Maka, ketika si pendek itu melompat turun, tiga orang gagah ini sudah menerjang dan mengeroyoknya. Sambil tertawa mengejek, perajurit pendek cebol itu menyambut mereka. Jelaslah bahwa si pendek ini memandang rendah karena dia hanya menggerakkan kaki tangan saja untuk melawan mereka. Padahal, Kim-suipoa menyerang dengan senjatanya yang aneh, yaitu sebuah alat penghitung (suipoa) yang lingkarannya terbuat dari pada baja, sedangkan biji-bijinya terbuat dari emas. Agaknya senjatanya inilah yang membuat dia memperoleh julukan Suipoa Emas. Pek-bin- houw menyerang dengan senjata pikulan dan ternyata pikulannya bukan terbuat dari pada bambu, melainkan dari baja yang kedua ujungnya meruncing dan tajam. Orang ke tiga, yaitu Hek-coa mempergunakan sebatang golok besar tipis yang amat tajam. Menghadapi tiga orang gagah yang lihai dan yang semua memegang senjata andalan mereka masing-masing tanpa senjata di tangan, sungguh merupakan hal yang amat berbahaya sekali. Akan tetapi, si pendek ini benar-benar amat lihai. Dengan kaki dan tangannya yang kecil pendek, tidak saja dia mampu menandingi tiga orang pengeroyoknya, bahkan sebelum lewat duapuluh jurus, tiga orang lawan yang mengeroyoknya itu telah menjadi kalang-kabut! Tentu saja tiga orang gagah itu merasa penasaran bukan main. Mereka adalah tiga orang tokoh kang-ouw yang cukup terkenal sebagai orang-orang yang berkepandaian tinggi dan jarang bertemu tanding! Mereka terkenal sebagai pendekar-pendekar yang ditakuti para penjahat.
Kim-suipoa adalah seorang pendekar yang pandai berdagang, berkepandaian tinggi dan berhati dermawan, suka membantu fakir miskin dan berani menentang kejahatan, sedangkan alat sui-poa di tangannya itu merupakan senjata ampuh yang sukar dilawan. Pek-bin-houw adalah seorang pendekar yang suka berkelana ke gunung-gunung dan ditakuti para perampok karena dia selalu membasmi gerombolan perampok yang suka mengganggu orang yang berlalu-lintas di hutan-hutan yang sunyi. Senjatanya berupa pikulan ini menunjukkan bahwa dia berasal dari keluarga petani, dan senjata ini tidak kalah terkenalnya dibanding dengan senjata suipoa itu. Dan orang ke tiga, Hek-coa juga amat ditakuti para bajak di sepanjang Sungai Huang-ho, karena lihainya. Sebagai seorang piauwsu, diapun amat terkenal dan banyak memperoleh kepercayaan orang untuk mengawal barang sangat berharga, bahkan mengawal anggauta keluarga yang melakukan perjalanan jauh melalui tempat-tempat berbahaya. Ya, mereka adalah tiga orang pendekar yang terkenal, dan berempat bersama Sin-kauw, mereka itu pernah bekerja sama dan dijuluki Huang-ho Su-hiap (Empat Pendekar Huang-ho) karena mereka berempat berhasil membersihkan para penjahat di sepanjang sungai itu ! Akan tetapi, kini menghadapi seorang lawan saja yang bertangan kosong, mereka malah tidak mampu menang dan terdesak hebat.
Mereka pernah mendengar akan nama jagoan istana ini yang hanya mereka ketahui julukannya saja, yaitu Pek-lui-kong (Malaikat Halilintar), seorang aneh yang berilmu tinggi, dan kabarnya merupakan seorang tokoh yang menguasai ilmu dari partai persilatan terkenal yang disebut Soa-hu-pai (Partai Persilatan Danau Pasir). Menurut penuturan Liu Pang, yaitu seorang bengcu (pemimpin rakyat) amat terkenal di sepanjang lembah Yang-ce- kiang, dan merupakan pendekar dengan siapa mereka berempat itu bekerja sama, Pek-lui-kong memang seorang yang lihai sekali. Menurut bengcu itu, setahun yang lalu kepandaian Pek-lui-kong itu sudah hebat, akan tetapi masih belum mampu menandingi ilmu kepandaian Liu Pang. Sekarang, melihat kehebatan gerakannya, agaknya hanya Liu Pang saja yang akan mampu menandinginya.
