Halo!

Suling Naga Chapter 73

Memuat...

Betapapun juga, karena dia amat memperhatikan kebutuhan para petani sehingga para penduduk di lima dusun itu semua dapat makan kenyang setiap hari dan tidak sampai kehabisan pengganti pakaian, maka Phoa Wan-gwe dianggap orang baik dan tidak dibenci oleh para buruhnya. Namun, ada satu hal yang membuat orang-orang takut kepada Phoa Wan-gwe, juga kadang-kadang menimbulkan rasa iri dan benci kepada banyak orang. Pertama, karena dia dapat bersikap kejam, menghukum berat para pe-langgar peraturan. Hal ini memang ada baiknya, merupakan cambuk bagi para buruh tani sehingga mereka itu rajin bekerja, dengan pengetahuan bahwa kalau bermalas-malasan mereka berarti melanggar peraturan dan dihukum cambuk, akan tetapi kalau rajin merekapun akan berkecukupan, bukan sekedar makan kenyang dan dapat bertukar baju setiap hari, melainkan juga mungkin bisa mengumpulkan uang simpanan.

Hal ke dua yang merupakan cacat dan kelemahan Phoa Wan-gwe adalah sifatnya yang mata keranjang, gila perempuan dan dia tidak pernah mau melepaskan wanita cantik yang sudah diincarnya. Dia berkeluarga, mempunyai isteri dan beberapa orang anak, bahkan telah memiliki tidak kurang dari lima orang isteri muda. Akan tetapi, matanya yang tajam seperti burung elang itu masih selalu mengincar anak-anak ayam. Kalau dia sedang berjalan-jalan di dusun-dusun yang menjadi wilayah kekuasaannya, banyak orang tua cepat-cepat menyembunyikan anak-anak perempuan mereka. Akan tetapi, tidak percuma Phoa Wan-gwe memiliki banyak kaki tangan yang setiap saat datang memberi laporan tentang adanya gadis-gadis cantik, baik di dalam maupun di luar dusun. Dan kalau dia sudah melihat sendiri gadis yang dipuji-puji kaki tangannya dan dia tergila-gila, dengan cara apapun juga akan diusahakannya agar gadis itu menjadi miliknya.

Biarpun bukan menjadi selir, setidaknya untuk beberapa hari, pekan atau bulan gadis itu harus menjadi miliknya! Dan dia terkenal royal dan tidak sayang mengeluarkan uang untuk mendapatkan wanita yang membuatnya mengiler. Ketika Phoa Wan-gwe muncul di dalam pesta itu, semua orang yang mengira bahwa hartawan itu hendak datang bertamu, menjadi gembira dan juga memuji keluarga yang berpesta. Jarang ada keluarga petani yang dipenuhi undangannya oleh Phoa Wan-gwe yang biasanya hanya mengirim wakil dan mengirim pula sekedar sumbangan. Akan tetapi kini hartawan itu datang sendiri! Akan tetapi, ketika melihat belasan orang tukang pukul, melihat pula betapa wajah hartawan itu keruh dan sikap para tukang pukul itu bengis, semua orang terkejut ketakutan. Mereka bangkit dari duduk mereka, memberi hormat kepada yang lewat dan saling pandang dengan sinar mata bertanya-tanya.

Ketegangan muncul dalam hati para tamu. Melihat kekeruhan wajah Phoa Wan-gwe, jelas bahwa hartawan itu sedang marah, apa lagi dikawal oleh belasan orang tukang pukul. Tentu ada urusan penting. Biasanya, semua urusan, terutama yang mengenai pelanggaran, hartawan itu cukup mengirim jagoan-jagoannya untuk memberi hukuman, menagih hutang dan sebagainya. Mereka yang sudah mengenal cara hidup hartawan ini maklum bahwa hanya satu hal yang mendorong hartawan itu keluar dan menangani sendiri suatu urusan, yaitu urusan yang menyangkut wanita! Setelah menerobos di antara para tamu, kini Phoa Wan-gwe dan para jagoannya telah tiba di ruangan tengah di mana sedang sibuk dipersiapkan upacara pernikahan. Seorang jagoan berteriak lantang,

"Hentikan semua kebisingan musik itu! Lo Cin! Phoa Wan-gwe datang untuk bicara denganmu. Majulah!"

Semua orang menjadi panik dan memandang dengan hati penuh ketegangan. Suara musik berhenti dan nampak Lo Cin, tuan rumah, muncul dari belakang dan setengah berlari menuju ke ruangan itu, mukanya agak pucat, akan tetapi sambil tersenyum ramah dia segera membungkuk dan memberi hormat di depan Phoa Wan-gwe yang memandang dengan sikap congkak karena dia sedang marah sekali, tidak seperti biasanya dia bersikap ramah kepada para penduduk.

