Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 85

Memuat...

Dia semakin kagum. Tak disangkanya bahwa dalam diri seorang gadis yang begini cantik dan halus, terdapat kepandaian silat yang tinggi, lebih tinggi tingkatnya daripada Sin-kiam Mo-li! Dia kagum dan makin bulat tekadnya untuk menundukkan gadis ini, untuk memilikinya agar dapat dibanggakannya. Bukan sekedar dijadi-kan permainannya, sebagai sumber kesenangan jasmani saja. Tidak, dia ingin mempersunting Li Sian menjadi isterinya karena agaknya hanya gadis yang berdarah bangsawan ini sajalah yang patut untuk mendampingi-nya kalau kelak dia menjadi seorang kaisar! Setelah sekian lamanya saling pandang, baru terasalah oleh Li Sian ketidakwajaran itu, betapa sepasang mata pemuda itu memandangnya tidak seperti biasa, akan tetapi penuh dengan kekaguman dan daya tarik. Tiba-tiba ia merasa mukanya panas dan gadis itu pun menunduk-kan mukanya.

"Eh, Twako, kenapa sejak tadi memandang saja padaku tanpa bicara?"

Tegurnya. Siangkoan Liong tersenyum dan nampak seperti baru sadar dari mimpi. Dia cepat bangkit berdiri dan memberi hormat dengan bersoja dan membungkukkan tubuhnya sampai dalam.

"Ah, maafkan aku, Sian-moi. Tanpa kusadari aku telah terpesona.... maaf, bukan maksudku untuk merayu, akan tetapi sore hari ini engkau sungguh nampak begini cantik jelita seperti bidadari, membuat aku terpesona tadi...."

Menghadapi ucapan dengan sikap yang demikian sopan, bagaimana Li Sian dapat merasa tidak senang oleh pujian itu? Pujian yang terdengarnya demikian sopan, disertai maaf, bukan sekedar rayuan kasar. Ia pun tersenyum dan mukanya menjadi semakin merah, sampai ke lehernya. Ia melempar kerling malu-malu dan berkata,

"Aih, Toako, harap jangan bicara seperti itu, membuat aku merasa malu saja. Kalau kaulanjutkan pujian-pujianmu itu, aku akan segera pergi ke dalam kamarku dan tidak mau bicara padamu sore ini."

"Maaf, maaf....! Aku tidak bermaksud membuat hatimu tersinggung, Sian-moi. Maafkan aku dan aku berjanji tidak akan mengulangi lagi."

Li Sian tersenyum.

"Sudahlah, Toako, engkau tidak bersalah apa-apa, tidak perlu minta maaf. Aku sengaja ingin bicara denganmu sore hari ini, karena ada beberapa hal yang selama ini menjadi pertanyaan dalam hatiku dan menimbulkan rasa penasaran."

Siangkoan Liong memperlihatkan sikap serius ketika dia memandang wajah gadis itu penuh perhatian.

"Persoalan apakah yang membuatmu penasaran, Sian-moi? Tanyakanlah, tidak ada rahasia bagimu di sini."

"Begini, Toako. Pertama, begitu tiba di sini, aku bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw yang melihat sikap mereka agaknya bukanlah manusia baik-baik, melainkan lebih pantas kalau menjadi tokoh-tokoh kaum sesat dari dunia hitam! Seperti Sin-kiam Mo-li itu, selain julukannya saja sudah jelas menunjukkan bahwa ia seorang iblis betina, juga sikapnya demikian menyeramkan,seperti menyembunyikan sesuatu dan pandang matanya kadang-kadang begitu kejam dan buas. Dan Toat-beng Kiam-ong itu, hih, pandang matanya padaku membuat aku bergidik dan hampir saja aku ingin menyerangnya ketika pada suatu kali dia memandang dan tersenyum kepadaku. Juga para pendeta Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw itu, agaknya mereka pun bukan orang baik-baik. Toako, benarkah dugaanku bahwa mereka adalah tokoh-tokoh sesat dan kalau benar demikian, kenapa Tiat-long-pang menerima orang-orang seperti itu di sini?"

Pertanyaan ini diajukan Li Sian dengan pandang mata tajam penuh selidik ditujukan kepada wajah pemuda itu. Siangkoan Liong tetap tersenyum tenang, bahkan lalu berkata,

"Selain itu, adakah lagi hal lain yang mendatangkan perasaan heran dan penasaran di dalam hatimu, Sian-moi? Kalau ada, ajukanlah pertanyaan itu agar sekalian kujawab, karena memang terdapat banyak hal yang belum kau ketahui dan agaknya perlu kujelaskan kesemuanya itu kepadamu."

"Ada satu lagi, Toako. Aku melihat betapa para anggauta Tiat-liong-pang dilatih perang-perangan seolah-olah mereka itu menghadapi suatu pertempuran atau perang. Apakah artinya semua itu? Apakah ada bahaya yang mengancam Tiat-liong-pang?"

