Menghadapi wanita haruslah berhati-hati dan tidak te rgesa-gesa
Biarlah semua ini kita rahasiakan dulu darinya dan perlahanlahan aku akan membujuknya agar ia suka membantu kita
Serahkan saja ia kepadaku, aku akan berusaha untuk menundukkannya.
Baik kalau begitu
Aku merasa agak khawatir
Pertama, ia seorang wanita yang lihai dan kedua, dan ini yang paling berbahaya, ia telah ditarik oleh Pangeran Li Si Bin untuk melatih pasukan dayang setiap hari
Ini berarti ia dekat dengan pute ra mahkota dan bisa berbahaya sekali...
Atau bisa menguntungkan sekali!
kata Siauw Can tersenyum
Kalau aku berhasil menundukkannya, bukankah kedekatannya dengan pute ra mahkota itu mendatangkan keuntungan besar
Ia dapat kita jadikan matamata yang dapat selalu mengamati gerak-gerik kaisar dan putera mahkota.
Poa Kiu tertawa girang
Ah, engkau benar dan engkau cerdik, Siauw Can
Engkau harus dapat menundukkan adik misanmu yang cantik dan janda itu!
Dalam ucapan ini je las te rkandung dorongan yang sejalan dengan pikiran Siauw Can, yaitu bahwa dia harus dapat menundukkan Bi Lan lahir batin, yaitu lahirnya wanita itu harus jatuh ke dalam pelukannya, sehingga batinnya akan selalu taat akan semua kehendak dan perintahnya! Dan pemuda yang cerdik ini sudah dapat menemukan cara yang amat baik dan yang pasti akan berhasil! Akan te tapi dia tidak boleh tergesa-gesa
Baru saja dia gagal mendekati Bi Land an membuat janda muda itu marah
Dia harus pandai membawa diri, memperlihatkan penyesalannya agar kemarahan Bi Lan mereda dan wanita itu tidak menaruh kecurigaan kepadanya
Setelah Pangeran Tua Li Siu Ti memasuki kembali ruangan itu, mereka bertiga lalu berbisikbisik mengatur siasat
Sebuah siasat yang diajukan Poa Kiu dan Siauw Can amat mengejutkan hati Pangeran Li Siu Ti
Siasat itu adalah membunuh Putera Mahkota, Pangeran Li Si Bin.! Wajah Pangeran Tua Li Siu Ti seketika menjadi pucat dan matanya te rbelalak memandang kepada dua orang kepercayaannya
Alangkah baiknya kalau dapat te rjadi! Akan tetapi mana mungkin! Li Si Bin seorang yang memiliki kepandaian tinggi, dia tangguh dan sukar dikalahkan! Selain itu, diapun mempunyai banyak pengawal pandai, dan selalu terjaga
Di belakangnya ada balate ntara seluruh kerajaan, ratusan ribu orang yang setiap saat siap melaksanakan perintahnya! Bagaimana mungkin menyingkirkannya
Kalau gagal dan ketahuan, ah, ngeri aku membayangkan a kibatnya! Tentu seluruh anggota keluarga kita, sampai ke para pelayan dan binatang peliharaan, akan dibasmi habis!
Harap paduka tidak khawatir,
kata Poa Kiu
Hamba berdua Siauw Can te lah merencanakan siasat yang baik dan halus
Siauw Can akan mempergunakan kepandaiannya dan kalau sampai berhasil siasat itu, maka Pangeran Li Si Bin akan te was tanpa ada yang tahu siapa pembunuhnya.
Mereka bertiga lalu berbisik-bisik dan nampaknya Pangeran Tua Li Siu Ti girang sekali
Dia nampak mengangguk-angguk dan te rsnyumsenyum mengelus jenggotnya dan berulang kali mulutnya berkata,
Bagus........., bagus sekali...!
