Suma Lian mengangguk-angguk.
"Dan ilmu sin-kang Inti Bumi itu, kau pelajari dari siapa?"
"Dari suhu Tiong Khi Hwesio."
"Ahhh! Menurut cerita ayahku, Tiong Khi Hwesio dahulunya bernama Wan Tek Hoat, berjuluk Si Jari Maut, seorang pendekar yang lihai sekali."
"Benar, dan menurut mendiang Tiong Khi Hwesio guruku itu, sinkang Inti Bumi berasal dari para penghuni Pulau Neraka. Bagaimana engkau sendiri yang menjadi keturunan keluarga Pulau Es, dapat menguasai sinkang itu, Lian-moi?"
"Aku biarpun aku cucu buyut Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, dan ayahku merupakan keturunan langsung, namun aku pernah menjadi murid paman kakekku sendiri yang berjuluk Bu Beng Lokai dan sekarang telah meninggal dunia. Dari dialah aku mempelajari sin-kang itu, kemudian tentu saja aku memperdalam ilmu-ilmu dari keluarga Pulau Es, dari ayah dan juga ilmu mempergunakan suling emas ini dari ibuku."
Sin Hong memandang kagum.
"Ah, tidak heran kalau engkau begitu lihai, Lian-moi. Kiranya engkau telah mempelajari banyak ilmu silat tinggi di samping ilmu-ilmu dari keluarga Pulau Es."
"Sudahlah, Toako, tak perlu memuji lagi. Sudah jelas bahwa dalam hal ilmu silat, bagaimanapun juga aku masih kalah olehmu. Sekarang, engkau hendak pergi ke mana? Aku sendiri akan pergi ke lereng Gunung Tapa-san, menemui seorang paman tua menyampaikan pesan ayahku. Dan engkau?"
"Seperti kuceritakan tadi penyelidikanku membawaku ke sini dan aku akan pergi mengunjungi Tiat-liong-pang, melanjutkan penyelidikanku karena sebelum mati, orang she Lay itu menyebut Tiat-liong-pang, dan menurut penyelidikan-ku, perkumpulan itu bersarang di luar kota Sang-cia-kou, di lereng sebuah bukit."
"Sang-cia-kou di selatan? Kalau begitu dapat lewat Tapa-san. Bagaimana kalau kita melakukan perjalanan bersama saja, Hong-ko?"
Sin Hong tersenyum gembira. Gadis ini demikian lincah dan ternyata ramah dan manis sekali kalau tidak marah, dan tentu perjalanan akan menjadi menyenangkan dan tidak sepi kalau dilakukan bersama Suma Lian.
"Baiklah, Lian-moi. Hanya ada satu hal yang membuat aku agak bingung, yaitu anak ini. Aku masih memiliki banyak tugas yang harus kuselesaikan, banyak menempuh perjalanan jauh dan sukar, bnhkan mungkin bertemu lawan yang jahat dan tangguh. Bagaimana aku akan dapat leluasa bergerak kalau harus menjaga dia?"
"Akan tetapi dia muridmu dan ibunya sudah menyerahkan kepadamu, Hong-ko. Engkau pun sudah menerimanya!"
Kata Suma Lian dan ia pun tersenyum lebar karena ia merasa gembira bahwa bukan ia yang menerima beban berat itu! Kalau ia yang menerima Yo Han dari ibunya, tentu ia akan menjadi lebih bingung dibandingkan Sin Hong.
"Benar, dan terus terang saja, biarpun aku belum mempunyai niat mengambil murid, merasa masih terlalu muda, bahkan tidak mempunyai tempat tinggal tetap, aku suka melihatnya. Akan tetapi, kalau sekarang dia terus mengikuti aku, bagaimana aku akan dapat berhasil melaksanakan tugasku?"
"Suhu, harap Suhu tidak khawatir!"
Tiba-tiba Yo Han berkata dengan penuh semangat,
"Suhu tidak perlu mempedulikan teecu, tidak perlu menjaga teecu, karena teecu dapat menjaga diri sendiri."
Mendengar ucapan itu, Sin Hong dan Suma Lian saling pandang dan keduanya tersenyum, ada rasa kagum membayang pada wajah mereka. Anak itu memang luar biasa. Sedikit pun tidak pernah belajar silat akan tetapi memiliki keberanian dan semangat yang hebat, bahkan sedikit pun tidak gentar menghadapi ancaman maut di tangan Sin-kiam Mo-li. Sungguh sukar dicari keduanya anak dengan nyali seperti ini, nyali seorang calon pendekar sejati.
"Ah, aku mempunyai jalan keluar yang amat baik!"
Tiba-tiba Suma Lian berkata. Sin Hong memandang kepadanya dengan penuh harapan.
