"Engkau akan membuat pengakuan? Pengakuan apa lagi, Liong-ko?" "Aku telah bersikap kejam sekali kepadamu, Ling Ling...."
"Aihhh! Sama sekali tidak, Liong-ko! Apa yang kaumaksudkan ini? Engkaulah satu-satunya orang yang paling baik di dunia ini bagiku. Engkau bagiku menjadi pengganti ayah ibu kandungku, pengganti saudara dan keluargaku, menjadi sahabat dan juga guruku...."
"Jangan terlalu tinggi memuji, Ling Ling. Lihat dan rasakan, bukankah selama sepekan ini engkau kubawa berjalan sampai melampaui batas kekuatanmu, memaksamu berjalan jauh melalui bukit dan tempat yang amat sukar, lalu membiarkanmu kelaparan dan kehausan? Bukankah selama sepekan ini aku membiarkan engkau mengalami sengsara, tubuhmu lelah, kakimu nyeri, perut lapar dan mulut haus? Aku telah bersikap kejam sekali!"
"Tidak, tidak! Aku tidak menganggapmu kejam, koko. Sudah sewajarnya karena memang kita berdua ini sepasang kelana yang merantau, tidak memiliki apa-apa, tidak memiliki rumah, bukan? Rumah kita adalah dunia ini, lantainya tanah ini, atapnya langit. Betapa indahnya rumah kita, koko, tidak ada di dunia ini yang seindah tempat tinggal kita. Di mana-mana tempat tinggal kita. Lantai kita bertilamkan rumput lunak, kebun kita penuh pohon dan bunga, kupu-kupu, burung...."
Mau tak mau Sie Liong tertawa gembira. Bukan main gadis ini, pikirnya girang. Memiliki ketabahan dan tahan uji, akan tetapi juga memiliki kelincahan dan kegembiraan hidup sehingga baru berkumpul sepekan saja semua kenangan buruk dan perasaan nelangsa dalam hatinya tersapu bersih, membuat diapun ikut gembira. Tiba-tiba saja segala sesuatu di sekelilingnya nampak demikian indahnya!
"Engkau tidak tahu, Ling Ling. Selama sepekan ini, aku memang sengaja membuatmu menderita. Aku sengaja membuat engkau kecapaian, kelaparan dan kehausan!"
Gadis itu memandang heran.
"Kau sengaja? Aku.... aku tidak mengerti maksudmu, koko."
"Aku memang hendak mengujimu. Setelah engkau menderita, hendak kulihat apakah engkau benar-benar sudah nekat untuk ikut denganku. Kalau engkau tidak kuat, aku akan mencarikan tempat yang baik untukmu, pada sebuah keluarga, yang dapat kupercaya dan...."
"Liong-ko, kenapa begitu? Sudah kukatakan bahwa aku hanya mempunyai satu saja keinginan hidup ini, yalah ikut denganmu ke manapun engkau pergi. Jangankan hanya kesukaran yang tidak seberapa ini, hanya keletihan, kelaparan dan kehausan, biarpun sampai mati aku tidak akan menyesal telah ikut denganmu, koko!"
Sie Liong menundukkan mukanya agar jangan nampak betapa wajahnya merasa terharu sekali. Apakah yang mendorong gadis ini demikian nekat? Mungkinkah gadis ini mencintanya? Ah, bagaimana mungkin? Semua orang, terutama kaum wanita, takut dan benci kepadanya, jijik melihat keadaan tubuhnya. Bagaimana mungkin ada yang jatuh cinta kepadanya? Dan gadis ini bukan seorang gadis yang buruk rupa ataupun cacat, melainkan seorang gadis yang sehat lahir ba-tinnya, bahkan cantik manis dan pasti akan mudah menundukkan hati pria yang manapun.
"Maafkan aku, Ling Ling. Sudahlah, sekarang lebih baik kita makan. Perut kita sudah lapar sekali. Aku masih menyimpan roti tawar, hanya tinggal mencari daging segar untuk dijadikan teman roti."
"Tapi...."
"Ssstttt, di sana ada daging....!"
Sie Liong yang sudah menyambar sebatang ranting dengan tangannya, tiba-tiba menyambitkan ranting itu ke arah kiri. Ranting itu meluncur bagaikan anak panah ke dalam semak-semak tak jauh dari situ dan seekor kelinci putih terguling keluar dengan leher tertembus ranting dan mati seketika. Melihat ini, tentu saja Ling Ling menjadi girang bukan main.
"Hebat, engkau hebat, Liong-ko! Kelinci ini gemuk sekali.... ah, akan kubuatkan daging kelinci panggang yang lezat untukmu, Liong-ko."
Tiba-tiba ia kelihatan masgul dan mengeluh.
"Ahh, bagaimana mungkin dapat lezat tanpa bumbu?"
Melihat wajah gadis yang tadinya amat gembira itu tiba-tiba menjadi sedih, Sie Liong tersenyum.
"Jangan khawatir, Ling Ling. Bumbu apakah yang kaubutuhkan? Katakan saja!"
Gadis itu memandang wajah Sie Liong dengan putus asa. Yang dibutuhkannya itu hanya dapat dibeli di pasar, mana mungkin pendekar itu akan bisa dia mendapatkan daging kelinci tadi? Dengan lesu iapun menjawab,
"Lada untuk penghilang bau amis, atau jahe, bawang putih untuk penyedap, garam.... dan gula agar terasa gurih dan manis.... agar terasa gurih dan manis...."