"Ah, kiranya Phoa Wan-gwe yang datang! Maafkan bahwa karena tidak diberi tahu sebelumnya, saya tidak keluar menyambut,"

Kata Lo Cin dengan senyum lebar dipaksakan karena diapun dapat melihat bahwa hartawan ini sedang marah dan dia sendiri yang tahu mengapa hartawan itu marah-marah. Hal inilah yang mengecutkan hatinya. Hartawan itu tetap memandang dengan muka keruh, bahkan kini kemarahan berpancar keluar dari sinar matanya.

"Lo Cin, kami datang bukan untuk makan hidangan pestamu, melainkan untuk bertanya mengapa engkau berani melanggar peraturan yang telah disetujui olehmu sendiri? Puluhan kali engkau datang merengek minta bantuan, dan selalu aku mengulurkan tangan membantumu, dengan harapan engkau akan menetapi janji, akan membayar pada waktu yang telah disepakati bersama. Akan tetapi apa kenyataannya? Engkau tidak membayar, hanya mengulur waktu terus menerus, dan sekarang, sedangkan hutangpun tidak dibayar, engkau malah menghamburkan uang untuk pesta pora. Uangku yang kau hamburkan itu! Dan engkau berani mengundang aku untuk bersama-sama makan uangku sendiri!"

Wajah tuan rumah itu menjadi pucat dan tubuhnya gemetar. Dia bukan saja merasa takut sekali, akan tetapi juga merasa malu karena semua tamu berkumpul mendengarkan ucapan itu.

Dan diapun tahu bahwa kemarahan hartawan itu sama sekali bukan hanya karena dia belum membayar hutang-hutangnya. Sama sekali tidak. Kalau hanya itu persoalannya, Phoa Wan-gwe tidak akan semarah itu dan juga tentu hanya akan menyuruh orang-orangnya datang menagih. Dia teringat akan ucapan seorang di antara jagoan-jagoan hartawan itu yang pernah disampaikan kepadanya bahwa Phoa Wan-gwe menginginkan Cun Si, anak perempuannya! Hal inilah yang mendorongnya untuk cepat-cepat merayakan pernikahan puterinya itu, yang sudah ditunangkan dengan seorang pemuda tani dari dusun lain. Dia harus cepat-cepat menikahkan puterinya sebelum Phoa Wan-gwe sempat mengajukan pinangan atau minta sendiri kepadanya! Dan itulah agaknya yang menyebabkan Phoa Wan-gwe marah-marah sekarang ini.

"Harap tuan suka memaafkan saya,"

Katanya dengan suara gemetar.

"Seperti tuan ketahui, hasil panen kemarin payah, bahkan untuk dimakan keluarga kami sendiripun kurang, panen itu rusak oleh hama, juga oleh air yang terlalu banyak dan karena hasilnya dicuri orang di waktu malam. Adapun pernikahan ini.... kami dapatkan dari hasil pinjaman sana-sini dan bantuan saudara-saudara kami di dusun-dusun lain...."

"Alasan yang dicari-cari!"

Bentak hartawan itu dan ketika dia menengok dan memandang pengantin perempuan yang nampak ketakutan itu kini dipeluk oleh pengantin pria yang bersikap seperti hendak melindungi, hatinya semakin panas. Gadis itu dalam pakaian pengantin nampak semakin manis dan menggairahkan.

"Karena engkau bisa memperoleh pinjaman dari orang lain, lalu memandang rendah kepadaku, ya? Pendeknya, sekarang juga kau harus dapat membayar hutang-hutangmu, kalau tidak, rumah ini dan segala isinya akan kami sita dan kau sekeluargamu harus keluar dari sini!"

"Tuan Phoa.... kasihanilah kami.... setidaknya tunggulah sampai selesai upacara pernikahan anak kami dan setelah itu...."

"Tidak! Harus sekarang diselesaikan! Kesabaranku sudah habis!"

Kata pula hartawan itu.

"Tuan Phoa, kasihanilah kami....!"

Isteri Lo Cin meratap dan menjatuhkan diri berlutut di depan hartawan itu. Lo Cin juga menjatuhkan diri berlutut.

"Persetan dengan bujuk rayumu!"

Hartawan itu membentak dan dengan kakinya mendorong tubuh Lo Cin sampai terjengkang.

"Bayarlah atau kami akan melakukan kekerasan!"

Sementara itu, para tamu menjadi pucat dan mereka tidak mau ikut terlibat, maka mereka lalu menjauhkan diri, keluar dari ruangan itu, berkelompok di luar rumah, bahkan ada sebagian yang cepat pulang karena mereka inipun merasa masih mempunyai hutang kepada Phoa Wan-gwe dan takut kalau-kalau mereka kebagian kemarahan hartawan itu.

