"Ma-susiok, apa yang hendak kau perberbuat?"
Iblis itu yang tadinya sudah melangkah dua tindak, mendadak berhenti, memutar tubuhnya, dan memandang kepada seorang wanita rambut panjang riap-riapan yang tahu-tahu sudah berada di depannya. Wanita yang usianya sudah lima puluh tahun lebih, akan tetapi yang wajahnya masih cantik jelita, terutama sepasang matanya yang seperti mata burung hong, rambutnya hitam panjang sekali tidak disanggul, pakaiannya serba hitam sehingga tangan dan lehernya yang tak tertutup kelihatan makin putih. Sejenak iblis itu tertegun, kemudian tubuhnya menggigil dan kedua tangannya gemetar sehingga tubuh Lin Lin terlepas dari pondongannya, membuat gadis ini jatuh dan bergulingan. Lin Lin terguling agak jauh, akan tetapi mukanya menghadap ke atas sehingga ia dapat menyaksikan pertemuan dua orang aneh itu.
".. Lu.. Lu Sian.."
Dengan sukar sekali akhirnya iblis itu mengeluarkan suara. Jantung Lin Lin berdebar keras mendengar disebutnya nama ini dan ia makin memperhatikan wanita itu. Cantik memang, biarpun sudah tua, masih cantik jelita. Lebih cantik daripada ibu angkatnya, ibu Sian Eng dan Bu Sin. Inikah isteri pertama ayah angkatnya? Inikah ibu sekandung dari Kam Bu Song, kakaknya yang lenyap? Inikah, menurut penuturan bibi gurunya Kui Lan Nikouw, wanita puteri ketua Beng-kauw yang berjuluk Tok-siauw-kwi?
"Hemmm, Ma-susiok, dengan perbuatanmu ini, apakah kau masih ada muka untuk tetap mengaku bahwa kau mencintaku sampai kau mati? Huh, kiranya kau pun sama saja dengan laki-laki lain, berhati palsu, pandai pura-pura, mengobral sumpah"
"Tidak.. tidak.. Lu Sian, aku.. bertahun-tahun aku menyiksa diri, aku menantimu.. aku bersetia padamu.. Lu Sian, apakah kedatanganmu ini menjadi tanda tiba saatnya aku mengecap kebahagiaanku, melewatkan hidup yang tak berapa lama lagi ini? Apakah timbul rasa iba di hatimu dan meyakinkan kau bahwa cintaku padamu murni?"
"Huh, tak perlu bermanis bibir, Susiok. Mau kau apakan gadis itu tadi?"
"Eh.. aku.. terus-terang saja.. karena tak tertahankan lagi kesunyian ini.. melihat gadis itu tadi.. hampir saja.. tapi untung kau segera datang, Lu Sian. Terima kasih. Setelah kau di sini, apa artinya gadis ini bagiku? Biar seribu orang bidadari turun, aku tidak pedulikan mereka asal kau.."
"Sudahlah, tak perlu banyak membujuk rayu. Kita bukan orang-orang muda belia. Susiok, di luar terjadi keributan. It-gan Kai-ong mengacau, kalau kau tidak memperlihatkan jasa terhadap Beng-kauw, mana aku percaya bahwa kau betul mencintaiku?"
"Lu Sian, aku tahu, selama ini kepandaianmu sudah hebat sekali, jauh melampaui kemampuanku. Mengapa kau tidak membasmi mereka yang mengacau? Aku.. aku malu bertemu dengan orang-orang.."
"Hemmm, tentang permintaanmu mengawani kau di sini, baru akan kupertimbangkan kalau kau mau membuat jasa. Kalau tidak, jangan harap malah aku akan mengusir kau dari tempat ini"
Terdengar iblis itu mengeluh dan diam-diam Lin Lin merasa kasihan sekali. Gadis muda ini telah menyaksikan adegan yang amat mengharukan, adegan tentang cinta kasih yang demikian mendalam. Heran ia mengapa iblis itu biarpun sudah tua, tetap tidak melupakan kasihnya yang demikian mendalam.
