Halo!

Kisah Pendekar Bongkok Chapter 87

Memuat...

Di punggungnya tergantung sebatang pedang. Mereka itu adalah Yauw Bi Sian dan sutenya, Coa Bong Gan. Biarpun Bong Gan lebih tua dari Bi Sian, namun dia terhitung sute (adik seperguruan) gadis itu karena gadis itu yang lebih dulu menjadi murid Koay Tojin. Seperti kita ketahui, Bi Sian marah dan mendendam kepada Sie Liong, adik ibunya yang dahulunya menjadi teman sepermainan dan dahulu amat disayangnya itu. Ia merasa yakin bahwa pamannya itu telah membunuh ayahnya, dan karena itu maka ia minggat dari rumah untuk mencari Sie Liong dan membalas dendam atas kematian ayahnYa. Dan ia minta bantuan sutenya, Coa Bong Gan, untuk membantunya mencari Sie Liong dan membalas dendam karena ia tahu bahwa Sie Liong amat lihainya sebagai murid supeknya, yaitu Pek-sim Sian-su.

Karena dua orang ini mencari dengan sungguh-sungguh, dengan teliti, dan karena Sie Liong merupakan seorang yang bongkok dan mudah diikuti jejaknya, maka akhirnya Bi Sian dan Bong Gan mengikuti jejak Sie Liong ke daerah Tibet! Dan di sepanjang perjalanan, mereka mendengar akan sepak terjang Pendekar Bongkok. Mereka menduga bahwa tentulah Sie Liong yang dijuluki Pendekar Bongkok, maka mereka terus melakukan pengejaran. Akan tetapi setelah tiba di daerah Tibet, mereka kehilangan jejak Sie Liong. Daerah ini merupakan daerah yang masih liar dan jarang penduduknya. Berhari-hari mereka melalui daerah yang tidak ada dusunnya, maka tentu saja amat sukarnya mencari seseorang di daerah itu, biarpun orang itu mempunyai cacat bongkok sekalipun.

"Semua orang yang pergi ke Tibet tentu akan berkunjung ke ibu kota Tibet, yaitu kota Lasha,"

Kata Bong Gan.

"Sebaiknya kita pergi saja ke sana. Kalau kita tidak dapat menemukan dia di sana, setidaknya kita tentu akan dapat mencari keterangan tentang dia."

Bi Sian menyetujui pendapat sutenya dan pergilah mereka menuju ke Lasha. Pada pagi hari itu, mereka tiba di Telaga Nam. Melihat keindahan tempat itu, mereka berhenti dan ingin berpesiar dulu di situ selama satu dua hari. Bi Sian tidak perduli akan pandangan orang melihat pakaiannya yang aneh, penuh tambalan namun baru.

Memang ia setia kepada kebiasaan gurunya, yaitu Koay Tojin, dan biar sekarang tidak melakukan perjalanan bersama gurunya lagi, namun ia tetap masih mempergunakan pakaian tambal-tambalan. Ia sendiri tidak tahu apakah rasa suka akan pakaian tambal-tambalan ini karena sudah terbiasa, ataukah memang ingin sederhana, ataukah melalui kesederhanaan dan tambal-tambalan yang tidak wajar itu justeru ia ingin menonjolkan diri agar diperhatikan orang! Kesederhanaan yang ditonjolkan dan disengaja, bukanlah kesederhanaan lagi namanya, melainkan kesombongan terselubung! Kesederhanann yang mempunyai arti adalah kalau orang itu tidak merasa lagi bahwa dia sederhana! Kesederhanaan adalah kewajaran, tidak dibuat-buat, dan merupakan suatu keadaan kepribadian seseorang. Bukan terletak pada pakaian seadanya, bukan terletak di luar, melainkan bersumber di sebelah dalam dirinya.