Melihat betapa ayah ibunya berlutut di depan hartawan itu dan ayahnya yang kena tendang itu sudah berlutut kembali, pengantin perempuan itupun menangis dan menjatuhkan diri berlutut di belakang ayahnya. Calon suaminya juga berlutut di sampingnya, memandang bingung karena pemuda inipun sudah mengenal akan kekuasaan Phoa Wan-gwe. Dusunnya termasuk wilayah hartawan ini pula. Akan tetapi dia sama sekali tidak tahu dan tidak pernah mengira bahwa hartawan itu menginginkan calon isterinya yang sudah beberapa tahun lamanya menjadi tunangannya. Sementara itu, kepala pengawal Phoa Wan-gwe yang sudah tahu akan suasana yang menguntungkan bagi majikannya, melihat kesempatan terbuka baginya untuk turun tangan dan membuat jasa baik. Dia lalu mendekati Lo Cin, ikut berlutut dan berkata dengan lirih kepada petani itu.

"Lo Cin, kita semua tahu bahwa tuan Phoa adalah seorang yang murah hati dan bijaksana. Beliau marah karena engkau banyak berhutang kepadanya, sebelum melunasi hutang-hutangmu malah merayakan pernikahan puterimu. Hal ini berarti bahwa engkau kini menghadapi kesulitan karena anak perempuanmu. Karena itu, sudah sepatutnya kalau engkau menyuruh anak perempuanmu membujuk tuan Phoa agar suka mengampunimu. Biarkan anakmu ikut bersama kami dan akan kuatur agar ia dapat menemui dan membujuk tuan Phoa dan aku yakin pasti akan berhasil. Tentang pernikahan, dapat diundurkan untuk beberapa pekan atau beberapa bulan."

Berkata demikian, kepala pengawal ini memandang dan mengedipkan matanya kepada tuan rumah dengan arti yang tak mungkin disalahtafsirkan lagi.

"Ahh.... ahhh....!"

Lo Cin mengeluh dengan bingung, sebentar menoleh ke arah puterinya yang berlutut di belakangnya, memandang isterinya dan memandang Phoa Wan-gwe yang kelihatannya tidak tahu manahu tentang bisikan kepala pengawalnya itu. Akan tetapi Cun Si, pengantin wanita yang tadi menangis sambil menundukkan mukanya, ikut memperhatikan ucapan kepala pengawal itu dan iapun mengerti. Ia sudah banyak mendengar tentang hartawan itu yang suka mengganggu anak bini orang, maka iapun tahu apa maksudnya kepala pengawal itu, menyuruh ayahnya mengirim ia untuk pergi membujuk hartawan itu agar suka mengampuni ayahnya. Pernikahan diundur sampai beberapa pekan atau bulan! Ini saja sudah cukup baginya untuk dapat membayangkan atau menduga apa yang harus ia lakukan.

"Tidak....!"

Tiba-tiba ia berkata lirih akan tetapi dengan muka pucat, mata terbelalak dan ia memegang lengan calon suaminya.

"Tidak, aku tidak mau ke sana....! Ayah, aku tidak mau. Aku lebih baik mati sekarang juga...."

Dan iapun menangis. Calon suaminya segera merangkulnya tanpa malu-malu lagi dan pemuda inipun maklum mengapa calon isterinya begitu ketakutan dan berduka.

"Tenanglah, tidak ada seorangpun yang akan dapat mengganggumu seujung rambut saja selama aku masih hidup!"

Sungguh gagah sekali ucapan itu, terdorong oleh tanggung jawab untuk melindungi dan membela isterinya. Akan tetapi ucapan itu membuat merah muka si kepala pengawal. Dia meloncat berdiri dan dengan alis berkerut dia menghampiri mempelai pria.

"Apa kau bilang? Engkau menjadi pembela gagah berani, ya? Kalau begitu, hayo keluarkan uang, dan bayar semua hutang mertuamu. Itu baru gagah namanya!"

Dan kakinya menendang ke depan. Pemuda itu hanyalah seorang pemuda tani biasa, walaupun tubuhnya kuat karena pekerjaannya yang kasar, namun dia tidak pandai ilmu silat. Ketika ditendang, tangannya menangkis begitu saja, akan tetapi tetap saja tendangan itu mengenai punggungnya.

"Bukkk....!"

Tubuh mempelai pria itu terguling-guling.

"Jangan....!"

Mempelai wanita menjerit dan menubruk tubuh calon suaminya yang kini berusaha untuk bangkit itu. Ada darah keluar dari mulut pemuda itu.

"Bocah lancang ini perlu dihajar!"

Post a Comment