Agaknya, Perwira Su Kiat juga berpendapat demikian, dan dia sudah mencari-cari dengan pandang matanya ke arah menyelinapnya pemuda tinggi kurus tadi. Akan tetapi tiba-tiba nampak bayangan orang berkelebat dan seorang pemuda tampan telah melompat dengan gerakan indah dan ringan ke atas panggung, menghadapi si raksasa gundul. Pemuda tampan ini tersenyum lebar dan memandang si raksasa dengan sinar mata berkilat. Di punggungnya pemuda ini kelihatan tergantung sebatang pedang dan pakaian pemuda ini biarpun ringkas namun amat perlente dan serba indah. Karena pemuda tampan ini berperawakan kecil ramping, maka berhadapan dengan raksasa gundul nampak perbedaan yang amat menyolok sekali. Yang satu kecil dan kelihatan halus lemah, sedangkan yang ke dua tinggi besar dan kelihatan kokoh kuat. Sungguh bukan merupakan lawan yang seimbang!
"Ha-ha, anak kecil mengapa ikut-ikutan dan ingin bertanding?"
"Lebih baik pulang, nanti dicari ibumu!"
"Belajar lagi sepuluh tahun baru datang ke sini!"
Teriakan-teriakan penonton yang dilontarkan kepa-da pemuda yang kelihatan masih remaja dan tampan itu disambut oleh muda itu dengah senyum simpul. Pemuda ini bukan lain adalah Kang Swi, pemuda tampan royal yang datang bersama Siluman Kecil. Dengan sikap tenang Kang Swi melangkah maju menghadapi si raksasa gundul.
"Heh, kau anak kecil yang lebih pantas membaca kitab daripada berada di sini! Si gundul berteriak.
"Benar, turun saja!"
"Buat apa mengantar nyawa sia-sia!"
"Mati konyol nanti! Sayang ketampananmu!"
Kang Swi tersenyum. Senang hatinya. Dia merasa yakin akan dapat mengalahkan raksasa gundul ini, maka makin hebat orang mengkhawatirkan dirinya, makin baiklah karena kemenangannya nanti akan terasa lebih nikmat. Dia menjura ke empat penjuru dengan lagak yang angkuh, sehingga Perwira Su Kiat yang juga memandang rendah pemuda remaja ini lalu berseru,
"Hayo kalian berdua cepat memulai!"
Raksasa gundul itu lalu melangkah maju.
"Bocah sombong, biarlah kau boleh memukulku, tanpa kulawan pun engkau akan kalah dan kedua tanganmu akan patah-patah dipakai memukul tubuhku."
Banyak orang tertawa menyambut ucapan raksasa ini.
"Benarkah?"
Kang Swi bertanya.
"Hendak kucoba sampai di mana sih tebalnya kulitmu maka kau berani berkata demikian. Nah, terimalah ini!"
Tangan kiri Kang Swi menyambar ke depan secara sembarangan.
"Syuuuttttt, plakkkkk!"
"Aughhh....!"
Raksasa gundul itu jatuh berlutut dan kedua tangannya memegangi dada yang terkena tamparan Kang Swi. Tangan pemuda halus itu rasanya seperti tusukan pedang tajam yang menembus kekebalannya, dadanya terasa nyeri bukan main, panas dan perih. Semua penonton tadinya menyangka bahwa raksasa itu pura-pura saja untuk mempermainkan lawan, akan tetapi ketika mereka melihat wajah itu berkerut-merut menahan nyeri, kemudian muka raksasa itu menjadi merah dan matanya melotot marah, mereka terkejut dan terheran-heran.
Benarkah tamparan yang perlahan itu membuat si raksasa yang kebal itu kesakitan? Sikap raksasa gundul itu menjawab keraguan mereka ketika si raksasa mengeluarkan suara gerengan marah dan tiba-tiba tubuhnya yang tadi berlutut itu menerjang ke depan. Gerakannya seperti seekor singa marah menerkam kambing, kedua lengan yang panjang itu dikembangkan, jari-jari tangan membentuk cakar hendak menerkam, matanya melotot dan mulutnya terbuka mengerikan! Dengan gerakan yang indah dan ringan sekali, Kang Swi sudah meloncat ke samping tepat pada saat kedua tangan lawan sudah hampir dapat mencengkeramnya dan pada detik itu juga, kaki kanannya menendang ke arah lutut dan tangannya dengan jari terbuka menyambar ke arah lambung.
"Dukkk! Plakkk!"
Tak dapat dicegah lagi, tubuh tinggi besar itu terjelungkup ke depan dengan terpaksa, dan hidungnya mencium lantai panggung sehingga ketika dia merangkak bangun, hidung-nya berdarah dan mulutnya menyeringai karena selain lututnya terasa nyeri, juga lambungnya mendadak menjadi mulas! Akan tetapi, dia menjadi makin penasaran dan marah, apalagi ketika mendengar para penonton bersorak riuh rendah. Tadi, ketika raksasa itu jatuh berlutut, para penonton masih belum yakin benar akan kelihaian Kang Swi, akan tetapi robohnya raksasa itu untuk kedua kalinya, kelihatan jelas oleh para penonton sehingga meledaklah pujian mereka terhadap Kang Swi. Tidak mereka sangka bahwa pemuda tampan yang masih muda sekali itu demikian hebatnya, dengan mudah saja dalam dua gebrakan telah merobohkan raksasa itu dua kali!
"Arghhhhh....!"
Seperti suara seekor singa menggereng, raksasa gundul itu menyerang dan kini serangannya itu merupakan serangan maut yang mengerikan karena dia bukan hanya menggunakan kedua tangannya untuk mencengkeram dari kanan kiri, akan tetapi juga mem-pergunakan kepalanya yang gundul botak itu untuk menyeruduk ke arah dada Kang Swi!
"Hemmm....!"
Kang Swi berseru mengejek dan tiba-tiba ketika dia menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat ke atas dengan gerakan cepat tak terduga sehingga serangan si raksasa itu luput dan tubuhnya terhuyung ke depan. Kang Swi yang meloncat tinggi ke atas itu kini sudah meluncur turun sambil membalikkan tubuh dan kakinya menginjak tengkuk lawan sambil mengerahkan tenaganya.
"Hekkk!"
Tubuh tinggi besar itu terdorong ke bawah dan karena tadi dia menggunakan tenaga untuk menyeruduk, maka begitu diinjak tengkuknya, tenaga serudukannya bertambah dan kepalanya kini menyeruduk ke bawah dengan kekuatan dahsyat.