Akan tetapi Kang Swi tersenyum dan tidak kelihatan bangga, malah menjawab,
"Aku dapat mencari uang dengan mudah sekali. Begini banyak uang untuk aku sendiri apa gunanya? Lebih baik kubagi-bagi kepada mereka yang membutuhkan!"
Siluman Kecil merasa makin kagum terhadap teman seperjalanan yang aneh ini.
Memang bocah itu manja dan agak sombong, pikirnya, tinggi hati dan penuh rahasia, akan tetapi harus diakuinya bahwa Kang Swi memang berwatak dermawan. Yang amat kagum dan senang hatinya adalah Siauw-hong. Baru sekarang dia melihat dengan mata kepala sendiri betapa di dunia ini banyak pula orang-orang yang berbaik hati. Dalam beberapa hari saja dia sudah bertemu dengan tiga orang yang selain gagah perkasa dan aneh, juga amat baik. Pertama-tama dia bertemu dengan laki-laki berlengan sebelah yang menjamu para pengemis cilik dengan royal, kemudian Siluman Kecil yang telah tersohor sebagai seorang pendekar budiman, dan kini pemuda yang sikapnya penuh lagak dan agung-agungan ini ternyata lebih baik hati lagi.
Kota Ceng-couw di Propinsi Ho-nan hari itu kelihatan ramai sekali, jauh lebih ramai daripada biasanya. Banyak orang luar kota membanjiri kota ini dan pagi-pagi sekali sudah banyak orang berduyun-duyun memasuki halaman yang luas di depan istana gubernur. Mereka semua ingin menonton ujian pemilihan calon pengawal dan perajurit. Gubernur Ho-nan, yaitu Kui Cu Kam,tinggal di Lok-yang, yaitu kota yang menjadi ibu kota Ho-nan, akan tetapi dia mempunyai istana di Ceng-couw dan di kota inilah pemilihan perajurit itu diadakan. Seperti telah diketahui, Gubernur Ho-nan ini diam-diam ingin menanam kekuasaannya di Ho-nan, terlepas dari kedaulatan kaisar dan untuk keperluan ini, selain dia bersekongkol dengan semua fihak yang anti kerajaan, juga dia berusaha mengumpulkan orang-orang gagah yang berkepandaian tinggi sebanyak mungkin.
Untuk keperluan itu pula maka dia memerintahkan untuk mengadakan sayembara pemilihan calon pengawal di Cengcouw itu dan untuk urusan ini, dia telah menugaskan kepada Ho-nan Ciu-lo-mo Wan Lok It, jagoannya yang terkenal lihai itu, untuk membantu pembesar di Ceng-couw dalam mengawasi jalannya sayembara atau ujian pemasukan pengawal itu. Karena banyaknya tamu dari luar kota, bukan hanya mereka yang ingin memasuki sayembara akan tetapi juga mereka yang ingin menonton, maka kota Ceng-couw menjadi sibuk sekali. Semua rumah penginapan, besar kecil, penuh dengan tamu, juga semua warung makan penuh dengan tamu sehingga banyak penduduk kota Ceng-couw hari itu benar-benar mengalami panen besar!
Karena banyak-nya orang-orang aneh, jagoan-jagoan kang-ouw, memasuki kota Ceng-couw di hari itu, maka munculnya Siluman Kecil dan Kang Swi bersama dua orang pembantu mereka, tidak begitu menyolok dan menarik perhatian banyak orang, sungguhpun dua ekor kuda mereka, si Hitam dan si Putih, menimbulkan kekaguman banyak orang, terutama mereka yang mengenal kuda baik. Akan tetapi, Kang Swi sejak tadi bersungut-sungut dan marah-marah karena semua rumah penginapan telah penuh. Sukar bagi mereka untuk memperoleh kamar di rumah penginapan. Akhirnya, Kang Swi turun tangan sendiri, tidak mengandalkan dua orang pelayan itu untuk menanyakan kamar di rumah penginapan. Dia mendatangi sebuah rumah penginapan yang besar dan langsung dia menemui pemilik rumah penginapan itu.