Dan ia merasa terharu dan kasihan melihat iblis yang hampir saja mencelakakannya itu mengeluh dan melangkah perlahan-lahan ke tempatnya, yaitu peti matinya yang terbuka lebar. Namun hanya sebentar saja rasa kasihan ini, karena segera ia teringat bahwa iblis itu adalah pembunuh ayah bundanya yang selama ini dicari-carinya. Pembunuh kejam yang harus ia balas, apalagi tadi telah menghinanya dan hampir saja mencelakainya. Iblis yang bukan lain adalah Ma Thai Kun bekas Panglima Nan-cao dan yang sekarang terkenal dengan julukan Cui-beng-kui ini dengan suara keluhan yang kemudian melengking seperti suara suling, memasuki peti matinya, kemudian peti mati itu bergerak-gerak ke arah dinding. Tangannya terjulur keluar peti, menekan di ujung bawah kiri dinding itu dan terdengarlah suara berkerit yang disusul dengan terbukanya sebuah lubang pada dinding itu, lubang bundar dengan garis tengah satu meter.
"Lu Sian, aku menaati permintaanmu.."
Terdengar suara dari dalam peti yang meluncur cepat keluar melalui lubang itu. Lubang rahasia itu segera tertutup kembali dengan sendirinya. Wanita berambut panjang itu menarik napas panjang, kemudian ia memandang Lin Lin. Tiba-tiba tangannya bergerak dan seketika Lin Lin terbebas dari totokan. Ia cepat meloncat bangun, menyambar pedangnya yang menggeletak di dekat peti mati yang tadi menjadi "tempat tidurnya".
"Bibi, terima kasih atas pertolongan Bibi.."
Lin Lin berkata dengan suara perlahan, karena ia masih ragu-ragu bagaimana ia harus menyebut wanita ini. Kam Si Ek adalah ayah angkatnya. Kalau wanita ini isteri Kam Si Ek, berarti juga ibu angkatnya. Akan tetapi ia tidak berani menyebut ibu, maka lalu menyebut saja bibi.
"Kau anak Kam Si Ek? Ibumu Bwe Hwa?"
"Bukan, Bibi. Kam Si Ek adalah ayah angkatku, bersama dua orang saudara angkat, aku pergi mencari Kakak Kam Bu Song. Bukankah Bibi ini ibu Kakak Kam Bu Song..?"
Akan tetapi wanita itu tidak menjawab, kelihatan termenung. Tiba-tiba ia bertanya.
"Bukankah cintanya amat besar kepadaku? Biarpun sudah menjadi mayat hidup, ia masih mencintaku. Cinta yang murni.."
Ia menarik napas lagi.
"CINTA BERNODA DARAH"
Lin Lin berkata suaranya berubah dingin.
"Apa kau bilang..?"
Wanita itu agaknya heran.
"Cintanya bernoda darah. Ia telah membunuh ayah dan ibu angkatku"
"Hemmm, bocah, kau tahu apa? Itu karena cemburu yang ditahan-tahan di samping cinta kasihnya yang mendalam. Mana ada cinta tanpa cemburu? Ia tidak mengganggu selembar rambut Kam Si Ek selama masih menjadi suamiku, selama masih mencintaku. Akan tetapi setelah mendengar Kam Si Ek berpisah dariku, malah mengawini seorang wanita lain, nah, timbullah dendamnya dan dibunuhnya mereka."
"Betapapun juga, dia musuh besarku, harus kubalas dendam ini"
Wanita itu mengeluarkan suara ketawa halus.
"Kau..? Membalas padanya? Hik-hik, lucu sekali. Sesukamulah"
Tiba-tiba saja wanita rambut panjang itu berkelebat dan lenyap dari depan Lin Lin, meninggalkan bau harum yang menyengat hidung.
Lin Lin tidak mempedulikan hal itu lagi, ia cepat menghampiri dinding dan mencari alat rahasianya. Baiknya ia tadi melihat tangan Cui-beng-kui menekan ujung kiri bawah dinding, maka sekarang ia dapat melihat sebuah benda bundar sebesar ibu jari kaki terpasang di sudut itu. Cepat benda ini didorongnya sambil mengerahkan tenaga dan.. terdengarlah suara berkerit seperti tadi dan dinding itu berlubang. Lin Lin menerobos masuk dengan pedang di depan dada, siap menghadapi segala ancaman dari depan. Kiranya lubang itu merupakan lorong sempit. Ia merangkak terus dan setelah lewat dua puluh meter, ia melompat keluar dari terowongan ini ke dalam sebuah ruangan di mana terdapat sebuah pintu besar yang menembus ke ruangan sembahyang.
