Halo!

Kisah Pendekar Bongkok Chapter 84

Memuat...

Dengan tegas Ling Ling menggeleng kepalanya.

"Sama sekali tidak! Kenapa cacat tubuhmu harus dikasihani? Biarpun engkau mempunyai cacat, akan tetapi cacat itu sama sekali tidak mengganggumu, bahkan engkau memiliki kesaktian luar biasa. Tidak, aku bukan kasihan karena cacatmu, koko, melainkan kasihan karena engkau begitu menderita batin karena cacat itu, yang membuatmu begitu merendahkan diri. Engkau tentu merasa betapa semua orang, terutama wanita, jijik dan benci kepadamu...."

"Memang kenyataannya demikian!"

Kata Sie Liong, suaranya agak keras.

"Tidak, tidak semua merasa seperti itu! Hanya perempuan yang tinggi hati saja yang memandang rendah kepada seorang pria ydng cacat. Padahal, cacat tubuh bukan hal yang terlalu memalukan, tidak seperti cacat batin! Tidak, koko, tidak semua perempuan benci kepadamu, setidaknya.... aku kagum padamu, aku menganggap engkau orang yang paling baik di dunia ini, dan paling gagah...."

".... dan paling buruk?"

Sie Liong menambahkan swnbil tersenyum pahit. Ling Ling mengerutkan alisnya.

"Liong-ko, jangan tersenyum seperti itu! Begitulah engkau tersenyum ketika berdiri di ambang pintu itu, tersenyum seolah engkau melihat dunia kiamat dan engkau tidak perduli! Tidak, koko. Siapa bilang engkau paling buruk? Bagiku, engkau gagah dan tampan!"

Sie Liong membelalakkan matanya, menatap wajah gadis itu, jantungnya berdebar keras. Dan diapun bertanya kepada matanya, bagaimana gadis itu nampak dalam pandangannya, dan dia melihat seorang gadis yang amat cantik menis, yang menimbulkan rasa iba dan suka, seorang gadis yang membuat dia merasa berbahagia, pandang mata yang bening itu seperti memberi nyala hidup dalam hatinya,

Senyum manis di bibir itu seperti tetesan embun pagi pada perasaannya yang mulai mengering dan dia pun tiba-tiba tertawa bergelak. Suara ketawanya bebas lepas dan nyaring, memecahkan kesunyian malam. Beberapa ekor burung yang bertengger di pohon yang berdekatan sampai terkejut, dan bunyi kelepak sayap mereka menandakan bahwa mereka itu terkejut dan terbang pergi menjauhi suara aneh itu. Ling Ling juga memandang kepada Sie Liong dengah sinar mata khawatir. Suara ketawa pemuda itu mula-mula perlahan, makin lama semakin kuat dan anehnya, ia seperti mendengar isak tangis terselip di antara bunyi tawa itu. Seperti terdorong oleh sesuatu, Ling Ling bangkit berdiri, menghampiri Sie Liong dan berlutut di dekat pemuda itu yang masih duduk bersila sambil tertawa. Dipegangnya pundak pemuda itu, diguncangnya dan iapun berteriak dengan gelisah.

"Liong-ko....! Liong-ko... Kau.... kau kenapa, Liong-ko?"

Ketika merasa betapa tubuhnya diguncang-guncang, Sie Liong baru sadar. Kalau tadi ketika tertawa dia menengadah, kini dia menundukkan muka dan suara ketawanya terhenti. Ketika dia melihat Ling Ling di dekatnya dan gadis itu kelihatan gelisah hampir menangis, mengguncang pundaknya, Sie Liong ingat akan keadaan dirinya dan seperti didorong oleh sesuatu yang amat kuat, dia lalu merangkul.

"Ling Ling....!"

"Liong-ko.... ah, Liong-koko....!"

Keduanya Saling rangkul, hanya berpelukan saja dengan kuatnya seolah-olah ingin menjadi satu dan tidak akan berpisah lagi. Rangkulan yang penuh dengan keharuan dan rasa syukur, tidak mengandung nafsu berahi sama sekali. Sie Liong yang lebih dulu sadar bahwa keadaan mereka itu tidak semestinya. Dengan lembut dia melepaskan rangkulannya. Merasa akan hal ini, Ling Ling juga melepaskan rangkulannya akan tetapi ia diam saja ketika kedua tangannya dipegang oleh kedua tangan Sie Liong. Mereka berhadapan, saling berpegang tangan dan dengan suara menggetar karena keharuan Sie Liong berkata lirih.

"Ling Ling, Terimakasih, engkau telah mengembalikan harga diriku!"

"Dan engkau telah mengembalikan pengharapanku untuk menghadapi penghidupan yang kejam ini, Liong-ko."

