Halo!

Istana Pulau Es Chapter 104

Memuat...
ID
ID
ID

Dari cawan yang dipegangi dara itu. Tiga orang temannya menjadi marah dan bergerak hendak menyerang, akan tetapi dari dalam cawan itu kini air teh "meloncat"

Ke tiga penjuru, ke kiri kanan dan belakang, tepat mengenai muka tiga orang perajurit yang menjadi gelagapan, bukan hanya karena air teh itu panas sekali, akan tetapi juga karena percikan air yang mengenai muka rasanya seperti jarum-jarum menusuk! Empat orang perajurit lain menjadi marah menyaksikan empat orang temannya mengaduh-aduh dan mengusap-usap mata seperti itu. Mereka sudah meloncat dan mencabut senjata.

"Tentu dia mata-mata musuh! Serang! Bunuh....!"

Dara itu bangkit berdiri, tangannya meraih ke depan dan sebuah piring melayang-layang terbang menyambar empat orang perajurit itu. Terdengar jerit-jerit kesakitan dan empat orang perajurit itu roboh dengan lengan mereka berdarah karena ketika mereka menangkis, lengan mereka tergores piring yang menjadi tajam karena berpusing itu, melebihi pisau!

Akan tetapi tiba-tiba piring itu terhenti di tengah udara kemudian berdesing turun menyambar kepada dara itu sendiri yang mengeluarkan seruan kaget, menangkap piring, meletakkannya di atas meja lalu dia menoleh ke arah anak tangga menuju loteng. Di situ telah berdiri Maya! Melihat seorang wanita cantik dan gagah perkasa berpakaian panglima, dara baju kuning itu memandang tajam dan kakinya menendang meja di depannya sehingga meja itu terlempar jauh. Agaknya dia tahu bahwa dia kedatangan lawan tangguh, maka ingin mencari tempat yang luas untuk menghadapi pengeroyokan. Ketika para perwira lari-lari turun dari loteng dan para pengawal siap untuk mengeroyok, Maya berseru,

"Tahan! Mundur semua! Aku mau bicara.... dengan dia!"

Dara itu telah siap berdiri dengan tenang dan pandang mata tajam mengikuti gerak langkah Maya yang juga tenang-tenang menuruni anak tangga, menghampiri dara itu sampai mereka berhadapan dan saling pandang. Keduanya terkejut dan mengingat-ingat karena masing-masing seperti telah mengenal. Ketika Maya melihat gagang pedang di pungung dara baju kuning itu, teringatlah dia dan segera menegur,

"Bukankah di punggungmu itu Li-mo-kiam (Pedang Iblis Betina)?"

Dara itu kelihatan kaget sekali, akan tetapi dia tetap tenang dan balas bertanya,

"Bagaimana engkau bisa tahu?"

Maya tersenyum lebar.

"Kalau benar, engkau tentulah Ok Yan Hwa. Dan agaknya engkau telah lupa kepadaku!"

Dara perkasa itu memang benar Ok Yan Hwa murid Mutiara Hitam. Dia meneliti wajah Maya dan teringat, lalu berkata,

"Dan engkau agaknya Maya...."

"Benar, Yan Hwa, kebetulan sekali pertemuan kita ini dan maafkan anak buahku yang tidak mengenal wanita perkasa! Heii, dengarlah. Dia ini adalah sumoi dari Can-huciang! Hayo lekas kalian minta maaf!"

Mendengar bahwa dara baju kuning yang gagah perkasa itu adalah sumoi dari Can Ji Kun, delapan orang perajurit pengawal itu cepat memberi hormat dan seorang di antara mereka berkata,

"Lihiap, mohon sudi mengampuni kami yang bermata tapi seperti buta!"

Akan tetapi Ok Yan Hwa yang berwatak angkuh tidak mempedulikan mereka, apalagi karena ia tertarik dan terheran mendengar ucapan Maya yang memperkenalkannya sebagai sumoi dari

"Can-huciang"!

"Apa maksudmu, Maya? Benarkah Suheng berada di sini?"

"Benar, Yan Hwa. Dia adalah seorang di antara pembantu-pembantuku yang utama."

"Suheng? Ah, mana mungkin Suheng menjadi perwira pembantumu? Mengapa bisa begitu?"

