Masih dalam rangka siasat Pangeran Li Si Bin, keadaan di is tana seolah-olah telah tenang kembali
Tidak ada bekas ketegangan sebagai akibat sakitnya pute ra mahkota yang kabarnya keracunan he bat itu
Sang pangeran melarang siapa saja bicara tentang hal itu, dan Bi Lan juga tidak memperlihatkan kecurigaan apapun
Wanita itu secara resmi diangkat menjadi pengawal pribadi putera mahkota sehingga tidak ada seorangpun yang menduga hal yang bukan-bukan kalau melihat wanita cantik dan perkasa ini berduaan saja dengan pute ra mahkota, bercakap-cakap dengan akrab sekali
Tadinya memang pute ra mahkota hanya menginginkan Bi Lan menjadi pengawal pribadinya, akan te tapi karena masing-masing mengetahui akan isi hatinya, tahu bahwa mereka saling mengagumi dan saling mencinta, maka tidaklah mengherankan kalau kemudian putera mahkota akan mengangkat Bi Lan menjadi seorang selir terkasih
Bi Lan tahu diri
Ia hanya seorang wanita biasa, bahkan seorang janda yang sudah yatim piatu
Dibandingkan dengan pute ra mahkota, ia bagaikan seekor burung gagak bersanding dengan burung Hong
Oleh karena itu, dengan hati penuh penyerahan, penuh pengabdian dan cinta kasih, ia menyerahkan diri dengan segala kerendahan hatinya, rela untuk dijadikan selir merangkap pengawal pribadi
Karena tugasnya sebagai pengawal inilah, ia jauh lebih dekat dan le bih sering berdekatan dengan pute ra mahkota dibandingkan selir lainnya, kemudian
Dan iapun sudah merasa berbahagia sekali kalau berada di dekat pria yang dijunjungnya dan dicintanya itu
Menjadi kelanjutan siasat mereka kalau Bi Lan bersikap seolah sudah melupakan peris tiwa penculikan pute rinya dan jatuh sakitnya pute ra mahkota
Akan te tapi sesungguhnya, ia tidak pernah lengah sebentarpun
I a selalu waspada dan memperhatikan setiap orang yang berada di dalam istana, memperhatikan setiap kejadian yang sekecil apapun, dan diam-diam mencurigai setiap orang.! Ketekunan dan ketelitiannya itu akhirnya berhasil
Pada suatu malam, secara sembunyi Bi lan meronda ke bagian belakang daerah keputren
Ia sudah diceritakan oleh pute ra mahkota tentang sikap thai-kam Ciu yang dahulu diutus permaisuri untuk menengoknya ketika dia sakit atau lebih te pat berpura-pura sakit
Malam ini, Bi Lan sengaja mencari thai-kam itu untuk menyelidiki keadaan dirinya
Sore tadi ia melihat thai-kam itu seperti orang gelisah, wajahnya pucat, rambut dan pakaiannya kusut dan ketika berjumpa dengannya, orang itu menunduk, pura-pura tidak melihat dan tampak gugup
Ketika ia menyelinap mendekati tempat tinggal para thai-kam, tiba-tiba ia melihat thai-kam Ciu membuka pintu dan keluar menuju ke taman dengan sikap hati-hati sekali
Bi Lan membayangi dari jauh agar jangan sampai terlihat
Karena inilah, maka ketika memasuki taman, ia kehilangan bayangan thai-kam Ciu
Selagi ia kebingungan, mencari-cari kemana perginya orang yang dicurigainya itu, tiba-tiba ia mendengar suara orang mengaduh-aduh dan suara sambaran senjata tajam berdesing
Cepat Bi Lan melompat dan lari ke arah suara itu dan ia masih sempat melihat seseorang diserang orang lain dengan sebatang pedang
Orang yang diserang itu agaknya sudah te rluka, akan tetapi masih berusaha mengelak dan berloncatan ke s ana-sini, akan tetapi ketika Bi Lan muncul, penyerang itu berhasil menusukkan pedangnya lagi dan orang itupun roboh
Heiii, tahan senjata!.
