Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 76

Memuat...

"Dia.... dia telah menodaiku....!! Hanya sekian saja Suma Hui dapat bicara karena ia sudah menangis sesenggukan.

"Ahhhh....!! Seruan ini terdengar keluar dari semua orang yang hadir di situ, dan Kim Hwee Li sudah meloncat dan merangkul puterinya. Belum pernah ia melihat puterinya menangis sesedih ini.

"Anakku.... apakah yang telah terjadi....?! tanyanya penuh kegelisahan.

"Hui-ji, ucapanmu itu harus dijelaskan!! bentak Suma Kian Lee sambil mengepal sepasang tinjunya. Adapun Kao Kok Cu dau isterinya hanya saling pandang, akan tetapi wajah merekapun berobah agak pucat karena tuduhan yang dilontarkan terhadap putera mereka itu terlalu hebat, terlalu keji!

Suma Hui menyembunyikan mukanya di dadaibunya. Ia mengerahkan tenaga melawan tangisnya, kemudian dengan isak tertahan ia bercerita.

"Malam itu aku sudah hampir tertidur ketika aku mencium bau harum. Aku sadar bahwa ada bau asap pembius, akan tetapi terlambat. Ketika aku meloncat bangun, kepalaku pening dan pada saat itu, ada orang menyerbu kamar dan aku ditotoknya. Kemudian.... aku.... aku tidak berdaya ketika dia memperkosaku....!

"Engkau tahu benar siapa pelakunya?! Suma Kian Lee bertanya, suaranya gemetar penuh nafsu amarah yang ditahan-tahan.

"Dia adalah jahanam Kao Cin Liong!!

Terdengar suara menggeram seperti seekor harimau dan sepasang mata Suma Kian Lee seperti mengeluarkan api ketika dia memandang kepada kedua orang tamunya.

"Hemmmm, pantas Louw-kauwsu menuduhnya jai-hwa-cat dan menyerangnya sampai tewas di tangan keparat itu. Penghinaan ini harus ditebus dengan nyawa!!

Wan Ceng melangkah maju menghadapi Suma Kian Lee. Semangatnya timbul seketika mendengar puteranya diancam dan mukanya menjadi merah, sikapnya penuh tantangan ketika ia berhadapan dengan Suma Kian Lee.

"Bohong! Aku tidak percaya! Tidak mungkin puteraku melakukan perbuatan hina seperti itu.!

Menghadapi seorang wanita yang nampaknya juga marah sekali itu Suma Kian Lee agak tercengang. Kalau saja yang menentangnya itu Kao Kok Cu, tentu sudah diserangnya, akan tetapi dia tidak mungkin mau menyerang seorang wanita, apalagi wanita itu Wan Ceng yang pernah menghuni dalam hatinya. Akan tetapi Kim Hwee Li yang tadi merangkul anaknya, mendengar ucapan Wan Ceng itu, meloncat dan menghadapi wanita itu.

"Keterangan anakku kau katakan bohong?! bentaknya marah.

"Kalau tidak bohong ia tentu salah lihat!! Wan Ceng membantah "Suma Hui, apakah engkau benar-benar berani sumpah melihat sendiri bahwa yang melakukan perbuatan terkutuk itu adalah Cin Liong?!

"Kamar gelap, aku tidak dapat melihat wajahnya, akan tetapi suaranya.... dan bicaranya.... dia adalah Kao Cin Liong, tak salah lagi.!

"Fitnah....!! Wan Ceng membentak.

"Wan Ceng! Kao Kok Cu! Kalian dua orang tua yang tak tahu malu, tidak becus mendidik anak, sehingga melakukan perbuatan hina terhadap anak kami yang malang, dan sekarang kalian malah hendak menuduh anakku membohong? Untuk apa anakku membohong? Sungguh tak tahu malu!! Kim Hwee Li marah sekali dan ia sudah menerjang maju untuk menampar muka Wan Ceng. Akan tetapi, wanita ini tentu saja tidak mau ditampar dan cepat iapun sudah menangkis dan membalas dengan menampar pula.

"Dukkk....! Wuiiitttt!! Balasan tamparan itu luput karena dielakkan oleh Kim Hwee Li dan tumbukan kedua lengan mereka itu membuat keduanya terdorong ke belakang. Kim Hwee Li sudah menerjang lagi, kini mengirim pukulan-pukulan berantai yang dahsyat. Namun lawannya bukanlah seorang wanita biasa. Isteri dari Naga Sakti Gurun Pasir itu dapat mengelak, menangkis bahkan membalas dengan serangan yang tidak kalah dahsyatnya.

Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu Kim Hwee Li kehilangan lawannya. Kiranya tubuh Wan Ceng telah disambar oleh suaminya dan dibawa keluar lapangan perkelahian itu dan kini pendekar lengan satu itu menjura dengan sikap tenang.

