Halo!

Lembah Selaksa Bunga Chapter 77

Memuat...

“Semoga sekali ini engkau akan menang dan dapat membalas dendammu kepada musuh besarmu, Siang Lan. Akan tetapi apakah engkau tidak bisa memaafkan perbuatannya kepadamu itu?”

“Tidak mungkin, Paman! Jahanam itu telah merusak hidupku dan hanya kematiannya yang akan dapat mencuci bersih aib yang dijatuhkan kepadaku. Noda itu harus dicuci dengan darahnya!”

“Terserah kepadamu, Siang Lan. Sekarang aku hendak mengucapkan selamat berpisah ”

“Selamat berpisah....?” Siang Lan terkejut dan menatap wajah Bu-beng-cu dengan pandang mata penuh selidik. “Apa maksudmu, Paman? Engkau hendak pergi ke mana?”

“Aku berada di sini hanya untuk memenuhi janjiku mengajarkan ilmu silat kepadamu, Siang Lan. Sekarang, semua ilmuku sudah kuajarkan, maka aku hendak pergi merantau.”

“Ke manakah engkau hendak pergi, Paman?” tanya Siang Lan dengan gelisah.

“Ke mana......?” Bu-beng-cu menerawang ke arah langit. “Ke mana saja nasib membawa diriku ”

Hening sejenak. Siang Lan merasa betapa jantungnya berdebar. Ia ingin sekali menahan Bu-beng-cu dan mengatakan apa yang berada di dalam hatinya, apa yang dirasakannya terhadap pria itu. Akan tetapi ia menahan diri. Ia sudah mengambil keputusan untuk tidak membicarakan urusan itu sebelum ia dapat membunuh musuh besarnya, yaitu Thian-te Mo-ong.

Kalau hal itu belum terlaksana, maka dendamnya akan selalu menjadi penghalang kebahagiaannya. Tidak mungkin ia dapat hidup tenang dan bahagia apabila ia masih dihimpit dendam sakit hati yang teramat besar itu. Ia akan membunuh dulu musuh besarnya, barulah ia akan memikirkan hidup selanjutnya dan kebahagiaannya.

“Paman Bu-beng-cu ”

“Ya ?”

“Paman, kuharap engkau jangan meninggalkan tempat ini dulu, Paman. Tunggu sampai tiga hari lagi! Berjanjilah padaku bahwa engkau tidak akan pergi sebelum aku bertemu dan bertanding melawan musuh besarku. Aku ingin Paman melihat hasil pertandingan itu, baik kalau aku menang dan berhasil membunuhnya atau sebaliknya aku mati di tangannya. Biarlah kalau aku sampai kalah, aku yang mengucapkan selamat tinggal padamu, Paman, bukan engkau yang meninggalkan aku.” Ucapan itu keluar dari mulut Siang Lan dengan suara gemetar mengandung keharuan dan kesedihan. Bu- beng-cu dapat merasakan ini dan dia pun menundukkan kepalanya, menghela napas panjang dan menjawab.

“Baiklah, Siang Lan. Aku akan menunggu sampai engkau berhasil membalas dendammu.”

Setelah meninggalkan Bu-beng-cu, Siang Lan membuat persiapan di Ban-hwa-kok. Setiap hari ia tekun berlatih menghimpun tenaga saktinya untuk menjaga agar tubuhnya tetap dalam keadaan sehat dan siap. Ia yakin bahwa Thian-te Mo-ong pasti akan muncul.

Jahanam itu amat sakti sehingga jebakan-jebakan yang menghalangi orang luar naik ke puncak Ban-hwa- san tidak akan mampu mengganggunya. Jahanam itu pasti akan muncul di Ban-hwa-kok seperti tahun- tahun yang lalu. Maka ia pun selalu siap siaga dan pedang Lui-kong-kiam tidak pernah terpisah darinya.

Ia pun sudah berpesan kepada semua anggauta Ban-hwa-pang agar jangan ada yang menyerang apabila musuh besar yang bertopeng itu muncul di Ban-hwa-kok. Selain itu ia tahu bahwa para anggauta Ban-hwa- kok sama sekali bukan lawan Thian-te Mo-ong dan kalau menyerangnya sama dengan bunuh diri karena jahanam itu tentu dengan mudah akan mampu membunuh mereka semua, juga ia memang tidak ingin orang lain mencampuri urusannya dengan Thian-te Mo-ong.

Bahkan kepada Bu-beng-cu saja ia tidak mau minta bantuannya untuk menghadapi musuh besar itu. Urusannya dengan Thian-te Mo-ong adalah urusan pribadi, orang lain tidak boleh mencampuri.