bentak Bi Lan dan si penyerang itu agaknya te rkejut, menarik kembali pedangnya dan meloncat jauh, lenyap dalam kegelapan malam
Sinar lampu pene rangan taman itu agak jauh dan sinarnya hanya remang-remang saja mencapai tempat itu, namun cukup bagi Bi Lan untuk melihat bahwa korban itu berpakaian sebagai seorang thai-kam dan ketika ia berjongkok untuk memeriksanya, ia terkejut ketika mengenalnya sebagai thai-kam Ciu yang dicurigai oleh pute ra mahkota! Orang itu sudah payah, luka tusukan pedang membuat tubuhnya berle potan darah dan napasnya tinggal satu-satu
Ia harus bertindak cepat sebelum terlambat
Ditotoknya beberapa bagian tubuh orang itu dan iapun bertanya
Cepat katakan siapa pembunuhmu dan apa hubungannya dengan penculik anakku dan musuh putera mahkota!
Karena totokan-totokan itu, thai-kam Ciu dapat mengerahkan tenaga te rakhir dan dengan suara penuh penyesalan dan rasa penas aran, diapun berkata,
Semua diatur oleh Pangeran Tua.......dibantu Poa Kiu dan Siauw Can........
kemudian bibirnya hanya bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara dan tak lama kemudian diapun te rkulai, te was
Akan tetapi keterangan itu sudah cukup bagi Bi Lan
Keterangan yang membuat kedua kakinya gemetar dan tubuhnya le mas, yang membuat ia sampai lama tidak mampu bangkit berdiri, te rmangu-mangu
Pangeran Tua Li Siu Ti
Dan Siauw Can..........
Kini mengertilah ia, walaupun ia masih te rkejut karena sama sekali tidak pernah mengira bahwa semua peris tiwa itu diatur oleh orang-orang yang selama ini dianggapnya baik dan dipercaya sepenuhnya
Yang membuat hatinya sakit seperti ditusuk adalah Siauw Can.
Pemuda yang dianggapnya se bagai seorang pendekar itu, bahkan yang pernah dikagumi dan dicintanya, telah menculik Lan Lan dan hendak memaksanya untuk membunuh pute ra mahkota! Ia dapat menduga bahwa te ntu Siauw Can diperalat oleh Pangeran Tua, akan tetapi kenapa pemuda yang katanya mencintanya itu mau melakukan perbuatan keji dengan menculik Lan Lan dan memaksanya membunuh pute ra mahkota, sungguh membuatnya penas aran bukan main
Ingin rasanya saat itu juga ia lari mencari Siauw Can atau Can Hong San untuk memaki dan menyerangnya
Akan tetapi ia teringat bahwa pemuda itu adalah seorang lawan yang amat tangguh, apalagi te ntu dia akan dibantu oleh anak buah Pangeran Tua
Tidak, urusan ini terlalu besar untuk ia tangani sendiri
Cepat ia meninggalkan taman dan malam itu juga ia mencari Pangeran Li Si Bin
Pangeran Li Si Bin tidak terkejut mendengar laporan Bi Lan
Memang pangeran ini pernah mempunyai kecurigaan te rhadap pamannya, Pangeran Tua, hanya karena belum ada bukti maka dia tidak dapat melakukan sesuatu
Kini tahulah dia akan rahasia itu dan pada malam itu juga dia memanggil para panglima yang membantunya dan pasukan khusus dikerahkan
Tanpa membuang waktu lagi Pangeran Li Si Bin sendiri, dibantu para panglimanya dan tidak ketinggalan Bi Lan sendiri, lalu menyerbu ke istana Pangeran Tua Li Siu Ti
Ge gerlah di kota raja
Terjadi pertempuran yang hanya pendek saja karena Pangeran Li Siu Ti sama sekali tidak mengira bahwa malam itu akan terjadi penyerbuan besar-besaran yang dilakukan oleh pasukan istimewa yang dipimpin sendiri oleh pute ra mahkota! Dan penyerbuan itupun sudah direstui kaisar yang malam itu juga mendengar laporan pute ranya
Mereka yang berani melakukan perlawanan segera dibabat roboh dan yang lain cepat melempar senjata dan menjatuhkan diri berlutut
Pangeran Li Siu Ti sekeluarga ditangkap
