Halo!

Mutiara Hitam Chapter 90

Memuat...

Kiang Liong merasa heran, akan tetapi sebagai seorang cerdik ia tidak ragu-ragu lagi. Siapa pun orang yang mengirim surat secara aneh ini, belum tentu mempunyai niat buruk. Adapun puluhan orang yang berlari-lari turun dari atas itu, sudah jelas berniat mengeroyok dan membunuhnya.

Maka ia pun cepat membalikkan tubuhnya dan mundur sampai ke pohon siong yang dimaksudkan dalam surat. Ketika ia menjenguk ke bawah, ternyata bagian ini berbatu-batu sehingga memungkinkan dia untuk merayap turun. Ia menahan napas mengumpulkan semangat, lalu turun melalui cabang-cabang pohon itu ke bawah, dari cabang yang melengkung ke bawah itu ia merayap terus berpegangan dan berpijak pada batu-batu gunung dan akar-akaran, terus merayap ke bawah dengan cepatnya. Sebelum ia mencapai dasar jurang yang amat curam dan seolah-olah tiada batasnya ini, ia mendengar suara ramai-ramai di sebelah atas kepalanya. Agaknya puluhan orang yang mengejar dari atas tadi sudah lewat di dekat pohon dan karena tidak melihatnya maka terus berlari melewati pohon.

Akan tetapi Kiang Liong masih tetap hati-hati dan ia terus merayap turun secepatnya. Ia khawatir kalau-kalau ada yang mengejarnya sebelum ia sampai di dasar jurang. Kekhawatirannya ternyata terbukti ketika tiba-tiba terdengar sambaran angin dari atas. Ia cepat bergantung kepada sebatang akar dan mengayun tubuhnya mengelak. Sebuah panah tangan yang hitam meluncur dekat pundaknya. Ketika ia berdongak, ia melihat lima orang hwesio berjubah merah sudah merayap turun, pula mengejarnya. Kemudian hwesio-hwesio itu mengayun tangan dan kini belasan batang senjata rahasia menyambar ke bawah. Suara senjata-senjata itu bercuitan mengerikan dan sambarannya amat cepat.

Terpaksa Kiang Liong menggunakan kekuatan kakinya untuk berdiri di atas akar melintang dan ia menggunakan ujung lengan bajunya yang digerakkan kuat-kuat untuk memukul runtuh semua senjata rahasia. Namun alangkah kagetnya ketika ia merasa betapa senjata-senjata rahasia ini mengandung tenaga yang jauh lebih kuat dari para pengeroyok yang telah ia robohkan tadi. Jelas bahwa tingkat kepandaian lima orang hwesio berjubah merah yang mengejarnya ini cukup tinggi dan tidak boleh dipandang ringan. Apalagi ketika ia melihat betapa kini banyak sekali orang Hsi-hsia mulai pula menuruni tebing itu sambil berteriak-teriak. Dengan pengerahan ilmu meringankan tubuhnya, Kiang Liong mempercepat gerakannya merayap turun dan akhirnya dengan hati lega ia sampai juga di atas tanah. Sungai Nu-kiang kini berada tak jauh di depan dan ia lalu lari ke tepi sungai. Akan tetapi ia tidak melihat tempat sembunyi yang baik.

Tiba-tiba ia mendengar suara halus memanggilnya dari sebelah kiri. Ketika ia menoleh, ia melihat seorang wanita cantik melambaikan tangannya, dan wanita itu berdiri di balik sebuah batu besar. Memang banyak terdapat batu-batu besar sepanjang sungai sebelah kiri, agaknya batu-batu besar ini adalah batu-batu yang gugur dan longsor dari lereng gunung. Ia tidak tahu siapa wanita itu, akan tetapi mengingat akan tulisan surat yang ia terima di atas tadi, sangat boleh jadi wanita inilah yang memberi petunjuk kepadanya. Maka tanpa ragu-ragu lagi Kiang Liong lalu lari ke sebelah kiri dan sebentar saja ia sudah lenyap dari pandang mata para pengejarnya yang masih merayap turun hati-hati dari atas tebing, karena ia terlindung dan tertutup oleh batu-batu besar. Wanita itu sudah lenyap dan ketika Kiang Liong mencari-cari dengan pandang matanya, terdengar suara halus.