Saking girang rasa hatinya, pangeran itu lalu menutup pembicaraan itu dengan sebuah pesta yang meriah, pesta antara mereka bertiga yang dihadiri pula ole h isteri dan lima orang selir pangeran itu, dan anak tunggalnya, yaitu Li Ai Yin, gadis cantik genit dan manja yang tidak malu-malu lagi memperlihatkan kekagumannya kepada Siauw Can
Mereka makan minum sampai jauh malam dengan penuh kegembiraan dan peristiwa ini saja sudah membesarkan hati Siauw Can, karena dari Poa Kiu dia mendengar bahwa diajak makan bersama seluruh keluarga pangeran berarti bahwa dia telah dipercaya sepenuhnya, seperti halnya Poa Kiu sendiri
o-ooo0dw0ooo-o De ngan penuh kesungguhan hati, Kwa Bi Lan mengajarkan ilmu silat kepada para dayang
Para dayang ini merupakan gadis -gadis pilihan, bukan saja muda dan cantik, akan tetapi rata-rata memiliki kecerdikan dan tubuh yang se hat
Mereka itu pandai dengan segala macam bentuk kesenian, pandai menari, bernyanyi, memainkan alat musik, membaca sajak
Oleh karena itu tidak sukar bagi Bi Lan untuk mengajarkan ilmu silat kepada tigapuluh orang dayang-dayang is tana itu
Ia mengajarkan dasar-dasar ilmu silat Siauw-lim-pai, kemudian, atas petunjuk Pangeran Li Si Bin, ia mengajarkan ilmu silat menggunakan senjata sabuk yang diambil dari Ilmu Hui-tiauw Sin-kun ( Silat sakti rajawali terbang )
De ngan ilmu silat sabuk itu, dibentuklah Angkin-tin ( Barisan sabuk merah)
Ang-kin-tin ini bukan saja dapat memainkan sabuk sebagai senjata ampuh, akan te tapi mereka juga menggabungkan gerak silat itu dengan ilmu tarian yang mereka kuasai, sehingga kalau tidak dipergunakan untuk berkelahi, mereka itu dapat menggunakan sabuk merah mereka untuk menarinari dengan indahnya
Sabuk sutera merah panjang di tangan mereka dapat digerakkan membentuk bermacam-macam bunga bahkan huruf! Pangeran Li Si Bin merasa girang bukan main melihat kemajuan para dayang, dan tugas Bi Lan melatih para dayang di is tana itu memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk saling jumpa
Pangeran Mahkota itu semakin kagum kepada Bi Lan, sebaliknya Bi Lan juga sangat kagum kepada pangeran yang tampan gagah perkasa dan manis budi ini
Ia mendapatkan segala sifat jantan pada diri pute ra mahkota ini
Pangeran itu dapat bersikap lemah lembut, ramah dan manis budi, akan tetapi kalau perlu, dia dapat pula bersikap keras dan tangan besi, sehingga selain disayang oleh semua orang, diapun disegani dan dihormati
Kalau ada kesempatan kedua orang itu bercakap-cakap, dari percakapan ini saja tahulah Bi Lan bahwa pangeran itu seorang yang berjiwa pendekar, juga amat mencinta tanah air dan bangsa, mencintai rakyat dan ingin melakukan segalanya demi kebaikan rakyat
Juga pangeran ini memiliki pengetahuan luas, bahkan dekat dan mengenal tokoh-tokoh kang-ouw dan datuk-datuk dunia persilatan
Semenjak peristiwa yang amat mengecewakan hatinya malam itu, ketika Siauw Can berusaha untuk berbuat tidak senonoh kepadanya, le nyaplah semua perasaan suka dan kagum te rhadap pemuda itu
Dan kini semua perasaan suka dan kagum itu beralih kepada Pangeran Li Si Bin! Tentu saja ia tahu diri dan hanya tinggal mengagumi saja, tidak berani mengharapkan yang le bih daripada hubungan di antara mereka seperti sekarang
Ia hanya seorang pekerja dan petugas, tiada bedanya dengan ratusan orang lain yang bekerja di lingkungan istana itu
Sebelum te rjadi peristiwa di malam itu, ia memang pernah merasa suka dan kagum kepada Siauw Can, bahkan ia akan menerima dengan hati dan tangan terbuka, seandainya pemuda itu mengajaknya hidup bersama sebagai suami isteri
