"Uhhhhh"
Dan darah segar tersembur keluar dari mulutnya. Akan tetapi dari mulut Liu Lu Sian keluar jerit mengerikan, lalu terdengar suara gaduh ketika tubuh dua orang itu roboh menabrak dan menggulingkan peti mati berikut meja sembahyang.
Keduanya roboh miring dengan sepasang tangan masih saling menempel, akan tetapi ketika Beng-kauw Liu Mo dan yang lain-lain mendekati, mereka mendapat kenyataan bahwa kedua orang ayah dan anak ini telah putus napasnya. Pat-jiu Sin-ong Liu Gan telah memenuhi kehendaknya, yaitu mengajak puterinya bersama-sama meninggalkan dunia. Sebetulnya hanya Liu Mo seorang yang tahu bahwa suhengnya itu tiga tahun yang lalu belum mati, melainkan minta supaya dimasukkan peti dan dianggap mati karena sesungguhnya suhengnya itu bermaksud menyembunyikan diri dan bertapa, menanti munculnya Liu Lu Sian karena kakek ini sudah dapat membayangkan bahwa puterinya yang binal itu setelah berhasil mencuri Sam-po-cin-keng, di kemudian hari pasti akan menggegerkan dunia
Suling Emas sudah berlutut di dekat jenazah ibunya, wajahnya muram dan sedih, akan tetapi hatinya lega karena ia pikir lebih baik begini daripada melihat ibunya hidup membuat kekacauan di dunia. Liu Hwee juga berlutut di situ dan menangis. Tubuh Kauw Bian Cinjin yang terluka hebat, akan tetapi tidak membahayakan nyawanya, telah diangkut ke dalam untuk dirawat. Para anggauta Beng-kauw nampak berkabung dan berduka, juga masih tegang oleh peristiwa hebat tadi. Tak seorang pun di antara mereka berani bersuara. Beng-kauwcu Liu Mo lalu berdiri dan menghadapi para tamunya yang masih tegang, apalagi mereka yang tadi pingsan dan sudah siuman kembali.
"Cu-wi sekalian yang terhormat. Harap Cu-wi maafkan akan segala peristiwa yang tidak kami sengaja ini. Cu-wi maklum bahwa peristiwa ini adalah urusan pribadi Beng-kauw, maka kami harap Cu-wi sekalian sudi memaklumi dan tidak salah faham. Agar ucapan keponakan kami tadi tidak dianggap sebagai sikap Beng-kauw, kami sebagai ketua Beng-kauw di sini menyatakan dengan tegas bahwa Beng-kauw tidak bermaksud memaksa orang menjadi pemeluknya, dan bahwa Nan-cao sama sekali tidak bermaksud untuk mengganggu negara tetangga, akan tetapi kami pun pantang diganggu. Kemudian, mengingat akan keadaan yang menimpa kami, maka kami persilakan Cu-wi sekalian kembali ke tempat masing-masing, diikuti ucapan selamat jalan dan terima kasih serta maaf bahwa kami tidak sempat mengantar."
Maka bubarlah para tamu. Setelah mereka memberi hormat, berduyun-duyun mereka keluar dari Kota Raja Nan-cao. Di sepanjang jalan mereka itu ramai membicarakan peristiwa mengerikan yang terjadi di Nan-cao dan mereka merasa puas bahwa mereka mendapat kesempatan menyaksikan hal-hal luar biasa, ketegangan yang mengerikan dan pertempuran-pertempuran tingkat tinggi yang tak mungkin mereka saksikan lagi. Suling Emas ikut membantu pemakaman ibu dan kakeknya, juga penguburan Cui-beng-kui. Kemudian ia berlutut di depan Beng-kauwcu Liu Mo dan berkata dengan suara sedih.
"Saya mintakan maaf atas sepak terjang mendiang Ibu yang telah mengacau Beng-kauw."
Liu Mo menarik napas panjang dan mengulur tangan mengelus kepala Suling Emas,
"Tidak apa, anak baik. Memang Ibumu sejak dahulu begitu, keras hati dan aneh wataknya. Untung bahwa kau agaknya mewarisi watak Ayahmu. Mendiang Ayahmu, Jenderal Kam Si Ek adalah seorang laki-laki sejati, seorang pendekar perkasa yang mengagumkan. Karena itu pula, melihat gelagat adikmu Bu Sin dan anakku Hwee-ji, aku akan merasa bahagia sekali kalau mereka dapat terangkap jodoh. Aku serahkan urusan ini kepadamu."
"Baiklah. Dan sebagai penebus dosa Ibu, saya akan menyusul Hek-giam-lo ke Khitan untuk minta kembali tongkat Beng-kauw yang dirampasnya."
