Bi Lan berseru marah dan tiba-tiba tubuhnya melayang ke atas dan bagaikan seekor burung rajawali menyambar, tubuhnya meluncur kea rah lawan dengan kedua tangan mencakar dan menampar
Orang gendut itu berusaha untuk menyambut dengan sepasang pisaunya, akan te tapi kedua pundaknya sudah le bih dahulu kena dicakar dan ditampar sehingga sepasang senjata itu terlepas jatuh
Ketika orang itu hendak melarikan diri, kembali tangan bi Lan bergerak, sekali ini kearah tengkuk dan orang itupun jatuh tersungkur! Bi Lan menginjak punggungnya dan membentak,
Hayo katakan, kenapa engkau membunuh thaikam itu!
Akan tetapi, tangan kiri si gendut itu memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya sendiri dan diapun te rkulai
Ketika Bi Lan memeriksanya, te rnyata dia telah mati dengan muka berubah menghitam
Racun! Teringat akan ini, berubah wajah Bi Lan
Racun! Dan si gendut ini agaknya menyuruh dengan paksa thai-kam tadi menghidangkan guci arak kepada Pangeran Mahkota! Ketika para pengawal lari berdatangan mendengar keributan itu, Bi Lan berkata,
Jaga mayat pembunuh ini!
Dan diapun sudah melompat dan bagaikan te rbang secepatnya ia memasuki ruangan makan, dimana ia harus hadir atas undangan Pangeran Li Si Bin
Akan tetapi saat itu ia sama sekali tidak teringat akan undangan makan siang itu, dan ia memasuki ruangan itu bukan untuk memenuhi undangan makan
Begitu tiba di ambang pintu, dimana te rdapat sebuah meja yang menjadi te mpat persediaan cadangan mangkok dan sumpit, ia melihat pangeran itu yang dilayani para dayang,sedang mengangkat cawan arak ke mulutnya
Celaka, pikir Bi Lan dan wajahnya pucat sekali
Tidak ada waktu lagi untuk mencegah hal amat dikhawatirkannya, maka tangannya menyambar sebatang sumpit dari atas meja dan sekali tangan itu bergerak, sumpit melayang seperti anak panah ke arah pangeran
Sing.....trang....!
Cawan yang bibirnya sudah menempel di bibir Pangeran Li Si Bin itu te rlempar dan is inya tumpah, muncrat ke mana-mana
Akan tetapi pangeran bersikap tenang
Dia menoleh ke arah Bi Lan, melihat betapa wajah wanita itu pucat sekali
Sepasang mata pangeran itu mencorong, dan dia berkata dengan suara yang le mbut, namun berwibawa sekali sehingga te rasa oleh Bi Lan seperti pedang yang menembus jantungnya
Bi Lan, engkau kuundang makan siang dan aku sudah menantimu
Akan tetapi, engkau datang dan melakukan ini
Apa maksudmu?
Tentu saja pangeran yang juga memiliki ilmu kepandaian silat tinggi itu dapat mengenal serangan untuk membunuhnya atau serangan untuk mencegahnya minum arak dari cawan tadi
Kalau wanita itu menghendaki, tentu bukan sumpit yang disambitkan, melainkan senjata rahasia yang ampuh, dan bukan cawan di tangannya yang dijadikan sasaran, melainkan anggota tubuhnya yang mematikan
Akan te tapi kalau demikian halnya, tentu diapun sudah mengelak atau menangkis
Saking tegang, gelisah dan juga sungkan, Bi Lan menjatuhkan dirinya berlutut kepada pangeran itu
Bias anya ia memberi hormat dengan membungkuk atau hanya berlutut dengan sebelah kaki saja
Ampunkan hamba, pangeran
Akan tetapi........arak itu.....arak itu mungkin sekali mengandung racun.!
Katanya agak gagap karena te ntu saja ia sendiri belum yakin akan hal itu, hanya baru dugaan saja
Sepasang mata yang mencorong itu te rbelalak
Tanpa banyak cakap lagi Pangeran Li Si Bin yang sejak muda sudah bergaul dengan dunia kangouw dan mempunyai banyak pengalaman, lalu mengambil guci arak darimana tadi dia menuangkan arak ke dalam cawannya, menciumnya, lalu mengeluarkan sebuah mainan batu giok putih yang te rgantung di le her, mencelupkan batu kemala itu ke dalam arak
Tak lama kemudian dia mengangkat lagi batu giok itu dan te rnyata warna putih itu berubah menjadi kehijauan.!