Akan te tapi, semua harapan itu te lah hancur oleh perbuatan Siauw Can
Kalau bukan Siauw Can yang melakukan perbuatan itu te rhadap dirinya, ia te ntu tidak akan mau sudah sebelum membunuh laki-laki itu
Akan tetapi ia telah menganggap Siauw Can sebagai sahabat baik, dan pemuda itu telah minta maaf
I a mau melupakan peristiwa itu, akan tetapi tentu saja semua perasaan sukanya te rhadap pemuda itu le nyap sudah
Ia tahu bahwa Siauw Can mencintainya, akan tetapi pemuda itu menodai cintanya dengan perbuatan yang tidak senonoh
Pagi itu, seperti biasa, Bi Lan melatih para dayang bersilat dengan sabuk sutera merah mereka
Gerakan mereka sudah cukup baik dan tangkas, hanya masih kurang te naga
Dengan teliti Bi Lan mengamati mereka dan dengan te kun member petunjuk-petunjuknya
Dan pagi itu, pangeran Li Si Bin berkenan hadir dan dengan wajah berseri pangeran itu menonton
Hatinya senang karena dia melihat kemajuan pesat pada para dayang, dan dia semakin kagum karena ketika Bi Lan memberi contoh kepada para dayang dengan bersilat sabuk sutera merah, janda muda itu nampak seperti seorang dewi yang turun dari kahyangan dan menari-nari! Setelah Bi Lan selesai memberi contoh dan kini para dayang berlatih dengan giat, Pangeran Li Si Bin menggapai dan memberi isyarat kepada Bi Lan untuk mendekat
Bi Lan menghampiri dan memberi hormat dengan setengah berlutut
Bangkit dan duduklah di sini,
kata pangeran itu dengan ramah sambil menunjuk kea rah sebuah bangku
Bi Lan duduk di depan pangeran itu sambil menundukkan muka
Biar pun mereka sudah sering bercakap dan berjumpa, tetap saja Bi Lan tidak sanggup berpandangan te rlalu lama dengan sepasang mata yang memiliki wibawa sedemikian kuatnya
Ia selalu merasa seperti seorang anak kecil berhadapan dengan gurunya, dengan perasaan bersalah
Bi Lan, kalau engkau melatih pasukan dayang di sini, lalu bagaimana dengan anakmu?
Diam-diam Bi Lan te rkejut karena sama sekali tidak pernah menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu
Pangeran Li Si Bin menanyakan anaknya! Segera te rbayanglah wajah Hong Lan
Kalau ia bertugas di istana, dititipkannya Hong Lan kepada Cu-ma, pelayan wanita setengah tua tukang masak yang menjadi sahabat baiknya di istana pangeran Tua Li Siu Ti
Cu-ma ini dahulunya pengasuh Ai Yin di waktu gadis ini masih kecil, dan sekarang menjadi tukang masak gadis itu untuk keperluankeperluan kecil
Lan Lan hamba tinggalkan di is tana Pangeran Tua dalam asuhan Cu-ma, pangeran,
jawabnya
Lan Lan
He mm, bagus sekali nama panggilan itu
Siapa nama anakmu?
Namanya Hong Lan.
Kalau begitu nama lengkapnya te ntu Liu Hong Lan, bukan
Mendiang suamimu yang berjuluk Si Rajawali Sakti itu bernama Liu Bhok Ki.
Bi Lan mengangguk membenarkan
Apapun yang te rjadi, ia akan tetap mengakui Lan Lan sebagai anaknya, dan te ntu saja nama keluarganya Liu, menurut nama keluarga mendiang suaminya
Bi Lan, kami merasa senang sekali dengan hasil tugasmu melatih para dayang
Untuk menyatakan te rima kasih kami, maka kami harap siang ini sebelum engkau kembali ke rumah paman Li Siu Ti, engkau suka kami ajak makan siang bersama kami
N anti kalau makan siang sudah siap, engkau akan diberi tahu.
Bi Lan merasa betapa jantungnya berdebar te gang
Diajak makan siang bersama Pangeran Mahkota! Sungguh merupakan suatu kehormatan yang amat luar biasa
Tentu saja ia merasa canggung dan sungkan, akan tetapi untuk menolak, ia tidak berani
Itu akan merupakan suatu penghinaan terhadap pangeran itu