Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 61

Memuat...

"Nona, kalau Nona hendak memilihkan pakaian suami Nona itu… ”

Hui Im mengerutkan alisnya, aku tetapi tidak marah. "Aku belum bersuami dia itu sahabatku!" katanya singkat.

"Aih, maafkan saya, Nona. Saya kira sahabatmu ganteng itu akan pantas sekali kalau memakai pakaian ini, dan yang ini………, dan sabuk ini tentu menarik sekali…… " Sebagai seorang pedagang yang luwes, pemilik toko itu berhasil menarik hati Hui Im sehingga gadis itu memborongkan semua sisa uangnya untuk bermacam pakaian pria.

Di bagian lain, Han Beng juga membeli banyak pakaian untuk Hui Im, dan pengurus toko yang juga amat cerdik banyak membantunya memilih segala macam pakaian. Dia sama sekali tidak mengerti tentang pakaian wanita, apalagi pakaian dalam, maka pengurus toko itulah yang membantunya.

Ketika keduanya keluar dari toko masing-masing membawa sebuah buntalan besar dan keduanya saling pandang sambil tersenyum-senyum! Dan tak lama kemudian, di dalam sebuah hutan sunyi, bagaikan dua orang anak kecil baru saja menerima hadiah dan kini membuka buntalan dan mengagumi semua hadiah pakaian itu, Han Beng dan Hui Im tertawa-tawa gembira sambil mengagumi pakaian mereka

"Aih, tentu banyak sekali uang yang kaukeluarkan untuk membeli semua ini, Twako!"

"Tidak lebih banyak daripada yang kau keluarkan, Siauw- moi!"

"Aduh, indah sekali celana dan baju ini! Engkau pandai sekali memilih untukku, Twako.Terima kasih banyak!"

"Engkau pun pandai memilih untukku siauw-moi… heiii,

kenapa engkau?" Han Beng terkejut melihat betapa Hui Im tiba-tiba menangis, duduk di atas tanah sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan dan terisak-isak. "Kenapa engkau menangis, Siauw-moi ?" Han Beng berlutut di

dekatnya, khawatir kalau-kalau dia telah menyinggung perasaan gadis itu.

Sampai beberapa lamanya Hui Im tidak mampu menjawab, hanya sesenggukan dan Han Beng membiarkannya saja, menanti sampai gadis itu menjadi tenang kembali. Setelah Hui Im dapat menguasai dirinya, Han Beng berkata dengan suara lembut, "Siauw-moi, sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang menyusahkah, hatimu sehingga engkau menangis tadi."

Sepasang mata yang bening itu agak memerah ketika memandang pada Han Beng. "Maafkan aku, Twako. Akan tetapi semua kebaikanmu membuat aku teringat bahwa hanya engkaulah satu-satunya erang yang baik kepadaku, mengingatkan aku bahwa aku tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini."

Han Beng tersenyum. "Jangan lupa, Siauw-moi, bahwa engkau masih mempunyai seorang Pamanmu yang kini sedang kita cari. Dia adalah anggauta keluargamu yang terdekat, dan tentu di samping Pamanmu masih ada keluarganya yang juga merupakan sanakmu. Tak lama lagi engkau akan mempunyai banyak orang yang menyayangmu."

Hui Im menarik napas panjang. "Mudah-mudahan begitu, Twako. Sesungguhnya, Paman Tang Gu It itu bukan hanya kakakmu dari mendiang Ibuku, akan tetapi juga. calon Ayah

Mertuaku

……"

"Hem mm… b

egitukah? " Han Beng menahan kejutan dalam hatinya mendeng ar bahwa gadis itu telah menjadi calon mantu orang! Justeru kenyataan inilah yang membuat Hui lm tadi menangis.Gadis ini teringat bahwa ia tidak bebas lagi, ia adalah tunangan orang calon isteri dari seorang yang baru dijumpainya dua kali ketika ia masih kecil berusia kurang dari sepuluh tahun! Ia tidak tahu lagi bagaimana sekarang wajah dari Tang Ciok An, tunangannya itu

Membayangkan bahwa ia tidak mengenal tunangannya, tidak tahu apakah tunangannya itu sebaik dan selembut Han Beng, inilah yang membuat ia tadi menangis.

"Kami ditunangkan sejak aku usia tujuh atau delapan tahun, Twako. Dan sejak sepuluh tahun yang lalu aku tidak pernah lagi bertemu dengan ' putera Pamanku itu."

Post a Comment