"Hi-hi-hik, tentu saja harus kau berikan kepadaku, suka maupun tidak. Andaikata tidak kau berikan, apa sih sukarnya merampas kembali dari tangan kau orang tua? Aku harus menjadi Kauwcu dan dengan kekuasaanku, aku mengangkat puteraku Bu Song menjadi kaisar di Nan-cao"
"Enci Lu Sian, kau terlalu menghina Ayah"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan Liu Hwee sudah melompat ke depan Liu Lu Sian sambil menyerangnya dengan senjatanya yang luar biasa, yaitu sepasang cambuk lemas yang ujungnya diberi bola kecil.
"Hi-hik, bocah ingusan mau kurang ajar? Satu kali aku beri ampun di terowongan ketika kau bermain gila dengan laki-laki, sekarang aku tidak mau memberi ampun"
Teriak Liu Lu Sian, tubuhnya berkelebatan dan di lain saat ia telah berhasil menjambret sebuah di antara sepasang cambuk itu dan sekali renggut cambuk itu pindah tangan. Dengan sikap mengejek ia melempar cambuk ke samping, kemudian melihat cambuk ke dua menyambarnya, ia menangkap ujungnya lagi dan menarik. Liu Hwee mempertahankan, akan tetapi ia tidak kuat dan tubuhnya terhuyung-huyung. Sambil tertawa-tawa Liu Lu Sian menarik-narik cambuk itu ke sana ke mari dan ke manapun juga ia menarik, tubuh Liu Hwee terbawa, terhuyung-huyung. Terlambat gadis ini ketika hendak melepaskan cambuknya karena entah bagaimana, cambuk itu sudah melibat pergelangan tangannya dan ia terpaksa terseret ke sana ke mari ketika cambuknya ditarik-tarik.
"Lepaskan dia, wanita jahat"
Terdengar bentakan dan Bu Sin sudah menerjang dengan pukulan kedua tangannya yang diarahkan punggung Liu Lu Sian. Pemuda ini tidak dapat menahan kemarahannya ketika melihat betapa Liu Hwee, gadis yang telah merampas hatinya itu, dibuat permainan oleh Liu Lu Sian, malah agaknya keselamatannya terancam bahaya.
"Hi-hik, laki-laki ini sudah tergila-gila kepadamu, Liu Hwee"
Wanita berambut panjang itu terkekeh dan tangannya bergerak hendak menangkap lengan Bu Sin.
"Ihhhh.."
Liu Lu Sian berseru kaget ketika tangannya tergetar dan terpental tak berhasil menangkap lengan Bu Sin. Ini adalah karena pemuda itu mempergunakan tenaga sakti yang ia pelajari dari kakek di air terjun. Namun hanya segebrakan saja tenaga saktinya dapat mengagetkan Liu Lu Sian karena di lain saat, segumpal rambut menyambar dan memukul pinggangnya. Bu Sin merasa seakan-akan terpukul sebatang toya yang terbuat daripada baja. Pinggangnya sakit dan ia terpelanting roboh.
"Kau kejam"
Liu Hwee berseru, menyerang lagi dengan cambuknya yang tadi dilepaskan Liu Lu Siang namun kembali rambut kepala wanita tua itu bergerak dan robohlah Liu Hwee terjungkal dekat Bu Sin.
"Hi-hi-hik, bocah-bocah cilik sudah main cinta-cintaan, biarlah kalian mati bersama agar menjadi dewa-dewi di kahyangan"
Akan tetapi pada saat itu tampak bayangan hitam berkelebat dan rambut kepala yang sudah menyambar ke arah tubuh Bu Sin dan Liu Hwee itu buyar seperti tertiup angin keras. Liu Lu Sian kaget, akan tetapi ketika melihat bahwa yang berdiri di depannya adalah Suling Emas, wajahnya berseri-seri dan tertawa kagum.
