Halo!

Suling Naga Chapter 69

Memuat...

Akan tetapi, dia kemudian mendengar teriakan-teriakan anak buahnya. Dengan ogah dan marah dia keluar meninggalkan korbannya dan terkejutlah dia melihat betapa seorang kakek hwesio yang tua bergerak dengan amat cepatnya menghindarkan semua serangan para Pendeta Lama. Bahkan dia dibuat tertegun melihat betapa sekali menggerakkan tubuhnya, pendeta tua itu berhasil membuat dua puluh orang anak buahnya berpelantingan. Maklum bahwa dia berhadapan dengan orang yang berkepandaian, yang bukan merupakan lawan para anak buahnya, Sai-cu Lama lalu menghampiri tempat itu. Kini dia memandang Tiong Khi Hwesio dengan teliti, mencoba untuk mengingat-ingat. Akan tetapi dia merasa heran dan penasaran karena dia belum pernah mengenal hwesio tua renta ini.

"Benar, aku adalah Sai-cu Lama. Setelah mengenalku, engkau masih berani membikin kacau di perkampungan kami. Apakah kau sudah bosan hidup?"

Tiong Khi Hwesio tersenyum halus dan ramah.

"Sai-cu Lama, pinceng datang sebagai seorang sahabat, bukan hanya karena kita berdua sama-sama murid Sang Buddha, akan tetapi juga terutama sekali karena kita berdua sama-sama manusia yang wajib saling memberi ingat kalau ada yang salah tindak."

"Dan kau datang untuk memberi peringatan itu?"

Sai-cu Lama berkata, alisnya yang tebal keriting itu berkerut dan mulutnya menyeringai seperti seekor singa mencium bau kelenci. Tiong Khi Hwesio mengangguk.

"Omitohud, betapa sukarnya bagi kita untuk mengenal diri sendiri dan melihat kesalahan-kesalahan sendiri. Selalu harus ada orang lain yang membantu memberi ingat. Sai-cu Lama, tanpa kuberitahu sekali-pun, kiranya engkau sudah tahu bahwa saat ini engkau sedang melakukan penyelewengan dari pada jalan kebenaran seperti yang sudah sama-sama kita pelajari. Engkau menghimpun kawan-kawanmu ini, terkenal di Tibet sebagai kelompok yang selalu mengganggu ketenteraman kehidupan rakyat. Merampok, mengganggu wanita, membunuh, mengumpulkan kekayaan. Bukankah semua itu merupakan perbuatan yang bahkan harus dipantang oleh orang-orang yang sudah menggunduli kepala dan mengenakan jubah pendeta seperti kita? Sai-cu Lama, pinceng datang untuk memberi ingat kepada kalian semua agar kalian sadar dan mengubah kesesatan itu mulai saat ini juga, dan kembali ke jalan kebenaran."

"Keparat!"

Sai-cu Lama membentak, lalu dia tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, siapakah engkau ini yang berani sekali datang untuk memperingatkan dan mengancam aku? Ha-ha, orang yang bosan hidup, apakah nyawamu rangkap?"

Mendengar ucapan dan tawa pemimpin mereka, para pendeta Lama yang mengurung tempat itupun tertawa dan mereka merasa yakin bahwa sebentar lagi mereka akan melihar hwesio tua itu pasti akan dihajar oleh pemimpin mereka sampai mampus.

"Pinceng tidak mengancam, melainkan ingin menyadarkan kalian dari pada kesesatan."

"Hemmm, tua bangka tak tahu diri. Siapakah engkau? Dari perguruan mana? Dari pertapaan mana?"

Sai-cu Lama bertanya, teringat bahwa kakek itu tadi telah memperlihatkan kesaktiannya.

"Omitohud...."

Tiong Khi Hwesio menarik napas panjang, merasa bahwa agaknya tidak mungkin baginya mengingatkan orang seperti Sai-cu Lama ini.

"Pinceng hanyalah seorang perantau biasa, tanpa per-guruan bahkan tidak mempunyai pertapaan, nama pinceng Tiong Khi Hwesio. Pinceng mendengar tentang gerakan dari kelompok Lama Jubah Merah dan mendengar ratapan rakyat, maka terpaksa pinceng datang ke sini untuk berusaha menyadarkan kalian. Muka yang seperti singa itu nampak beringas dan bengis.

"Tiong Khi Hwesio, engkau ini sudah tua bangka, umurmu sudah tidak berapa lama lagi akan tetapi tindakanmu masih jahil dan mulutmu masih usil! Tindakan-tindakan kami sama sekali tidak ada sangkut-pautnya denganmu, akan tetapi engkau berani tidak memandang mata kepadaku dan berani memperingatkan aku. Dengarlah. Aku mau mendengarkan nasihatmu itu dan mau membubarkan kelompok kami ini kalau engkau mampu mengalahkan aku!"

Terdengar suara di sana-sini mentertawakan Tiong Khi Hwesio. Hwesio ini menarik napas panjang.

"Siancai...., pinceng datang bukan untuk mempergunakan kekerasan."

"Mau mempergunakan kekerasan atau tidak, masukmu ke perkampungan kami sudah merupakan tindak kekerasan, yang melanggar dan untuk itu, engkau sebagai orang luar sudah dapat dijatuhi hukuman mati. Nah, majulah, kalau engkau tidak mau mati konyol. Aku sendiri tidak suka membunuh orang yang tidak mau melawan. Tiong Khi Hwesio kini memandang dan sepasang matanya mencorong penuh teguran.

Post a Comment