Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 92

Memuat...

Mulut kotormu menyinggung-nyinggung nama wanita yang semulianya di dunia ini, tak mungkin aku mendiamkannya begitu saja. It-gan Kai-ong, hari ini adalah hari kematianmu, bersiaplah"

It-gan Kai-ong adalah seorang di antara Enam Iblis, tentu saja ia sama sekali tidak gentar menghadapi ucapan ini. Malah ia tertawa terpingkal-pingkal, menotok-notokkan tongkatnya ke taneh, lalu berkata sambil meludah.

"Cui-beng-kui, bukan aku yang akan mati, akan tetapi peti matimu kini betul-betul akan terisi mayat.

"Cuh-cuh-cuh"

Tiga kali ia meludah ke arah peti mati, akan tetapi tiga kali pula ludahnya menyeleweng, tidak mengenai peti mati melainkan mengenai tanah yang berlubang-lubang oleh air ludahnya.

"Krrriiiiittttt"

Tutup peti mati terbuka perlahan dari dalam. Semua tamu, terutama yang muda-muda dan bukan jago kawakan, menjadi pucat memandang ke arah peti mati. Juga para jagoan tua yang sudah lama mendengar nama Cui-beng-kui, memandang penuh perhatian, hati mereka tegang. Selamanya belum pernah iblis ini keluar dari peti mati, selalu kalau "beraksi"

Tentu dari peti matinya. Sekarang peti mati terbuka, Cui-beng-kui akan tampak ujudnya, siapa yang tidak akan tegang hatinya. Bahkan para tokoh Beng-kauw sendiri menjadi tegang, memandang penuh perhatian. Munculnya Cui-beng-kui ini tadi saja sudah mengherankan hati para pimpinan Beng-kauw dan juga kaisar sendiri, karena hal ini tidak mereka duga-duga. Selama ini sepak terjang Cui-beng-kui penuh rahasia dan tak ada yang tahu di mana ia bersembunyi. Tutup peti mati terbuka makin lebar, perlahan-lahan dan mengeluarkan bunyi.

Mula-mula tampak sebuah lengan yang kurus dan berkulit putih pucat penuh keriput, dengan kuku-kuku jari tangan yang panjang-panjang. Lengan ini menutup peti, terus menyangga ke atas sehingga tutup itu akhirnya terbuka semua. Semua mata memandang, leher memanjang dan.. sesosok tubuh yang tinggi kurus bangkit dari dalam peti mati"

Bagi penonton yang kurang kuat hatinya, penglihatan ini akan cukup membuat ia roboh pingsan saking ngeri dan takutnya. Cui-beng-kui kiranya seorang laki-laki yang kepalanya gundul, mukanya pucat seperti muka mayat, pakaiannya putih hanya merupakan kain putih dibelit-belitkan di tubuh, dari lutut sampai ke leher, kaki dan lengannya telanjang dan kurus sekali seperti tampak tulang-tulangnya membayang di balik kulit keriput dan tipis. Seperti juga kuku-kuku jari tangannya, kuku kakinya juga panjang, runcing melengkung. Yang menarik adalah sikap Kaisar Nan-cao dan ketua Beng-kauw. Mereka tiba-tiba melompat berdiri, mata terbelalak dan muka berubah.

"Kau.. Thai Kun.."

Seru Beng-kauwcu Liu Mo, matanya memandang seperti tak percaya.

"Ma-ciangkun (Panglima) Ma.."

Kaisar Nan-cao juga berseru perlahan.

Manusia yang seperti mayat hidup itu hanya memutar tubuh menghadap ke arah kaisar dan ketua Beng-kauw lalu mengangguk sedikit, tak acuh. Sekarang terbukalah rahasia Iblis Pengejar Roh (Cui-beng-kui) ini, dan mengertilah orang-orang Beng-kauw akan pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh iblis ini secara mengerikan. Kiranya iblis ini adalah Ma Thai Kun, seorang panglima besar puluhan tahun yang lalu dari Kerajaan Nan-cao, seorang yang memiliki kepandaian tinggi karena masih terhitung adik seperguruan sendiri dari Pat-jiu Sin-ong dan Beng-kauwcu Liu Mo. Panglima she Ma ini dahulu menjadi jagoan istana Nan-cao dan ia adalah seorang di antara banyak pria yang tergila-gila kepada Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian, puteri dari suhengnya sendiri. Setelah Liu Lu Sian memilih Kam Si Ek Jenderal Kerajaan Hou-han, maka panglima ini lalu menghilang dan tak seorang pun tahu di mana ia berada.

