Halo!

Darah Pendekar Chapter 02

Memuat...

Betapapun juga, panasnya hari itu tidak mampu menghentikan kesibukan para pekerja kasar untuk bekerja. Dari jauh nampak serombongan pekerja kasar itu, memikul keranjang-keranjang besar berisi garam, menempuh jalan yang panas berdebu itu. Jalan mereka terseok-seok seirama, tubuh mereka dipaksa oleh beratnya ayunan keranjang yang tergantung di pikulan mereka, membuat tubuh mereka bergoyang-goyang dan sebelah tangan yang tidak memegang pikulan tergantung kaku dan bengkok, digerak- gerakkan untuk mengatur keseimbangan badan yang dibebani muatan amat berat itu. Pikulan bambu mereka berbunyi kreyat-kreyot, lebih nyaring dari pada bunyi kaki mereka atau mulut mereka yang kadang-kadang bercakap-cakap tanpa menoleh kenada kawan yang diajaknya bercakap-cakap. Mereka berjalan beriring-iringan satu-satu seperti barisan panjang. Biarpun jumlah mereka hanya ada belasan orang, akan tetapi karena setiap dari mereka memikul garam dengan pikulan bambu yang panjangnya tidak kurang dari satu setengah meter, maka tentu saja jarak di antara mereka agak jauh, ada dua meter sehingga barisan belasan orang itu menjadi panjang juga. Belasan orang yang sebagian besar bertelanjang dada itu nampak kuat-kuat, seperti pada umumnya para pekerja kasar yang mencari natkah mengandalkan otot-otot badan mereka. Akan tetapi yang paling menarik adalah orang pertama yang berjalan di depan. Orang inilah yang seolah-olah ditiru oleh orang di belakangnya dan dengan demikian gerakan semua orang itu seperti gerakan pasukan yang terlatih saja. Orang pertama ini adalah seorang laki-laki setengah tua. Usianya kurang lebih empatpuluh tahun dan dia memakai pakaian sederhana dan kasar.

Bajunya tidak ditanggalkan seperti sebagian besar teman-temannya, dan mudah dilihat bahwa tubuhnya tidaklah kekar dan berotot seperti teman-temannya yang lebih muda. Akan tetapi keranjang-keranjang garam yang dipikulnya itu dua kali lebih besar dari yang dipikul teman- temannya dan hebatnya, kalau teman-temannya yang bertubuh kekar dan masih muda itu bermandi peluh dan kelihatan lelah, sebaliknya orang setengah tua ini tidak nampak repot memikul keranjang-keranjang itu, dan hanya ada sedikit peluh membasahi leher dan dahinya. Napasnya tidak memburu seperti napas teman- temannya yang mulai terengah-engah ketika mereka memasuki dusun itu. Pria yang agaknya memimpin rombongan tukang memikul garam ini bertubuh sedang, tidak mengesankan, dan dia kelihatan seperti seorang petani atau orang dusun biasa saja. Akan tetapi mukanya putih bersih dengan jenggot dan kumis masih hitam lebat, membuat mukanya nampak semakin putih lagi. Akan tetapi, muka yang putih itu mengandung sinar mata kehijauan dan ini menunjukkan bahwa dia adalah seorang ahli lweekeh atau ahli tenaga dalam yang telah melatih diri dengan suatu ilmu tenaga dalam yang hebat, dan sepasang matanya juga amat tajam, walaupun dia nampak tenang sekali sikapnya.

Setelah tiba di depan pasar Han-kung-ce, rombongan pemikul garam itu berhenti dan memang benarlah bahwa laki-laki bermuka putih itu adalah pemimpin mereka. Hal ini terbukti bahwa laki-laki setengah tua itu kini memasuki sebuah toko, menjumpai pemilik toko itu yang agaknya biasa menerima dan memborong garam yang datang dari luar daerah. Ketika pemimpin para pemikul garam ini bercakap-cakap dengan pemilik toko, belasan orang anak buahnya nampak berkumpul di pinggir toko di mana terdapat sebuah gang dan mereka itu berteduh di tempat itu, berlindung dari teriknya sinar matahari yang kini terhalang oleh bangunan toko. Mereka bercakap- cakap dan diselingi sendau-gurau orang-orang muda, nampaknya lega telah tiba di tempat tujuan dan dapat bersantai membiarkan tubuh yang lelah itu beristirahat. Mereka menggunakan baju yang mereka lepaskan untuk menyusuti badan mereka yang basah oleh peluh, dan ada yang menggunakan caping mereka, yaitu topi-topi bundar lebar dengan ujung sebelah atasnya meruncing, untuk mengipasi tubuh yang gerah. Kadang-kadang, beberapa orang di antara mereka melayangkan pandang mata mereka ke arah sebatang pohon pek yang besar sekali, paling besar di antara pohon-pohon pek yang banyak tumbuh di tepi jalan dalam dusun itu.

