Gembira rasa hati Li Sian mendengar tentang kakaknya itu.
"Ah, kalau begitu bagus sekali. Tentu saja aku suka membantu, Liong-ko."
Akan tetapi Siangkoan Liong masih belum merasa puas dengan kesanggupan ini. Selama belasan hari ini, diam-diam dia mengamati gerak-gerik Li Sian dan bahkan menyuruh Sin-kiam Mo-li diam-diam melakukan pengamatan dari jauh. Satu hal yang membuat dia merasa gelisah dan belum percaya benar adalah karena menurut keterangan Sin-kiam Moli, Pouw Li San adalah murid dari mantu Pendekar Super Sakti Pulau Es! Padahal, dia sudah mendengar bahwa di antara keluarga Pulau Es dan keluarga kaisar Mancu, masih terdapat hubungan kekeluargaan yang dekat. Isteri Pendekar Pulau Es adalah seorang puteri Mancu, bahkan isterinya dan puterinya pernah menjadi panglima-panglima Mancu yang gagah perkasa dan sudah menumpas banyak gerakan pemberontakan.
"Sian-moi, engkau pernah menceritakan kepada ayah bahwa gurumu adalah seorang sakti, keluarga Pulau Es, bahkan mantu dari mendiang Pendekar Super Sakti dari Pulau Es. Bagaimana pendapat mendiang gurumu itu tentang pemerintah penjajah dan gerakan para patriot?"
Dia memancing. Li Sian mengingat-ingat, lalu menggeleng kepalanya.
"Seingatku, suhu belum pernah bicara tentang pemerintahan dan kalau sekali waktu aku bertanya dia tidak mau memberi penjelasan. Hanya pernah dia mengeluh tentang kelemahan kaisar yang membiarkan dirinya dipermainkan para pembesar durjana."
"Nah, tidak salah lagi. Diam-diam suhumu itu pun tentu tidak setuju dengan adanya pemerintah penjajah yang lalim!"
Siangkoan Liong berseru girang. Tadinya dia khawatir bahwa guru gadis ini condong memihak kerajaan.
Pada saat itu, nampak serombongan orang datang. Dari jauh saja Siangkoan Liong dan Li Sian dapat mengenal rombongan yang dipimpin oleh Sin-kiam Moli, kini mengiringkan seorang laki-laki dan seorang wanita yang berjalan sambil bergandeng tangan. Laki-laki itu nampak bersikap gagah walaupun langkahnya tidak menun-jukkan dia pandai ilmu silat, sedangkan wanita itu cantik manis, berusia sebaya dengan laki-laki itu, men-dekati empat puluh tahun, akan tetapi wanita yang nampak tenang sederhana itu memiliki langkah kaki yang mengejutkan Siangkoan Liong dan Li Sian karena mereka berdua dapat menduga bahwa wanita itu bukanlah orang sembarangan. Laki-laki dan wanita itu adalah Yo Jin dan Bi-kwi atau Ciong Siu Kwi yang baru datang bersama rombongan Sin-kiam Mo-li.
Setelah tiba di luar daerah kekuasaan Tiat-liong-pang, rombongan ini disambut oleh Toat-beng Kiam-ong dan para tokoh yang membantu pergerakan Tiat-liong-pang, diantaranya ada beberapa orang pendeta Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw. Melihat mereka diam-diam Bikwi terkejut. Tadinya ia mulai percaya akan pengakuan Sin-kiam Mo-li bahwa iblis betina itu sedang membantu perjuangan orang-orang gagah yang dipimpin oleh ketua Tiat-liong-pang, akan menentang pemerintah penjajah Mancu. Akan tetapi, ketika melihat orang-orang yang dikenalnya sebagai tokoh sesat, ia pun mulai meragu lagi. Akan tetapi, dengan cerdik Bi-kwi diam saja, bahkan pura-pura tidak mengenal mereka. Melihat betapa Sin-kiam Mo-li pulang membawa laki-laki dan wanita yang tidak dikenalnya itu, Siangkoan Liong segera bangkit dan menghadang, diikuti oleh Li Sian yang juga ingin tahu.
"Mo-li, siapakah dua orang saudara yang baru datang ini?"
Tanya Siangkoan Liong sambil memandang kepada Bi-kwi karena kecantikan dari wanita ini pun menarik hatinya. Sin-kiam Mo-li tersenyum dengan bangga karena ia merasa betapa usahanya telah berhasil baik.
"Siangkoan-kongcu, inilah Bi-kwi yang pernah saya bicarakan dengan Kongcu dan dengan bengcu (pemimpin). Saya telah berhasil mengajaknya ke sini dan bergabung dengan kami. Dan laki-laki ini adalah suaminya. Bi-kwi adalah murid utama dari mendiang Sam Kwi, ia lihai bukan main, Kongcu."
Kemudian ia memperkenalkan pemuda itu kepada Bi-kwi dan Yo Jin.
"Kongcu ini adalah putera pimpinan kami bernama Siangkoan Liong."
Bi-kwi memandang pemuda itu. Sekali pandang saja tahulah Bi-kwi bahwa pemuda tampan yang kelihatan lemah lembut ini memiliki kepandaian tinggi, juga di balik kelembutan sikapnya itu, di balik sinar matanya yang lembut,
Ia dapat melihat gairah nafsu yang besar, maka diam-diam ia berhati-hati. Juga ia memandang kepada gadis yang berada di dekat Siangkoan Liong, dan ia pun dapat menduga bahwa gadis itu pun bukan gadis sembarangan. Hemmm, banyak terdapat orang pandai di sini, pikir Bi-kwi khawatir. Tadi pun ia mengenal Toat beng Kiam-ong, tokoh-tokoh Pek-lian-kauw, dan Pat-kwa-kauw, juga beberapa orang kang-ouw yang berkepandaian tinggi berada di tempat itu. Siangkoan Liong mengerutkan alisnya dan agaknya dia meman-dang rendah kepada Bi-kwi dan suaminya. Betapapun lihainya, agaknya suami isteri itu berada di bawah pengaruh Sin-kiam Mo-li, dan orang yang kelihaiannya tidak melebihi Sin-kiam Mo-li, kurang menarik hatinya walaupun sempat hatinya terguncang dan gairahnya bangkit oleh kecantikan Bi-kwi yang sudah matang itu!
"Bawalah mereka menghadap ayah,"
Katanya dan dia pun mengajak Li Sian untuk kembali duduk bercakap-cakap di dalam taman. Rombongan itu lalu masuk ke dalam untuk menghadap Siangkoan Lohan. Setelah mereka berdua duduk lagi di dalam taman. Li Sian bertanya,
"Apakah suami isteri itu pun hendak membantu gerakan yang dipimpin oleh ayahmu, Liong-toako?"
"Agaknya begitulah. Perjuangan ini didukung oleh orang gagah, dan aku yakin bahwa usaha ayah akan berhasil baik,"
Kata Siangkoan Liong gembira.
"Wanita itu kelihatan memiliki kepandaian tinggi,"
Kata pula Li Sian.
"Kau tunggu saja, Sian-moi. Kalau ada kesempatan akan kuperkenalkan engkau kepada suhuku."
"Gurumu?"
Gadis itu memandang wajah pemuda di depannya dalam keremangan cuaca senja.