Akan tetapi, Ling Ling terbelalak ketika Sie Liong mengeluarkan barang-barang yang ia butuhkan itu dari dalam buntalan pakaian. Bumbu lengkap! Ling Ling bersorak gembira.
"Searang pengelana harus selalu menyimpan dan membawa bekal bumbu-bumbu ini, Ling Ling."
Akan tetapi gadis itu kini bekerja keras, apalagi ketika Sie Liong menyerahkan sebatang pisau yang tajam, yang juga menjadi bekal Sie Liong untuk keperluan memasak makanan. Ia lupa akan dinginnya hawa udara dan sambil bersenandung lagu rakyat Tibet, Ling Ling menguliti kelinci gemuk itu dan mengambil dagingnya. Kegembiraan gadis itu menular pada Sie Liong.
Diapun merasa gembira dan lincah, merasa seolah dia menjadi kanak-kanak atau remaja kembali. Dia mempersiapkan ranting penusuk daging, membantu Ling Ling dan tak lama kemudian, bau daging panggang yang sedap karena bumbunya lengkap, membuat perut mereka semakin keras berkeruyuk saling bersahutan. Sie Liong mengeluarkan bungkusan roti tawar dan seguci anggur merah yang tidak keras, melainkan anggur manis. Dan kemudian merekapun makan roti tawar dengan daging kelinci panggang yang benar lezat karena masih segar, lunak dan gurih. Ketika mereka makan inipun Sie Liong menemukan kenyataan yang membuat dia semakin termenung dan hatinya berdebar aneh. Mengapa mereka berebut saling memilihkan daging terbaik? Mengapa mereka saling mementingkan dan saling memperhatikan? Inikah cinta? Dia merasa heran dan ragu.
Pernah dia mengalami perasaan seperti ini, ketika berhadapan dengan Yauw Bi Sian, keponakannya! Hanya bedanya, kalau dari Bi Sian dia tidak merasakan perhatian lain kecuali kasih sayang yang kekanak-kanakan dari seorang keponakan yang sejak kecil menjadi temannya bermain, sebaliknya dari Ling Ling dia merasakan perhatian yang lain, yang lebih dewasa dan membuat dia merasa dimanja, merasakan suatu kemesraan yang belum pernah dirasakannya. Inikah cinta? Dia tidak dapat menjawabnya. Terlampau pagi untuk menduga sejauh itu. Kini, perut mereka tidak berkeruyuk lagi. Mereka menemukan sumber air tak jauh dari situ. Setelah mencuci tangan dan mulut, mereka duduk lagi menghadapi api unggun. Malam mulai larut dan mereka membesarkan api unggun untuk mengusir dingin dan nyamuk. Kembali mereka saling berpandangan melalui atas nyala api.
"Ling Ling...."
Sie Liong meragu, suaranya lirih dan seolah dia sangsi apakah perlu dia menyatakan isi hatinya. Gadis itu memandangnya dan bibir itu terseryyum. Bibir yang kini nampak merah segar, tidak layu dan agak pucat seperti ketika kelaparan dan keletihan menguasainya tadi.
"Ya, Liong-ko?"
"Aku heran sekali...."
Melihat pemuda itu meragu, Ling Ling menjadi penasaran.
"Apa yang kauherankan, Liong-ko?"
"Engkau...."
"Eh? Aku kenapa sih?"
Ling Ling tertawa kecil.
"Apakah mataku tiga? Hidungku dua? Apanya yang mengherankan pada diriku?"
"Seorang gadis seperti engkau.... kenapa nekat ingin ikut dengan aku? Aku seorang laki-laki yang sebatangkara, miskin dan tidak mempunyai apa-apa...."
"Sama dengan aku!"
Ling Ling menyambung cepat.
"Akan tetapi engkau seorang gadis yang cantik dan masih muda, sedangkan aku...."
"Engkau seorang pendekar yang budiman, seorang jantan yang hebat sekali, mengagumkan dan...."
"Bukan itu maksudku, Ling Ling. Aku seorang laki-laki yang cacat, bongkok dan menjijikkan...."
"Cukup!"
Ling Ling berteriak dan ia mengerutkan alisnya, sepasang matanya bersinar-sinar seperti orang marah.
"Liong-ko, kenapa engkau begitu merendahkan diri? Ketika engkau muncul di ambang pintu itu, ketika semua gadis ketakutan melihatmu dan mengira engkau seorang penjahat karena cacat tubuhmu, aku melihat betapa engkau seperti menerima tamparan atau tusukan. Aih koko, aku tidak dapat melupakan pandang matamu di saat itu dan di saat itu pula aku.... aku memutuskan untuk ikut denganmu, ke manapun engkau pergi...."
Kini sepasang mata yang tadinya nampak marah itu menjadi lembut sinarnya, mata itu seperti redup.
"Kenapa, Ling Ling? Itulah yang ingin sekali kuketahui! Kenapa tiba-tiba engkau mengambil keputusan yang begitu nekat? Pergi mengikuti aku yang tidak kaukenal sama sekali?"
"Pada saat itu aku melihat pandang matamu seperti itu, koko, aku.... aku merasa hatiku tertusuk, aku merasa terharu dan kasihan sekali kepadamu. Ingatkah engkau betapa aku menangis sesenggukan, menangis dengan sedih? Bukan hanya karena aku tidak ada yang menjemput, bukan hanya karena aku takut membayangkan harus kembali ke rumah orang tua angkatku, melainkan terutama sekali karena kasihan kepadamu!"
Sie Liong menatap tajam wajah gadis itu.
"Engkau kasihan kepadaku karena.... aku bongkok? Karena cacat tubuhku?"