Halo!

Darah Pendekar Chapter 01

Memuat...

KALAU kita membayangkan keadaan manusia pada ribuan tahun yang lalu seperti dapat kita baca di dalam kitab-kitab sejarah, kita memperoleh kenyataan betapa manusia telah memperoleh kemajuan yang amat hebat di dalam keadaan lahiriah, yaitu soal-soal teknik, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Gerobak- gerobak sederhana ditarik lembu atau kuda kini telah diganti dengan mobil, kereta api, bahkan pesawat terbang jet. Senjata-senjata pelindung diri yang tadinya hanya berupa pedang, tombak dan sebagainya kini telah diganti dengan senjata api, peluru kendali, bahkan bom dan senjata nuklir yang maha dahsyat. Memang, tidak dapat disangkal lagi bahwa manusia telah memperoleh kemajuan yang amat hebatnya. Itu di bidang lahiriah. Akan tetapi bagaimana dengan bidang batiniah, rohaniah ? Majukah kita ? Kembali kita dapat menyelidikinya dengan bantuan catatan- catatan sejarah dan kita akan memperoleh kenyataan yang amat mengejutkan, memalukan, bahkan mengkhawatirkan.

Menurut catatan sejarah, di jaman dahulu, ribuan tahun yang telah lalu, kita sudah mengenal perebutan kekuasaan, korupsi, benci- membenci, bunuh-membunuh, tipu-menipu karena manusia saling berlumba untuk meraih kesenangan sebanyak mungkin. Dan bagaimana keadaannya sekarang ? Sama saja, bahkan semakin hebat! Di jaman dahulu, manusia sudah mengenal kesengsaraan dan di jaman sekarang ini, belum juga manusia dapat merobah keadaan batinnya, masih saja kesengsaraan merajalela dan manusia lebih banyak mengenal duka dari pada suka dalam hidupnya. Mungkin pertentangan antar manusia tidaklah sekasar dahulu lagi, namun hal itu bukan berarti bahwa pertentangan itu berkurang atau lebih lunak. Bahkan pada dasarnya lebih keji lagi. Dan keadaan seperti ini, yaitu kemajuan pesat pada bidang lahiriah namun tetap atau hampir dapat dikatakan mundur pada bidang batiniah, terjadi di seluruh bagian dunia ini, tanpa kecuali!

Cerita ini terjadi duaribu tahun lebih yang lalu, kurang lebih dua abad Sebelum Masehi, pada jamannya Cin Si Hong-te, yaitu kaisar pertama dari Dinasti Cin. Ada yang mengatakan bahwa orang-orang dari Dinasti Cin inilah yang pertama kali melakukan perantauan dan pelayaran sampai jauh dari negerinya, ke negara- negara asing sehingga dari mereka inilah munculnya sebutan Negeri China atau Cina, yaitu dari Dinasti Cin.

Menurut catatan sejarah, Cin Si Hong-te dilahirkan pada tahun 259 Sebelum Masehi dan dalam usia tigabelas tahun, yaitu pada tahun 243. S.M. telah menjadi raja dari Kerajaan Cin. Pada waktu itu, banyak terdapat raja-raja yang membuat Tiongkok terpecah- pecah menjadi banyak kerajaan dan timbullah perang antara raja-raja ini, perang yang tak pernah ada henti-hentinya karena perebutan wilayah dan kekuasaan. Namun, Raja Cin yang muda itu, dengan bantuan para panglimanya yang pandai, memperoleh kemenangan dan akhirnya, pada tahun 221 S.M. ketika dia berusia tigapuluh delapan tahun, hampir seluruh kerajaan kecil-kecil itu ditaklukkannya dan diapun mengangkat dirinya menjadi kaisar pertama berjuluk Cin Si Hong-te dari Dinasti Cin.

Kekuasaan, sejak jaman dahulu sampai sekarang, selalu mendatangkan kekerasan dan penindasan. Hal ini tidaklah mengherankan karena di mana terdapat para pendukungnya, terdapat pula pihak-pihak yang menentangnya, terdapat pula pihak-pihak yang merasa iri hati dan ingin merebut kekuasaan itu, dan pihak yang berkuasa tentu saja berusaha mati-matian untuk mempertahankan kekuasaannya. Maka, sudah tentu terjadi kekerasan dan penindasan demi mempertahankan kekuasaan dan dalam perebutan kekuasaan itu, mereka yang menentang tentu saja memberi cap lalim kepada penguasa yang ditentangnya. Hal ini terjadi sejak dahulu sampai kini, sejarah berulang sepanjang masa dan agaknya takkan pernah dapat dirobah selama kita manusia selalu mengejar kesenangan masing-masing.

Cin Si Hong-te juga disohorkan sebagai seorang kaisar diktator, kejam, bertangan besi sehingga banyak orang-orang cerdik pandai dan para pendekar membencinya di samping juga menakutinya. Lebih dari itu malah, kaisar ini terkenal sebagai seorang kaisar yang penuh rahasia, yang aneh, bahkan sering kaisar ini lenyap tanpa ada yang tahu ke mana, untuk menyusup di antara rakyat dan sering menyamar sebagai rakyat biasa, melakukan hal-hal aneh tanpa ada yang tahu bahwa dia adalah sang kaisar sendiri.