Hemm, engkau benar Bi Lan
Kalau kuminum arak dalam cawan tadi, mungkin aku sudah mati
Racun ini kehijauan, tidak berbau dan tidak ada rasanya, amat berbahaya
Akan tetapi, bagaimana engkau bisa mengetahui bahwa arak yang akan kuminum itu mengandung racun
Bangkitlah, dan duduklah, ceritakan semuanya, Bi Lan.
Para dayang, tujuh orang banyaknya yang ditugaskan melayani pangeran yang akan makan siang dengan Bi Lan, saling pandang dengan wajah pucat s ekali
Mereka ketakutan dan terkejut bukan main ketika melihat bahwa arak yang hamper saja diminum pangeran itu beracun! Andaikan pangeran itu tadi meminumnya dan te was, mereka te ntu akan te rseret dan takkan diampuni lagi walaupun mereka sama sekali tidak tahu menahu akan arak beracun itu
Merekapun nyaris te was dan baru saja lolos dari cengkeraman maut bersama pangeran Mahkota! Bi Lan bangkit dan dengan langkah te nang menghampiri meja, lalu duduk menghadapi meja, berhadapan dengan pangeran itu yang menatapnya dengan penuh perhatian, akan te tapi dengan alis berkerut, karena dia belum tahu atau menduga apa yang sesungguhnya telah terjadi
Pangeran, tadi ketika hamba berjalan-jalan di taman, hamba melihat bayangan orang bergerak cepat memasuki dapur
Hamba merasa curiga dan membayanginya
Dia seorang laki-laki gendut dan di dapur, dia berbicara dengan seorang thai-kam
Thai-kam itu berkata mengapa dia harus menghidangkan guci arak itu kepada paduka
Tibatiba si gendut itu membunuh si thai-kam
Hamba te rkejut dan melompat masuk
Si gendut melarikan diri ke dalam taman dan hamba berhasil mengejarnya
Dia menyerang hamba dan hamba berhasil merobohkannya dan hendak menawannya
Akan te tapi dia membunuh diri dengan menelan racu
Lalu hamba te ringat akan ucapan thai-kam tadi, tentang guci arak yang dihidangkan pada paduka
Melihat si gendut itu ahli racun, hamba lalu menjadi curiga dan cepat hamba lari ke sini dan te rpaksa hamba melemparkan sumpit untuk mencegah paduka minum arak itu.
Kini pangeran itu mengangguk-angguk dan matanya mengeluarkan sinar kagum
Bi Lan, engkau sungguh hebat sekali, bukan saja engkau lihai dan cantik, akan tetapi engkau juga amat cerdik dan setia
Hanya kecerdikanmu yang tadi telah menyelamatkan nyawaku
Sungguh aku berhutang budi dan nyawa kepadamu, Bi Lan
Bagaimana kau dapat membalasnya
Terima kasih, Bi Lan.
Kalau tadi wajah Bi Lan pucat sekali karena te gang, cemas dan juga sungkan, kini wajah itu berubah kemerahan sehingga wajahnya menjadi semakin manis, dan dia tidak berani menentang pandang mata pangeran itu yang kini bersinar sinar penuh kagum
Melihat wanita yang dikaguminya itu menunduk dengan kedua pipi kemerahan, Pangeran Li Si Bin yang jarang tertarik wajah cantik itu, kini te rsenyum dan hatinya te rtarik sekali
Dia tahu bahwa tidak mudah mendapatkan seorang wanita seperti Bi Lan ini
Cantik jelita, masih muda, berkepandaian silat tinggi, cerdik dan setia! Biarpun wanita ini telah menjadi janda dengan seorang anak, namun ia jauh le bih menarik daripada gadis yang manapun! Mungkin karena merasa berhutang budi dan nyawa, saat itu sang pangeran te lah jatuh hati kepada Kwa Bi Lan!