"Ke sini.. masuk ke guha ini.."

Suara itu datang dari sebuah guha yang terbentuk oleh tumpukan batu-batu besar. Sebetulnya bukan guha melainkan batu-batu besar yang bertumpuk-tumpuk dan di antara batu-batu besar itu terdapat celah-celah yang sebesar tubuh manusia. Kiang Liong berlari dan memasuki celah-celah itu. Ternyata agak dalam juga celah-celah itu dan di sebelah dalam makin lebar, ada semeter lebarnya. Tempat ini remang-remang dan tampaklah sesosok bayangan wanita yang bertubuh ramping, memberi isyarat dengan tangan agar ia masuk terus. Dalam keadaan remang-remang mereka berhadapan dan wajah wanita itu cantik manis. Kiang Liong merasa pernah melihat wajah ini, akan tetapi ia lupa lagi di mana dan kapan.

"Nona siapakah dan mengapa.."

"Ssstt.. belum waktunya bicara."

Wanita itu berbisik, suaranya halus dan lirih, kemudian untuk dapat diterima oleh pendengarannya, ia mendekatkan mulutnya di telinga Kiang Liong.

"Kongcu, kau sembunyilah di sini. Musuh terlalu banyak dan lihai.."

Berdebar jantung pemuda itu. Sejak memasuki tempat yang sempit itu tadi bau yang amat harum telah menyengat hidungnya dan kini setelah nona itu berdiri begitu dekat, bau harum semerbak itu lebih nyata lagi keluar dari rambut yang terurai panjang. Rambut panjang "Kini teringatlah ia"

Nona ini adalah gadis cantik yang pernah diganggu Bu-tek Siu-lam, yang kemudian ditolong oleh Mutiara Hitam dan Si Berandal atau Tang Hauw Lam. Ketika hal itu terjadi, ia bersembunyi maka ia mengenal siapa gadis ini. Namanya Po Leng In wanita berpakaian merah yang berambut panjang dari Siang-mou Sin-ni.

"Kau.. kau.. murid Siang-mou Sin-ni.."

"Sstt, mereka tentu sudah dekat.."

Wanita itu berbisik lagi dan kini hawa yang hangat dari mulut wanita itu menyentuh pipinya. Agaknya saking tegang wanita itu mendekatkan mulutnya. Kiang Liong teringat lagi akan keadaannya yang terancam pengeroyokan puluhan orang.

"Bersembunyi pun percuma, tentu mereka akan dapat menemukan kita."

Ia pun berbisik dan siap untuk menerjang keluar. Dua buah tangan yang kecil dan berkulit halus menahan dadanya.

"Jangan bergerak, Kongcu. Kau di sinilah aku yang akan menahan mereka. Kaulihat saja, jangan khawatir"

Setelah berkata demikian, wanita itu melangkah keluar dan karena tadinya ia berada di sebelah dalam untuk keluar ia harus melewati Kiang Liong. Tempat itu sempit, jadi tentu saja tubuh mereka saling merapat. Merasa betapa tubuh padat penuh tonjolan yang halus dan keras mepet di tubuhnya, Kiang Liong terpaksa memejamkan mata. Untung hanya sebentar saja godaan hebat ini dan kini Po Leng In sudah menyelinap keluar. Karena betapapun juga ia belum mengenal betul wanita itu dan belum tahu akan wataknya, apalagi kalau diingat bahwa wanita itu murid iblis betina Siang-mou Sin-ni, maka dengan hati-hati Kiang Liong lalu bergerak mendekati mulut celah-celah batu untuk mengintai keluar.

