Halo!

Darah Pendekar Chapter 06

Memuat...

Ho Pek Lian menangis, akan tetapi Kim-sui-poa, gurunya, menuntunnya dan mengajaknya pergi dari situ. Pertempuranpun berhenti ketika kedua fihak menyerukan agar anak buah masing- masing itu mundur. Ciong-ciangkun yang maklum bahwa pasukannya akan menderita kekalahan kalau pertempuran dilanjutkan merasa lega bahwa Ho-taijin sendiri yang menghentikan pertempuran dan para penyerbu itu mundur dan meninggalkan tempat itu. Dia lalu mengumpulkan sisa pasukannya, meninggalkan yang tewas dan luka, lalu tergesa-gesa melanjutkan perjalanan dengan pengawalan sisa pasukan itu yang kini tinggal separuhnya saja. Kusir muda yang gila tadipun telah pergi sambil menangis dan kadang-kadang tertawa, agaknya dalam kegilaannya itu dia sudah lupa akan kereta dan kudanya, ditinggalkannya begitu saja dan entah kemana dia pergi tak ada seorang yang mengetahuinya.

Sikap seperti yang diperlihatkan oleh Menteri Ho itu sudah sering kali diperlihatkan oleh orang-orang yang disebut sebagai "orang besar" di sepanjang sejarah. Memang amat mengherankan sekali. Kalau direnungkan secara mendalam, apakah gunanya sikap seperti itu ? Dia tahu bahwa dirinya difitnah, bahwa kaisar telah bersikap lalim dan tidak benar, bahwa dia telah menjadi korban kelaliman kaisar. Akan tetapi, mengapa dia tidak mau menyelamatkan diri, dengan dalih tidak mau memberontak terhadap pemerintah ? Bukankah hal ini didasari oleh kebanggaan diri dan ketinggian hati yang konyol belaka ?

Nama baik! Kehormatan! Semua ini hanya sebutan, sebutan yang diperhalus saja untuk menutupi rasa bangga diri dan ketinggian hati itu. Kita melihat betapa diri kita ini kosong melompong tidak ada artinya, bahwa diri kita ini dangkal sekali, menjadi hamba dari pada nafsu belaka dan bahwa hidup ini hanya fana, bahwa tubuh kita ini akhirnya akan hilang ditelan usia dan kematian, bahwa semua pada diri kita ini akhirnya akan lenyap. Karena itulah, di antara harapan- harapan dan sebutan-sebutan lain, maka nama kita anggap takkan lenyap. Karena itu, nama harus dijaga sebaiknya, agar hidup selama-lamanya biarpun badan ini telah tiada ! Dan demi nama dan kehormatan ini, kita mau saja melakukan segala-galanya, bahkan berkorban nyawa sekalipun, bahkan mati konyol sekalipun seperti yang diperlihatkan oleh sikap Menteri Ho itu! Apakah gunanya nama besar ? Berguna bagi anak cucu ? Belum tentu ! Yang jelas, apapun gunanya bagi si empunya nama, tidak ada artinya lagi karena si empunya nama telah mati. Akan tetapi, kita mengejar-ngejar nama baik ini, kehormatan ini. Bukan untuk sesudah mati, melainkan untuk sekarang, agar kita dapat berbangga hati dan agar kita merasa tenteram mengingat bahwa kalau kita mati nama kita akan terus dipuji-puji orang, dikagumi orang !

Kalau nama baik dan kehormatan sudah menjadi tujuan, maka semua jalan untuk mencapainya merupakan kepalsuan. Tujuan menghalalkan segala cara. Perbuatan apapun, cara apapun yang kita lakukan, kalau sudah ditujukan untuk sesuatu demi keuntungan diri sendiri lahir maupun batin, maka perbuatan itu, cara itu, tidaklah wajar dan palsu, merupakan pura-pura belaka. Namun, seperti tercatat dalam sejarah bahkan sampai kinipun masih dilakukan orang, kita tergila-gila akan hal-hal yang kita anggap menyenangkan, seperti harta kekayaan, kemuliaan, kehormatan, nama besar, dengan ukuran dalam pikiran kita bahwa semua itulah sarana untuk mencapai kebahagiaan. Harapan kosong belaka !

* * *

Rombongan Ho Pek Lian dan empat orang gurunya yang gagal membebaskan Menteri Ho karena dilarang oleh menteri itu sendiri, pulang ke pegunungan dengan lesu. Mereka telah kehilangan beberapa orang kawan yang tewas dan yang mayatnya mereka bawa dan mereka kuburkan di tengah perjalanan, dan beberapa orang pula luka-luka dan kini ikut melakukan perjalanan pulang. Di antara empat orang pendekar itu, Sin-kauw mengalami luka-luka pula dalam pertandingannya melawan komandan pasukan, bahkan yang lainpun tidak keluar dari pertandingan itu dengan utuh. Bekas hantaman Pek-lui-kong dan kemudian tangkisan-tangkisan pemuda gila yang menjadi kusir, itu masih terasa oleh Pek Lian dan guru-gurunya. Namun, semua pengorbanan itu ternyata sia-sia belaka! Menteri Ho sendiri, pada saat mereka hampir berhasil membebaskannya, menolak dibebaskan dan menyuruh mereka pergi.