Me ngapa pangeran berkata demikian
Hamba hanyalah melaksanakan tugas hamba, dan tidak ada yang perlu dipuji,
kata Bi Lan lirih tanpa berani mengangkat mukanya
-ooo0dw0ooo-
Pangeran Li Si Bin tertawa lalu berkata kepada para dayang
Kalian melihat sendiri
Contohlah wanita ini! Nah
kalian singkirkan guci arak ini, tutup dan simpan untuk penyelidikan nanti
Ambil arak lain yang tidak te rlalu keras, dan anggur untuk Kwa lihiap (Pendekar Wanita Kwa)
Bi Lan, mari kita makan siang, jangan sampai peristiwa tadi mengganggu makan siang kita.
Bi Lan mengangkat mukanya, memandang wajah pangeran itu, lalu matanya mengamati hidangan yang berada di atas meja, matanya membayangkan keraguan
Jangan khawatir, aku mempunyai batu kemala yang dapat kita pergunakan untuk menguji apakah ada masakan yang mengandung racun,
kata pangeran itu dan iapun mempergunakan batu kemala tadi, setelah membersihkannya, untuk menguji semua masakan
Ternyata hanya arak dalam guci sajalah yang mengandung racun, maka mereka lalu makan minum dengan hati tenang
Sambil makan dan minum, yang di layani ole h para dayang yang kini menjadi gembira sekali, dan dite mani Bi Lan yang sudah tidak sungkan atau canggung lagi, Pangeran Li Si Bin mengajak wanita itu bercakap-cakap
Akan te tapi, tiba-tiba kepala pengawal, yaitu Siok-ciangkun mohon menghadap
Maklum bahwa hal itu tentu ada hubungannya dengan yang diceritakan Bi Lan tadi, Pangeran Li Si Bin menyuruh panglima itu masuk
Siok-ciangkun memberi hormat dengan berlutut sebelah kaki, melaporkan bahwa seorang thai-kam te rbunuh di dapur is tana, dan seorang laki-laki gendut yang te rnyata seorang bekas thai-kam istana yang dikeluarkan, kedapatan mati terbunuh pula di taman
Hemm, kami sudah tahu, ciangkun
Thai-kam itu dibunuh oleh laki-laki gendut, dan laki-laki itu membunuh diri menelan racun ketika ditangkap oleh Kwa-lihiap ini
Jangan perkenankan orang keluar masuk is tana hari ini
Aku sendiri yang akan memeriksa seluruh pelayan, thai-kam dan pengawal dalam istana
Kumpulkan mereka dan tak seorangpun boleh meninggalkan istana hari ini.
Setelah berkata demikian
Pangeran Li Si Bin memberi isyarat kepada Siok-ciangkun untuk meninggalkan ruangan makan
De ngan sikap te nang, dia lalu melanjutkan makan minum dan bercakap-cakap
Sikap pangeran ini menambah kekaguman dalam hati Bi Lan
Sungguh bukan sikap seorang pembesar yang sewenang-wenang ataupun cengeng, melainkan sikap seorang pendekar!
Bi Lan, dahulu pernah aku mendengar nama besar Pendekar Rajawali Sakti yang kukagumi
Dia seorang pendekar yang te rkenal dan sungguh merupakan suatu keberuntungan bahwa kini isteri pendekar itu mau membantu kami
Kalau boleh kami ketahui, bagaimana semuda ini engkau sudah menjadi janda
Apa yang menyebabkan kematian suamimu?
Bi Lan tahu bahwa berhadapan dengan pangeran ini, tidak perlu menyembunyikan keadaan nya
Juga beberapa orang dayang itu merupakan orang-orang kepercayaan, maka tidak ada salahnya kalau mereka hadir pula dalam percakapan ini, walaupun kini mereka nampak tidak mendengarkan percakapan itu
Suami hamba meninggal dunia karena sakit tua
pangeran,
jawabnya singkat
Karena tidak betah lagi tinggal di rumah, hamba lalu mengajak Lan Lan untuk pergi mengembara.
Dan bagaimana dengan Siauw Can yang datang bersamamu di kota raja?