"Nah, sekarang mengasolah. Engkau harus tidur yang enak agar besok memiliki cukup tenaga untuk melanjutkan perjalanan, Ling Ling."

Ling Ling bangkit berdiri, lalu membongkar buntalan pakaiannya. Dikeluarkan sehelai selimut, dibentangkan selimut itu di atas rumput dekat api unggun.

"Akan tetapi engkau bagaimana, Liong-ko? Engkaupun harus mengaso!"

Pemuda itu tersenyum.

"Aku sudah terbiasa dengan kehidupan begini, Ling Ling. Aku tidak perlu tidur karena harus menjagamu, menjaga agar api unggun tidak padam. Tidurlah, dengan bersila saja aku akan dapat melepaskan lelah."

"Baiklah, Liong-ko,"

Gadis itu menguap dan menutupi mulut dengan punggung tangan karena ia merasa lelah sekali dan mengantuk. Begitu ia merebahkan diri miring, iapun pulas.

Ia miring menghadap api unggun sehingga Sie Liong dapat melihat mukanya. Hatinya penuh rasa haru dan sayang melihat wajah itu tidur pulas dengan mulut tersenyum membayangkan kebahagiaan, dan napasnya amat halus. Seorang gadis yang baik! Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sie Liong sudah pergi ke sumber air dan mandi. Hawa amat dingin, akan tetapi karena tubuhnya memang kuat sekali, maka mandi di waktu pagi itu terasa amat segar dan nyaman. Tubuhnya mengepulkan uap putih ketika dia merendam tubuhnya ke dalam air yang amat dingin itu. Dia merasa segar sekali ketika dia kembali ke tempat mereka melewatkan malam dan dia mendapatkan Ling Ling sudah bangun. Pakaian dan rambutnya kusut, namun hal ini tidak mengurangi kecantikan gadis itu. Melihat Sie Liong datang dengan rambut masih basah, gadis itu tertawa kecil.

"Aih, sepagi ini dan sedingin ini engkau agaknya telah mandi, koko! Hih, hih, aku tidak berani mandi. Hawa begini dinginnya dan air itu tentu dingin seperti salju!"

Ia mengeluarkan pakaian dari dalam buntalannya.

"Akan tetapi aku akan bertukar pakaian dan mencuci yang kotor. Kesinikan pakaianmu yang kotor, Liong-ko, akan kucuci sekalian!"

Sie Liong memperlihatkan pakaian yang masih basah dan sudah diperasnya.

"Sudah kucuci tadi!"

Katanya. Gadis itu cemberut.

"Aih, koko. Berulang kali engkau mencuci sendiri pakaianmu. Apakah kaukira aku tidak dapat mencuci bersih? Itu sudah menjadi kewajibanku, koko. Lain kali jangan kaucuci sendiri!"

Sie Liong mengangguk dan tertawa.

"Baiklah, Ling Ling, aku berjanji."

Gadis itu berlari kecil menuju ke sumber air yang berada kurang lebih tiga ratus meter dari situ, menuruni tebing yang tidak curam. Sie Liong memandang sejenak dari belakang, tersenyum dan setelah gadis itu menghilang di balik semak dan batang pohon, diapun membuat persiapan untuk memanggang sisa roti tawar semalam untuk dipakai sarapan. Sie Liong merasa gembira bukan main pagi itu. Dia merasa seolah-olah mengalami hidup baru. Suasana nampak indah bukan main.

Matahari pagi dengan lembut mengusir kabut pagi, menggugah burung-burung yang kini sibuk membuat persiapan untuk melaksanakan tugas kewajiban mereka sehari-hari, yaitu mencari makan. Rumput dan daun pohon juga tergugah, nampak berseri dan segar, dihias butir-butir embun yang seperti mutiara berkilauan tertimpa sinar matahari pagi yang masih lemah. Kicau burung bagaikan musik yang amat riang dan merdu. Sie Liong tersenyum-senyum seorang diri. Tiba-tiba dia mengerutkan alisnya. Roti yang dipanggangnya sudah matang sejak tadi. Terlalu lama gadis itu pergi ke sumber air, pikirnya. Biarpun dengan mencuci pakaian, pakaian itu tidak berapa banyak. Mestinya sudah selesai sejak tadi. Dia bangkit berdiri dan memandang ke arah hutan, di mana terdapat sumber air itu. Tidak nampak dari situ karena selain tertutup semak dan pohon, juga jalan ke sumber air itu agak menurun.

"Ling Ling....!"

Dia berteriak memanggil, mengerahkan tenaganya agar suaranya sampai ke sumber air itu. Dia menanti jawaban, namun tak kunjung tiba.

"Ling Ling, rotinya sudah masak...."

Post a Comment