Dua orang laki-laki yang agaknya ditugaskan oleh pimpinan pamong praja di dusun itu, sedang menebangi dahan- dahan yang bergantung ke jalan raya. Pasar itu tidak begitu ramai lagi karena hari telah siang dan sebagian besar dari orang-orang yang datang berbelanja sudah pulang kembali ke rumah masing-masing. Yang tinggal hanya para pedagang pasar yang dengan sabar masih menanti datangnya pengunjung-pengunjung yang kesiangan. Akan tetapi ada beberapa orang di antara mereka yang sudah mulai berkemas-kemas untuk menutup dagangannya dan pulang. Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan debu di atas jalan raya itu mengebul, membuat suasana menjadi semakin pengap dan panas. Yang datang dari arah utara ini adalah serombongan piauwsu berkuda dan dari bendera mereka, dapat diketahui bahwa mereka adalah rombongan piauwsu dari Hek-coa-piauwkiok (Perusahaan Ekspedisi Ular Hitam). Mereka mengawal sebuah kereta penuh muatan barang dan di atas kereta ini terdapat bendera yang bergambar seekor ular hitam melingkar disertai empat buah huruf nama perusahaan itu. Belasan orang piauwsu itu dipimpin oleh seorang piauwsu yang tubuhnya tinggi besar bermuka hitam, nampaknya kuat dan menyeramkan. Melihat sikap gagah dan muka hitam orang ini, mudah diduga bahwa dialah kepala atau ketuanya, dan mungkin saja sebutan Ular Hitam itu disesuaikan dengan kulitnya yang hitam. Rombongan piauwsu ini turun dari kuda masing-masing dan berhenti di depan sebuah kedai arak, menambatkan kuda mereka dan mereka lalu memasuki kedai, makan minum sambil bergurau. Si tinggi besar bermuka hitam duduk di dekat pintu kedai, sesekali dia memandang ke arah toko di mana nampak pria muka putih bercakap-cakap dengan pemilik toko, agaknya mereka itu sedang tawar-menawar garam. Pemilik toko itupun usianya sudah empatpuluh tahun lebih, tangan kirinya mengisap huncwe tembakau yang panjang, dan orang ini memiliki kumis yang kecil panjang dan bergantung dari bawah hidung melalui sebelah kanan kiri mulutnya.

Setelah melihat bahwa keadaannya sunyi dan di toko itupun tidak ada pembeli lain, yang ada hanya si tuan toko pedagang garam, maka piauwsu tinggi besar ini lalu bangkit berdiri dan menghampiri toko itu dengan lagak seperti orang yang hendak melihat-lihat dan hendak membeli sesuatu. Akan tetapi, setelah jelas melihat bahwa di sekitar tempat itu tidak ada orang lain yang memperhatikan mereka, diapun segera menghampiri dua orang pria yang sedang bercakap-cakap itu. Ternyatalah bahwa mereka bertiga ini sudah saling mengenal dengan baik. Piauwsu itu menegur dengan suara lirih, akan tetapi dengan sikap gembira dan akrab sekali.

"Heii, Kim-suipoa (Suipoa Emas) dan Pek-bin-houw (Harimau Muka Putih), kiranya kalian sudah datang lebih dulu ?"

Melihat si tinggi besar muka hitam ini, dua orang yang sedang bercakap-cakap itu tersenyum gembira. Tentu saja mereka tadi sudah melihat datangnya rombongan piauwsu itu dan kini mereka menyambut dengan tersenyum. "Ah, engkau dan rombonganmu berkuda, akan tetapi datang terbelakang! Dasar Ular Hitam yang malas !" kata mereka.