"Ayaahhh. " hati kecil Pek Lian menjerit dan air matapun berlinang di kedua matanya.

Keempat orang gurunya menghibur.

"Kami dapat mengerti akan sikap ayahmu, nona," kata Kim-suipoa. Keempat orang pendekar ini selalu menyebut nona kepada murid mereka ini, mengingat bahwa Pek Lian adalah puteri tunggal Menteri Ho yang mereka hormati. "Bagi seorang pejabat seperti ayah nona itu, keluarga sendiri dan nyawa sendiri tidak dipentingkan lagi, yang terpenting adalah mengabdi kepada pemerintah dengan penuh kesetiaan."

"Tapi, suhu !" Pek Lian membantah dengan hati penuh penasaran. "Teecu sendiri juga bukan seorang yang suka berkhianat, bukan pula seorang yang berjiwa pemberontak dan tidak setia kepada negara dan bangsa. Kita yang menamakan diri pendekar dan patriot, memang mencinta negara dan bangsa dan rela mati demi membela nusa dan bangsa. Akan tetapi, kalau negara dipimpin oleh seorang kaisar yang lalim dan jahat, kalau bangsa ditindas demi kepuasan nafsu kaisar lalim, apakah kita juga harus bersetia kepada kaisar seperti itu ? Bukankah kalau kita setia kepada kaisar lalim, berarti kitapun membantu kaisar untuk menindas bangsa sendiri, untuk membawa negara ke ambang kehancuran? Lihat, betapa banyaknya rakyat terbunuh, ratusan ribu, jutaan, untuk membangun Tembok Besar. Dan pembakaran kitab-kitab itu ! Apakah semua itu harus dibiarkan saja ?"

"Tentu saja tidak, nona !" kata Pek-bin-houw. "Dan buktinya, Ho-taijin yang mulia sudah bertindak, memprotes kaisar !"

"Dan akibatnya, dia sendiri ditangkap !" nona itu berseru marah. "Dan semua keluarga ayah, bibi, paman, keponakan-keponakan, bahkan pelayan-pelayan, semua ditangkapi dan dijebloskan tahanan !"

"Itulah yang dinamakan membela kebenaran, nona. Ayahmu bukan setia kepada kaisar, melainkan kepada nusa dan bangsa, kepada kebenaran. Demi kebenaran, ayahmu berani menentang kaisar dan berani menghadapi hukuman. Kami mengerti, dengan perbuatannya itu, ayahmu ingin menyadarkan kaisar akan kelalimannya !"

"Benarkah kaisar akan sadar ? Aku tidak percaya akan hal ini. Kaisar telah lalim, dan untuk itu, siapa lagi kalau bukan kita kaum pendekar yang bergerak untuk membebaskan rakyat dari kelalimannya ? Ini bukan pemberontakan terhadap negara dan bangsa, melainkan pemberontakan terhadap penguasa lalim yang akan menyeret negara dan bangsa ke lembah kehancuran !"

Empat orang gurunya mengangguk-angguk dan diam-diam mereka merasa bangga akan semangat murid mereka itu. "Ucapanmu benar, nona. Pengorbanan ayahmu tidak akan sia-sia, mata para pendekar akan lebih terbuka dan akan makin banyaklah orang gagah yang menentang kaisar yang lalim. Akan tetapi, urusan ini bukan urusan kecil, oleh karena itu kita semua harus menyerahkan segala urusan ini di bawah pimpinan Liu-toako (kakak Liu)."

Mereka melanjutkan perjalanan dan kini empat orang pendekar itu bercakap-cakap tentang kelihaian orang-orang yang mereka temui dalam pertempuran siang tadi. Pek Lian mendengarkan percakapan mereka dengan hati tertarik, karena di dalam hatinya iapun merasa kagum akan kepandaian Pek-lui-kong dan terheran- heran akan perobahan pada diri kusir muda yang tiba-tiba saja menjadi gila dan setelah gila ternyata memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat sehingga si pendek Pek-lui-kong sendiri sampai tidak mampu menandinginya!

"Kepandaian Pek-lui-kong yang lihai itu tidak perlu diherankan lagi," antara lain Kim-suipoa yang lebih berpengalaman sebagai pedagang yang suka merantau dari pada saudara- saudaranya berkata, "dia adalah murid dari Soa-hu-pai tingkat tinggi, tentu saja ilmunya hebat bukan main dan masih baiklah kalau kita berempat tadi masih mampu menandinginya dan tidak sampai tewas di tangannya."

