalan!"