"Segala urusan dapat diselesaikan dengan jalan musyawarah. Mempergunakan kekerasan bukanlah jalan baik untuk mengatasi persoalan. Kami berdua datang karena tidak mengetahui adanya persoalan itu, kalau kami tahu tak mungkin kami berani datang sebelum membikin terang persoalan ini. Juga agaknya kedua paman dan bibi baru tahu sekarang. Tidak mungkin putera kami melakukan perbuatan tidak senonoh itu, juga agaknya tidak mungkin kalau puteri paman berdua bicara bohong. Oleh karena itu, tentu ada apa-apa di balik semua ini, rahasia inilah yang harus diselidiki dan dipecahkan.!

Melihat sikap pendekar sakti itu yang mengalah, sabar dan tenang, Suma Kian Lee juga menahan dirinya, walaupun hatinya sudah terbakar oleh pengakuan puterinya bahwa puterinya telah diperkosa oleh Cin Liong.

"Kalian sebagai orang tua tentu dapat merasakan bagaimana hebatnya penderitaan kami mendengar pengakuan puteri kami. Tepat seperti dikatakan puteri kami tadi, penghinaan ini harus ditebus dengan nyawa, aib ini harus dicuci dengan darah!!

"Hemm, paman Suma Kian Lee. Kao Cin Liong masih mempunyai ayah ibu, dan kami sebagai orang tuanya berani mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Akan tetapi benarkah dia melakukan perhuatan itu? Hal ini yang harus kami selidiki lebih dahulu. Kalau memang benar putera kami yang melakukan perbuatan biadab itu, kami berani mempertanggungjawabkannya dan kami yang akan menghukumnya.! Berkata demikian, pendekar berlengan satu ini saling pandang dengan isterinya dan wajah keduanya menjadi merah.

Teringatlah oleh pendekar ini betapa dahulu, di waktu mudanya, karena rangsangan racun, dia sendiripun melakukan pemerkosaan atas diri Wan Ceng yang kini menjadi isterinya. Apakah ada sesuatu yang mendorong putera mereka melakukan perbuatan yang sama? Apakah ini hukum karma? Ataukah ada hal-hal yang serba rahasia di balik ini? Bagaimanapun juga, mereka menjadi prihatin sekali.

Setelah menjura ke arah fihak tuan rumah tanpa dibalas, Kao Kok Cu lalu menarik lengan isterinya yang masih marah-marah itu dan meninggalkan rumah keluarga Suma. Betapa jauh bedanya dengan ketika mereka datang tadi. Tadi mereka datang dengan gembira dan dengan hati mengandung penuh harapan. Kini mereka pergi dengan hati sedih, penasaran dan juga marah.

Setelah kedua orang itu pergi, Suma Hui lalu menangis dan menjambak-jambak rambutnya sendiri.

"Aku akan membunuhnya.... aku akan membunuhnya....!! Hatinya hancur berkeping-keping. Ia mencinta Cin Liong, bahkan sampai saat itupun ia tidak dapat melupakan pemuda itu. Akan tetapi, pemuda itu telah menghancurkan semua harapan dan kebahagiaannya dengan perbuatan yang keji itu! Kim Hwee Li dapat merasakan kehancuran hati anaknya, maka ibu inipun merangkulnya sambil menangis pula.

Suma Kian Lee terduduk dengan muka pucat dan tubuh lemas. Tak disangkanya telah terjadi malapetaka seperti itu! Kini jelas tak mungkin puterinya menjadi jodoh Cin Liong yang masih keponakan puterinya sendiri itu. Akan tetapi, bagaimana mungkin pula puterinya dapat melanjutkan perjodohannya dengan Tek Ciang setelah dirinya ternoda? Bagaimana dia dapat menyampaikan hal itu kepada pemuda itu? Dan bagaimana pula kalau Tek Ciang menolak? Dia merasa pening memikirkan hal ini dan hatinya semakin jengkel melihat isteri dan puterinya bertangisan.

"Kalau kalian hendak bertangisan, ajaklah ia ke kamarnya dan biarkan aku sendiri di sini. Ciang Bun, keluarlah engkau!! kata pendekar itu dengan wajah lesu.

Kim Hwee Li mengerti bahwa suaminya sedang menahan nafsu amarah yang menggelora, maka iapun lalu menuntun puterinya masuk ke kamar Suma Hui di mana gadis itu melempar diri di atas pembaringan dan menangis sesenggukan, dipeluk oleh ibunya. Sedangkan Ciang Bun, dengan tubuh terasa lesu, pergi ke taman belakang di mana dia melihat Tek Ciang duduk termenung seorang diri.

Dia menahan langkahnya dan memandang pemuda itu dari belakang. Sampai sejauh manakah pengetahuan Tek Ciang tentang encinya itu? Bukankah ketika ayah ibunya pergi mencarinya, di rumah ini hanya ada encinya, pelayan dan Tek Ciang? Tentu pemuda yang menjadi suhengnya itu tahu, atau setidaknya mengetahui hal-hal yang ada hubungannya dengan peristiwa itu. Dia sendiri masih belum dapat percaya begitu saja bahwa Cin Liong telah melakukan hal yang sedemikian rendahnya. Memperkosa encinya!

