Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 60

Memuat...

"Tempat yang cukup jauh dari sini," tata Han Beng. "Han Beng, engkau antar Nona ini mencari Pamannya

sampai dapat ia temukan," tiba-tiba Sin-ciang Kai-ong berkata.

"Memang sudah tiba saatnya engkau berpisah dariku. Aku sendiri akan kembali ke Hok-kian mencari para sahabatku…

"

"Akan tetapi, Suhu belum sehat benar! Suhu membutuhkan teman untuk merawat Suhu!" kata Han Beng, terkejut dan baru ingat dia bahwa sudah lima tahun dia berguru kepada raja pengemis itu.

Kakek itu tertawa. "Ha-ha-ha, Han Beng. Engkau hanya membuat aku menjadi manja dan malas saja. Selama lima tahun ini aku hidup enak-enakan saja dan mengandalkan engkau. Padahal sebelumnya aku pun biasa berkelana seorang diri. Tidak, sekarang ini yang lebih membutuhkan engkau adalah Nona Souw Hui, bukan aku. Nah, kalian berangkatlah dan ini……. engkau perlu bekal dalam pengawalan Nona Souw. Kaubawalah ini untuk keperluan dan biaya di dalam perjalanan." Kakek itu mengeluarkan sebuah kantung dari dalam bajunya dan ternyata kantung itu terisi beberapa potong emas murni yang amat berharga Han Beng terkejut sekali. Selama ini dia dan gurunya mencukupi kebutuhan hidup mereka dengan jalan mengemis. Kiranya diam-diam suhunya menyimpaf emas sekian banyaknya!

"Tapi, Suhu. Bukankah untuk keperluan itu kami dapat…

"

"Hushhh! Kau mau mengajak Nona Souw mengemis? Tak tahu malu kau Sudahlah, cepat pergi dan mulai saat in engkau pun tidak perlu lagi berpakaian pengemis seperti aku!" Berkata demikian, kakek itu menggerakkan tubuhnya dan seketika lenyap di balik pohon-pohon dalam hutan itu. Souw Hui Im menghela napas panjang dan memandang wajah Han Beng.

"Aih, Twako. Aku hanya menjadi seorang pengganggu saja. Bukan hanya aku merepotkan engkau, juga menjadi penyebab perpisahan antara engkau dan gurumu."

"Sama sekali tidak, Siauw-moi. Engkau sama sekali tidak merepotkan, karena memang sudah menjadi tugasku untuk membantu sesama hidup sekuasaku, dan tentang perpisahanku dengan Suhu, hal itu memang sudah tiba saatnya seperti dikatakan Suhu. Sudah lima tahun aku belajar ilmu dari Suhu, dan memang menurut perjanjian, aku hanya belajar lama lima tahun."

"Engkau hebat, Twako. Belajar ilmu silat hanya lima tahun akan tetapi sudah dapat menjadi seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian sedemikian hebatnya!" "Ah, tidak semudah itu, Im-moi. Sebelum belajar dari Suhu Sin-ciang Kai-Ong, aku telah mempelajari ilmu silat Hari guruku yang pertama."

"Ah, begitukah? Dan kalau boleh aku mengetahui, siapa gerangan gurumu yang pertama itu?"

"Dia berjuluk Sin-tiauw dan namanya Liu Bhok Ki. Aku belajar lima tahun dari suhu pertama itu. Mari, kita mulai dengan perjalanan kita, Im-moi. Perjalanan cukup jauh dan harus dilakukan dengan cepat. Mudah-mudahan saja aku akan berhasil mengantar engkau sampai bertemu dengan Pamanmu itu."

Mereka pun mulai dengan perjalana mereka yang cukup jauh. Tanpa mereka sadari, keduanya saling tertarik. Han Beng memang sejak semula amat tertarik kepada gadis itu. Dalam pertemuan pertama saja gadis itu telah memperlihatkan kebaikan budinya, disamping kegagahannya yang menimbulkan rasa kagum dalam hatinya. Kini, setelah melakukan perjalanan bersama, makin, jelaslah bahwa Hui Im memang seorang gadis yang luar biasa. Dia sendiri seorang pemuda yang berpakaian tambal-tambalan seperti seorang pengemis. Biar pun gadis itu sudah mengetahui bahwadia bukanlah seorang pengemis hina yan sembarangan saja, namun orang lain tentu tidak mengetahuinya. Biarpun demikian, gadis itu sama sekali tidak kelihatan canggung atau malu-malu melakukan perjalanan dengan seorang pemuda jembel dan miskin!