Maya mengerti bahwa dalam hal keangkuhan, gadis itu tidak kalah oleh suhengnya. Maka ia pun berterus terang dan tersenyum,

"Dia menjadi perwira pembantuku karena kalah taruhan."

Yan Hwa mengerutkan alisnya, memandang wajah Maya yang tersenyum-senyum itu dengan sinar mata marah karena mengira bahwa Maya bicara main-main,

"Maksudmu?"

"Dia telah mengadu kepandaian melawan aku dengan taruhan bahwa kalau aku kalah aku akan meninggalkan kedudukanku sebagai Panglima Pasukan Maut, dan kalau dia yang kalah dia akan membantuku dan menjadi perwiraku."

Yan Hwa membelalakkan matanya yang bagus, dan wajahnya makin tidak senang. Ketidakpercayaan membayang jelas di wajahnya,

"Aku tidak percaya. Mana dia?"

"Dia sedang bertugas ke pantai timur, menjalankan perintahku."

"Hemmm..., aku lebih tidak percaya lagi." "Bahwa dia menjadi perwira pembantuku?"

"Aku tidak percaya bahwa dia telah kalah olehmu!"

"Namun kenyataannya demikianlah, Yan Hwa, karena suhengmu sudah menjadi pembantuku, bagaimana kalau engkau juga membantu aku? Kita membasmi pasukan Kerajaan Sung yang telah menewaskan Menteri Kam Liong kakak subomu, kita membasmi tentara Yucen, dan terutama sekali kita membasmi bangsa Mongol yang telah membunuh subomu. Bagaimana?"

Sejenak Yan Hwa diam memutar pikirannya. Dia ingin sekali bertemu dengan suhengnya, karena rindu dan juga karena ingin melihat apakah sekarang, setelah merantau sekian lamanya, dia sudah dapat menundukkan suhengnya itu.

"Aku tetap tidak percaya bahwa Suheng telah kalah olehmu."

Ia mengamati wajah Maya yang amat cantik jelita itu. Dia diam-diam harus mengakui bahwa belum pernah ia bertemu dengan seorang gadis yang begini cantik jelita dan gagah. Diam-diam ia mulai merasa cemburu!

"Kalau benar Suheng menjadi perwira pembantumu, aku lebih percaya kalau dia lakukan karena dia jatuh cinta kepadamu."

Wajah Maya menjadi merah, akan tetapi ia tetap tersenyum dan berkata dengan ejekan yang disengaja,

"Yan Hwa, engkau tetap angkuh seperti dahulu. Kalau kau tidak percaya, bagaimana kalau kita pun mengadakan pertaruhan seperti yang telah dilakukan suhengmu?"

"Engkau menantangku?"

Sepasang mata yang bagus itu mengeluarkan sinar berapi.

"Bukan menantang, murid bibiku yang manis, melainkan aku mengajak engkau berjuang bahu-membahu, dan untuk meyakinkan hatimu maka marilah kita mencoba kepandaian, tentu saja kalau kau berani."

"Singggg....!"

Tampak sinar kilat berkelebat menyilaukan mata ketika Yan Hwa mencabut pedangnya. Jantung Maya berdebar dan untuk ke sekian kalinya ia merasa terheran-heran mengapa mendiang bibinya yang terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang sakti dan gagah perkasa, suka memiliki dua buah pedang seperti yang diwariskan kepada Ji Kun dan Yan Hwa ini. Pedang di tangan Yan Hwa mempunyai wibawa yang sama dengan Pedang Iblis Jantan milik Ji Kun.

"Engkau menerima pertaruhan ini?"

Dia bertanya. Yan Hwa mengangkat pedangnya, tegak lurus di depan dahinya.

"Maya, aku telah bersumpah demi kehormatan nama suhu dan subo, pedangku ini hanya akan menghirup darah orang-orang jahat. Baru sekarang tercabut keluar dari sarangnya bukan untuk membasmi penjahat. Akan tetapi ketahuilah, sekali pedang ini tercabut, dia tidak akan kembali ke sarungnya sebelum menghirup darah. Karena itu, katakan bahwa engkau membohong, bahwa Suheng tidak pernah kaukalahkan, dan aku akan menyimpannya kembali dan pergi dari sini, akan kupuaskan pedangku dengan darah penjahat di lain tempat yang kudapatkan."

Maya tersenyum.