Para anggauta Ban-hwa-pang juga mengetahui akan saktinya musuh ketua mereka. Mereka tahu bahwa beberapa kali ketua mereka kalah melawan orang bertopeng itu. Maka, maklum bahwa sewaktu-waktu musuh besar itu akan muncul, hati mereka semua diliputi ketegangan dan kekhawatiran. Apalagi ketika pagi hari tadi ketua mereka mengumpulkan mereka semua dan berkata dengan suara tegas.

“Dengarkan baik-baik kalian semua! Sekali lagi kutegaskan, kalau terjadi perkelahian antara aku dan musuh besarku, jangan ada di antara kalian yang mencampuri. Syukurlah kalau aku mampu merobohkan dan membunuh musuh besarku. Akan tetapi seandainya terjadi sebaliknya, aku yang kalah dan tewas, maka Ban-hwa-pang harus dibubarkan. Kalian boleh membagi-bagi semua harta milik kita di antara kalian dan boleh hidup dan tinggal di mana pun sesuka kalian.”

Demikianlah pesan ketua mereka dan tentu saja mereka menjadi gelisah karena pesan itu seolah merupakan pesan terakhir orang yang akan mati!

Malam itu bulan purnama bersinar dengan indahnya karena udara bersih dan langit tidak tertutup awan. Siang Lan menanti sampai tengah malam, namun musuh besarnya tidak muncul. Ia lalu tidur untuk menyimpan tenaga karena ia merasa yakin bahwa besok pagi musuhnya tentu akan muncul.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi ia sudah mandi dan bertukar pakaian. Hari itu merupakan hari yang amat penting baginya, maka ia mengenakan pakaian baru yang indah walaupun ringkas dan ketat membungkus badannya agar ia dapat bergerak dengan leluasa. Rambutnya yang telah dicuci bersih itu disisir dan digelung rapi. Pedang Lui- kong-kiam tergantung di punggungnya.

Ia tampak cantik jelita. Setelah rambutnya yang panjang ikal mayang itu digelung, anak rambut yang halus lembut melingkar dan berjuntai di kedua pelipis dan di dahinya. Matanya bersinar-sinar penuh semangat. Tak seorang pun akan menyangka bahwa gadis ini sedang menghadapi sebuah perkelahian mati-matian menyabung nyawa melawan musuh yang amat sakti. Kalau mereka melihatnya seperti itu, ia lebih pantas sebagai seorang gadis yang menyongsong kedatangan kekasihnya, demikian cantik, rapi dan penuh semangat!

Suasana di Ban-hwa-pang sunyi sekali. Padahal hari itu, tidak ada seorang pun anggauta Ban-hwa-pang yang keluar dari perkampungan mereka. Tidak ada yang bekerja seperti biasa. Mereka semua berkumpul, duduk di lapangan tempat berlatih tak jauh dari rumah induk, memandang ke arah halaman depan rumah itu dengan hati tegang.

Tak seorang pun mengeluarkan suara sehingga suasana menjadi sunyi. Bunyi yang ada hanya gemercik air di belakang perkampungan, desah angin membelai daun-daun pohon, dan ayam biang berkotek memanggil anak-anaknya. Bahkan burung-burung tidak berbunyi lagi karena karena mereka semua telah pergi menuju ke sawah ladang mencari makan.

Setelah sinar matahari mulai mengusir sisa kabut di puncak Ban-hwa-san itu, sinarnya yang hangat seakan membangunkan bumi yang tidur semalam, menggugah ribuan bunga di lembah itu, datanglah orang yang dinanti-nanti oleh Siang Lan, dan juga oleh para anggauta Ban-hwa-pang. Kedatangannya saja membuat para anggauta Ban-hwa-pang merasa ngeri. Mula-mula berhembus angin lalu disusul suara yang menggelegar.

“Hwe-thian Mo-li, aku datang !!”

Sesosok bayangan berkelebat dan Thian-te Mo-ong sudah tampak di pekarangan depan rumah induk yang menjadi tempat tinggal Siang Lan. Pakaiannya yang dari kain kasar dan agak terlalu besar itu membuat tubuhnya tampak besar menyeramkan. Mukanya tertutup sebuah topeng dari kulit batang pohon, bentuknya seperti muka setan. Muka itu sama sekali tertutup dan yang tampak hanya sepasang mata mencorong yang sinarnya keluar dari lubang di depan kedua mata itu.

Mendengar suara itu, Siang Lan melompat dari dalam rumah. Hanya tampak bayangan berkelebat dan gadis itu sudah berhadapan dengan musuh besarnya. Sepasang mata yang indah itu seolah menyinarkan api ketika ia menatap wajah bertopeng itu, topeng yang selalu muncul mengganggu dalam mimpi, topeng yang amat dibencinya.