Mereka terus menggerakkan senjata untuk berusaha mengalahkan lawan. Akan tetapi, setiap kaki si pendek itu mengeluarkan seruan sambil mendorong, mereka bertiga tentu terdorong ke belakang oleh hawa pukulan yang amat kuat dan dingin sekali. Tak dapat mereka bertahan, dan betapapun mereka mengerahkan tenaga sinkang, tetap saja mereka terdorong ke belakang, terhuyung dan menggigil kedinginan !
"Haiiiittt. !" Kim-suipoa berteriak panjang sebagai isyarat kepada dua orang temannya
untuk melakukan gempuran dengan serentak. Senjata di tangannya menyambar, nampak sinar keemasan berkelebat dan senjata suipoa itu telah menghantam ke arah kepala lawan. Pada saat itu, Hek-coa juga sudah menyerang dengan babatan goloknya ke arah pinggang lawan, sedangkan Pek-bin-houw memutar tongkatnya yang meluncur dan menusuk ke arah anggauta rahasia si pendek itu. Sungguh tiga serangan ini amat dahsyat dan berbahaya sekali karena satu saja di antaranya mengenai sasaran, tentu akan merupakan cengkeraman maut menyambar nyawa !
Akan tetapi, si pendek itu sama sekali tidak merasa gugup dengan serangan serentak itu. Sambil tersenyum, tiba-tiba tubuhnya melesat ke atas sehingga semua serangan itu mengenai tempat kosong, kemudian dari atas, dia mengeluarkan suara melengking nyaring dan dengan tubuh berjungkir-balik, kepala di bawah, tubuhnya melayang ke bawah dan kedua tangannya melakukan gerakan mendorong. Serangkum angin yang berputar menyerang ke bawah. Belum pernah tiga orang pendekar itu melihat serangan macam ini, maka mereka menyambut tubuh lawan yang melayang turun itu dengan senjata mereka. Akan tetapi, sebelum senjata-senjata itu sempat menyentuh tubuh Pek-lui-kong, tiga orang itu terpelanting oleh sambaran hawa pukulan yang dahsyat sekali. Rasa dingin menyelinap ke dalam tubuh mereka, menggetarkan jantung dan membuat mereka menggigil. Sejenak ketiganya tidak mampu bergerak dan saat itulah yang amat berbahaya karena dengan mudah lawan akan dapat mempergunakan kesempatan itu untuk memukul mati mereka tanpa mereka mampu melindungi diri sendiri.
"Suhu, teecu datang. !!"
Nampak bayangan berkelebat dan sebatang pedang yang digerakkan dengan sangat cepat, menyerupai segulung sinar yang menyilaukan mata telah menyambar ke arah Pek-lui-kong dan menghalangi si pendek itu untuk mengirim pukulan susulan yang akan mematikan tiga orang pengeroyoknya. Melihat betapa lihainya gerakan pedang ini, Pek-lui-kong terkejut dan memandang heran. Yang memegang pedang menolong tiga orang lawannya itu adalah seorang dara yang cantik jelita ! Karena pedang itu gerakannya cepat dan amat kuat, Pek-lui-kong tidak berani memandang rendah dan cepat dia meloncat ke belakang untuk menghindar. Kesempatan itu dipergunakan oleh nona cantik ini untuk menyerbu ke arah pintu kereta.
"Ayah. !" teriaknya.
Akan tetapi, serangkum angin puyuh yang dingin menyambar dari kiri. Kiranya si pendek sudah menyerangnya. Nona cantik itu agaknya maklum akan kehebatan angin pukulan ini, maka ia terpaksa mundur lagi, tidak jadi menyerbu ke arah kereta dan cepat ia memutar pedangnya, dengan marah ia sudah menyerang lagi kepada si pendek.
Sementara itu, tiga orang pendekar yang tadi rebah kedinginan, sudah dapat memulihkan dirinya dan sudah bangkit lagi, lalu membantu nona cantik tadi untuk mengeroyok si pendek yang amat lihai. Kini terjadilah pertempuran yang makin hebat, dan setelah nona itu datang mengeroyok, ternyata kekuatan mereka hampir seimbang dan si pendek menjadi lebih sibuk menghadapi pengeroyokan mereka.
Siapakah nona cantik itu yang menyebut suhu kepada empat orang pendekar akan tetapi yang ternyata memiliki kepandaian yang agak lebih tinggi dari pada mereka itu ? Seperti yang pembaca agaknya dapat menduganya, tawanan di dalam kereta itu bukan lain adalah Menteri Kebudayaan Ho yang telah berani memprotes kepada kaisar tentang pembakaran kitab kitab pelajaran Nabi Khong Hu Cu. Ho-taijin atau Menteri Ho ini melakukan perjalanan ke selatan untuk mengakhiri pembakaran kitab-kitab dan pembunuhan para sasterawan yang mempertahankan kitab-kitab itu, akan tetapi kaisar yang kena dihasut oleh kaki tangannya itu lalu mengirim pasukan yang dipimpin oleh Ciong-ciangkun untuk menyusul dan menangkapnya. Bukan ini saja, malah keluarga Menteri Ho telah ditangkap lebih dulu dan dijebloskan dalam penjara!