Ia melihat Po Leng In bersembunyi dibalik batu besar dan ia melihat pula lima orang pendeta berjubah merah memimpin hampir lima puluh orang Hsi-hsia berdiri mendekati tempat itu. Jantung Kiang Liong berdebar dan kedua tangannya sudah siap meraba sepasang senjatanya, matanya tajam memandang ke depan. Tiba-tiba ia melihat Po Leng In menggerakkan tubuh dan bagaikan seekor burung berbulu merah, gadis cantik manis itu melayang naik ke atas batu besar, bertolak pinggang dan dengan suara nyaring menegur ke bawah,

"Ngo-wi Suhu (Pendeta Berlima) membawa pasukan ke sini ada kepentingan apakah?"

Aneh sekali lima orang pendeta yang usianya sudah setengah abad kurang lebih dan yang bersikap garang jelas memperlihatkan tanda bahwa mereka memiliki ilmu kepandaian tinggi itu, tiba-tiba bersikap hormat ketika melihat bahwa yang menegur mereka adalah nona baju merah itu. Mereka mengangkat kedua tangan depan dada sebagai tanda menghormat, kemudian seorang di antara mereka menjawab.

"Kiranya Kouwnio (Nona) yang berada di sini. Pinceng berlima dan pasukan sedang mengejar seorang pemuda berpakaian putih. Dia telah membunuh seorang saudara kami dan sudah membunuh beberapa orang anggauta pasukan. Kami melihat dia tadi lari turun ke bawah dan agaknya lewat di sini.."

Pendeta itu agak sangsi lalu memandang kepada nona baju merah itu dengan pandang mata tajam penuh selidik.

"Tidak ada orang lewat di sini, Twa-suhu."

Kata Po Leng In, suaranya bersungguh-sungguh dan kini ia sudah melayang turun di depan lima orang hwesio itu, menghadang jalan masuk melalui dua bongkah batu besar. Lima orang itu saling pandang, kemudian yang tertua bicara lagi.

"Akan tetapi, Kouwnio. Ada di antara kami yang tadi melihat bayangan putih berlari menuju ke jurusan ini.."

"Twa-suhu. Hanya karena memandang muka ketua kalian maka aku masih bersikap sabar. Hemmm, Guruku dan kepala kalian bersahabat dan sederajat. Aku sebagai murid kepala dari Guruku berarti mempunyai derajat lebih tinggi daripada kalian yang hanya menjadi anak buah Bouw Lek Couwsu. Apakah kalian berani mengatakan bahwa aku bersekongkol dengan musuh? Apakah kalian tidak percaya kepadaku? Beranikah kalian menghina murid Guruku?"

Ucapan itu ketus dan keras, penuh wibawa dan pengaruhnya benar-benar hebat. Lima orang hwesio itu menjadi pucat wajahnya dan mereka menundukkan muka.

Akan tetapi pasukan yang terdiri dari orang Hsi-hsia yang kasar itu agaknya merasa penasaran. Mereka menganggap wanita muda ini sebagai tamu, sungguhpun para pimpinan, yaitu para pendeta Tibet berjubah merah amat menghormatinya, namun belum pernah mereka menyaksikan kelihaian wanita muda yang cantik ini. Bahkan diam-diam seringkali mereka membicarakan wanita ini dalam sendau gurau yang kotor. Kini melihat betapa gadis ini berani menghadang, padahal mereka percaya bahwa musuh yang dikejar lari ke jurusan ini, beberapa orang di antara mereka mulai bersungut-sungut

"Musuh tadi lari ke sini"

"Masa harus membiarkan dia lari?"

"Dia sudah membunuh banyak teman kita"

Melihat betapa anak buah pasukan itu mulai ribut-ribut, diam-diam Po Leng In mendongkol dan juga, khawatir sekali. Kalau mereka nekat dan kemudian dapat menemukan pemuda baju putih itu, selain ia mendapat malu, juga tentu akan mendapat teguran, mungkin hukuman keras dari gurunya. Akan tetapi, apa pun yang terjadi, tak mungkin ia dapat membiarkan pemuda itu terancam bahaya maut.

"Berhenti"

Bentaknya ketika melihat pasukan itu bergerak maju.

"Tidak percaya kepadaku berarti menghina Guruku, Siapa menghina Guruku berarti akan mampus di tanganku. Lihat, siapa yang kepalanya lebih keras daripada batu ini?"

Post a Comment