Demikianlah, pada saat Cui-beng-kui sedang berbantah dengan It-gan Kai-ong, secara tiba-tiba Lin Lin muncul dan serta merta gadis ini menghadapi Cui-beng-kui dan memaki-makinya sebagai pembunuh ayah ibu angkatnya. Cui-beng-kui adalah seorang iblis yang berkepandaian tinggi, selain terkenal sebagai seorang di antara Enam Iblis juga ia bekas panglima tertinggi Kerajaan Nan-cao. Tentu saja ia menjadi marah sekali ketika seorang gadis remaja berani memaki-makinya di depan orang banyak, apalagi ketika ia mendapat kenyataan bahwa gadis ini adalah gadis yang membuat ia tadi kesalahan terhadap kekasihnya, Liu Lu Sian.
"Betul aku yang membunuh jahanam Kam Si Ek dan isterinya. Kau mau apa? Bocah lancang, kau punya kepandaian apa berani berlagak di depanku?"
"Cui-beng-kui. Biar akan melayang nyawaku, aku pertaruhkan untuk membalas kematian ayah ibu angkatku"
Bentak Lin Lin dan pedangnya menyambar.
"Cringgg"
Lin Lin terhuyung ke belakang dan matanya memandang terbelalak. Kalau ia tidak mengalami sendiri, mana ia dapat percaya? Pedangnya yang menyambar leher tadi telah ditangkis oleh kuku-kuku jari tangan mayat hidup itu. Betapa mungkin kuku jari dapat membuat pedangnya terpental dan ia terhuyung?
"Lin-moi, jangan lepaskan dia"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan seorang gadis lain berkelebat ke dalam kalangan pertempuran dengan pedang di tangan.
"Enci Eng, hati-hati, dia lihai sekali"
Lin Lin girang melihat Sian Eng muncul dan membantunya, akan tetapi juga khawatir akan keselamatan Sian Eng karena ia maklum bahwa kepandaian encinya itu masih jauh terlalu rendah untuk ikut menghadapi iblis yang sakti ini.
"Eng-moi!, Lin-moi! Jangan takut, aku datang"
Bu Sin melompat dengan pedang di tangan pula. Pemuda ini sejak munculnya Lin Lin tadi, sudah ingin sekali membantu adiknya, akan tetapi Liu Hwee memegang lengannya dan mencegahnya sambil mengatakan bahwa Cui-beng-kui bukanlah lawannya. Akan tetapi melihat kedua orang adiknya sudah berada di sana menghadapi pembunuh orang tuanya, tentu saja Bu Sin tak dapat tinggal diam lagi. Ia memaksa diri dan meloncat ke kalangan pertempuran menemani kedua orang adiknya.
"Heh, bagus sekali"
Kalian ini anak-anak Kam Si Ek si keparat? Mari kuantar kalian menyusul orang tuamu"
Setelah berkata demikian, Cui-beng-kui mengeluarkan suara melengking nyaring tinggi seperti suara suling, disusul tubuhnya yang bergerak ke depan dengan kedua lengan menampar ke arah Bu Sin bertiga. Pukulan ini mengandung hawa pukulan jarak jauh yang dahsyat sampai terdengar angin bersiutan menyambar-nyambar, Bu Sin cepat mengerahkan sin-kangnya namun ia tetap terhuyung-huyung sampai tiga langkah ke belakang. Lin Lin cepat mengerahkan Khong-in-ban-kin dan berhasil mengelak. Akan tetapi Sian Eng biarpun sudah mengerahkan sin-kang, tetap saja ia terguling roboh.
"Keparat, rasakan pedangku"
Lin Lin yang berhasil mengelak tadi kini cepat menggerak-gerakkan pedang menerjang sambil mainkan ilmunya Khong-in-liu-san. Pedangnya menjadi segulung sinar bundar yang cemerlang, bagaikan bola api melayang ke arah Cui-beng-kui.