"Aih, kau panas sekali, paman. Kau sakit! Kau demam...."
Gak Bun Beng membuka matanya, memandang Syanti Dewi sebentar, lalu memejamkannya kembali, menggeleng kepala dan berkata lemah,
"Tidak apa-apa, Dewi.... sebentar juga sembuh.... tidak apa-apa...."
"Paman, ah, paman, aku khawatir sekali. Kau tadi begitu pucat seperti mayat setelah melihat wanita itu! Siapakah wanita cantik dan gagah yang menunggang kuda itu tadi, paman?"
"Milana.... dia Milana....!"
Ketika mengucapkan nama ini, seolah-olah hatinya menjerit memanggil nama kekasihnya.
"Milana....!"
Mendengar nama ini, Syanti Dewi terkejut.
"Sang Puteri Milana....?"
Gak Bun Beng mengangguk lagi dan memejamkan matanya. Syanti Dewi mengulang nama itu dan memandang penolongnya penuh selidik, kemudian dia mengangguk-angguk. Digenggamnya tangan pendekar itu ketika dia berkata,
"Maafkan kelancanganku, ya, paman? Diakah wanita yang paman cinta? Sang Puteri Milana itu?"
Sejenak Gak Bun Beng tidak menjawab, bibirnya menggigil, matanya terpejam, kemudian dia mengangguk.
"Aihhh....!"
Syanti Dewi tertegun, sama sekali tidak menduga bahwa penolongnya ini mempunyai hubungan cinta kasih dengan cucu kaisar sendiri! Diam-diam dia mengakui bahwa memang patutlah kalau penolongnya ini mencinta wanita itu, karena memang wanita tadi itu hebat. Begitu cantik, begitu gagah dan begitu agung! Akan tetapi mengapa wanita itu tidak menahan kepergian pendekar ini? Apakah cinta kasih wanita itu kurang mendalam? Kasihan pendekar ini, sampai sekarang masih menderita hebat karena cinta kasihnya terputus!
"Kalau begitu, antarkan aku kepadanya, paman. Atau aku mencari sendiri, aku akan menghadapnya dan akan kutegur dia, akan kukatakan betapa dia telah membuat hidupmu sengsara, betapa dia telah berlaku kejam terhadap-mu, betapa dia sepatutnya harus...."
"Hushh....! Jangan berkata begitu, Dewi. Akulah yang mening-galkannya. Cintaku kepadanya sedemikian mendalam sehingga aku tidak mau karena menikah denganku dia akan sengsara. Lihat, dia begitu agung, seorang puteri Istana! Cucu kaisar dan puteri Majikan Pulau Es, seorang pendekar yang berjuluk Pendekar Super Sakti! Sedangkan aku.... ah, riwayatku hanya memalukan untuk dibicarakan, seorang rendah, miskin dan...."
"Dan semulia-mulianya orang, yang tak dapat melihat ini matanya buta!"
Syanti Dewi melanjutkan.
"Tidak, Syanti Dewi. Kau tidak mengerti. Aku rela memutuskan hubungan kami, dan aku rela menderita kalau dia berbahagia. Karena itu, akupun tidak pernah menampakkan diri. Sekarang karena terpaksa aku berada di sini dan.... dan melihat dia.... ahh, Dewi, apakah kau tidak melihat bagaimana wajahnya tadi?"
"Cantik dan agung, paman. Akan tetapi.... hemm, memang kurus dan pucat, agak murung...."
"Dia menderita, Dewi. Aku mengenal benar wajahnya. Dia menderita, dan semua itu karena aku.... ohh."
Gak Bun Beng memejamkan mata erat-erat, mulutnya terkancing.
"Paman....! Paman....!"
Syanti Dewi menjerit dan karena jeritannya itu pelayan tadi berlari masuk. Melihat betapa orang yang dipanggil "paman"
Oleh gadis itu pingsan dan kaku iapun ikut menjadi bingung sekali.
"Lekas.... oh, lekas panggilkan tabib....!"
Syanti Dewi memohon dan pelayan itu lalu lari keluar untuk memanggil ahli pengobatan yang kebetulan toko obatnya tidak begitu jauh dari situ. Syanti Dewi sendiri cepat membuka baju Gak Bun Beng, kemudian dia meletakkan telapak tangannya di dada pendekar itu dan mati-matian mengerahkan sin-kang yang diajarkan oleh Gak Bun Beng. Napasnya sendiri sampai terengah-engah, wajahnya pucat, akan tetapi dia nekat terus menyalurkan sin-kang. Akhirnya, Gak Bun Beng sadar dan cepat dia menangkap tangan Syanti Dewi dan berkata,
"Anak bodoh....! Lekas kau bersila dan atur napasmu baik-baik!"
Syanti Dewi girang sekali melihat penolongnya sudah siuman, maka dia menurut dan bersila. Kini Gak Bun Beng yang membantunya dengan menempelkan telapak tangannya ke punggung dara itu. Syanti Dewi sehat, dan pulih kembali tenaganya, akan tetapi keadaan Gak Bun Beng makin lemah.
"Ahhh, gejolak batin yang belasan tahun kutekan, dalam hari ini terbebas dari tekanan sehingga seolah-olah api dalam sekam, kini menyala, atau seperti air dibendung, kini pecah bendungannya. Mana aku kuat menahan? Jangan khawatir, Dewi, aku sudah sadar sekarang, hanya tinggal lemas. Tubuhku lemah sekali dan perlu beristirahat agak lama. Kita tunda saja pergi menghadap dia...."