"Bagus. Kau hebat sekali, anakku"
"Ibu,"
Kata Suling Emas dengan suara berat. Memang dalam keadaan seperti itu, mulutnya serasa berat menyebut ibu kepada wanita ini,
"Harap jangan turun tangan membunuhi orang."
"Ha-ha-hi-hi-hik"
Paman Liu Mo, kau dengar ucapan anakku itu? Begitu gagah perkasa dia, begitu tampan, dan begitu bijaksana. Dia patut menjadi kaisar di Nan-cao, dan aku ketua Beng-kauw. Kau akan kuangkat menjadi penasihat, dan kaisar boneka ini biarlah menjadi perdana menteri anakku"
Hebat ucapan ini dan semua orang menjadi tegang. Para tamu diam-diam merasa tegang gembira karena mengharapkan menyaksikan peristiwa yang hebat. Akan tetapi para anggauta Beng-kauw memandang bingung. Mereka merasa serba susah. Betapapun juga, wanita itu adalah puteri tunggal mendiang Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, pendiri dan tokoh utama Beng-kauw.
"Ibu, tidak boleh kau bilang begitu.."
Suling Emas berseru dengan suara penuh kesedihan.
"Eh, apa kau bilang?"
Liu Lu Sian membentak sambil memandang dengan matanya yang bening tajam. Ketika bertemu pandang dengan ibunya, diam-diam Suling Emas terkejut dan berduka. Sinar mata ibunya itu, sinar mata yang keluar dari sepasang mata yang amat bening dan indah, bukanlah sinar mata manusia yang sehat jiwanya.
"Ibu, harap kau jangan mengganggu kedudukan Kakek Liu Mo. Dan aku.. aku tidak mau menjadi kaisar. Sri Baginda yang sekarang menjadi kaisar sudah cukup bijaksana dan tepat.."
"Apa? Jangan kau ikut-ikut, Kau anak kecil tahu apa? Hayo minggir"
Wanita itu membuat gerakan mengancam, seakan-akan seorang ibu mengancam dan menakut-nakuti anaknya yang masih kecil. Suling Emas menarik napas panjang dan melangkah minggir dengan muka merah. Ia merasa malu dan sedih. Terasa ada orang menyentuh tangannya dan ketika ia menengok, ia melihat Bu Sin memandangnya dengan pandang mata penuh iba. Ia menarik kembali tangannya dan membuang muka, lalu meramkan kedua matanya.
Bu Sin tidak berani lagi mengganggu. Pemuda ini tadi telah terlepas dari bahaya maut bersama Liu Hwee dan cepat mereka sudah mengundurkan diri. Luka pukulan segumpal rambut pada punggungnya tidak berat dan ia bersyukur bahwa Suling Emas tadi keburu datang menolong, kalau tidak, dia dan Liu Hwee tentu akan tewas di tangan wanita iblis itu. Kini semua mata memandang ke tengah lapangan. Kauw Bian Cinjin sudah melangkah maju dengan pecut di tangannya. Langkahnya lebar dan lambat, sikapnya tenang berwibawa, namun tarikan dagu mengeras dan sinar mata tajam berkilat membayangkan kemarahannya. Setelah berhadapan dengan Liu Lu Sian, kakek ini berkata, suaranya lantang berpengaruh.