"Ketahuilah, Hong-ko. Paman tua yang akan kukunjungi itu adalah saudara sepupu ayahku, dia bernama Suma Ciang Bun, keturunan langsung pula dari keluarga Pulau Es. Pek-hu (Uwa) Suma Ciang Bun itu hidup seorang diri, hanya berdua dengan muridnya yang sering kali pergi merantau. Dan dia pun tidak berkeluarga, bahkan kini ayah menyuruh aku pergi mengunjunginya dan menyampaikan ajakan ayahku agar pek-hu suka tinggal bersama ayah dan ibu, agar hidupnya di hari tua tidak kesepian. Nah, bagaimana kalau engkau titipkan Yo Han kepadanya lebih dulu selama engkau melaksanakan tugasmu? Aku yang akan bicara dan setelah melihat Yo Han aku yakin pek-hu akan suka pula menerimanya."
Wajah Sin Hong berseri.
"Ah, itu merupakan jalan keluar yang baik sekali!"
Tiba-tiba wajahnya berubah.
"Akan tetapi, bagaimana aku berani mengganggu locianpwe itu?"
Dia lalu menoleh kepada Yo Han dan berkata,
"Dan bukankah itu berarti aku melepaskan pula tanggung jawabku setelah menerima anak ini dari ibunya?"
"Urusan pek-hu akulah yang akan bicara, Hong-ko. Dan kalau pek-hu mau menerimanya, kurasa bukan berarti engkau melepas tanggung jawab, karena bukankah maksud bibi Bi-kwi hanya agar engkau membawa pergi Yo Han dan anak ini dihindarkan dari gangguan Sin-kiam Mo-li?"
Akan tetapi Sin Hong masih meragu, memandang kepada Yo Han dengan bingung. Melihat ini, Yo Han segera berkata,
"Suhu, teecu mengerti bahwa kalau teecu ikut dengan Suhu sekarang, teecu akan menjadi beban dan Suhu akan merasa terhalang dan terganggu. Karena itu, teecu akan mentaati semua perintah Suhu, disuruh tinggal di manapun teecu menurut, asal Suhu tidak melupakan teecu dan kelak pada waktunya Suhu datang menjemput teecu."
Mendengar ini, Suma Lian bertepuk tangan memuji.
"Murid yang bagus sekali, ah engkau beruntung mempunyai seorang murid seperti dia, Hong-ko!"
Mau tidak mau Sin Hong tersenyum. Bagaimanapun juga, dia memang suka dan kagum kepada Yo Han.
"Kalau begitu, baiklah dan sebelumnya kuhaturkan terima kasih atas bantuanmu, Lian-moi."
Mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan, menuju ke Tapa-san dan di sepanjang perjalanan Sin Hong merasa gembira selalu karena Suma Lian memang merupakan seorang gadis yang lincah jenaka, sedangkan Yo Han juga merupakan seorang anak yang menyenangkan dan murid yang taat dan cekatan. Setiap kali mereka berhenti di hutan dan terpaksa bermalam di tempat terbuka, tanpa diperintah lagi anak itu mencari kayu bakar, atau air dan sebagainya. Juga Yo Han pandai membawa diri, pendiam tak pernah bicara kalau tidak ditanya, wajahnya selalu cerah walaupun kadang-kadang, terutama sekali di waktu malam kalau dia sedang duduk menghadapi api unggun, anak itu seringkali termenung. Sin Hong dan Suma Lian dapat menduga bahwa tentu anak itu teringat dan rindu kepada ayah bundanya.