"Menghadap Puteri Milana? Tak perlu kau terlalu banyak memikirkan urusanku, paman. Kalau kau menghendaki menghadap kapan sajapun boleh. Kalau tidakpun, aku juga tidak ingin masuk istana. Yang perlu kau harus berobat sampai sembuh."
Pelayan datang bersama sinshe ahli obat. Setelah memeriksa nadi dan mendengarkan dada, sinshe tua itu mengangguk-angguk.
"Orang muda, jangan terlalu banyak pikiran. Memang sedang masanya dunia kacau dan ribut-ribut, akan tetapi bukan kita sendiri yang merasakannya, melainkan orang sedunia. Perlu apa gelisah dan berduka? Tenang dan bergembiralah dan tanpa obatpun kau akan sembuh. Akan tetapi perlu kuberi obat untuk menjaga jantungmu."
Setelah membuat resep dan menerima uang biaya dari Syanti Dewi, sinshe itu lalu pergi dan si pelayan cepat membelikan obat dari resep itu. Sambil memasak obat di dalam kamar, Syanti Dewi memperhatikan dan menjaga Gak Bun Beng yang masih rebah telentang.
"Sinshe itu memang pandai...."
Kata Gak Bun Beng.
"Sungguhpun dugaannya keliru, namun sifat penderitaanku dia tahu semua. Dan dia menyebutku orang muda, betapa lucunya!"
Biarpun suara Gak Bun Beng masih gemetar dan lemah, membuat Syanti Dewi terharu dan khawatir, namun teri-ngat akan nasehat sinshe tadi Syanti Dewi berkata dengan tertawa dan suaranya gembira,
"Hi-hik, Paman. Apanya yang lucu? Memang kau masih muda, malah engkau masih.... perjaka lagi, hi-hik!"
Gak Bun Beng mencoba untuk tersenyum.
"Bagaimana kau tahu?"
Memang sesungguhnya, Gak Bun Beng yang sudah berusia empat puluh tahun itu masih perjaka, belum pernah dia mengadakan hubungan badani dengan wanita! "Tentu saja tahu! Bukankah engkau tak pernah kawin? Itu berarti masih perjaka!"
Gak Bun Beng tidak menjawab. Dia terharu sekali karena dia tahu bahwa sebetulnya hati dara itu gelisah memikirkan bagaimana nanti kalau dia ditinggal di istana, memikirkan sakitnya. Akan tetapi gadis itu sengaja memaksa diri bergembira dan mengajak berkelakar agar dia lekas sembuh.
Betapa luhur budi dara ini! Dengan penuh ketekunan Syanti Dewi merawat Gak Bun Beng, memberinya minum obat dan bahkan menyuapi mulut Gak Bun Beng ketika makan bubur, tetap tak membolehkan pendekar itu bangkit dan makan sendiri. Akhirnya, dengan hati diliputi penuh keharuan, Gak Bun Beng tertidur nyenyak. Sore harinya, melihat Gak Bun Beng masih tidur terus hati Syanti Dewi menjadi tidak enak. Bagaimana kalau terus tidur dan tidak akan bangun kembali? Membayangkan pendekar itu "mati"
Syanti Dewi menjadi panik. Kacau hatinya, maka dia lalu bertanya kepada pelayan dan menuju ke rumah obat menemui sinshe tadi, memberitahukan bahwa obat telah diminumkan dan menanyakan mengapa setelah minum obat lalu tertidur terus sejak tadi sampai sekarang.
"Bagus, bagus....!"
Sinshe itu mengangguk-angguk.
"Jangan ganggu dia. Makin banyak tidur makin baik, dia gelisah dan berduka, tidur dan istirahat, bergembira adalah yang mujarab."
Legalah hati Syanti Dewi dan dengan hati dan langkah ringan dia kembali ke rumah penginapan. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia melihat keributan terjadi di rumah penginapan itu. Dua orang kakek yang aneh sekali telah berada di ruangan depan penginapan dan berhadapan dengan lima orang pelayan.
Karena mereka itu ribut-ribut tepat di depan pintu kamar Gak Bun Beng, maka Syanti Dewi terhalang tak dapat masuk dan dia menjadi khawatir sekali. Sejenak dia memandang dengan penuh keheranan dan kengerian. Kedua orang kakek itu memang luar biasa sekali. Wajah keduanya presis sehingga mudah diduga tentu mereka adalah orang-orang kembar. Akan tetapi pakaian mereka berbeda jauh, seperti bumi dengan langit. Yang seorang bermuka merah, tubuhnya hanya tertutup oleh sebuah celana pendek sehingga dari pinggang ke atas dan dari paha ke bawah sama sekali telanjang, memakai sepatupun tidak! Adapun kakek yang kedua, mukanya putih, pakaiannya lengkap, terlalu lengkap malah, karena di luar pakaiannya dia memakai mantel bulu tebal, seolah-olah dia selalu merasa dingin sedangkan yang seorang seolah-olah kegerahan terus! Dua kakek ini marah-marah.
"Kami juga mampu bayar, kenapa tidak boleh memakai kamar ini?"