Ketika mereka memasuki sebuah kota yang pertama, Hui Im berkata kepada Han Beng, "Beng-twako, tunggu sebentar, ya? Aku ingin sekali memasuki toko itu." Tanpa memberi kesempatan kepada Han Beng, gadis itu sudah melangkah me masuki sebuah toko yang menjual pakaian. Melihat ini, Han Beng menahan senyumnya. Bagaimanapun juga, temannya itu hanya seorang wanita! Agaknya me mang wanita suka berbelanja. Hanya dia merasa heran bahwa gadis itu berani berbelanja, yang berarti gadis itu mempunyai uang, padahal gadis itu terpaksa meninggalkan rumah secara mendadak.

Ternyata tidak berapa lama Hui Im memasuki toko. Dari luar toko, agak jauh karena dia tidak ingin disangka hendak mengemis, Han Beng menunggu dan dia melihat gadis itu keluar dari toko membawa sebuah buntalan dan Hui lm menghampirinya sambil tersenyum. Memang Hui Im memiliki watak yang periang sehingga agaknya ia sudah dimengusir kedukaannya dan kini ia lalu memperlihatkan wajah cerah.

"Wah, engkau memborong pakaian Im-moi?"

Gadis itu hanya mengangguk, kita cepat keluar kota, aku ingin segera mencoba pakaian ini!" katanya. Kembal Han Beng tersenyum. Agaknya memang semua wanita suka akan pakaian indah, pikirnya dan mereka lalu cepat keluar dari kota itu. Setelah mereka tiba di tempat sunyi di mana tidak nampak ada seorang pun yang lewat, Hui mengajak Han Beng berhenti di dekat sebuah gubuk di tengah sawah tepi jalan.

"Berhenti dulu, Twako. Di sini engkau dapat mencoba pakaian ini. Nah, kaugantilah pakaianmu, aku sudah ingin sekali melihat engkau mengenakan pakaian ini!"

Han Beng tertegun ketika gadis itu mendorongkan buntalan ke dalam kedua lengannya yang terpaksa menerimanya Dia merasa bingung, dan sejenak di hatinya bengong, tidak tahu apa yang dimaksudkan gadis itu karena dia tadinya membayangkan bahwa Hui Im akan segera berganti pakaian indah!

"Apa…….. apa ini… ? Apa maksudmu, Im-moi?"

Gadis itu tersenyum, agak lebar sehingga deretan gigi putih nampak sedikit. "Aku tadi masuk toko untuk membeli pakaian, Twako. Pakaian untukmu, dua stel. Lihat, pakaianmu robek- robek dan sudah kumal, perlu diganti, bukan?"

Gadis itu kini mendorong-dorong Han Beng untuk memasuki gubuk itu. Biarpun wajahnya berubah merah, namun sambil tersenyum Han Beng terpaksa masuki gubuk itu. Hui Im tinggal di luar. Ternyata, setelah membuka buntalan Han Beng melihat dua stel pakaian sederhana namun kuat dan berwarna biru polos. Dia menanggalkan pakaian jembelnya dan memakai pakaian baru. Alisnya agak berkerut. Mengapa gadis itu membeli pakaian untuknya? Kelirukah dugaannya dan sesungguhnya gadis itu merasa malu berjalan dengan seorang pengemis?

Ketika dia keluar dari gubuk itu, Hui Im memandang kepadanya dan wajah gadis itu berseri, sepasang matanya menyinarkan kekaguman. "Aih, Twako, engkau kelihatan tampan dan gagah sekali serunya gembira. Akan tetapi Han Beng tidak nampak gembira, sebaliknya mengamati wajah gadis itu

.