Seperti terjadi di jaman apapun dan di manapun di dunia ini, setiap kekuasaan di samping menghadapi tentangan dan tantangan, tentu mempunyai pula pendukung dan biasanya, di antara para pendukung dan para penentang inilah terjadi bentrokan-bentrokan, merupakan dua pihak yang berdiri saling berhadapan sebagai musuh. Dan kalau para pendukung ini memusatkan pembelaan mereka pada tokoh penguasa, adalah para penentang itu memusatkan pembelaan atau bantuan mereka pada tokoh pemberontak. Dan kalau sudah begitu, rakyatpun ikut terseret, terpecah-belah, saling bermusuhan sendiri dan negarapun menjadi kacau! Dalam keadaan seperti itulah cerita ini terjadi.

* * *

Selama beberapa bulan terakhir ini, dunia kang-ouw, terutama kaum sasterawan, menjadi geger oleh perbuatan kaisar yang dianggap sungguh keterlaluan. Kaisar telah memerintahkan agar semua kitab pelajaran Nabi Khong Cu dibakar! Tidak seorangpun diperbolehkan menyimpan kitab dengan ancaman hukuman mati. Tentu saja hal ini mempunyai akibat yang amat hebat. Perlu diketahui bahwa kitab-kitab pelajaran Nabi Khong Cu telah dianggap sebagai garis- garis kebudayaan, bahkan dianggap sebagai ukuran tentang kemampuan sastera seseorang. Akan tetapi, kaisar berpendapat lain. Pelajaran dalam kitab-kitab itu dianggap melemahkan kedudukan kaisar, dan dianggap mengandung pelajaran kepada rakyat untuk memberontak dan tidak mengindahkan kaisar lagi sebagai satu-satunya Wakil atau Utusan Tuhan di dunia ! Banyak sasterawan yang tidak sudi membakar, atau menyerahkan kitab-kitabnya dan mereka ini mempertahankan pendiriannya dengan mengorbankan nyawa. Para sasterawan itu dibunuh oleh kaki tangan kaisar. Gegerlah dunia !

Seorang menteri yang amat setia dan jujur, yaitu Menteri Ho Ki Liong yang menjabat kedudukan sebagai menteri kebudayaan, terkejut bukan main. Dia maklum bahwa perintah kaisar yang kejam itu terjadi karena hasutan-hasutan kaki tangan kaisar yang menganut agama lain.

Kaisar sendiri condong untuk mempelajari Agama To yang sudah bercampur dengan ilmu-ilmu hitam dari See-thian (India). Padahal, urusan kitab-kitab itu sebetulnya adalah wewenangnya sebagai menteri kebudayaan, Maka, tanpa memperdulikan akibat- akibatnya Menteri Ho lalu menghadap kaisar dan mengajukan protes! Protes dari menteri yang setia ini tentu saja berpengaruh dan kaisar lalu memerintahkan agar memperlunak pelaksanaan pelarangan atau pembakaran kitab-kitab itu. Dan Menteri Ho sendiri segera pergi ke daerah selatan untuk menangani urusan ini, menghentikan kekejaman-kekejaman yang terjadi di daerah itu, di mana kaki tangan kaisar membakari kitab-kitab dan membunuhi mereka yang menentang dengan kejam.

Akan tetapi kaki tangan kaisar yang membenci para pemeluk Agama Khong-hu-cu, tidak tinggal diam. Dengan cerdik mereka menghasut kaisar dan akhirnya mereka berhasil membujuk kaisar sehingga kaisar menganggap bahwa protes dan penentangan Menteri Ho ini merupakan sikap memberontak kepadanya. Dan diapun mengirim pasukan untuk menangkap menteri yang setia itu. Peristiwa ini sungguh amat menggemparkan dunia kang-ouw, karena Menteri Ho, selain dikenal sebagai seorang menteri yang pandai dan bijaksana, juga dikenal sebagai orang yang menghargai para tokoh kang-ouw dan bahkan mengenal tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw dan para pemimpin partai persilatan besar di empat penjuru. Dan orang-orang kang-ouw, para pendekar itupun lalu bergeraklah!

Pada suatu hari, dusun Han-kung-ce amatlah panasnya. Dusun yang terletak di sebelah utara kota Kong-goan ini biasanya amat ramai karena dusun itu merupakan tempat simpangan dari para pedagang dan pelancong yang hendak menuju ke kota raja di utara. Juga dusun ini berada di sebelah utara Sungai Yang-ce-kiang, menjadi tempat di mana para pedagang bermalam sebelum mereka berangkat membawa barang- barang dagangan mereka melalui jalan air di Sungai Yang-ce-kiang. Hari itu amat panas, berbeda dari biasanya sehingga jalan-jalan di dusun itu, terutama jalan rayanya, nampak sunyi. Orang-orang lebih suka berlindung di tempat teduh, minum teh di warung-warung, atau beristirahat di bawah pohon sambil mengobrol. Namun, di balik kesunyian yang timbul karena panasnya hari itu, terasa adanya ketegangan, walaupun tidak ada di antara para pedagang itu mengetahui apa gerangan yang sedang atau akan terjadi, karena pada siang hari itu memang tidak nampak ada terjadi sesuatu yang luar biasa di dusun itu.

Para penghuni rumah-rumah di tepi jalan raya, kecuali mereka yang mempergunakan rumah itu sebagai toko, tidak ada yang mau duduk di depan, karena jalan raya yang kering berdebu tertimpa cahaya matahari terik itu amat tidak enak bagi mata. Lebih nyaman untuk duduk di belakang rumah, di antara pohon-pohon, bertelanjang dada membiarkan tubuh yang kegerahan dihembus angin semilir. Maka jalan raya itu nampak lengang.

Post a Comment