"Bagaimana hati kita dapat tenteram dan damai kalau di sekitar kita terdapat srigala-srigala yang haus darah? Haruskah kita mendiamkan saja srigala-srigala itu menyerang, menerkam dan membunuh banyak orang?"
"Sudahlah, sudahlah.... pinceng akan menemui dan membujuk mereka...."
Akhirnya dia berkata. Para pendeta Lama itu segera menyatakan terima kasih dan rasa bersyukur mereka. Dengan penuh perasaan gelisah karena dia lagi-lagi harus menghadapi kekerasan, Tiong Khi Hwesio yang dahulunya bernama Wan Tek Hoat dan berjuluk Si Jari Maut itu, segera mendatangi perkampungan para Lama Jubah Merah.
Dan apa yang didapatinya di sini membangkitkan jiwa pendekarnya yang sejak lama tidur. Bagaimana dia dapat berdiam diri saja menyaksikan betapa para pendeta Lama ini menjadi budak-budak nafsu mereka yang nampak jelas di dalam perkampungan mereka? Mereka itu berpesta pora atas hasil perampokan-perampokan dan penculikan-penculikan mereka, mengumpulkan harta rampasan, minum-minum sampai mabok dan bahkan ada yang sedang menghina wanita-wanita culikan dengan semena-mena. Tentu saja Tiong Khi Hwesio menjadi marah, akan tetapi dia masih berusaha untuk menemui kepala atau pimpinan kelompok Jubah Merah itu. Melihat munculnya seorang hwesio di pintu gerbang mereka, beberapa orang Lama Jubah Merah menyambutnya dengan mulut menyeringai.
"Sobat, apakah engkau datang ingin ikut bersenang-senang dengan kami?"
"Pinceng datang untuk bertemu dan bicara dengan pemimpin kalian, Sai-cu Lama."
"Ha-ha-ha, pemimpin kami sedang bersenang-senang dengan wanita pilihannya yang baru saja kami dapatkan. Beliau tidak suka diganggu pada saat ini. Kalau ada keperluan, bicara dengan kamipun sama saja, kawan. Ada keperluan apakah?"
Tiong Khi Hwesio mengerutkan alisnya yang masih tebal walaupun warnanya sudah putih. Hatiya sedih sekali menyaksikan tingkah polah para pendeta Lama ini, yang sungguh berbeda dan bahkan bertolak belakang dengan jubah mereka dan kepala gundul mereka.
"Maafkan, pinceng tidak dapat bicara dengan siapapun juga kecuali dengan Sai-cu Lama dan dia harus keluar menyambut pinceng sekarang juga. Kalau tidak ada di antara kalian yang mau memanggilkannya, biarlah pinceng sendiri yang akan mencarinya."
Berkata demikian, Tiong Khi Hwesio melanjutkan langkah kakinya memasuki perkampungan itu.
"Heii, tunggu dulu!"
Dua orang pendeta Lama cepat menghadang dan muka mereka menunjukkan kemarahan. Lenyaplah senyum mereka tadi yang ramah, terganti pandang mata penuh curiga. Terpaksa Tiong Khi Hwesio berhenti dan menghadapi dua orang itu dengan sikap tenang.
"Siapakah kamu, berani. hendak mengganggu pimpinan kami? Kamu tidak boleh mengganggu dan pergilah dari sini sebelum kami mempergunakan kekerasan!"
"Omitohud!"
Tiong Khi Hwesio menyembah dengan kedua tangan di depan dada.
"Pinceng datang bukan untuk mencari pertentangan, melainkan hendak bicara dengan pimpinan kalian. Panggil dia ke luar."
"Tidak! Apakah kamu belum mengenal para Lama Jubah Merah dan datang mencari penyakit?"
Seorang Lama yang bertubuh tinggi besar dan nampak bengis wajahnya membentak dengan sikap mengancam.
"Pergilah sekarang juga. Kami masih memandang kedudukanmu sebagai seorang hwesio, Pergilah atau terpaksa aku akan melemparmu keluar!"
Tiong Khi Hwesio menarik napas panjang.
"Siancai.... sekali lagi pinceng katakan bahwa pinceng tidak mencari permusuhan."
Lalu dia mengerahkan khi-kang dan berteriak, suaranya lantang menembus udara dan terdengar sampai jauh di seluruh penjuru perkampungan itu dan mengejutkan semua orang,
"Sai-cu Lama, keluarlah, pinceng hendak bicara denganmu!"
Melihat ini, dua orang pendeta Lama itu menjadi marah dan mereka sudah menubruk dan hendak menangkap hwesio tua yang datang membuat kacau itu. Akan tetapi, mereka berdua menangkap angin karena yang ditubruk tahu-tahu sudah lenyap dari depan mereka! Tentu saja mereka kaget bukan main dan para pendeta Lama yang lain kini sudah datang mengepung Tiong Khi Hwesio yang tadi dapat mengelak dengan mudah dari tubrukan dua orang lawan itu.
"Tangkap pengacau! Pukul roboh dia!"
Terdengar teriakan-teriakan dan kini para pendeta yang semua memakai jubah merah itu mengepung dan menyerang Tiong Khi Hwesio dari segala jurusan. Mereka itu rata-rata memiliki ilmu silat yang amat tinggi, Menghadapi serangan dari semua jurusan ini, Tiong Khi Hwesio sama sekali tidak menjadi gentar. Kalau serangan itu dilakukan terhadap dirinya sepuluh tahun yang lalu saja, tentu dia akan mengamuk dan merobohkan mereka semua tanpa ampun lagi.