Pemimpin Hek-coa-piauwkiok itu tertawa, akan tetapi lalu mendekati mereka dan berkata dengan suara serius dan lirih, "Awas, kalian berhati-hatilah. Ternyata jagoan kerajaan yang lihai sekali itu berada dalam rombongan dengan menyamar!" Dia menoleh ke kanan kiri dan jelas nampak kegelisahan membayang di wajahnya yang hitam kasar itu.

Dua orang itu terkejut. "Benarkah ?" tanya si muka putih atau si pedagang garam yang

berjuluk Pek-bin-houw itu. "Bukankah kabarnya dia diutus kaisar memimpin pasukan untuk melakukan pembersihan di sepanjang lembah Yang-ce ?"

"Memang kabarnya demikian, akan tetapi entahlah, agaknya fihak istana telah dapat mencium akan gerakan kita. Mata-mata mereka tersebar di mana-mana. Dan agaknya mereka lalu merobah siasat dan mempergunakan jagoan itu untuk mengawal. Hal ini sudah jelas karena anak buah Sin-kauw (Kera Sakti) ada yang berhasil menyelundup ke sana dan dialah yang memberi kabar kepadaku," jawab pemimpin piauwkiok yang berjuluk Hek-coa (Ular Hitam).

"Wah, kalau begitu berbahaya sekali! Orang itu memiliki ilmu silat yang tinggi sekali. Padahal kita tidak memperhitungkan dia, hanya mengira bahwa rombongan itu akan dikawal oleh Ciong- ciangkun saja yang sudah cukup lihai," kata pemilik toko yang berjuluk Kim-suipoa.

"Lalu bagaimana baiknya'?" tanya pedagang garam yang berjuluk Pek-bin-houw atau Harimau Muka Putih itu.

"Kita bukan penakut dan untuk perjuangan kita, mati bukanlah apa-apa. Akan tetapi kita harus waspada dan kita tahu bahwa menghadapi jagoan istana itu satu lawan satu, kita bukanlah tandingannya. Akan tetapi, kalau kita bertiga maju bersama menandinginya, kukira belum tentu kita akan kalah olehnya," kata Kim-suipoa.

"Benar, dan biarlah Sin-kauw yang menandingi Ciong- ciangkun, komandan pasukan pengawal itu," kata Pek-bin-houw.

"Dan anak buah kita berempat akan menyerang pasukan pengawal. Semua ini memang baik dan tepat. Akan tetapi, lalu siapa yang akan bergerak melarikan dan menyelamatkan Ho-taijin (pembesar Ho) ?" tanya Hek-coa.

Mereka bertiga mengepal tinju dan menjadi kebingungan mendengar pertanyaan ini. Kim- sui-poa membanting kaki kanannya. "Sungguh di luar dugaan ! Kita mengira bahwa dengan mengerahkan empat orang dan kita bersama anak buah kita, urusan ini akan dapat diselesaikan dengan mudah. Tidak tahunya manusia itu ikut datang dan merusak rencana kita. Biarpun Ho- siocia (nona Ho) dapat diharapkan akan berhasil dan datang tepat pada waktunya, namun kita tidak ingin membuatnya terancam bahaya. Kalau tahu begini, aku tentu akan minta persetujuan Ho-siocia untuk mengajak Liu-twako supaya membantu kita."

"Benar, agaknya memang hanya Liu-twako yang akan mampu menandingi iblis itu," kata Hek-coa.

Selagi mereka bercakap-cakap dengan hati agak gelisah karena terjadinya perobahan tiba- tiba itu, muncullah seorang anak buah piauwkiok dengan sikap tergopoh-gopoh. "Rombongan kerajaan yang mengawal kereta tawanan telah tiba di luar dusun," demikian orang itu melapor. "Baik, atur semua kawan menurut rencana semula. Kurung tempat di depan pasar dan bersembunyi. Laksanakan siasat bumi hangus !" kata Kim-suipoa yang dalam gerakan ini agaknya menjadi pemimpin. Orang itupun memberi hormat dan pergi untuk melaksanakan perintah.

Post a Comment