"Saudara Kang, bukankah tadi A-cun dan Siauw-hong sudah menanya-kan dan di situ sudah penuh pula?"
Siluman Kecil menegur temannya itu ketika mereka turun dari atas punggung kuda di depan sebuah rumah penginapan besar.
"Hemmm, ingin kulihat sendiri apakah benar-benar sudah penuh semua, Taihiap."
"Sssttttt, harap Saudara Kang jangan menyebut aku Taihiap di tempat ramai ini, itu hanya akan menarik perhatian orang saja,"
Siluman Kecil berkata. Kang Swi tersenyum, senyum pertama sejak dia merengut dan marah-marah karena belum memperoleh kamar tadi. Matanya berkedip-kedip menggoda,
"Kenapa sih? Bukankah Taihiap memang pendekar sakti yang terkenal itu?"
"Sudahlah, aku tidak ingin dikenal orang."
"Kalau begitu, karena engkau lebih tua daripada aku, aku akan menyebutmu Twako (Kakak), akan tetapi siapa namamu?"
"Kau boleh menyebutku Twako, dan aku....aku tidak punya nama."
Kang Swi tertawa lagi.
"Engkau sungguh seorang manusia aneh penuh rahasia, Twako. Nah, aku akan mencari kamar."
Dia lalu berjalan memasuki penginapan besar itu sambil membawa kantung uangnya. Tak lama kemudian keluarlah dia dengan wajah berseri.
"Aku berhasil mendapatkan sebuah kamar!"
Terlaknya.
"Eh! Tadi saya sendiri yang menanyakan dan para pengurus itu bilang kamar telah penuh semua!"
Siauw-hong berseru dengan penasaran.
"Tentu saja, memang penuh semuaa kata Kang Swi.
"Eh, Kang-kongcu.... kalau begitu...."
Siauw-hong berkata heran.
"Yang kusewa adalah kamarnya. Kamar pemilik rumah penginapan itu sendiri. Dia mengalah dan bersama isterinya dia rela tidur di gudang malam ini dan menyerahkan kamarnya untukku."
Dia tertawa dan sikapnya penuh lagak kemenangan. Diam-diam Siluman Kecil dapat menduga. Tentu dengan kekuasaan uang, pikirnya. Entah berapa puluh kali lipat dari harga biasa pemuda royal ini menyewa kamar itu.
"Akan tetapi sayang, kamarnya hanya satu untukku sendiri, dan untuk kalian bertiga terpaksa aku menyewakan sebuah kandang kosong karena memang sudah tidak ada kamar kosong lagi. Maaf, Twako."
"Hemmm....!"
Siluman Kecil menggumam.
"Di kandang atau di mana pun tidak ada bedanya bagiku."
Pelayan muncul dan empat ekor kuda itu digiring ke kandang, juga tiga orang laki-laki itu.
Kandang yang disulap menjadi kamar untuk mereka bertiga itu sudah dibersihkan dan lantainya ditutupi rumput kering. Bau rumput kering dan tahi kuda kering memang tidak begitu busuk, bahkan mernpunyai kesedapan yang khas, akan tetapi tetap saja hati Siluman Kecil merasa mendongkol juga. Kurang ajar, pikirnya. Sungguh sekali ini dia tidak dihargai orang sama sekali! Dia, yang di mana-mana disambut orang dengan penuh penghormatan, kini tidur di kandang kuda, sedangkan pemuda royal berpakaian mewah dan banyak uangnya itu tidur sendirian di dalam kamar besar! Kalau dilanjutkan begini, pada suatu hari aku tentu akan menampar kepala yang sombong itu, pikirnya. Dan hal itu amat tidak baik karena pemuda itu, betapapun juga telah bersikap baik kepadanya, tidak sayang membelikan kuda untuk dia dan Siauw-hong dengan harga mahal.
"Aku harus cepat-cepat pergi menghindarinya,"
Katanya dalam hati. Dengan hati mengkal Siluman Kecil meninggalkan A-cun dan Siauw-hong di dalam kandang kuda itu dan dia keluar. Malam gelap, langit hitam pekat, akan tetapi banyak lampu dipasang di sekitar penginapan itu. Siluman Kecil melangkah keluar dengan niat hendak mencari warung untuk makan dan minum arak menghangatkan badan, karena malam itu dingin sekali sehingga perutnya terasa amat lapar.