Akan tetapi, Tiong Khi Hwesio sekarang ini sama sekali berbeda dengan Wan Tek Hoat atau Si Jari Maut. Selama beberapa tahun ini dia hidup di dekat kakek hwesio yang menyadarkannya, dia telah mampu mengalahkan kekerasan hatinya. Kini tidak mudah hatinya tersinggung kemarahan atau emosi yang lain lagi. Dia selalu tenang dan memandang segala hal yang terjadi dengan sinar mata penuh pengertian sehingga keadaan batinnya seperti air telaga yang dalam dan selalu tenang, sikapnya halus dan wajahnya selalu tersenyum. Terjangan yang dilakukan dengan kemarahan oleh para pendeta Lama berjubah merah itu, hanya disambutnya dengan elakan dan tangkisan. Gerakannya sedemikian cepatnya sehingga beberapa kali dia seperti menghilang saja dari kepungan, membuat para pengepung terheran-heran dan keadaan menjadi semakin kacau balau.
"Sai-cu Lama, apakah engkau termasuk orang yang berani berbuat akan tetapi tidak berani bertanggungjawab?"
Kembali Tiong Khi Hwesio berteriak dengan pengerahan khi-kangnya ketika dia kembali berhasil meloncat keluar dari kepungan dan membiarkan para pengeroyoknya kebingungan mencari-carinya.
Mendengar suaranya, kembali para pendeta yang kini jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang itu sudah menerjang dan menubruknya, bahkan sebagian di antara mereka ada pula yang menggunakan senjata. Tiong Khi Hwesio sedang berdiri tegak ketika dua puluh orang pendeta itu menerjangnya dari depan, belakang dan kanan kiri. Karena tidak mungkin mengelak atau menangkis semua serangan itu satu demi satu, Tiong Khi Hwesio tidak mengelak dan tiba-tiba saja dari mulutnya terdengar suara melengking, kedua kakinya terpentang dan kedua lengannya juga dikembangkan lalu diputar di sekeliling tubuhnya. Akibatnya, para pengeroyok itu terpelantingan seperti diterjang angin puyuh yang amat kuat! Terkejutlah kini para pengeroyok itu.
Tak mereka sangka bahwa hwesio yang datang ini memiliki kesaktian yang demikian hebat, dan sebagai orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi, mereka maklum bahwa kalau lawan itu menghendaki, tentu mereka semua sudah roboh dan terluka berat, tidak hanya berpelantingan seperti itu. Timbul kekhawatiran hati mereka. Jangan-jangan orang ini sahabat dari pemimpin mereka yang mempuyai keperluan ingin bertemu dengan Sai-cu Lama. Akan tetapi mereka tidak perlu ragu-ragu lagi karena pada saat itu terdengar suara keras dan mengandung getaran parau seperti suara seekor singa mengaum. Mendengar suara ini, para pendeta Lama cepat-cepat menahan napas, bahkan ada yang menutupi kedua telinga karena tidak tahan mendengar suara yang mengandung khi-kang amat kuat dan yang menggetarkan jantung mereka itu.
"Hwesio tolol dari manakah berani main gila di depan Sai-cu Lama!"
Demikian bentakan suara itu dan tahu-tahu di situ telah muncul seorang kakek bertubuh tinggi besar dan berperut gendut sekali,
Kepalanya gundul dan jubahnya bukan hanya merah seperti yang dipakai para pendeta di situ, melainkan kotak-kotak berwarna merah kuning. Biarpun kepalanya gundul plontos licin, namun mukanya penuh cambang bauk seperti muka singa karena dari cambang, sampai semua pipi, kumis dan dagunya penuh rambut yang keriting berwarna agak kekuning-kuningan! Melihat pendeta ini, Tiong Khi Hwesio dengan mudah dapat menduga bahwa tentu inilah orangnya yang berjuluk Sai-cu Lama (Pendeta Lama Muka Singa) itu. Diam-diam dia kagum melihat kakek yang masih membayangkan kegagahan itu, walaupun usianya tentu sudah enam puluh tahun lebih. Memang muka seperti itu pantas sekali kalau memakai julukan Muka Singa. Sejenak hati kakek ini tertegun.
Melihat muka pendeta Lama itu, teringatlah dia akan gurunya yang pertama kali ketika dia masih muda. Gurunya yang pertama adalah seorang kakek yang berjuluk Sai-cu Lo-mo (Iblis Tua Muka Singa) yang memiliki muka seperti Sai-cu Lama ini, penuh cambang bauk yang bagus dan gagah seperti singa. Hanya bedanya, gurunya yang memakai julukan Ki-mo (Iblis Tua) itu adalah seorang gagah perkasa sebaliknya kakek yang memakai julukan Lama (Pendeta Buddha Tibet) ini malah seorang hamba nafsu yang jahat! Jelaslah bahwa manusia tidak dapat diukur dari namanya, julukannya, apa lagi dari pakaiannya. Setelah merasa yakin bahwa dia berhadapan dengan orang yang dicarinya, Tiong Khi Hwesio segera melangkah menghampiri dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada, menjura ke arah kakek bermuka singa itu.
"Omitohud, kalau tidak keliru pinceng berhadapan dengan yang terhormat Sai-cu Lama, benarkah itu?"
Sejenak sepasang mata yang lebar dan penuh wibawa itu memandang Tiong Khi Hwesio penuh selidik. Memang kakek bermuka singa inilah Sai-cu Lama yang amat terkenal di Tibet itu. Mula-mula kakek ini heran mendengar di luar ada orang memanggil-manggil namanya, akan tetapi karena dia sedang sibuk dengan seorang gadis yang dipilihnya di antara para wanita yang diculik, dia tidak memperduli-kan panggilan itu dan menyerahkan kepada anak buahnya untuk menghadapi orang yang berani mengganggu kesenangannya.