Halo!

Kisah Sepasang Rajawali Chapter 88

Memuat...

"Hemm...."

Pendekar ini menggeram. Biarpun tubuhnya lemah dan sebelah dalam dadanya nyeri, namun sekali ini dia mengerahkan sin-kang, dia dapat mengelak cepat dan tangan kirinya menampar ke arah sinar pedang yang berkelebat.

"Krekkkk! Aughhhh....!"

Pedang itu kena dihantam tangan miring Gak Bun Beng dan patah menjadi dua potong, bahkan sebuah tusukan jari tangan kanan yang cepat mengenai jalan darah di pundak Sin-kiam Lo-thong, membuat kakek bertubuh kecil itu terjengkang dan roboh tak dapat bangun kembali karena sudah tertotok lumpuh!

"Bawa dia pergi....!"

Bun Beng berseru ke arah anak buah Hek-san-pai yang cepat berlari-lari datang dan dua orang itu lalu menggotong pergi Sin-kiam Lo-thong yang masih lumpuh kaki tangannya. Dua orang ketua itu saling pandang, kemudian mereka menghadapi Gak Bun Beng dengan alis berkerut.

"Sebetulnya, apakah kehendakmu?"

Ketua Hek-san-pai yang melihat jagonya roboh itu bertanya.

"Locianpwe, bukankah Locianpwe mewakili kami sehingga kini fihak Pek-san-pai yang menang?"

Tanya ketua Pek-san-pai penuh harap. Gak Bun Beng memandang mereka dengan mulut tersenyum mengejek.

"Aku tidak mewakili siapa-siapa. Sudah kukatakan bahwa aku mewakili diriku sendiri untuk memperebutkan tempat ini berikut sumber airnya." "Ahhh! Akan tetapi tempat ini adalah warisan dari nenek moyang kami kedua perkumpulan! Kami kakak beradik seperguruan saja yang berhak atas tempat ini!"

Bantah ketua Pek-san-pai yang merasa kecewa sekali. Bun Beng memperlebar senyumnya.

"Kakak beradik seperguruan macam apa kalian ini? Kalau kalian sudah memperebutkan tempat ini dan setiap tahun bertanding, biarlah aku juga memperebutkannya. Akan tetapi alangkah curangnya kalau untuk kepentingan sendiri harus mengundang jagoan-jagoan bayaran. Hayo, kalian kakak beradik yang membutuhkan tempat ini majulah bersama melawan aku. Kalau kalian kalah, tempat ini menjadi milikku dan untuk keperluan air, kalian boleh membeli atau menyewa dariku. Kalau aku yang kalah, nah, tempat ini menjadi milik kalian berdua, keperluan air kedua pihak tentu dapat dicukupi tanpa adanya permusuhan dan perebutan."

Dua orang saudara seperguruan yang sudah beberapa keturunan menjadi musuh karena air itu kini saling pandang. Mereka menjadi ragu-ragu dan penasaran. Urusan jembatan dan air adalah urusan dalam antara mereka sendiri, dan kini muncul orang luar yang hendak merampas tempat itu dan memaksakan diri masuk ke dalam perebutan turun-temurun itu!

"Apakah kalian ini telah menjadi orang-orang yang demikian pengecut, beraninya hanya ribut antara saudara sendiri dan takut untuk menentang orang luar?"

Bun Beng berkata lagi, nadanya amat menghina sehingga wajah kedua orang ketua itu menjadi merah.

"Siapa takut? Kami hanya menghormatimu karena nama besarmu sebagai Sin-ciang Yok-kwi...."

Kata ketua Peksan-pai.

"Aku bukan Yok-kwi (Setan Obat) atau setan apa pun. Aku adalah Gak Bun Beng seorang perantau yang ingin memiliki jembatan dan sumber air ini. Kalau kalian takut, sudah saja kalian bayar sewa tahunan kepadaku untuk menggunakan air di sini. Kalau berani, majulah!"

"Keparat, tempat ini akan kami pertahankan dengan nyawa!"

Bentak ketua Hek-san-pai.

"Bagus, kalau begitu majulah kamu berdua. Akan tetapi, kalian harus ingat akan pertaruhan dan janjinya. Kalau aku menang, kalian menjadi penyewa tempat ini dan membayar kepadaku. Kalau aku yang kalah, kalian harus berdamai dan tidak lagi memperebutkan tempat ini, memakainya sebagai milik bersama."