"Ahhh...."
Tiba-tiba dia mengeluh dalam hati dan merogoh semua saku bajunya untuk mencari kalau-kalau ada sisa uang di dalam salah saku bajunya. Namun percuma dan dia sudah menduganya. Semua sakunya kosong. Dia tidak mempunyai uang sepeser pun! Mana mungkin membeli makanan dan minuman? Mencuri? Mudah saja baginya, akan tetapi hal itu tidak sudi dia melakukannya. Minta? Hemmm, sedangkan seorang bocah jembel seperti Siauw-hong saja tidak sudi mengemis, apalagi dia!
"Twako! Kau di sini?"
Tiba-tiba terdengar teguran orang dan wajah Siluman Kecil bersungut-sungut di dalam gelap. Pemuda congkak itu sudah berada disampingnya sambil tersenyum-senyum, seolah-olah mengerti akan kesukarannya, yaitu ingin makan minum akan tetapi tidak mempunyai uang! Dia hanya mengangguk, tidak ingat bahwa mungkin saja di dalam kegelapan itu pemuda she Kang itu tidak dapat melihat jawabannya tanpa kata itu.
"Twako, mari kita mencari minuman!"
Kang Swi berkata dengan nada suara gembira. Sebelum Siluman Kecil sempat menjawab, tangannya sudah digandeng dan ditarik oleh pemuda itu dan diajak memasuki sebuah warung arak yang berada di sebelah rumah penginapan. Muka Siluman Kecil terasa panas. Untung bahwa waktu itu malam, maka penerangan lampu warung yang kemerahan menyembunyikan perubahan mukanya yang menjadi merah. Bagaimana dia dapat menolaknya biarpun hatinya merasa amat tidak enak?
Pemuda ini boleh jadi congkak dan agung-agungan, akan tetapi harus diakuinya amat ramah dan akrab. Mereka memasuki warung itu dan memilih tempat duduk di sudut. Seperti biasa, secara royal sekali Kang Swi menanyakan masakan istimewa dari warung itu dan memesan masakan macam-macam dan arak yang paling baik! Siluman Kecil diam-diam menegur diri sendiri mengapa setelah berhadapan dengan pemuda ini, melihat sikapnya yang demikian ramah, semua ketidaksenangan hatinya lenyap sama sekali! Malah dia mendapatkan dirinya makan minum dengan lahapnya, karena selain perutnya lapar, juga hawa yang dingin dan masakan yang lezat membuat dia menjadi seorang pelahap! Dan seperti biasa, yang diketahuinya semenjak dia melakukan perjalanan dengan Kang Swi, pemuda tampan ini makan sedikit sekali.
"Kenapa makanmu sedikit amat?"
Dia pernah bertanya siang tadi.
"Habis, kalau sebegitu saja sudah kenyang, perlu apa banyak-banyak?"
Jawab yang ditanya.
"Pantas tubuhmu kecil!"
Dan sekatang, pemuda itu juga makan sedikit saja, biarpun hampir semua ma-sakan dicobanya. Akan tetapi pemuda itu minum arak dengan lagak seorang jagoan minum.
"Agaknya engkau kuat minum arak, Kang-hiante,"
Kata Siluman KeciL melihat wajah yang gembira itu. Kang Swi tersenyum dan diam-diam Siluman Kecil harus mengakui bahwa pemuda ini memang tampan sekali. Kalau tersenyum tampak deretan gigi yang putih bersih, kecil dan rata. Mulutnya berbentuk indah. Seperti mulut wanita saja.
"Ah, kau kira hanya engkau yang kuat minum, Twako? Mari kita bertanding minum arak, agar diketahui siapa di antara kita yang lebih kuat."
"Hemmm, engkau bisa mabuk nanti,"
Siluman Kecil menjawab sambil tersenyum melihat lagak pemuda yang seperti anak-anak itu.