Dia mengenal betul jenderal muda itu, seorang pendekar yang gagah perkasa, yang telah membela Pulau Es mati-matian, bahkan telah menyelamatkan encinya dari malapetaka ketika encinya dilarikan oleh penjahat keji Jai-hwa Siauw-ok. Mana mungkin kemudian Cin Liong sendiri yang memperkosa encinya? Akan tetapi, diapun tahu bahwa encinya adalah seorang yang keras hati dan jujur, yang sampai mati rasanya tidak akan mau membohong. Kalau encinya mengatakan dengan yakin bahwa pemerkosanya adalah Cin Liong, maka hal itupun sukar untuk diragukan lagi. Sungguh membingungkan!

Tek Ciang agaknya merasa akan kedatangannya, karena pemuda itu menoleh dan begitu melihat Suma Ciang Bun, dia bangkit dari bangku taman.

"Ah, sute, apakah tamunya sudah pulang?!

Ciang Bun masih termenung dan hanya mengangguk.

"Siapakah tamunya, sute?!

"Tamunya adalah Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya dan mereka datang untuk meminang enci Hui!! Suma Ciang Bun berkata dengan tegas sambil menatap wajah suhengnya itu dengan tajam.

"Mereka meminang enci Hui untuk dijodohkan dengan Cin Liong.!

"Ahhh....!! Pemuda itu nampak terkejut akan tetapi tidak berkata apa-apa, hanya alisnya berkerut tanda bahwa hatinya tidak senang. Ciang Bun mengerti bahwa tentu suhengnya ini tidak suka kepada Cin Liong karena Cin Liong telah menyebabkan kematian ayahnya.

Ciang Bun lalu menghampiri suhengnya.

"Suheng, mari kita duduk, aku ingin bicara denganmu.!

Tek Ciang duduk kembali. Mereka duduk berdampingan dan Tek Ciang memandang wajah sutenya dengan heran.

"Bicara apakah, sute?!

Tentang.... Cin Liong!!

"Ada apa dengan.... dengan Kao-taihiap?!

"Dia telah membunuh ayahmu, bukan? Apakah engkau telah bicara dengan dia setelah peristiwa matinya ayahmu?!

Pemuda itu menarik napas panjang, nampak bersedih.

"Sudah, dan Kao-taihiap mengakui telah berkelahi dengan mendiang ayah. Dia diserang oleh ayah dan dia hanya membela diri saja. Tentu saja ayah bukan tandingannya dan.... dan menurut keterangan Kao-taihiap, ayah.... membunuh diri setelah kalah.!

"Engkau percaya akan keterangan itu?!

"Bagaimana tidak? Dia adalah seorang pendekar sakti, seorang jenderal malah.!

"Engkau tidak mendendam?!

Tek Ciang nampak bingung.

"Tentu saja aku berduka sekali karena kematian ayah, akan tetapi akupun tidak dapat menyalahkan Kao-taihiap karena dia lebih dahulu diserang oleh ayah, yang menyangkanya seorang jai-hwa-cat yang berkeliaran di kota ini.

"Apakah engkau percaya bahwa Cin Liong pantas menjadi jai-hwa-cat, suheng?!

"Apa....? Ah, entahlah, sute, aku menjadi bingung....!

Hening sejenak. Suma Ciang Bun memutar otaknya bagaimana untuk dapat membongkar rahasia terpendam yang mungkin diketahui oleh suhengnya ini, sedangkan Tek Ciang bersikap waspada, kini tidak gugup lagi dan dia sudah bersiap-siap untuk menghadapi semua pertanyaan sutenya.

"Louw-suheng, dahulu sebelum kami pulang, engkau seoranglah yang menemani enci Hui di rumah. Maukah engkau menjawab semua pertanyaanku dengan sejujurnya?!

Diam-diam Tek Ciang terkejut dan dia memandang kepada sutenya yang masih remaja dan yang sikapnya halus itu dengan curiga di hati. Akan tetapi dia mengangguk tanpa menjawab.

"Suheng, apakah engkau melihat terjadinya sesuatu yang aneh antara enci Hui dan Cin Liong?!

"Sesuatu yang aneh? Apakah yang kaumaksudkan, sute?!

"Ketika Cin Liong datang berkunjung ke sini, bagaimanakah hubungan antara mereka?!

"Baik sekali! Mereka kelihatan akrab sekali, dan sikap Kao-taihiap amat manis.!

"Suheng, kenana engkau menyebutnya Kao-taihiap? Tidak tahukah engkau bahwa dia adalah keponakanku? Jadi dapat disebut murid keponakanmu juga!!

Wajah Tek Ciang menjadi merah dan dia tersenyum.

Post a Comment