Halo!

Suling Emas Naga Siluman Chapter 74

Memuat...

Kini, setelah pasukan Nepal menguasai Lhagat, kota itu menjadi semacam benteng dan gedung itu dipakai oleh panglima bala tentara Nepal yang melakukan penyerbuan ke daerah Tibet, yaitu panglima wanita yang kebetulan bertemu dengan Ci Sian itu, ialah ibu dari gadis cantik bersama Siok Lan. Setelah tinggal di dalam gedung di kota Lhagat itu sebagai tamu dan sahabat Siok Lan, kemudian mereka berdua bercakap-cakap panjang lebar, barulah Ci Sian mengerti mengapa Siok Lan suka kepadanya dan bersahabat dengannya. Kiranya Siok Lan adalah seorang gadis peranakan, ibunya seorang puteri Nepal sedangkan ayahnya seorang berbangsa Han yang menurut Siok Lan adalah seorang pendekar besar yang tak pernah dilihatnya dan juga Ibunya tidak pernah menyebut siapa nama pendekar itu.

"Aku hanya diberi nama bangsamu di samping nama Nepal, yaitu Siok Lan, dan aku sendiri tidak tahu siapa nama she (nama keturunan) Ayah kandungku itu,"

Kata gadis itu dengan nada kesal.

"Ibu amat keras hati dan tidak pernah mau bercerita tentang Ayah kandungku. Bahkan ketika Ayah tiriku masih hidup, dia pun tidak pernah mau bercerita tentang Ayahku yang sebenarnya."

"Ayah tirimu....?"

Ci Sian bertanya, heran dan juga tertarik. Siok Lan memegang tangan Ci Sian dan menarik napas panjang.

"Ibu melarang aku bercerita tentang ini, dan aku pun tidak, pernah bicara kepada orang lain tentang riwayat kami ini, akan tetapi aku suka kepadamu dan kau kuanggap adik sendiri, Ci Sian. Dengarlah Ibuku adalah seorang wanita perkasa, akan tetapi bukan bangsawan, melainkan puteri seorang pendeta yang sejak kecil mempelajari ilmu-ilmu silat. Ibu menikah dengan seorang pangeran Nepal, dan karena ibu pandai ilmu perang, maka dia lalu menduduki pangkat dalam kemiliteran. Ketika aku terlahir dan sudah agak besar, aku hanya tahu bahwa Ibu adalah isteri pangeran Nepal. Akan tetapi aku sejak kecil memakai pakaian anak bangsa Han. Kemudian Ibu mengatakan bahwa pangeran yang menjadi suaminya itu adalah Ayah tiriku, sedangkan Ayah kandungku adalah seorang pendekar Han. Hanya itulah! Ibu tidak mengatakan siapa pendekar itu dan apakah dia masih hidup...."

Siok Lan tampak berduka, kemudian melanjutkan.

"Karena wajahku adalah wajah wanita Han, juga kulitku, maka aku merasa terasing dan tidak mempunyai teman. Aku tekun belajar ilmu silat dari Ibu, akan tetapi aku tidak pernah hidup bahagia di kalangan Istana Nepal. Ada bisik-bisik bahwa aku adalah anak haram, bahwa aku adalah berdarah bangsa lain dan sebagainya. Maka, ketika Ibu memimpin tentara menyerbu Tibet, aku ikut! Dan aku pun ikut bertempur! Dan di sini aku bertemu dengan engkau, betapa menyenangkan hati!"

Ci Sian yang kini mengerti mengapa gadis itu suka bersahabat dengan dia, yang dianggap merupakan orang sebangsa, dan pula juga sama-sama suka ilmu silat, bahkan puteri panglima itu agaknya kagum akan ilmu silatnya yang lebih tinggi, lalu bertanya sambil lalu,

"Akan tetapi mengapa tentara Nepal menyerbu ke sini?"

Dan dengan hati-hati ditambahnya,

"Dan mengapa pula pasukan Kerajaan Ceng kabarnya dikurung di lembah?"

Sepasang mata itu nampak bercahaya penuh semangat, seperti mata ibunya yang menjadi pangllma itu.