Siapa nyana, sekarang panglima itu muncul kembali dalam keadaan yang begitu mengerikan, dan kiranya Cui-beng-kui, seorang di antara Enam Iblis itu adalah bekas panglima ini. Kauw Bian Cinjin yang mengepalai penyelidikannya dan tentu saja tahu pula akan kematian Su Ban Ki dan Ciu Kang, kematian yang aneh karena dilakukan oleh peti mati hidup yang ia duga tentulah Cui-beng-kui, baru sekarang mengerti mengapa Cui-beng-kui mencampuri urusan ini. Diam-diam ia bersyukur bahwa biarpun Ma Thai Kun kini sudah berubah menjadi iblis, namun agaknya masih memiliki kesetiaan terhadap Nan-cao sehingga turun tangan membunuh dua orang pengkhianat itu.

"Ma-suheng, biarkan siauwte menghadapi iblis gembel ini"

Seru Kauw Bian Cinjin. Ia terhitung adik seperguruan Cui-beng-kui. Mereka adalah empat orang saudara seperguruan. Yang pertama adalah mendiang Liu Gan, ke dua ketua Beng-kauw sekarang, Liu Mo yang masih adik kandung Liu Gan, ke tiga adalah Ma Thai Kun dan ke empat Kauw Bian Cinjin. Kauw Bian Cinjin bersama Liu Mo telah memperdalam ilmunya sehingga jauh melampaui dua tiga puluh tahun yang lalu, maka kini Kauw Bian Cinjin meragukan apakah suhengnya yang puluhan tahun menghilang itu akan mampu menandingi It-gan Kai-ong yang ia tahu amat sakti. Ia sendiri pun masih ragu-ragu apakah ia akan menang, akan tetapi kalau Ma Thai Kun kepandaiannya masih seperti dua puluh lima tahun yang lalu, tentu jauh di bawah tingkatnya.

"Mundurlah"

Cui-beng-kui mendengus, dan dengan langkah-langkah kaku ia menghampiri It-gan Kai-ong.

"Siapa menghina dia harus mati di tanganku"

It-gan Kai-ong tertawa bergelak,

"Hoh-ho-heh-heh, makin terbukti sekarang betapa bobroknya moral orang-orang Beng-kauw. Cui-beng-kui, kau disebut suheng oleh Kauw Bian Cinjin, berarti kau juga sute dari mendiang Pat-jiu Sin-ong dan kau terhitung paman guru Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian. Akan tetapi agaknya kau pun tergila-gila kepada murid keponakan yang jelita itu, ha-ha-ha"

"Majulah gembel busuk. Hendak kubuktikan apakah kau patut menerima julukan sejajar dengan aku"

Kata mayat hidup itu. Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara bentakan nyaring sekali, bentakan seorang gadis yang melompat keluar dari dalam ruangan sembahyang, sebatang pedang bersinar kuning telanjang di tangannya.

"Cui-beng-kui, kau pembunuh ayah, terimalah pembalasanku"

Dengan gerakan bagaikan seekor burung walet yang amat lincah, Lin Lin melompati kepala banyak tamu, langsung menyerbu ke tengah lapangan, menghadapi Cui-beng-kui. Gadis ini kelihatan marah sekali, sepasang matanya berkilat-kilat, kedua pipinya merah, bibirnya cemberut, pedang di tangan kanannya menggetar.

"Kau siapa? Jangan kira setelah kau dibebaskan, kau boleh bicara sesukamu. Siapa ayahmu?"

"Iblis busuk, setahun lebih kucari-cari kau, setan peti mati bersuling. Hayo katakan, bukankah kau pembunuh ayahku Kam Si Ek bersama isterinya dan seorang tamunya? Setahun yang lalu di Ting-chun?"

