Merah sekali muka Sian Eng. Lama ia tidak mampu menjawab, hanya menundukkan muka. Akhirnya ia berkata juga,
"Dia.. dia hendak melamarku.."
Bu Sin meloncat kaget seperti disengat lebah.
"Apa..?"
Wajahnya jelas membayangkan tidak percaya.
"Mengapa kau kaget, Koko? Bukankah itu hal yang biasa saja?"
"Kau bilang biasa? Ah, Moi-moi, mana akalmu yang sehat? Apakah.. agaknya kau telah menyetujuinya..?"
"Sudahlah, Koko. Ini bukan urusan kita, terserah keputusan Sukouw saja.."
"Tidak"
Kau tidak boleh berjodoh dengan keparat itu. Dia jahat, dia.. dia.. ah, Eng-moi, bagaimana kau.."
"Sssttttt, Koko. Kita menjadi perhatian orang. Lihat itu, ada keributan lagi.."
Sian Eng mencegah, merasa bahwa bukan pada tempatnya kalau ia membicarakan soal hubungannya dengan Suma Boan di tempat itu. Bu Sin menengok dan benar saja. Semua tamu yang tadinya agak kacau oleh keberangkatan beberapa rombongan, kini tenang kembali dan memandang ke arah rombongan tuan rumah karena di situ terjadi hal yang menarik sekali.
"Kita akan bicara tentang ini nanti.."
Katanya perlahan dan Bu Sin dengan muka keruh terpaksa mengalihkan perhatiannya. Apakah yang terjadi? Kiranya Liu Lu Sian tadi menoleh ke arah Siang-mou Sin-ni dan berkata ketus.
"Kau masih di sini dan tidak lekas angkat kaki?"
Siang-mou Sin-ni melesat dari tempat duduknya dan kini ia berhadapan dengan Liu Lu Sian. Amat menarik melihat dua orang wanita ini berdiri saling berhadapan. Keduanya sama cantiknya, biarpun Siang-mou Sin-ni tentu saja lebih muda daripada Liu Lu Sian. Keduanya memiliki rambut yang sama panjangnya dan keduanya mengurai rambut di belakang tubuh. Heranlah semua orang ketika dengan sikap amat menghormat, Siang-mou Sin-ni menjura di depan Liu Lu Sian dan berkata.
"Beruntung sekali dapat berjumpa dengan Suthai di sini setelah bertahun-tahun saling berpisah. Semoga Suthai dalam keadaan baik saja."
Tentu saja semua orang terheran. Sebutan suthai (ibu guru) biasanya hanya ditujukan kepada seorang pendeta wanita atau kepada seorang guru. Bagaimanakah iblis wanita Siang-mou Sin-ni menyebut suthai kepada Liu Lu Sian? (baca cerita SULiNG EMAS).
"Kim Bwee, sejak kapan aku menjadi gurumu? Apakah karena satu dua ilmu yang kuberikan kepadamu itu kau lalu boleh menganggap aku sebagai guru? Tidak"
Jangan kira kau akan dapat membujukku, mengangkat menjadi gurumu lalu kau ingin aku membantu cita-citamu menguasai Hou-han? Huh, perempuan tak tahu malu. Pergi kau"
Muka Siang-mou Sin-ni menjadi merah sekali, dan rambutnya yang halus itu tiba-tiba menjadi kaku. Tiba-tiba sikapnya yang menghormat itu lenyap, terganti sikap menantang. Ia mengangkat kedua tangan ke pinggangnya, dengan tangan kanan menolak pinggang dan tangan kiri menudingkan telunjuk, ia berkata.
"Karena menerima ilmu darimu, aku selamanya mengurai rambut dan berterima kasih, menghormatmu sebagai guru. Akan tetapi kau memandang rendah kepadaku. Hemmm, benar-benar kau orang tua yang tidak ingin dihormat"
Liu Lu Sian tersenyum, lalu melangkah maju sampai dekat sekali dengan Siang-mou Sin-ni.