"Siauw-moi," katanya dengan si agak kaku. "Katakanlah, mengapa engkau memberi pakaian kepadaku? Kenapa engkau membelinya untukku? Apakah engkau merasa malu berjalan bersama seorang yang berpakaian seperti seorang jembel?"

Sepasang mata yang tadinya bersih? sinar penuh kegembiraan itu terbelalak dan wajah yang tadinya berseri gembira dan kemerahan itu kini tiba-tiba berubah pucat.

"Ah, tidak…………, tidak… harap jangan salahduga, Twako.

Ah, kau maafkanlah aku, sama sekali bukan maksudku membelikan pakaian karena aku malu berjalan denganmu. Hanya ……… kukira… pakaianmu sudah begitu kotor dan

tidak pantas… " Melihat kegugupan gadis itu, Han Beng merasa kasihan dandia sesalkan kecurigaannya sendiri. "Sudahlah, Siauw-si, aku pun percaya bahwa engkau tidak melakukannya karena malu. Akan tetapi bagaimana engkau dapat

membelinya? Bukankah engkau tidak sempat membawa uang ketika meninggalkan rumah orang tuamu?"

Hui Im mengeluarkan segenggam uang dari saku bajunya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya meraba leher sendiri. "Aku tadi… menjual kalung emasku pada pemilik

toko, Twako dan ini kelebihan uangnya."

Han Beng merasa terharu sekali. Gadis ini menjual kalungnya untuk membelikan pakaian untuknya! Di samping keharuan itu, juga dia merasa malu. Bukankah dia membawa bekal emas dari gurunya? Cukup untuk pembeli keperluan apa pun juga, dan dia melihat bahwa gadis itu tidak mempunyai bekal pakaian kecuali yang dikenakan pada tubuhnya. Sungguh kasihan. Kadang-kadang, hampir sehari penuh gadis itu "bersembunyi" kalau bertemu sungai di dalam tempat sunyi, selain mandi juga untuk mencuci pakaian satu-satunya itu kemudian menanti sampai kering, baru dipakainya kembali dan berani muncul di depannya. Dan gadis yang telah menjual kalungnya itu hanya membeli pakaian untuk dia sama sekali tidak membeli untuk dir sendiril

"Im-moi… "

"Ya… ? Engkau tidak marah, Twako?" tanya Si Gadis

khawatir.

Han Beng tersenyum dan menggeleng kepalanya. "Tidak, kenapa marah? Akal tetapi sekarang mari kita kembali ki kota itu, Siauw-moi."

"Eh? Kembali ke sana? Untuk apa Twako?" "Hayolah, aku ada keperluan penting di sana, tadi aku lupa." ajak Han Beng dan seperti biasa, Hui Im hanya menyetujui dan tanpa banyak cakap lagi ia mengikuti Han Beng memasuki kota tadi. Akan tetapi, ia merasa heran dan khawatir ketika Han Beng mengajaknya memasuki toko di mana ia membeli pakaian untuk Han Beng tadi! Jangan- jangan pemuda itu hendak mengembalikan pakaian yang dibelinya? Akan tetapi tidak! Han Beng menarik tangannya dan menunjuk ke arah beberapa stel pakaian wanita yang digantung di sudut.

"Siauw-moi, yang berwarna hijau muda dan biru-kuning itu tentu pantas sekali untukmu!"

Barulah Hui Im merasa lega, wajahnya kemerahan dan ia pun tersenyum-senyum malu. 'Terserah kepadamu saja, Twako," katanya dan ia pun pergi ke sudut lain di mana dijual segala keperluan pakaian pria. Dengan jantung berdebar dan perasaan bahagia bukan main, Hui Im lalu memilih sepatu, kaus kaki, pakaian dalam, saputangan dan segala keperluan pakaian pria untuk dibelinya.Uang sisa penjualan kalung tadi masih cukup banyak dan pemilik toko yang mengenal Hui Im yang tadi menjual kalung, segera menghampirinya. Dia tadi melihat betapa Hui Im masuk bersama seorang pemuda ganteng, maka sambil tersenyum-senyum pemilik toko yang sudah setengah tua itu cepat menghampiri Hui Im.

Post a Comment