Halo!

Suling Naga Chapter 62

Memuat...

"Kau maksudkan.... Sam Kwi....?"

"Benar. Aku dan suci adalah murid-murid Sam Kwi yang terdiri dari Raja Iblis Hitam, Iblis Akhirat, dan Iblis Mayat Hidup...."

"Ahh....! Ohhh...."

Hong Beng terbelalak.

"Kenapa kau berkata oh"

Seperti gagu?"

"Aku pernah mendengar bahwa Sam Kwi adalah tiga datuk kaum sesat yang namanya pernah menggegerkan dunia persilatan di barat dan selatan."

"Benar, habis mengapa?"

"Nona...."

"Nanti dulu! Jemu aku mendengar engkau menyebutku nona-nona segala macam. Namaku Bi Lan dan engkau boleh menyebutku Bi Lan atau Siauw-kwi, terserah, akan tetapi jangan nona-nonaan!"

Hong Beng mengangguk-angguk. Kini sikap Bi Lan itu tidak dianggapnya lucu lagi. Pantas sikapnya demikian liar, kiranya gadis ini murid Sam Kwi.

"Bi Lan, kalau sucimu itu murid Sam Kwi, memang tepat. Akan tetapi siapa mau percaya bahwa engkau murid Sam Kwi? Engkau begini.... begini.... polos, jujur dan baik. Sukar dipercaya bahwa kau murid Tiga Iblis itu."

"Percaya atau tidak terserah. Dan bagaimanapun juga, Sam Kwi adalah tiga orang tua yang me-nyelamatkan aku, menjadi pengganti orang tuaku, guru-guruku, dan amat sayang kepadaku."

Hong Beng menggeleng kepala perlahan. Sungguh luar biasa.

"Menurut pendengaranku, Sam Kwi adalah tiga orang datuk kaum sesat yang amat kejam dan jahat. Dan engkau, yang menjadi muridnya, begini baik dan menganggap mereka sebagai orang-orang yang demikian baiknya. Luar biasa. Apakah kau sejak kecil menjadi murid mereka, Bi Lan?"

Gadis itu mengangguk. Wataknya memang polos dan kasar, walaupun kekasaran yang tadinya liar itu sudah menjadi jinak dan tahu aturan semenjak ia digembleng oleh suami isteri sakti Kao Kok Cu dan Wan Ceng.

"Ketika aku berusia sepuluh tahun, aku bersama ayah dan ibu melarikan diri dari selatan karena di sana ada perang pemberontakan yang dibantu pasukan-pasukan Birma. Di tengah perjalanan kami dihadang pasukan Birma yang jahat dan ayah ibu tewas oleh mereka. Aku diselamatkan oleh Sam Kwi dan sejak itu aku diambil murid mereka yang ke dua."

Menceritakan ini, Bi Lan teringat akan kematian orang tuanya dan wajahnya diselimuti awan kedukaan.

"Ah, nasibmu sungguh buruk, Bi Lan. Engkau kehilangan orang tuamu sejak kecil dan terjatuh ke dalam tangan tiga orang datuk sesat yang jahat."

Betapapun jahatnya Sam Kwi, Bi Lan tidak menganggap mereka jahat, apa lagi karena ia tahu betapa besar rasa sayang mereka kepadanya dan betapa ia telah diselamatkan oleh mereka. Karena itu, mendengar celaan ini, ia merasa tidak senang dan seketika kedukaannya hilang. Bagi murid Sam Kwi memang tidak boleh tenggelam ke dalam kedukaan, demikian ajaran mereka.

"Ketiga suhuku tidak jahat!"

Bantahnya.

"Sudahlah, Hong Beng. Engkau minta aku bicara tentang diriku saja, sedangkan engkau belum bercerita tentang dirimu. Engkau tentu seorang pendekar, bukan?"

Hong Beng menggeleng kepala dan alisnya berkerut.

"Tidak banyak perbedaan antara nasibmu dan nasibku, Bi Lan. Ketika aku berusia sebelas tahun, terjadi malapetaka menimpa ayah ibuku. Mereka tewas di tangan pembesar di Siang-nam. Aku sendiri hampir mereka bunuh, akan tetapi muncul seorang pendekar sakti yang menyelamatkan aku dan kemudian aku diambil sebagai murid. Guruku itu bernama Suma Ciang Bun, seorang pendekar keluarga Pulau Es.

"Ihhh....!"

Bi Lan meloncat bangkit ke belakang dan memandang tajam. Melihat sikap gadis itu, Hong Beng terkejut dan diapun bangkit berdiri.

"Kenapa, Bi Lan?"

Hong Beng bertanya heran dan khawatir.

"Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, dia adalah musuh besar tiga orang guruku! Bahkan dahulu suci diutus oleh mereka untuk mencari pendekar itu dan untuk membalaskan sakit hati mereka karena mereka pernah dikalahkan oleh pendekar itu. Akan tetapi sayang, pendekar itu telah meninggal dunia. Jadi engkau termasuk murid Pulau Es?"

"Suhuku adalah cucu dari Pendekar Super Sakti yang bernama Suma Han, akan tetapi menurut suhu, Pulau Es sudah lenyap bersama kakek itu. Aku belum pernah melihat Pulau Es. Bi Lan, kuharap engkau sebagai murid Sam Kwi tidak akan memusuhi anak murid Pulau Es yang tidak tahu menahu tentang permusuhan antara tiga orang suhumu dengan mendiang Pendekar Super Sakti."

