Hong Beng cepat berkata untuk menengahi karena juga agaknya dia tidak menghendaki Bi Lan bersikap kasar terhadap kakek yang ternyata selain sakti, juga mengenal banyak tokoh di dunia kang-ouw itu.
"Karena pedang Ban-tok-kiam milik Wan Ceng yang dirampasnya, pincengpun berkewajiban untuk merebutnya kembali. Nona muda, kalau bertemu subomu, katakan bahwa pinceng kelak akan mengantarkan Ban-tok-kiam ke Istana Gurun Pasir kalau berhasil merampasnya dari tangan Sai-cu!"
Setelah berkata demikian, kakek itu berkelebat dan lenyap dari situ dengan kecepatan yang mentakjubkan!
"Locianpwe, siapa engkau? Bagaimana aku harus melapor kepada subo?"
Teriak Bi Lan penasaran sambil melihat ke bawah lereng di mana nampak bayangan kakek itu kecil sekali, tanda dia sudah pergi jauh.
"Katakan Tiong Khi Hwesio yang bicara. Ha-haha!"
Terdengar suara lapat-lapat disusul suara melengking tinggi nyaring seperti tadi. Sejenak dua orang itu diam saja, masih terpesona oleh kehadiran kakek pendeta aneh itu. Akhirnya Hong Beng menarik napas panjang.
"Sungguh hebat! Dalam sekejap mata saja kita bertemu dengan dua orang kakek yang demikian lihainya. Aku yakin bahwa kalau Sai-cu Lama seorang tokoh jahat sekali, sebaliknya Tiong Khi Hwesio itu tentu seorang tokoh tua di dunia persilatan yang agaknya tidak asing dengan keluarga Pulau Es dan dengan penghuni Istana Gurun Pasir. Bahkan agaknya dia mengenal baik subomu dan juga sukongku. Sungguh aneh."
"Kalau saja dia menepati janjinya dan dapat berhasil merebut Ban-tok-kiam. Kalau tidak, bagaimana aku berani menghadap subo?"
"Jangan khawatir, Bi Lan. Bukankah locianpwe tadi mengatakan bahwa untuk bisa menjumpai Sai-cu Lama, kita harus pergi ke kota raja? Mari kita pergi ke sana, sekalian aku harus menunaikan tugas yang diberikan suhu kepadaku di sana."
"Tugas apakah itu? kenapa harus ke kota raja?"
Bi Lan bertanya. Karena dia tidak begitu percaya lagi akan kelihaian pendengarannya, yang terbukti dengan munculnya Sai-cu Lama yang tidak diketahuinya, maka Hong Beng menoleh ke kanan kiri sebelum menjawab. Setelah merasa yakin bahwa di situ tidak ada lain orang, dia berkata lirih,
"Ini merupakan rahasia, Bi Lan, akan tetapi aku percaya kepadamu. Aku ditugaskan ke kota raja untuk melakukan penyelidikan atas diri seorang pembesar tinggi yang dikabarkan kini mempunyai pengaruh yang amat luas di istana dan bahkan mempengaruhi kekuasaan kaisar, mempengaruhi jalannya pemerintahan. Kabarnya pembesar itu mempunyai niat buruk. Aku harus berhati-hati karena pembesar tiu dibantu orang-orang pandai. Bahkan suhu memesan kepadaku agar aku lebih dahulu minta keterangan dari bekas Panglima Kao Cin Liong, yaitu putera tunggal gurumu, Kao Kok Cu, dan juga minta bantuan dari susiok Suma Ceng Liong, adik dari suhu. Nah, karena aku pergi ke kota raja dan engkaupun agaknya harus ke sana untuk mendapatkan kembali pedang subomu, maka sebaiknya kita pergi bersama. Dengan berdua, kita akan lebih kuat dalam menghadapi kesukaran di perjalanan, bukan?"
Bi Lan mengerutkan alisnya.
"Aku sendiri tidak tahu akan pergi kemana setelah aku lari dari suci. Aku hanya mempunyai satu tugas, yaitu mencari pusaka yang sudah kujanjikan kepada suci."
"Pusaka lagi? Pusaka apakah itu?"
"Pusaka itupun sebuah pedang, akan tetapi pedang pusaka yang menurut Sam Kwi amat penting artinya. Namanya Liong-siauw-kiam, yang usianya sudah ribuan tahun, terbuat dari pada kayu yang diukir menjadi suling berbentuk naga yang indah, keras seperti baja karena direndam obat-obatan rahasia jaman dahulu. Pusaka itu bisa ditiup seperti suling, akan tetapi juga dapat dipergunakan sebagai pedang. Dan sepasang mata naga itu terbuat dari batu permata yang tak ternilai harganya. Pusaka itu dahulu pernah menjadi lambang raja-raja Bangsa Khitan, dan kemudian jatuh ke tangan Kaisar Jengis Khan dan menjadi pusaka kerajaan. Akan tetapi kemudian jatuh ke tangan susiok dari Sam Kwi yang bernama Pek-bin Lo-sian. Pusaka itu turun-temurun berada di tangan perguruan Sam Kwi, akan tetapi celakanya, Pek-bin Lo-sian tidak mau menyerahkan pusaka itu kepada Sam Kwi malah memberikannya kepada seorang pendekar!"
"Eh, aneh sekali!"
Kata Hong Beng.
"Karena itu, Sam Kwi mengutus suci dan aku untuk mencari pusaka itu dan merampasnya kembali dari tangan pendekar itu."
"Dan siapakah pendekar itu?"
"Menurut suci, julukannya adalah Suling Naga, mungkin karena dia kini memiliki senjata Liong-siauw-kiam itu, dan katanya dia lihai bukan main. Aku harus mencari Pendekar Suling Naga itu dan merampas pusaka itu seperti sudah kujanjikan kepada suci!"
"Biarpun sucimu telah mengkhianatimu dan bahkan hampir membunuhmu dengan jarum beracun?"
"Janji tetap janji. Ia pernah menolongku dan aku sudah berjanji kepadanya, harus kupenuhi!"
Diam-diam Hong Beng kagum bukan main. Jarang ada orang yang berhati teguh seperti gadis ini.
"Baiklah, akupun akan membantumu mendapatkan kembali Liong-siauw-kiam. Wah, dengan begini kita harus merampas dua batang pedang pusaka, Ban-tok kiam dan Liong-siauw-kiam!"
"Kalau kau keberatan, jangan membantu. Aku pun tidak minta bantuanmu, Hong Beng!"