Setelah berpamit, Suling Emas mengajak kedua orang adiknya, Bu Sin den Sian Eng, pergi dari Nan-cao untuk mencari dan menolong Lin Lin, sekalian untuk merampas kembali tongkat Beng-kauw dan untuk mewakili Ibunya menghadapi lima orang Thian-te Liok-koai di puncak Thai-san. Perpisahan yang sederhana, akan tetapi mendatangkan kedukaan den kesepian di hati Bu Sin dan Liu Hwee. Hanya pandang mata mereka saja saling menyatakan perasaan hati yang mewakili seribu bahasa. Terpisahnya dua hati yang saling mencinta.
Mari kita ikuti pengalaman Lin Lin yang sudah lama kita tinggalkan. Seperti telah diceritakan di bagian depan, sekeluarnya dari terowongan rahasia dan melihat Cui-beng-kui, Lin Lin lupa akan segalanya saking marahnya melihat pembunuh ayah bunda angkatnya. Maka ia lalu menerjang dan menyerang Cui-beng-kui, malah dibentu oleh Bu Sin dan Sian Eng. Akan tetapi tentu saja mereka bukan lawan Cui-beng-kui yang sakti, dan sebagaimana telah kita ketahui, Lin Lin kemudian ditolong oleh orang-orang Khitan yang secara aneh sekali berhasil membawa pergi Lin Lin berikut pedangnya dan mayat orang-orang Khitan yang tewas di situ. Kiranya orang-orang Khitan itu melakukan gerakan ilmu barisan yang mereka sebut "mengancau atau mengail ikan", berhasil membikin bingung orang-orang yang berada di situ dan dalam kehebohan itu dapat membawa pergi Lin Lin.
Memang, orang-orang Khitan ini yang semenjak dahulu merupakan bangsa perantau, pandai sekali berperang gerilya sehingga hanya dua belas orang saja telah berhasil "mencuri"
Lin Lin dari depan banyak orang. Lin Lin sendiri yang ketika itu hampir celaka di tangan Cui-beng-kui kalau saja secara sembunyi tidak ditolong oleh Suling Emas, hanya melihat orang-orang Khitan itu berlari-lari di sekelilingnya, membuatnya pening dan entah begaimana, akhirnya ia ikut berlari-lari dan tahu-tahu ia sudah berlari jauh meninggalkan Nan-cao, tapi selalu berada di dalam kurungan orang-orang Khitan. Setelah menjelang senja dan rombongan orang Khitan itu yang tiada henti-hentinya berlari tiba jauh di daerah perbatasan kota raja mereka berhenti. Lin Lin terengah-engah dan barulah gadis ini sadar sepenuhnya bahwa ia tadi ikut berlari-lari bersama rombongan itu keluar dari kota raja.
"He, kalian ini membawaku ke mana? Antarkan aku kembali ke Kota Raja Nan-cao. Aku harus bunuh Cui-beng-kui iblis jahat itu"
Seorang di antara dua belas perajurit Khitan itu, yang paling tua, menjura dengan hormat di depan Lin Lin lalu berkata,
"Tuan puteri, susah payah hamba berhasil menyelamatkan Paduka daripada bahaya maut. Hamba hanya melakukan perintah. Kalau Paduka kembali ke sana, berarti hanya akan mengorbankan nyawa secara sia-sia."
"Huh, tidak gampang Cui-beng-kui dapat membunuhku. Suling Emas takkan membiarkan dia membunuhku. Tadi pun Suling Emas membantuku. Hayo antar aku kembali ke sana"
"Tuan puteri, hamba sekalian tidak berani. Hamba yang membantu mendiang Pak-sin-tung-lociangkun, selain kehilangan beliau, juga kehilangan dua belas orang saudara. Hamba semua hanya melaksanakan perintah Hek-lo-ciangkun, sebaiknya Paduka bicara dengan beliau.."
"Siapa Hek-lo-ciangkun (Panglima Tua Hitam)?"
Tanya Lin Lin.
"Paduka sendiri yang memerintahkan beliau merampas tongkat.."
"Ohhh, kau maksudkan Hek-giam-lo? Mana dia sekarang? Dia harus membantuku membunuh Cui-beng-kui"
Mana dia? Suruh dia ke sini"
Dengan sikap yang agung seakan-akan memang semenjak kecil dia memerintah orang-orang Khitan, Lin Lin membentak-bentak mereka.
"Hek-lo-ciangkun sudah lama menanti Paduka, Tuan Puteri. Marilah, tidak jauh lagi. Setelah bertemu dengan Hek-lo-ciangkun, Paduka dapat berunding dengannya."