"Yan Hwa, engkau tidak memalukan menjadi murid mendiang Bibi, Mutiara Hitam, engkau seorang pendekar, akan tetapi betapa angkuh watakmu, betapa kejam hatimu. Aku tidak pernah membohong, dan biarpun aku tidak mamiliki sebatang pedang pusaka sekeji pedangmu itu, namun aku tidak takut menghadapinya."

Sambil berkata demikian perlahan-lahan Maya melolos pedangnya dan membuka jubah luarnya yang ia lemparkan kepada Cia Kim Seng. Bekas penggembala domba ini menerima jubah dan dia bersama para perwira lain kini mencari tempat yang enak buat menonton pertandingan yang akan terjadi. Para perajurit pengawal sudah menjauh-jauhkan meja kursi di dalam restoran itu sehingga ruangan restoran yang cukup luas itu kini menjadi sebuah arena pertandingan yang dapat diduga akan terjadi dengan dahsyat dan seru.

"Maya, bersiaplah engkau!"

Sebelum gema suara ini habis, tahu-tahu tubuh Yan Hwa telah berkelebat ke depan didahului sinar putih berkilat yang menyilaukan mata. Diam-diam Maya kagum. Kiranya Yan Hwa memiliki gerakan yang lebih cepat dan ringan daripada Ji Kun, maka ia bersikap hati-hati dan cepat ia mengelak sambil membalas dengan tusukan pedangnya dari samping. Yan Hwa mengandalkan keampuhan pedang pusakanya maka dia menyabetkan pedangnya untuk menangkis sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya dengan maksud merusak pedang lawan.

"Bagus!"

Maya memuji dan meloncat tinggi sehingga sinar kilat itu meluncur di bawah kakinya. Dari atas, jubah Maya membalik, menukik ke bawah dan ujung pedangnya mengancam ubun-ubun kepala lawan. Hebat bukan main gerakan Maya ini, selain indah juga amat sukar dilakukan sehingga para perwira pembantunya memuji.

Juga Yan Hwa kagum sekali, akan tetapi watak dara ini tidak ada bedanya dengan watak suhengnya. Dia tahu bahwa Maya memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, akan tetapi dia tetap tidak dapat percaya kalau Maya dapat mengalahkan suhengnya, atau dia dengan Pedang Iblis Betina di tangannya! Maka serangan Maya yang amat berbahaya itu ia hindarkan dengan merendahkan tubuh lalu menggulingkan tubuhnya ke depan. Ketika serangan Maya itu luput dan panglima wanita ini sudah berjungkir balik lagi membuat salto dan kakinya menginjak lantai, sinar kilat pedang Yan Hwa sudah berkelebat lagi, sinar pedangnya berubah seperti payung, merupakan gulungan yang bundar dan dari gulungan sinar putih itu menyambar-nyambar kilatan sinar yang panjang dan mengandung hawa panas!

Maya makin kagum. Harus ia akui bahwa dalam hal kecepatan gerak dan ilmu pedang, ternyata Yan Hwa ini tidak kalah oleh suhengnya, bahkan mungkin lebih berbahaya serangan-serangannya. Maka dengan hati kagum, gembira namun juga waspada dan mengimbangi permainan lawan dengan gerakannya yang lebih cepat lagi. Dia berlaku hati-hati, tidak pernah pedang mereka bentrok secara langsung. Paling-paling hanya bersentuhan sedikit dan bergeseran, namun itu pun sudah membuat pedangnya mengeluarkan api dan kadang-kadang hampir dapat tersedot dan menempel! Hanya dengan sin-kangnya yang kuat saja dia dapat mencegah pedangnya melekat pada pedang lawan.

Mata para perwira, apalagi para perajurit sudah berkunang-kunang karena silau menyaksikan sinar kilat pedang Yan Hwa berkelebatan di ruangan itu dan seratus jurus telah lewat tanpa ada yang tampak terdesak. Hal ini sebetulnya memang disengaja oleh Maya. Kalau ia mau, dengan sin-kangnya yang amat tinggi dan kuat, tentu saja dia dapat merobohkan lawannya dengan pukulan yang membahayakan bagi keselamatan Yan Hwa, namun dia tahu bahwa jika dia mengalahkan Yan Hwa dalam waktu singkat, tentu hati dara yang angkuh ini akan tersinggung.

"Yan Hwa, inikah Siang-bhok Kiam-sut dari mendiang Bibi? Hebat bukan main....!"

Post a Comment