"Suhu, teecu rasakan tadi pukulannya mengandung hawa yang berputaran seperti angin puyuh, dan juga terasa dingin bukan main. Pukulan apakah itu ?" Pek Lian sejenak melupakan kedukaannya karena ditangkapnya ayahnya dan mengajukan pertanyaan itu.

"Itulah pukulan yang disebut Pukulan Pusaran Pasir Maut!" jawab Kim-suipoa sambil bergidik. "Pukulan itu merupakan inti dari ilmu Perkumpulan Danau Pasir itu. Aku hanya mengetahui sedikit saja, nona, akan tetapi perlu juga kaudengarkan agar kelak dapat berhati-hati kalau bertemu dengan tokoh dari Soa-hu-pai itu. Danau itu sebetulnya kini lebih tepat disebut rawa berpasir yang terletak di sebuah puncak, merupakan kawah yang sudah mati, dan mirip sebuah danau, akan tetapi bukan air yang berada di danau itu, melainkan pasir. Pasir ini amat panas, kadang-kadang mengepulkan asap yang panas dan berbau keras. Dan dalamnya pasir ini tak pernah ada yang dapat mengukurnya, mungkin saja tak dapat diukur selamanya. Selain amat dalam dan juga amat panas, pasir ini mempunyai sifat yang mengerikan, yaitu dapat bergerak menyedot segala sesuatu yang terjatuh di situ. Biar binatang yang kuat seperti harimau sekalipun, sekali terjatuh ke dalam pasir, jangan harap akan dapat keluar lagi karena tersedot terus sampai lenyap tanpa meninggalkan bekas.

"Ih, mengerikan !" kata Pek Lian, membayangkan betapa mengerikan kalau sampai ia

terjatuh ke dalam kubangan pasir itu.

"Dan hasil ilmu dari tempat itupun mengerikan, kata lagi Kim-suipoa. "Tokoh yang menemukan ilmu itu kemudian mendirikan partai Soa-hu-pai berjuluk Kim-mou Sai-ong, seorang pendeta berambut keemasan yang amat terkenal abad lalu, Dan ilmu itu bertingkat-tingkat.

Kabarnya hanya Kim-mou Sai-ong seoranglah yang dapat mencapai tingkat ke tigabelas. Ilmu itu luar biasa sukarnya dan mempelajarinya harus dengan taruhan nyawa, maka jaranglah ada murid yang mencapai tingkat tinggi. Kabarnya, guru dari Pek-lui-kong itu sendiripun hanya mencapai tingkat ke sepuluh! Akan tetapi, melihat ilmu si pendek itu, sungguh aku heran sekali entah tingkat berapa sekarang telah dicapainya"

"Bagaimana sih mempelajarinya, suhu ?" tanya Pek Lian, tertarik.

"Akupun hanya mendengar beritanya saja, nona. Karena danau pasir itu luas sekali dan Kim- mou Sai-ong kebetulan bertapa di tempat itu, pertapa yang sakti ini lalu mencari daya upaya untuk dapat menanggulangi bahaya dari danau pasir ini. Dia lalu menciptakan ilmu yang didasarkan untuk mengatasi kehebatan pasir itu. Dengan latihan sinkang di atas pasir itu, Kim- mou Sai–ong berhasil menemukan tenaga sinkang yang kekuatannya menolak daya sedot pasir itu. Dapat di-bayangkan betapa hebatnya tenaga sinkang itu kalau sudah mampu menolak daya sedot seperti itu. Selain ini, juga untuk melawan panasnya pasir ketika berlatih di atas pasir, diapun berhasil membuat hawa sinkangnya menjadi dingin untuk menahan panas. Oleh karena itu, setelah ilmunya yang dinamakan Ilmu Pukulan Pusaran Pasir Maut itu sempurna, ilmu itu mengandung hawa yang memutar dan mendorong untuk melawan sedotan itu, dan juga mengandung hawa dingin yang dapat mematikan lawan."

Perjalanan mereka kini tiba di tepi Sungai Yang- ce-kiang yang amat lebar. Di situ sudah menanti beberapa orang teman mereka yang sudah mempersiapkan perahu-perahu untuk mereka. Maka perjalanan dilanjutkan dengan naik beberapa buah perahu. Akan tetapi Pek Lian tidak mau naik perahu.

"Harap suhu sekalian dan saudara-saudara semua melanjutkan perjalanan dengan perahu," katanya kepada empat orsng suhunya. "Teecu lebih senang mengambil jalan darat naik kuda, karena teecu ingin menghibur hati dengan melihat pemandangan alam yang indah." "Ah, jalan darat lebih berbahaya dari pada jalan air, nona," kata Sin-kauw yang masih lemah oleh luka-lukanya.

"Teecu tidak takut, suhu."

Post a Comment