Lin Lin menganggap omongan ini tepat.
"Baik, hayo kita berangkat menemui Hek-giam-lo"
Maka berangkatiah mereka, sekarang tidak berlarian seperti tadi lagi, melainkan berjalan kaki. Lin Lin di depan bersama pemimpin rombongan, diiringkan oleh yang lain dari belakang. Rombongan itu berjalan dengan langkah tegap, wajah mereka berseri, sama sekali tidak kelihatan berduka walaupun baru saja kehilangan seorang panglima dan dua belas orang kawan. Semangat mereka tinggi dan dalam melangkahkan kaki secara berirama mereka lalu bernyanyi dengan suara lantang dan gagah. Mula-mula Lin Lin merasa betapa lucu kelakuan mereka ini, akan tetapi lambat laun ia merasa tertarik sekali dan kagum.
Agaknya panggilan darahnya membuat ia merasa dekat dengan orang-orang ini, malah sebentar kemudian ia ikut pula mengatur langkah membarengi mereka dan karena lagu itu pendek dan diulang-ulang, beberapa menit kemudian Lin Lin ikut pula bernyanyi bersama mereka. Kata-katanya asing baginya, namun, dasar ia cerdas, sebentar saja ia hafal tanpa dapat mengerti maksud kata-katarnya. Ikut sertanya Lin Lin dalam barisan ini sambil bernyanyi menambah semangat orang-orang Khitan itu dan suara nyanyian mereka makin keras dan makin bersemangat. Tak lama kemudian sampailah mereka di tepi sebuah sungai. Inilah Sungai Kan-kiang, sungai yang mengalir menuju ke utara dan menjadi anak sungai atau cabang dari sungai besar Yang-ce-kiang. Pemimpin rombongan mengeluarkan sebuah tanduk, agaknya tanduk rusa yang besar.
Ketika ia meniup tanduk itu terdengar bunyi suara yang aneh, seperti suara binatang tidak keras akan tetapi suara itu membawa getaran yang kuat. Sepuluh menit kemudian, terdengarlah lengking seperti suling dan tampaklah sebuah perahu besar meluncur datang. Di kepala perahu berdiri sesosok tubuh yang berselubung pakaian hitam dengan muka tertutup kedok tengkorak. Hek-giam-lo"
Sebentar kemudian perahu itu minggir dan Lin Lin meloncat ke atas perahu, diikuti oleh dua belas orang pengikutnya. Perahu itu diikatkan pada sebatang pohon. Setelah berada di atas perahu, dua belas orang itu sibuk bekerja, dan agaknya mereka sudah biasa dengan pekerjaan di perahu. Kini anak buah perahu yang tadinya hanya tiga orang, menjadi lima belas orang. Lin Lin cepat menghampiri Hek-giam-lo.
"Bagaimana Hek-giam-lo? Apakah perintahku sudah kau lakukan? Mana tongkat Beng-kauw itu?"
Berkata Lin Lin dengan sikap memerintah. Hek-giam-lo membungkuk sedikit, lalu terdengar suaranya dari balik kedok tengkorak.
"Berkat bintang Paduka yang terang, tongkat Beng-kauw sudah berhasil hamba rampas, sekarang berada di dalam bilik perahu. Harap Paduka sudi masuk bilik dan beristirahat, sebentar lagi kita berangkat."
"Berangkat?"
Lin Lin terkejut.
"Ke mana?"
"Ke mana lagi kalau bukan ke Khitan? Kita pulang, Tuan Puteri."
"Tidak. Aku perintahkan, tidak pulang ke Khitan sekarang. Hek-giam-lo, kau harus membantuku, kembali ke Nan-cao untuk menghadapi Cui-beng-kui"
Sejenak tengkorak hitam itu diam saja, bergerak pun tidak, seakan-akan ia termenung. Sukar untuk mengatakan bagaimana perasaannya di saat itu karena wajahnya yang aseli tidak nampak. Akan tetapi setelah ia bicara, ternyata bahwa ia menahan kemarahannya.
"Tuan Puteri Yalina, sudah banyak kita kehilangan orang, bahkan sute Pak-sin-tung sampai tewas, semua gara-gara permintaan Paduka yang bukan-bukan. Sekarang hamba tidak dapat memenuhi permintaan Paduka lagi, kita harus berangkat kembali ke Khitan di mana Sri Baginda sudah menanti-nanti kedatangan Paduka."
"Tidak. Kau harus monurut perintahku, Hek-giam-lo"
Si Tengkorak Hitam menggeleng-geleng kepalanya dan mendengus tak acuh.
"Kau lihat apa ini? Kau harus tunduk kepadaku"