Berbeda dengan Bi Sian, Coa Bong Gan yang ketika kecilnya meniadi anak angkat seorang hartawan dan sudah biasa hidup royal, setelah berpisah dari gurunya, meninggalkan kebiasaan berpakaian tambal-tambalan. Dia mengenakan pakaian yang selalu rapi, walaupun tidak terlalu menyolok, tidak terlalu royal karena sucinya tentu akan menegurnya. Padahal, kalau dia mau, tentu saja dia bisa membeli pakaian yang mahal dan indah. Uangnya? Mudah saja! Di setiap kota terdapat hartawan dan tidak ada penjaga yang cukup kuat, tidak ada pintu yang cukup kokoh baginya kalau dia mau mengambil uang sekehendak hatinya dari gudang harta seorang hartawan! Semenjak melakukan perjalanan bersama Bi Sian, terjadi perang selalu dalam batin Bong Gan. Dia memaksa diri untuk bersikap baik dan sesuai dengan yang diinginkan sucinya. Dia memaksa diri bersikap sebagai seorang pendekar tulen dan di sepanjang perjalanan, mereka berdua selalu menentang kejahatan dan menolong mereka yang tertindas.

Akan tetapi sebenarnya, di lubuk hatinya, Bong Can muak dengan semua itu. Bahkan dia harus menekan semua gejolak nafsunya. Semua ini dia lakukan bukan karena dia takut kepada sucinya, melainkan karena dia telah jatuh cinta kepada Bi Sian, karena dia tidak mau menentang semua kehendak Bi Sian, ingin selalu menyenangkan hatinya. Di lain pihak, Bi Sian bukanlah seorang kanak-kanak lagi. Ia sudah berusia kurang lebih sembilan belas tahun, sudah cukup dewasa untuk dapat menduga apa yang terkandung dalam hati sute yang lebih tua itu terhadap dirinya. Dan ia selalu dalam bimbang ragu, karena ia sendiri belum yakin apakah ia juga mencinta sutenya itu sebagai seorang wanita mencinta seorang pria ataukah tidak. Ia suka kepada sute yang penurut itu, dan harus diakuinya bahwa Bong Gan adalah seorang pemuda yang baik, penurut, ramah, gagah perkasa dan juga tampan menarik!

Akan tetapi, ia selalu mengusir kebimbangan ini dan mengambil keputusan bahwa sebelum ia mampu membalas kematian ayahnya terhadap Sie Liong, ia tidak akan memikirkan urusan cinta! Orang yang sudah menjadi hamba nafsunya, akan merasa tersiksa kalau dia dalam waktu lama tidak berkesempatan untuk memuaskan gairah nafsu itu. Pemuasan nafsu itu sudah sedemikian dibutuhkannya, sudah mencengkeramnya sehingga dia menjadi kecanduan. Hidupnya akan terasa hampa dan tidak ada artinya, tidak ada kesenangan kalau dia tidak mendapatkan kesempatan lagi untuk memuaskannya. Demikian pula dengan Bong Gan. Sejak remaja, dia telah menjadi hamba nafsu berahi yang dibangkitkan oleh Pek Lan, selir ayah angkatnya yang kemudian menjadi kekasihnya sehingga perhubungannya dengan selir itu tertangkap basah, membuat dia terusir dari rumah ayah angkatnya yang kaya raya.

Ketika dia menjadi murid Koay Tojin, sukar sekali baginya untuk melampiaskan nafsu berahinya. Dia adalah seorang yang amat cerdik. Dia tahu bahwa kalau dia melanggar, walaupun dengan sembunyi-sembunyi, suhunya yang amat lihai itu pasti akan mengetahuinya dan kalau sampai suhunya tahu bahwa dia melakukan suatu perbuatan yang menyeleweng, tentu suhunya marah kepadanya dan hal itu amat berbahaya. Maka, selama tujuh tahun mengikuti Koay ToSin bersama Bi Sian, Bong Gan bersikap jujur dan alim! Lingkungan mempunyai pengaruh yang amat besar terhadap watak seseorang. Manusia merupakan mahluk yang teragung, terpandai akan tetapi juga amat lemahnya.

Karena dalam dirinya terkandung daya-daya rendah yang memupuk nafsu yang sudah menyatu dengan hati perasaan dan akal pikirannya, maka mudah sekali manusia terpikat dan terpengaruh oleh keadaan lingkungannya. Terutama sekali lingkungan yang tidak sehat mudah sekali menyeret seseorang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Segala tindak kemaksiatan memang mendatangkan kesenangan lahir dan ini memang merupakan umpan dari setan nafsu untuk memikat manusia. Karena itu, mudah sekali lingkungan yang sesat menyeret seseorang, biarpun orang itu tadinya alim dan tidak suka melakukan kesesatan. Bahkan lingkungan yang sehat dan bersih, biarpun daya tariknya tidak sekuat lingkungan yang sesat, tetap saja dapat mempengaruhi seseorang untuk menyesuaikan diri.