Namun, tak pernah anak itu mau mengatakan hal ini dan dengan keras hati menyembunyikan kesedihannya itu di balik dagu yang mengeras dan mata yang bersinar-sinar. Kita tinggalkan dulu perjalanan Sin Hong, Suma Lian dan Yo Han yang menuju ke Pegunungan Tapa-san itu, dan mari kita mengikuti keadaan Pouw Li Sian yang telah berada di sarang Tiat-liong-pang. Seperti telah diceritakan di bagian depan, gadis ini berkunjung ke Tiat-liong-pang karena ketuanya yaitu Siangkoan Lohan (Kakek Gagah Siangkoan) atau bernama Siangkoan Tek, dahulu adalah sahabat dari mendiang ayahnya, Menteri Pouw Tong Ki. Bahkan pernah satu dua kali ia diajak ayahnya berkunjung ke Tiat-liong-pang sehingga ia sudah mengenal Siangkoan Lohan dan puteranya, Siangkoan Liong. Ia berkunjung untuk bertanya tentang seorang kakaknya,
Satu-satunya anggauta keluarganya yang kabarnya masih hidup, yaitu Pouw Ciang Hin, yang menurut hasil penyelidikannya, kini menjadi seorang perwira pasukan kerajaan yang bertugas jaga di perbatasan utara dekat Tembok Besar. Munculnya gadis itu di Tiat-liong-pang, sempat menggemparkan karena ketika Sin-kiam Mo-li yang mencurigainya menyuruh anak buahnya untuk menangkap, Pouw Li Sian menunjukkan bahwa ia adalah seorang gadis yang amat lihai, Sin-kiam Mo-li sendiri tidak mampu mengalah-kannya! Siangkoan Lohan segera menerimanya dengan ramah dan baik ketika mendengar pengakuan Li Sian bahwa gadis yang cantik dan lihai ini bukan lain adalah puteri sahabatnya, Pouw Tai-jin. Gadis ini diterima dan disambut dengan gembira, dan ketika bertemu dengan Siangkoan Liong yang pernah dikenalnya ketika mereka masih kecil,
Di antara mereka berdua segera terjalin suatu keakraban. Pouw Li Sian adalah seorang gadis yang biarpun telah mempegoleh pendidikan ilmu silat tinggi sehingga membuatnya menjadi seorang gadis yang amat lihai, namun ia masih hijau dalam pengalaman. Ia baru saja meninggalkan perguruan dan pengetahuan umumnya masih dangkal, walaupun ia bukan seorang gadis bodoh. Oleh karena itu, ketika ia tinggal di sarang Tiat-liong-pang, ia tidak menaruh curiga sedikit pun. Akan tetapi, bagaimanapun juga, ia merasa heran ketika diperkenalkan dengan para tokoh sesat yang bersekutu dengan Tiat-liong-pang, karena banyak di antara mereka yang sikapnya kasar, bahkan menjemukan hatinya karena mereka itu jelas-jelas memperlihatkan pandang mata yang kurang ajar dan tidak sopan.
Perasaan penasaran yang terkandung di dalam hatinya melihat orang-orang kang-ouw yang kasar itu berada di situ dan agaknya menjadi pembantu atau tamu dari Tiat-liong-pang, mendorong Li Sian untuk membicara-kannya dengan Siangkoan Liong yang telah dipercayainya. Setelah beberapa hari tinggal di situ dan melihat betapa Tiat-liong-pang melatih para anggautanya untuk bermain perang-perangan, seolah-olah perkumpulan itu mempersiapkan diri untuk berperang, ia pun pada suatu senja bercakap-cakap tentang semua itu dengan Siangkoan Liong dalam sebuah taman. Mereka duduk berhadapan di atas bangku kayu sederhana di dekat kolam ikan buatan yang membuat tempat itu terasa nyaman dan sejuk segar. Baik gadis itu maupun Siangkoan Liong, baru saja mandi dan berganti pakaian bersih sehingga keduanya merasa segar pula. Biarpun Li Sian baru tinggal belasan hari di tempat itu,
Namun pergaulannya dengan Siangkoan Liong telah cukup akrab karena pemuda itu memang pandai membawa diri, selalu sopan dan ramah. Siangkoan Liong adalah seorang yang amat cerdik, bagaikan seekor harimau yang mengenakan bulu domba, sedikit pun tidak nampak wataknya yang mata keranjang dan siap menerkam ketika melihat Li Sian yang cantik. Bahkan Li Sian merasa amat tertarik kepada pemuda yang memang tampan dan gagah ini. Setelah mereka duduk saling berhadapan keduanya saling pandang. Seperti biasa Siangkoan Liong duduk dengan tenang dan sikapnya pendiam, halus dan lembut. Wajahnya yang tampan itu terpelihara dengan cermat, rambutnya hitam licin disisir rapi, dan tercium keharuman dari pakaian dan rambutnya. Pakaiannya pun selalu rapi dan setiap hari berganti pakaian baru.
Dilihat sepintas lalu saja, Siangkoan Liong tidak menunjukkan bahwa dia seorang pemuda yang amat lihai ilmu silatnya, lebih pantas dia menjadi seorang kongcu (tuan muda) bangsawan yang hartawan dan terpelajar tinggi. Pemuda itu pun memandang Li Sian dengan sinar mata penuh kagum. Gadis ini nampak manis sekali, terutama tahi lalat di dagunya, menjadi penambah dalam kecantikannya. Biarpun bukan pesolek, namun Li Sian pandai berdandan, pakaiannya yang sederhana nampak rapi, juga rambutnya digelung dengan indahnya, ada sedikit anak rambut terjuntai di dahinya, lembut sekali. Sikapnya halus dan lembut namun anggun, seperti puteri bangsawan sejati, gerak-geriknya halus namun di balik kehalusan itu nampak jelas oleh mata Siangkoan Liong yang terlatih bahwa di situ tersembunyi kekuatan dahsyat.