"Bocah. Sekali menggerakkan tangan, aku mampu melempar nyawamu ke neraka. Akan tetapi mengingat beberapa orang di Hou-han, aku masih mengampunimu. Nah, kau mau apa? Mau menyerangku dengan rambutmu? Boleh, lakukanlah"
Tantangan yang menghina sekali.
"Wanita tak kenal budi. Di Hou-han kami memperlakukan kau sebagai orang mulia, menyuguhkan pria-pria yang paling tampan, jejaka-jejaka paling gagah untukmu. Tapi kau membalas dengan penghinaan"
Jangan kira Siang-mou Sin-ni masih seperti sepuluh tahun yang lalu. Terimalah ini"
Tiba-tiba Siang-mou Sin-ni menggerakkan kepalanya dan rambutnya yang gemuk hitam dan panjang itu menyambar, merupakan puluhan pecut yang luar biasa kuat dan lihainya. Setiap pecut yang terbuat dari puluhan sampai ratusan helai rambut itu mengarah jalan darah mematikan di tubuh Liu Lu Sian. Perlu diketahui bahwa meskipun Siang-mou Sin-ni memang sejak kecil melatih diri dengan ilmu silat tinggi, namun ilmu menggunakan rambut ini ia dapat dari Liu Lu Sian. Tentu saja ilmu ini biarpun amat berbahaya bagi orang lain, namun bagi Liu Lu Sian bukan apa-apa lagi. Wanita ini tiba-tiba merendahkan tubuhnya, dari mulutnya keluar lengking tinggi mengerikan, kedua tangannya bergerak-gerak ke depan dan.. pecut-pecut rambut itu berkibar-kibar membalik dan menghantam Siang-mou Sin-ni sendiri.
"Ayaaaaa"
Siang-mou Sin-ni kaget dan cepat ia melompat ke atas dan berjungkir balik beberapa kali untuk melenyapkan daya serangan membalik tadi. Ketika ia turun di atas tanah, ternyata sebagian rambutnya yang panjang telah bodol dan berhamburan di atas tanah. Wajahnya berubah pucat, giginya berkerut, matanya mendelik.
"Liu Lu Sian, Kau besar hati karena berada di tempat sendiri. Andaikata aku dapat mengalahkanmu, tentu aku akan menghadapi perlawanan anakmu si Suling Emas dan orang-orang Beng-kauw. Aku tunggu nanti Go-gwe Cap-go di puncak Thai-san"
Setelah berkata demikian, Siang-mou Sin-ni berkelebat cepat menghilang dari situ. Tentu saja para utusan Hou-han menjadi sibuk, cepat meninggalkan tempat itu pula tanpa sempat berpamit lagi.
"Bu Song, Ke sini kau.."
Liu Lu Sian kini menoleh kepada Suling Emas dan memanggil dengan suara halus lembut.
Suling Emas berdiri terkesima. Sejak tadi pelbagai perasaan mengaduk hatinya dan teringatlah ia akan masa dahulu di waktu ia masih kecil. Sering kali ayah ibunya saling cekcok. Ketika ibunya pergi, diam-diam ia merasa sedih sekali, karena betapapun juga, ia lebih cinta ibunya daripada ayahnya. Oleh karena itulah, ketika ayahnya menikah lagi, timbul rasa bencinya kepada ayahnya dan rasa sayangnya terhadap ibunya makin menghebat. Di dalam hatinya timbul perasaan bahwa antara ibu dan ayahnya, ayahnyalah yang salah (baca cerita SULING EMAS). Oleh karena itu ia minggat meninggalkan ayahnya yang telah menikah lagi.