Demikian pula dengan Bong Gan. Setelah dia hidup bersama Bi Sian dan Koay Tojin, setiap hari bergaul dengan mereka, bagaikan api, nafsu berahinya tidak lagi berkobar-kobar, melainkan kalau tidak padam juga mengecil. Nafsu berahinya bangkit sebelum waktunya, ketika dia berusia tiga belas tahun. Oleh karena itu, tidak begitu sukar baginya untuk dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan yang jauh dari nafsu berahi selama tujuh tahun itu. Ini sebabnya mengapa Koay Tojin, walaupun meragukan kebersihan batin murid ini, tidak menemukan suatu kesalahan dan biarpun berlawanan dengan perasaan nalurinya, tetap mengajarkan ilmu-ilmu yang tinggi kepada Bong Gan. Dan demikian pula Bi Sian. Setelah selama tujuh tahun bergaul dengan Bong Gan, ia melihat sikap dan sifat yang baik dalam tingkah laku Bong Gan selama itu, maka tentu saja iapun percaya kepadanya.

Baru setelah dua orang murid ini berpisah dari guru mereka, dan Bong Gan sudah berusia dua puluh tahun, pemuda ini mulai berani membiarkan nafsu berahinya berkobar lagi, berani dia mencarl wanita untuk memuaskan gairah nafsu berahinya, baik secara suka sama suka, secara suka rela, dengan cara membeli maupun dengan paksaan mengandalkan kepandaiannya. Namun, hal ini dilakukan dengan amat hati-hati, bahkan jarang dia memperoleh kesempatan karena biarpun sudah berpisah dari suhunya yang dia takuti, dia masih bersama sucinya (kakak seperguruan). Bukan karena dia takut kepada Bi Sian, melainkan karena dia jatuh cinta kepada gadis itu. Dia tidak ingin kelihatan sesat dan buruk di depan Bi Sian. Dia tahu bahwa kalau sampai gadis itu mengetahui kesesatannya, tentu harapannya untuk mempersunting bunga yang harum itu akan lenyap.

Ketika berada di Sung-jan, tempat tinggal orang tua Bi Sian, dia bermalam di hotel dan karena itu dia mempunyai kesempatan untuk memuaskan nafsu berahinya dengan berkunjung ke rumah pelesir yang mewah. Celakanya, di situ dia bertemu dengan mendiang Yauw Sun Kok, ayah kandung Bi Sian! Tentu saja dia tidak ingin melihat orang ini memberitahu tentang keberadanya di rumah pelesir itu kepada Bi Sian, maka tidak ada jalan lain kecuali membunuhnya! Dibunuhnya Yauw Sun Kok dan diapun menyamar sebagai Sie Liong yang kelihatannya demikian disayang oleh Bi Sian sehingga menimbulkan perasaan cemburu di hatinya. Perbuatannya ini berhasil baik. Yauw Sun Kok terbunuh dan Sie Liong yang didakwa sebagai pembunuhnya. Tentu saja dia merasa amat girang ketika Bi Sian minta bantuannya untuk mencari Sie Liong yang melarikan diri, membantunya membalaskan sakit hatinya karena Sie Liong telah membunuh Yauw Sun Kok, seperti telah dipercaya oleh semua orang.

Inilah kesempatan baik baginya, bukan saja untuk dapat terus berdekatan dengan gadis yang dicintanya, akan tetapi juga untuk membalas jasa. Kalau mereka maju berdua, betapapun lihainya paman dari Bi Sian itu, tentu mereka berdua akan mampu merobohkannya. Memang si bongkok itu harus dibunuh sehingga rahasia pembunuhan atas diri Yauw Sun Kok itu akan tertutup selamanya. Akan tetapi, setelah melakukan perjalanan selama tiga bulan, dia mulai merasa tersiksa. Gadis yang dicintanya itu, sedemikian dekatnya, setiap hari dia harus melihat segala kecantikannya, namun dia tidak boleh memilikinya, tidak boleh menyentuhnya dan tidak boleh membelainya. Yang lebih membuatnya menderita lagi adalah karena tidak ada wanita lain yang dapat menjadi pengganti Bi Sian untuk sementara.