Untung bahwa satu-satunya anak keluarga Ho ini, yaitu seorang anak perempuan yang telah remaja, bernama Ho Pek Lian, telah berhasil diselamatkan oleh empat orang gurunya. Ho- taijin yang sasterawan itu ternyata mempunyai hubungan baik dengan para pendekar, bahkan puteri tunggalnya itu sejak kecil menjadi murid dari Huang-ho Su-hiap Maka, ketika terjadi penangkapan atas seluruh keluarga Ho, nona Ho Pek Lian berhasil melarikan diri, dan ia ditolong oleh empat orang gurunya yang membawanya lari kepada Liu-bengcu, yaitu Liu Pang yang menjadi memimpin rakyat yang amat disegani di waktu itu. Liu Pang ini juga merupakan seorang pengagum Ho-taijin. maka dia menerima Ho Pek Lian yang selanjutnya disebut Ho-siocia dengan suka hati, bahkan dia mau pula menerima Ho Pek Lian menjadi muridnya. Sarang atau pusat yang dijadikan tempat para pendekar berkumpul di bawah pimpinan Liu Pang ini, yang menjadi tempat rahasia mereka, terletak di sebuah puncak yang bernama Puncak Awan Biru di Pegunungan Fu- niu-san. Liu Pang sendiri marah sekali mendengar akan tindakan kaisar yang bukan hanya menyuruh tangkap Ho-taijin, bahkan telah menangkap semua keluarga pembesar yang bijaksana itu. Maka, selain memberi petunjuk kepada murid barunya ini dalam hal ilmu silat, juga Liu Pang lalu mengangkat Ho-siocia menjadi pimpinan dalam usaha mereka untuk membebaskan Ho-taijin dari tawanan. Usaha ini dibantu oleh Huang-ho Su-hiap, yaitu guru-guru pertama dari Pek Lian seperti telah diceritakan di bagian depan. Dan biarpun Pek Lian menjadi murid-murid mereka, namun karena ia telah menguasai ilmu-ilmu dari mereka, maka penggabungan ilmu inilah yang membuat ia menjadi tidak kalah lihainya dibandingkan dengan seorang di antara guru-guru mereka. Apa lagi ia telah memperoleh petunjuk dari gurunya yang baru dan amat lihai, yaitu Liu Pang.
Demikianlah, seperti telah direncanakan, ketika terjadi pertempuran di dusun itu. tiba-tiba Ho Pek Lian yang disebut Ho-siocia oleh semua orang gagah pengikut Liu Pang, muncul untuk membebaskan ayahnya. Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika ia melihat betapa tiga di antara guru-gurunya kewalahan menghadapi seorang lawan yang bertubuh pendek cebol, sedangkan seorang guru yang lain. Sin-kauw, sedang bertanding dengan serunya melawan komandan pasukan. Maka Pek Lian cepat bergerak menolong tiga orang gurunya yang terancam bahaya maut itu dan kini ia bersama tiga orang gurunya itu mengeroyok si pendek yang kini iapun dapat menduga tentu Pek-lui-kong yang kabarnya diam-diam menyelundup ke dalam pasukan pengawal yang menangkap ayahnya.
Setelah kini Pek Lian membantu, dan mereka berempat mengeroyok, maka Pek-lui-kong menjadi sibuk juga. Terpaksa dia mengeluarkan senjatanya, yaitu sabuk rantai baja, akan tetapi dia hanya mampu mengimbangi saja empat orang pengeroyoknya. Sementara itu, pertempuran antara Sin-kauw yang melawan Ciong-ciangkun juga amat seru dan keduanya sudah menerima hantaman dari lawan, telah menderita luka-luka yang tidak membahayakan nyawa, akan tetapi mereka masih terus bertanding dengan hebatnya. Hanya keadaan para anak buah yang mengalami pembahan. Biarpun jumlahnya lebih banyak, namun perajurit itu tidak dapat bertahan menghadapi amukan para pendekar yang rata-rata memiliki ilmu silat yang lebih tinggi. Banyak di antara perajurit yang roboh terluka atau tewas. Melihat keadaan ini, Pek Lian cepat berseru kepada para pembantunya,