Pada waktu ibunya pergi meninggalkan ayahnya, ia masih terlalu kecil untuk dapat mengerti sebab-sebabnya. Sekarang, setelah iblis wanita yang mengerikan dan mengaku ibunya itu muncul, ia menjadi kecewa dan duka bukan main. Beginikah wanita yang menjadi ibu kandungnya? Kejam, aneh, mengerikan, dan tidak malu? Apalagi kalau ia teringat akan ucapan Siang-mou Sin-ni tadi di depan ibunya. Ibunya di Hou-han diperlakukan sebagai orang mulia, disuguhi pria-pria paling tampan, jejaka-jejaka paling gagah? Memuakkan. Dan ucapan itu oleh Siang-mou Sin-ni diucapkan dengan lantang di depan demikian banyak orang tokoh kang-ouw. Dan ibunya tidak membantahnya"
"Bu Song, anakku, ke sinilah. Aku Ibumu, aku rindu kepadamu"
Ucapan ini mengagetkan hatinya, menyeret ia turun daripada lamunannya. Hatinya seperti diawut-awut, kecewa, sedih, terharu. Bagaikan seorang terkena pesona, kedua kakinya melangkah maju di luar kehendak hatinya, maju menghampiri wanita tua cantik jelita yang bertahun-tahun ini menjadi lamunannya, menjadi bayangan yang dirindukannya. Liu Lu Sian memeluk pundaknya yang lebar.
"Bu Song anakku.. ah, kau sudah begini gagah perkasa"
Hi-hi, kau pria paling gagah di seluruh Nan-cao, di seluruh dunia. Kaulah yang patut memimpin Beng-kauw. Dengan kau sebagai kaisar di Nan-cao, dan aku yang akan memimpin Beng-kauw. Dengan kau sebagai kaisar dan aku sebagai Beng-kauwcu, Nan-cao akan menjadi negara terkuat di dunia."
"Ahhhhh.."
Suling Emas terkejut sekali dan tanpa disengaja ia merenggutkan dirinya terlepas dari pelukan ibunya, memandang terbelalak.
Liu Lu Sian menyambar lengan Suling Emas, ditariknya mendekat lalu ia menciumi pipi pemuda itu dengan hidung dan mulutnya sampai mengeluarkan suara berkecupan. Suling Emas menjadi bingung dan sedih, karena perbuatan ibunya itu disaksikan oleh sekian banyak orang dan tampak tidak patut sekali, akan tetapi keharuan hatinya yang amat besar membuat ia tak mampu bergerak dan di hati kecilnya ada perasaan bahagia melihat kasih sayang ibunya yang demikian besar terhadap dirinya.
"Hi-hik, anakku yang gagah perkasa, yang tampan, kepandaianmu hebat juga. Kau patut menjadi Kaisar Nan-cao."
Tiba-tiba ia melepaskan puteranya dan melangkah lebar menghadap Beng-kauwcu dan Kaisar Nan-cao yang duduk dengan muka berubah dan kedua tangan memegangi lengan kursi masing-masing dengan hati tegang.
"Paman Liu Mo, kursi yang kau duduki itu adalah kursiku. Kau orang tua benar-benar keterlaluan dan tak tahu malu sekali. Kapankah ayah mewariskan kedudukan Beng-kauwcu kepadamu? Akulah yang berhak mewarisi kedudukan ketua Beng-kauw, bukan kau. Kau telah merampas hal lain orang"
Muka Beng-kauwcu Liu Mo sebentar merah sebentar pucat, kedua tangannya yang terletak di atas lengan kursi tampak menggetar. Akan tetapi setelah menarik napas panjang tiga kali, ia berhasil menekan perasaannya dan dengan suara tenang penuh kesabaran ia berkata.
"Lu Sian, tidak ada yang merampas kedudukan Beng-kauwcu. Kedudukan itu tidak pernah dijadikan perebutan di antara kita. Dahulu kau pergi meninggalkan kami, betapapun kami mencarimu, tidak juga berhasil. Ayahmu meninggal dunia dan kau tidak berada di sini. Hanya aku yang berada di sini dan aku dipilih menggantikan kedudukan Kauwcu, sama sekah bukan merampas. Kalau sekarang kau menghendakinya, aku pun tidak akan kukuh mempertahankan kursi kedudukan itu, Lu Sian."