Jarang terdapat kesempatan baginya untuk mencari wanita pemuas nafsunya, karena dia selalu bersama Bi Sian dan dia menjaga dengan sungguh agar jangan sampai gadis yang dicintanya itu memergoki dia berhubungan dengan wanita lain. Ketika dua orang muda itu mendayung perahu kecil di atas Telaga Nam sambil menikmati sinar matahari pagi, hawa udara sejuk hangat dan pemandangan yang amat indah itu, diam-diam Bong Gan memperhatikan gadis yang duduk di depannya. Mereka duduk berhadapan dalam perahu kecil itu. Dia yang menda-yung mundur, gadis itu yang mengemudikan dengan dayung lain. Setelah perahu meluncur sampai di tengah telaga, di mana terdapat sebuah pulau kecil dan di sekeliling pulau itu terdapat bunga teratai merah dan putih, indah sekali, Bi Sian berkata,

"Kita berhenti di sini. Mari kita ke pulau itu. Alangkah indahnya di sana, sute,"

Gadis itu memang selalu bersikap gembira dan terbuka, namun hatinya keras sehingga kadang nampak galak. Mereka mendekatkan perahu ke pantai lalu mendarat di atas pulau kecil itu. Dengan gembira sekali Bi Sian berlari-lari ke tengah pulau, dikejar oleh Bong Gan. Mereka lalu duduk di bagian paling tinggi dari pulau itu, duduk di atas rumput hijau tebal yang lunak. Melihat wajah sucinya yang putih halus kemerahan itu, yang pagi itu nampak cantik sekali, melihat betapa sucinya duduk di atas rumput tebal di dekatnya,

Terbayang dalam pikiran Bong Gan betapa akan senang dan nikmatnya kalau mereka telah menjadi sepasang kekasih, bermesraan dan bergumul di atas rumput hijau itu, di atas pulau kecil yang demikian sunyi, dikelilingi air telaga yang biru dan luas, tidak ada seorang lainpun yang mengganggu. Bayangan pikiran ini membuat jantungnya berdebar dan gairah nafsunya timbul dan berkobar. Namun, Bong Gan adalah seorang pemuda cerdik sekali. Biarpun gairah nafsu telah mencengkeramnya, dia tidak menjadi mata gelap. Dia tahu bahwa kalau dia mempergunakan kekerasan, selain belum tentu dia akan mampu menundukkan sucinya, juga hal itu akan membuat harapannya untuk memperisteri Bi Sian hancur sama sekali. Gadis itu tentu akan membencinya. Padahal, dia benar-benar jatuh cinta kepada Bi Sian, bukan sekedar hendak mempermainkannya saja, melainkan hidup bersamanya sebagai suami isteri.

"Hai, sute! Kenapa engkau memandang padaku seperti itu?"

Tiba-tiba pertanyaan yang mengejutkan hatinya itu keluar dari mulut Bi Sian. Gadis ini merasa heran melihat betapa sutenya memandang kepadanya tidak seperti biasa, dengan sinar mata yang demikian tajam dan jelas sekali pandang mata itu mengandung kekaguman dan kemesraan yang mengejutkan hatinya. Ditegur secara seperti itu, Bong Gan yang sedang melamun dan membiarkan dirinya dibuai khayal indah itu, terkejut dan dia tersipu.

"Suci, aku sedang gembira sekali!"

Jawabnya, kecerdikan dan ketenangannya menolongnya sehingga dia tidak nampak gugup ketika menjawab. Melihat sikap sutenya biasa saja, lenyap kecurigaan Bi Sian dan iapun memandang ke sekeliling, lalu menghela napas panjang.

"Yahhhh.... akupun gembira sekali, sute. Memang amat indah pemandangan di sini, indah menyenangkan dan hawanyapun nyaman bukan main!"

"Aku merasa seperti di sorga, suci!"

Bi Sian memandang pemuda itu dan tertawa.