Akan te tapi, dengan hati yang le ga Bi Lan mendengar bahwa Ai Yin lolos dari penangkapan
Disamping kelegaan hatinya, juga ia merasa penas aran karena Can Hong San juga lolos
Kiranya pemuda inilah yang melarikan Ai Yin dan Bi Lan dapat menduga bahwa bayangan yang dilihatnya membunuh thai-kam Ciu tentulah Can Hong San
Pemuda itu tentu sudah merasa khawatir melihat perbuatannya ketahuan, sudah dapat menduga bahwa mungkin saja Bi Lan akan melapor dan thaikam Ciu membuka rahasia
Hong San te ntu sudah dapat menduga kemungkinan datangnya serbuan dari pute ra mahkota, maka begitu tiba di istana Pangeran Tua, dia segera mengajak Ai Yin pergi dan tidak lupa membawa barang-barang berharga dari is tana itu
Ketika Ai Yin mendesak dan minta keterangan kepadanya, Can Hong San tidak mau mengaku dan setengah memaksa gadis yang te lah ditunangkan dengannya itu meninggalkan istana secepatnya, bahkan malam itu juga mereka kabur keluar dari pintu gerbang kotaraja, menunggang dua ekor kuda pilihan
Keluarga Pangeran Tua Li Siu Ti ditangkap dan dipenjara, kemudian setelah diadili, pangeran itu dijatuhi hukuman mati sedangkan keluarganya dihukum buang
Setelah terjadi peristiwa itu, Bi Lan makin disayang dan dipercaya oleh Pangeran Li Si Bin dan iapun menyerah dengan senang hati ketika pute ra mahkota itu mengangkatnya sebagai selir te rkasih dan te rpercaya
De ngan sendirinya Lan Lan yang kini diaku sebagai pute ri sang pangeran dengan nama menjadi Li Hong Lan, mendapat perlakuan sebagai seorang pute ri dan pendidikan dan perawatannya diserahkan kepada para ahli yang di is tana bertugas untuk mendidik para pute ri yang masih kecil
-ooo0dw0ooo- Anak laki-laki itu berusia kurang le bih duabelas tahun, namun tubuhnya tinggi tegap seperti orang dewasa saja
Juga wajahnya yang tampan itu nampak dewasa, dengan mata yang tajam mencorong penuh pengertian, mulut yang membayangkan keteguhan hati dan ketabahan
Kalau ada ahli silat melihatnya pada saat dia berlatih itu, tentu ahli silat itu akan terkagumkagum
Anak berusia duabelas tahun itu berlatih silat di atas bambu-bambu runcing yang ditanam di tanah setinggi satu meter
Kedua kakinya bertelanjang dan dengan kedua kaki bertelanjang itu dia bersilat di atas bambu-bambu yang runcing
Ge rakannya demikian gesit dan tangkas, kedua kakinya yang melangkah ke kanan kiri, depan belakang, bahkan kadang melompati sebatang bambu runcing dan hinggap di atas bambu runcing berikutnya, tak pernah meleset
Orang akan merasa ngeri karena sekali terpeleset, anak itu akan te rjatuh dan bambu-bambu runcing akan menyambut perut dan dadanya atau punggungnya
Dan mengingat betapa kedua kaki te lanjang itu berloncatan di atas bambu-bambu runcing, sungguh mengerikan dan sekaligus mengagumkan
Tak jauh dari situ, di bawah pohon yang tumbuh di belakang sebuah pondok baru, duduk seorang pria tua yang tinggi besar bermuka kemerahan dan je nggotnya panjang
Pria berusia sekitar lima puluh delapan tahun itu masih nampak gagah dan berwibawa
Dari wajah dan sikapnya mudah diduga bahwa dia bukan orang sembarangan
Dia mengelus jenggotnya dan mulutnya te rsenyum, kepalanya mengangguk-angguk melihat kelincahan anak laki-laki remaja yang berlatih silat itu
Dari gerakan-gerakannya saja, jelas nampak bahwa anak itu memang memiliki bakat yang bes ar sekali
Ge rakannya demikian lentur dan indah, tidak kaku dan setiap gerakan mengandung te naga yang tepat penggunaannya, tidak berlebihan juga tidak lemah