Pemuda itu tertawa, lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh.

"Sian-moi, sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu, menjelaskan hal-hal yang terjadi di sini dan menimbul-kan keheranan dalam hatimu, ingin aku bertanya, ingatkah engkau akan peristiwa yang menimpa keluarga orang tuamu, beberapa tahun yang lalu ketika engkau masih kecil, peristiwa yang mengakibatkan hancurnya keluarga orang tuamu?"

Li Sian mengerutkan alisnya dan mengangguk.

"Karena sebagai seorang menteri ayah berani menentang Thaikam Hou Seng yang berkuasa. Menurut penjelasan mendiang guruku, kaki tangan Hou Seng itulah yang membunuh ayah ibu dan kemudian ayah difitnah sehingga sisa keluargaku ditangkap sebagai pemberontak. Semua kakakku tewas kecuali kakak Pouw Ciang Hin yang kabarnya kini menjadi perwira...."

Pemuda itu mengangguk-angguk,

"Jelaslah bahwa keluargamu hancur karena kelaliman kaisar! Kaisar yang menjadi permainan para thaikam dan para menteri yang jahat dan korup. Ingat, Sian-moi, biarpun menjadi menteri, akan tetapi ayahmu bukanlah seorang Mancu aseli, melainkan peranakan dan darahmu lebih banyak darah Han daripada darah Mancu."

Gadis itu terbelalak.

"Maksudmu bagaimanakah Toako, dengan menyinggung soal keturunan dan darah?"

"Maaf, Sian-moi. Kita adalah orang-orang Han, dan engkau tentu tahu bahwa pemerintah sekarang ini adalah pemerintah penjajah bangsa Mancu yang menjajah tanah air kita, memperbudak bangsa kita!"

Ucapan ini penuh semangat dan gadis itu memandang dengan penuh perhatian.

"Lalu, bagaimana?"

Tanyanya, ingin tahu karena ia belum dapat menduga ke arah mana percakapan itu.

"Nah, karena itulah Tiat-liong-pang, menganggap sudah tiba saatnya untuk menentang pemerintahan penjajah, menumbangkan kekuasaan bangsa Mancu!"

"Kau maksudkan memberontak?"

Li Sian membelalakkan matanya, tidak menyangka sama sekali bahwa Tiat-liong-pang bermaksud memberontak. Pemuda itu mengangguk.

"Memberontak terhadap kekuasaan penjajah Mancu, Sian-moi, berjuang untuk membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkeraman penjajah. Itulah sebabnya mengapa kami menghimpun kekuatan, melatih anak buah kami dan tentang para tokoh itu engkau tidak keliru, memang di antara mereka terdapat orang-orang kang-ouw, dari dunia hitam. Kami membutuhkan tenaga mereka, bantuan mereka karena mereka itu memiliki kepandaian tinggi, juga memiliki banyak anak buah. Kami harus menghimpun kekuatan dari manapun juga untuk memperkuat kedudukan kami agar perjuangan kami menentang penjajah dapat berhasil. Nah, engkau mengerti sekarang keadaan di sini, Sian-moi?"

Sesungguhnya, hati Li Sian. diliputi kekhawatiran dan kebingungan. Ia belum mengerti benar, akan tetapi ia mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga pada dasarnya ia dapat mengerti, Tiat-liong-pang hendak memberontak, menentang pemerintah karena kerajaan yang sekarang adalah Kerajaan Mancu, bangsa asing yang menjajah tanah air dan bangsa! Dan ia pun merasa bangga dan kagum. Kiranya Tiat-liong-pang sedang mengadakan gerakan perjuangan yang demikian mulia, akan tetapi juga amat berbahaya. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu dan wajahnya berubah pucat.

"Liong-ko, kalau begitu Tiat-liong-pang akan memusuhi pasukan pemerintah?"

Pemuda itu mengangguk,

"Tentu saja, pasukan pemerintah adalah pasukan kerajaan penjajah dan....

"

"Tapi.... tapi kakakku, Pouw Ciang Hin kabarnya menjadi perwira pasukan pemerintah! Kabarnya dia ditugaskan di perbatasan utara ini dan apakah sampai sekarang anak buahmu belum dapat menemukannya?"

Siangkoan Liong tersenyum tenang.

"Jangan khawatir, Sian-moi. Ketahuilah bahwa komandan pasukan yang bertugas di utara ini telah mengadakan hubungan dengan kami dan dia mendukung gerakan kami. Jadi, kalau kakakmu itu menjadi perwira bawahannya, tentu hal itu berarti bahwa kakakmu juga akan bekerja sama dengan kita. Engkau tentu suka membantu, bukan?"

Post a Comment