"Di sorga? Hi-hik, seperti engkau pernah tahu sorga saja. Memang indah sekali pemandangan di sini, indah dan hening, hawa udara jernih dan di sini begini tenang, begini penuh damai dan tenteram.... akan tetapi seperti sorga? Aku tidak tahu...."

"Bukan tempatnya yang mendatangkan perasaan bahagia di hatiku, suci."

Bi Sian kembali menoleh dan masih tersenyum.

"Bukan karena tempatnya dan hawa udaranya? Lalu karena apa?"

"Karena ada engkau di dekatku, suci."

"Ihhh!"

Bi Sian meloncat bangkit, kini berdiri dan bertolak pinggang, ke dua pipinya berubah merah.

"Sute, apa maksudmu dengan omongan itu?"

Bong Gan masih tetap duduk. Dia mengangkat muka, memandang wajah gadis itu dengan sikap tenang.

"Maafkan aku, suci, aku hanya bicara sejujurnya saja. Entah mengapa aku sendiri tidak mengerti, suci, akan tetapi aku selalu merasa berbahagia di sampingmu. Terutama sekali saat ini, kita hanya berdua saja di pulau kecil kosong ini. Alangkah bahagianya kalau aku terus dapat berada di sampingmu, selama hidupku."

Wajah yang tadinya kemerahan itu berubah agak pucat, dan Bi Sian merasa betapa jantungnya berdebar kencang. Tentu saja ia mengerti apa yang menjadi isi hati sutenya itu.

"Sute, kau.... bicaramu aneh sekali. Mana mungkin kita berdampingan selama hidupmu...."

"Kenapa tidak mungkin, suci? Kalau kita menjadi suami isteri...."

"Sute....!!"

Bi Sian berseru, matanya terbelalak karena ia menganggap sutenya terlalu berani, terlalu lancang.

"Maaf, suci. Kalau suci menganggap aku bersalah atau kurang ajar, aku pasrah dan siap menerima hukuman. Akan tetapi dengarkan dulu pengakuanku, suci. Kita bergaul sejak aku berusia tiga belas tahun dan engkau sebelas tahun, mengalami suka duka yang sama, menjadi teman berlatih, teman bermain, dan bahkan sekarang, setelah kita berdua berpisah dari suhu, kita masih berdampingan. Dahulu aku memang memiliki perasaan sayang seperti seorang saudara seperguruan kepadamu, suci. Akan tetapi setelah kita sama-sama dewasa.... biarlah aku mengaku terus terang saja, akibatnya terserah kebijaksanaanmu. Aku telah jatuh cinta padamu, suci, dan aku mengharapkan kelak untuk dapat menjadi suamimu, hidup berdampingan denganmu selama hidupku."

Wajah Bi Sian sebentar pucat sebentar merah mendengar pengakuan sutenya itu. Memang ia sudah menduga bahwa sutenya jatuh cinta padanya, akan tetapi begitu pengakuan itu keluar dari mulut sutenya sendiri, bermacam perasaan mengaduk hatinya. Ada rasa haru, ada malu, ada pula marah karena sutenya dianggapnya lancang, ada pula rasa girang dan semua perasaan itu teraduk membuat ia sejenak tak mampu bergerak ataupun mengeluarkan kata-kata. Sejenak mereka saling pandang, dan akhirnya Bi Sian menghela napas sambil memutar tubuh membelakangi sutenya. Kemudian terdengar suaranya lirih.

"Sute....!"

"Ya, suci?"

Jawab Bong Gan penuh harap.

"Mulai sekarang, engkau kularang bicara seperti itu lagi, kularang membicarakan tentang cinta lagi!"

"Tapi, suci, jawablah dulu pernyataan cintaku padamu. Sudikah engkau menerimanya? Sudikah engkau membalasnya? Agar ada kepastian dan tidak lagi membuat aku bimbang ragu, suci. Kasihanilah aku...."

"Cukup! Aku tidak dapat menjawab sekarang! Pendeknya, aku melarang engkau bicara tentang itu lagi sebelum aku berhasil menemukan Sie Liong dan membunuhnya. Kalau engkau tidak setuju dengan permintaanku ini, engkau boleh pergi dan aku tidak membutuhkan bantuanmu lagi untuk menghadapi musuh besarku itu."

Post a Comment