“Thian-te Mo-ong, hari ini kalau tidak engkau, akulah yang menggeletak kehilangan nyawa. Aku tidak akan berhenti berkelahi sebelum salah seorang di antara kita mati!” Setelah berkata demikian, Siang Lan lalu mengerahkan seluruh tenaga saktinya, menekuk kedua lututnya dan mendorongkan ke arah lawan.

“Hyaaaattt......!” Pukulan ini hebat sekali. Angin dahsyat menyambar ke arah Thian-te Mo-ong. Orang bertopeng itu menyambut dengan dorongan kedua tangannya pula.

“Wuuuuttt...... blaarrr. !” Keduanya terpental ke belakang sejauh tiga langkah!

Ternyata tenaga mereka seimbang dan Siang Lan merasa girang sekali. Timbul semangatnya karena kini ia sudah mampu mengimbangi sin-kang lawan yang dulu membuatnya kewalahan. Ia lalu nencabut Lui-kong- kiam dan jiwa kependekarannya membuat ia menahan serangannya melihat lawan bertangan kosong.

“Cabut senjatamu! Aku tidak mau menyerang orang yang tak memegang senjata, tidak sudi menjadi pengecut macam engkau!” Siang Lan memaki, teringat betapa orang ini dulu memperkosanya selagi ia tidak berdaya.

Thian-te Mo-ong tidak menjawab, hanya tertawa bergelak lalu tubuhnya melompat ke atas, ke arah pohon. Terdengar suara dahan patah dan ketika dia turun, tangannya sudah memegang sebatang ranting pohon sebesar lengan dan panjangnya seperti sebatang pedang. Sekali dia menggetarkan ranting itu, daun- daunnya terlepas dan meluncur jauh! Hal ini saja sudah menunjukkan betapa dia mampu menyalurkan tenaga saktinya kepada ranting itu sehingga daun-daun yang menempel pada ranting itu terlepas dan bahkan terpental kuat sehingga meluncur jauh!

Akan tetapi Siang Lan tidak menjadi gentar. Setelah kini musuh besarnya memegang tongkat ranting pohon, ia lalu mengeluarkan pekik melengking dan menyerang dengan dahsyatnya. Pedang Lui-kong-kiam itu berubah menjadi sinar kilat menyambar ke arah dada lawan. Thian-te Mo-ong menggerakkan ranting itu menangkis.

“Trangg......!” Pertemuan antara pedang pusaka dan pedang kayu itu menimbulkan suara nyaring seolah Lui-kong-kiam itu bertemu dengan pedang lain yang sama ampuhnya! Kemudian terjadi perkelahian ilmu silat pedang yang amat hebat. Gerakan nnereka sama gesitnya dan dalam gin-kang (ilmu meringankan tubuh) mereka memiliki tingkat seimbang.

Juga agaknya sin-kang (tenaga sakti) mereka tidak berselisih jauh, mungkin tenaga Thian-te Mo-ong lebih kuat sedikit, namun hampir tidak terasa oleh Siang Lan. Kini mereka mengadu ilmu silat dan dalam hal ini ternyata Siang Lan lebih untung.

Perlu diingat bahwa Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan adalah murid terkasih dari Pat-jiu Kiam-ong (Dewa Pedang Lengan delapan) Ong Han Cu dan dewa Pedang yang kini telah tiada itu telah menurunkan semua ilmu pedangnya kepada Siang Lan yang amat dikasihinya. Maka, setelah kini Siang Lan mendapat gemblengan dari Bu-beng-cu sehingga gin-kang dan sin-kangnya maju pesat, ilmu pedangnya menjadi semakin dahsyat.

Para anggauta Ban-hwa-pang hanya berani menonton. Biarpun mereka merasa gelisah sekali dan juga tegang, namun mereka tidak berani mendekat, apalagi membantu ketua mereka. Kalau saja Siang Lan tidak memesan kepada mereka, tentu mereka sudah maju mengeroyok dan mereka tidak takut kalau sampai roboh dan tewas. Mereka rela berkorban nyawa demi ketua mereka yang mereka sayang dan hormati. Akan tetapi Siang Lan telah melarang mereka sehingga kini mereka hanya berani menonton dari jauh dengan jantung berdebar- debar.

Perkelahian itu sudah berlangsung delapanpuluh jurus lebih! Akan tetapi belum juga ada yang terdesak. Mereka masih saling serang dan matahari mulai naik tinggi sehingga panasnya mulai menyengat, tubuh kedua orang yang bertanding mati-matian itu mulai basah oleh keringat.

Post a Comment