Bi Lan menggeleng kepala.

"Aku tidak pernah berjanji kepada mereka untuk memusuhi keturunan Pulau Es. Akan tetapi suci yang pernah berkata bahwa ia akan membasmi semua keturunan Pulau Es untuk membalaskan kekalahan Sam Kwi. Hemm, kiranya engkau masih murid dari cucu pendekar itu, pantas engkau lihai dan engkaupun berwatak pende-kar. Hong Beng, aku tidak memusuhimu, hanya terkejut mendengar engkau murid keluarga Pulau Es. Belum kau ceritakan, engkau dari mana dan hendak pergi ke mana."

"Aku diutus oleh suhu untuk suatu tugas penting di kota raja, akan tetapi aku lebih dulu pergi ke selatan untuk mengunjungi makam ayah ibuku. Malam tadi aku bermalam di makam itu dan pagi tadi kebetulan bertemu dengan engkau dengan sucimu. Dan engkau sendiri, hendak pergi ke manakah?"

"Aku dan suci juga menerima tugas dari Sam Kwi untuk mencari dan merampas kembali sebuah pusaka. Sebetulnya, suci yang melaksanakan tugas-tugas itu, dan aku sudah berjanji untuk memban-tu suci."

"Satu lagi pertanyaanku, Bi Lan. Pedangmu itu....! Sungguh mati aku merasa ngeri melihat pedang itu. Sebuah pedang pusaka yang luar biasa, mengandung hawa yang menyeramkan. Apakah pedang itu pemberian Sam Kwi kepadamu?"

Bi Lan meraba gagang pedang di balik bajunya dan tersenyum. Manisnya kalau ia tersenyum!

"Bukan, Hong Beng. Ini pemberian atau lebih tepat lagi, dipinjamkan oleh subo kepadaku."

"Subomu? Ah, maksudmu tentu isteri seorang di antara Sam Kwi."

"Bukan! Belum kuceritakan tadi kepadamu bahwa selain Sam Kwi, aku masih mempunyai seorang suhu dan subo lain yang sama sekali tak boleh disamakan dengan Sam Kwi. Mereka adalah penolong-penolongku dan juga guru-guruku yang sangat kuhormati. Ketahuilah, ketika aku menjadi murid Sam Kwi, yang melatih aku dalam ilmu silat bukan Sam Kwi sendiri melainkan suciku, Bi-kwi. Dan suci telah sengaja melatih aku secara keliru, menyelewengkan latihan-latihan itu sehingga aku hampir menjadi gila karena keliru latihan. Untung aku bertemu dengan suhu dan subo itu yang mengobatiku, dan melatihku selama setengah tahun. Dan ketika kami saling berpisah, subo memberi pinjam pedangnya ini dan kelak aku akan mengembalikannya kepada mereka di Istana Gurun Pasir."

Kini Hong Beng melonjak kaget, matanya terbelalak memandang wajah gadis itu.

"Apa kau bilang tadi? Istana Gurun Pasir? Gurumu itu....?"

"Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya."

"Ahhh....! Aku telah bersikap kurang hormat....!"

Hong Beng lalu menjura kepada Bi Lan. Gadis itu tertawa.

"Hi-hik, apa-apaan kau ini Hong Beng? Apakah penghormatan itu dilakukan karena sebuah nama?"

"Tentu saja. Nama besar dan nama baik mendatangkan perasaan menghor-mat. Kiranya engkau menjadi murid pula dari locianpwe Kao Kok Cu yang sakti! Luar biasa sekali! Suhuku pernah bercerita kepadaku tentang pendekar sakti itu yang membuat hatiku kagum bukan main. Bahkan suhu memesan kepadaku agar aku pergi mencari puteranya yang bernama Kao Cin Liong. Akan tetapi bagaimana pedang milik isteri pendekar sakti itu begitu.... begitu.... mengeri-kan?"

"Subo juga mengatakan bahwa pedang ini bukan pedang sembarangan dan memiliki hawa yang mengerikan, namanya Ban-tok-kiam dan subo melarang aku menggunakan pedang ini sembarangan saja, hanya boleh dipergunakan untuk membela diri. Memang hebat dan kurasa umurnya sudah amat tua. Lihat, bukankah pedang ini hebat bukan main?"

Dicabutnya pedang Ban-tok-kiam itu dari sarungnya dan Hong Beng merasa bulu tengkuknya meremang melihat sinar pedang yang hijau kehitaman dan mengandung hawa menyeramkan itu. Dengan ngeri dia membayangkan entah sudah berapa banyak darah manusia diminum pedang ini, dan entah berapa banyak nyawa diantar ke alam baka.

"Omitohud....! Pedang yang hebat!"

Tiba-tiba saja terdengar suara orang dan tahu-tahu di depan Bi Lan sudah berdiri seorang kakek bertubuh tinggi besar gendut, berkepala gundul dan mengenakan jubah yang biasa dipakai oleh pendeta Lama dari Tibet, yaitu jubah yang berkotak-kotak kuning dan merah.

Post a Comment