"Liu Lu Sian, ingatlah siapa kau dan siapa kami. Urusan di antara orang sendiri apa perlunya dipertontonkan orang lain? Tunggu sampai semua tamu pulang, baru kita bereskan urusan pribadi kita"
Liu Lu Sian memandang dengan mata terbelalak, kemudian ia tersenyum, masih manis seperti dahulu senyumnya sehingga diam-diam Kauw Bian Cinjin terharu juga. Teringat ia betapa dahulu di waktu Liu Lu Sian masih kecil dan ia sendiri masih muda, gadis cilik itu sering kali ia ajak bermain-main dan kalau menangis ia gendong"
"Hi-hik, kau Susiok Kauw Bian Cinjin. Kau orang baik dan Ayah amat sayang kepadamu, memang kau pintar dan tenagamu amat berguna. Kau akan tetap menjadi pengurus utama di Beng-kauw kalau aku sudah menjadi Kauwcu. Hanya pakaianmu ini harus diganti yang baik, jangan seperti pakaian penggembala begitu. Eh, Susiok, kalau aku sudah menjadi kauwcu dan puteraku menjadi kaisar, dengan kau sebagai pembantu utama, hi-hik, apa sih sukarnya menundukkan kerajaan-kerajaan gurem seperti Wu-yue, Hou-han, dan lain-lain? Malah kita akan menyerbu dan menundukkan Kerajaan Sung Utara, dan terus merampas Khitan"
"Lu Sian"
Kauw Bian Cinjin membentak, disusul cambuknya meledak di udara "tar-tar-tar". Sesaat ia tak mampu mengeluarkan kata-kata saking marahnya, kemudian ia berkata.
"Lepaskan semua niatmu yang tidak sehat itu. Lekas kau berlutut dan minta ampun kepada Suheng, kepada Beng-kauwcu kita, kalau tidak, aku sebagai paman gurumu terpaksa akan memberi hajaran kepadamu."
Sejenak Liu Lu Sian melebarkan matanya seperti orang terheran-heran. Kemudian wajahnya menjadi muram dan ia berkata,
"Susiok, biar kau sendiri, kalau hendak menghalangi niatku, terpaksa akan kubunuh."
"Aaahhhhh.."
Kaow Bian Cinjin lalu lari ke depan peti mati Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, berlutut dan sampai lama ia berdiam diri, bibirnya berkemak-kemik. Kemudian ia menambah kayu wangi pada pedupaan sehingga asap wangi mengebul tebal dan tinggi, bergulung-gulung di sekitar peti mati.
"Twa-suheng, mohon ampun, hari ini siauwte terpaksa melawan puterimu"
Setelah berkata demikian, sekali lagi ia menjura, kemudian dengan langkah lebar dan tenang ia kembali menghampiri Liu Lu Sian yang melihat semua perbuatannya tadi sambil tersenyum-senyum.
Suasana menjadi tegang kembali ketika dua orang itu saling berhadapan. Yang paling tegang dan bingung adalah Suling Emas sendiri. Ingin ia mencegah pertempuran ini, akan tetapi apa dayanya? Tak sampai hati ia kalau harus menjadi musuh ibu kandungnya yang puluhan tahun dirindukannya. Sebaliknya, tak mungkin ia membantu ibunya yang dalam hal ini terang telah melakukan perbuatan yang sesat. Saking bingungnya, ia hanya berdiri dengan muka pucat.
"Liu Lu Sian, biarpun kau merupakan puteri tunggal mendiang Twa-suheng Liu Gan yang kuhormati, akan tetapi saat ini kau merupakan orang yang akan merusak kerajaan dan perkumpulan agama yang kami cintai. Oleh karena itu, aku berdiri di hadapanmu sebagai penentang dan siap melawanmu. Arwah mendiang Twa-suheng pasti akan membenarkan sikapku ini."
"Orang tua keras kepala. Kau kira akan dapat memenangkan aku? Hi-hik, aku bukanlah Tok-siauw-kwi tiga puluh tahun yang lalu"
"Kalah menang bukan soal, yang penting aku harus membela Nan-cao dan Beng-kauw dengan taruhan nyawa"
Jawab Kauw Bian Cinjin gagah sambil melintangkan cambuknya di depan dada. Liu Lu Sian tiba-tiba mengeluarkan suara melengking tinggi. Suara ini luar biasa sekali pengaruhnya dan kalau saja Kam Bian Cinjin yang "diserang"
Suara ini bukan tokoh besar Beng-kauw, kiranya ia akan roboh tanpa disentuh lagi. Cepat Kauw Bian Cinjin berseru keras dan memutar cambuknya sehingga berbunyi angin bersuitan yang melawan pengaruh suara lengking itu.
"Serahkan nyawamu"