Kedua orang ketua itu sudah menjadi marah sekali. Dari kanan kiri mereka maju menyerang Bun Beng. Pendekar ini diam-diam merasa gembira karena siasatnya berhasil baik.

Maka dia juga bergerak dan menangkis tanpa mengerahkan tenaganya karena tadi begitu dia mengerahkan sin-kang ketika menghadapi Sin-kiam Lo-thong, dadanya terasa makin nyeri. Biarpun kini dia tidak mengerahkan sin-kangnya, akan tetapi karena dia harus mengelak ke sana ke mari dan menangkisi pukulan-pukulan kedua orang ketua yang juga memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi itu, Bun Beng merasa betapa kepalanya pening. Akhirnya, pukulan ketua Hek-san-pai mengenai dadanya sedangkan pukulan ketua Pek-san-pai mengenai punggungnya. Bagi tubuh Bun Beng yang sudah memiliki daya tahan dan kekebalan luar biasa, pukulan-pukulan itu tidak berbahaya, namun cukup kuat untuk membuat kepalanya yang sudah pening menjadi makin pening, pandang matanya gelap dan robohlah dia dalam keadaan pingsan!

"Kalian manusia-manusia berhati kejam....!"

Tiba-tiba Syanti Dewi berlari naik ke atas jembatan menudingkan telunjuknya ke arah muka kedua orang ketua itu dengan marah.

"Butakah mata kalian?"

Kedua orang ketua itu terheran-heran. Tadinya mereka siap menghadapi dara ini karena mereka menyangka bahwa dara itu akan menuntut balas atas kekalahan Gak Bun Beng. Kini mereka saling pandang dan bingung.

"Sudah jelas bahwa paman Gak sengaja hendak memaksa kalian agar berdamai dan menghentikan permusuhan ini, permusuhan bersifat kanak-kanak yang memalukan! Paman Gak sengaja mengalah dan mengorbankan dirinya agar kalian menang dan berdamai. Kalau tidak, apakah kiranya kalian berdua akan dapat menang menghadapinya? Tidak kalian lihat tadi betapa dalam segebrakan saja dia mampu mengalahkan Sin-kiam Lo-thong? Buta! Kalian buta dan tidak mengenal budi!"

Setelah berkata demikian, Syanti Dewi lalu berlutut dekat Gak Bun Beng. Dua orang ketua itu terbelalak seperti disambar petir rasanya. Baru sekarang mereka mengerti. Mereka pun otomatis berlutut dekat tubuh Bun Beng yang masih pingsan.

"Maafkan kami, Nona. Biarlah kami menolong dan merawat locianpwe ini...."

Kata ketua Pek-san-pai.

"Kami memang bodoh dan locianpwe telah memberi pelajaran hebat kepada kami dengan mengorbankan diri. Maafkan kami, Nona. Kami akan berusaha merawat dan mengobatinya."

Syanti Dewi bangkit berdiri.

"Apakah di antara kalian terdapat ahli pengobatan yang pandai?"

Dua orang ketua itu saling pandang, kemudian menggeleng kepala.

"Kalau begitu, tolong bawa paman Gak ke rumah, aku akan pergi menemui Sin-ciang Yok-kwi di Ci-lan-kok."

Kembali kedua orang ketua itu tertegun.

"Jadi.... benarkah locianpwe ini bukan Sin-ciang Yok-kwi?"

"Kalian memang bodoh dan buta karena permusuhan picik ini. Dia adalah paman Gak Bun Beng yang sedang sakit dan kebetulan lewat di tempat ini. Aku mau pergi mencari Yok-kwi!"

Syanti Dewi sudah hendak lari ketika dua orang ketua itu berseru

"Tahan dulu, Nona!"

"Ada apa lagi?"

"Sebaiknya kalau Gak-locianpwe dibawa saja ke puncak Ci-lan-kok menghadap dan mohon bantuan Sin-ciang Yok-kwi. Kalau Nona pergi ke sana mengundangnya, tentu beliau tidak mau bahkan amat berbahaya bagi keselamatanmu."

"Tidak! Paman Gak sedang menderita dan sakit berat, mana mungkin dibawa naik puncak? Aku akan mencarinya, menemuinya dan memintanya turun puncak mengobati paman Gak. Kalian rawat paman Gak baik-baik!"

Post a Comment