"Ho-ho, heh-heh, kiranya kau sudah membunuh sainganmu, Jenderal Kam Si Ek yang berhasil merenggut Tok-siauw-kwi dari tanganmu?"

It-gan Kai-ong terkekeh-kekeh sambil mundur.

"Hendak kulihat bagaimana kau akan dapat membereskan setan cilik ini, Cui-beng-kui. Aku menanti giliran"

Muka yang pucat dan tak pernah bergerak kulitnya itu kini sepenuhnya menghadapi Lin Lin, membuat gadis itu merasa ngeri juga. Ia teringat akan pengalamannya di dalam ruangan peti mati yang menyeramkan.

Seperti telah kita ketahui, ketika Lin Lin memasuki ruangan peti mati melalui terowongan rahasia, ia melihat peti mati yang mendadak dapat "hidup"

Sehingga ia roboh pingsan itu ia telah dimasukkan ke dalam sebuah peti mati kosong oleh Cui-beng-kui. Untung tidak lama Lin Lin pingsan di dalam peti mati. Ia siuman beberapa menit kemudian dan dapat dibayangkan betapa bingungnya ketika ia mendapatkan dirinya berada di tempat yang gelap gulita sehingga matanya seakan-akan buta. Melihat jari tangan sendiri pun tidak tampak. Ia meraba-raba dan teringatlah ia akan pengalamannya tadi. Hatinya berdebar. Iblis dalam peti mati itu. Sekarang ia pun berada di dalam peti mati. Tahulah ia bahwa ia telah ditawan oleh iblis tadi dan dimasukkan peti mati.

Dengan menabahkan hatinya, Lin Lin mendorong penutup peti itu terbuka. Ia melihat sinar terang, akan tetapi hampir saja ia jatuh pingsan kembali ketika melihat seorang laki-laki gundul, sebetulnya tak patut disebut orang laki-laki, melainkan lebih pantas disebut mayat hidup, berdiri terbungkuk di dekat peti di mana ia rebah. Muka itu. Pucat tak berdarah dan seperti kedok. Muka mayat. Kedua ujung bibir tertarik ke bawah, hidungnya panjang bengkok ke bawah. Akan tetapi Lin Lin teringat bahwa iblis ini adalah pembunuh ayah ibu angkatnya. Tidak salah lagi kali ini. Mendiang ibu angkatnya sebelum menghembuskan napas terakhir menyebut-nyebut tentang iblis dalam peti mati yang mengeluarkan suara seperti suling. Ingatan ini sekaligus mengusir semua rasa takut dan ngeri.

"Iblis jahat, kau pembunuh ayah ibuku.."

Teriaknya dan Lin Lin bergerak hendak melompat keluar dari dalam peti. Akan tetapi iblis itu menggerakkan kedua tangan, menekan pundak Lin Lin dan gadis ini seketika tak dapat menggerakkan lagi kaki tangannya yang seakan-akan menjadi lumpuh.

"Hemmm, bagus sekali. Kau puteri mereka? Kebetulan sekali, kau cantik dan muda. Kau harus menebus hutang ayahmu, kau harus mengawani aku di sini, menghiburku, sampai kau atau aku mampus.."

Suara iblis itu berbisik-bisik, mendesis-desis mengerikan dan kini mukanya makin mendekati muka Lin Lin, tangan yang tadinya menekan pundak kini bergerak ke arah leher dan dada.

Saking ngeri dan takutnya, Lin Lin menjerit keras. Suara jeritannya terdengar gemanya dari jauh, agaknya melalui lorong rahasia yang gelap itu. Akan tetapi hanya satu kali Lin Lin dapat menjerit karena di lain detik ibils itu sudah menotoknya, membuat ia selain tak mampu meronta, juga tak dapat mengeluarkan suara lagi. Setengah pingsan Lin Lin merasa betapa dua buah lengan yang keras karena hanya tulang terbungkus kulit, yang dingin menjijikkan, akan tetapi amat kuat, memondongnya keluar dari dalam peti. Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan Lin Lin itu, tiba-tiba menyambar hawa dingin yang membawa datang bau semerbak harum mewangi, kemudian terdengar suara yang sama dinginnya.

Post a Comment