"Tentu saja! Sejak dahulu Tibet memiliki hubungan batin yang erat dengan Nepal, dan boleh dibilang Tibet merupakan daerah yang tunduk kepada Nepal. Akan tetapi semenjak Tibet diduduki dan ditaklukkan oleh Kerajaan Ceng di timur, sikap Tibet tidak bersahabat, bahkan sering memusuhi Nepal. Kedudukan Nepal agak kacau oleh seorang koksu yang ternyata seorang jahat yang hendak memberontak, maka selama itu kami diam saja. Kini, setelah kami dapat menghimpun kekuatan, di bawah pimpinan Ibuku kami menyerbu untuk menghajar orang-orang Tibet. Eh, tahu-tahu pasukan Kerajaan Mancu di negerimu itu mencampuri, tentu saja kami tidak tinggal diam."

Mendengar ini, Ci Sian yang tidak ingin mencampuri urusan perang, juga yang tidak tahu apa-apa tentang politik, diam saja. Bahkan dia berpura-pura menaruh simpati karena dia ingin memperoleh kepercayaan agar dia mendapat kesempatan menyelidiki dan mencari Lauw piauwsu, satu-satunya orang yang agaknya dapat menunjukkan di mana adanya ayah kandungnya. Kota Lhagat memang sudah mulai ramai dan biasa kembali setelah kini perang tidak lagi terjadi di daerah itu. Pasukan Tibet telah didesak mundur terus sampai jauh masuk ke daerah Tibet sendiri, sedangkan pasukan yang tidak berapa kuat itu masih menanti-nanti bantuan dari timur, dari Kerajaan Ceng.

Sementara itu, pasukan Ceng yang dikurung di lembah bukit juga tidak mampu menyerbu keluar, maka keadaan untuk sementara dapat dikatakan tenang, sungguhpun sewaktu-waktu diharapkan akan meledak pertempuran besar lagi, baik dari pasukan yang terkurung itu kalau menyerbu keluar kepungan maupun kalau datang bala bantuan dari Kerajaan Ceng. Sementara itu, panglima wanita itu telah mendatangkan bala bantuan pula dari Nepal untuk sewaktu-waktu mengadakan pukulan terakhir, menyerbu sampai ke ibu kota Tibet. Karena keadaan menjadi tenang kembali, kota Lhagat mulai ramai, para pedagang mulai berani berdagang, para pemburu mulai lagi bekerja dan para petani mulai lagi berladang. Juga ternyata kini oleh Ci Sian betapa sebenarnya Siok Lan tidak membohong,

Bahwa Ibu gadis itu amat keras terhadap pasukan-pasukannya dan setiap kali terdapat gangguan pasukan yang menyeleweng dan melakukan kejahatan, terutama perkosaan, tentu akan dihukum berat. Namun, tentu saja kadang-kadang sering kali terjadi pelanggaran-pelanggaran. Maklum dalam keadaan perang di mana hawa napsu merajalela menguasai hati semua manusia. Ketika dia ditanya oleh Siok Lan, Ci Sian juga hanya mengatakan bahwa namanya Ci Sian bahwa dia pun tidak pernah melihat ayah bundanya dan bahwa dia tadinya ikut dengan kakeknya dan kakeknya itu tewas ketika mereka mengadakan perantauan di daerah Himalaya. Diceritakannya bahwa dia bertemu dengan Yeti dan kemudian dia berguru kepada seorang pertapa aneh yang berjuluk See-thian Coa-ong. Mendengar disebutnya nama ini, Siok Lan berseru girang,

"Ah, sudah kuduga bahwa engkau tentu murid pertapa aneh itu! Tentu Ibu pun sudah menduganya, maka dia mau mengampunimu!"

"Eh, kau mengenal Guruku?"

"Siapa tidak pernah mendengar nama See-thian Coa-ong? Dia itu orang Nepal, akan tetapi kata Ibu, sejak muda dia merantau dan bertapa di daerah Himalaya. Ilmu kepandaiannya hebat sekali, kata Ibu, dan agaknya, Ibu mengingat dialah maka Ibu bersikap lunak terhadapmu, Ci Sian. Kalau tidak demikian, kiranya engkau tentu telah dibunuhnya. Ibu keras sekali terhadap musuh. Ceritakan kepadaku tentang orang aneh itu, Adikku, kabarnya dia itu.... eh, kawin dengan ular?"

Ci Sian tertawa.

"Mana ada manusia kawin dengan ular, Enci Lian? Suhu itu manusia biasa, hanya dia suka bertapa dan mempelajari ilmu, dan.... kesukaannya yang lain adalah mengadu ilmu, ilmu apa saja! Memang dia ahli menjinakkan ular, akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa dia kawin dengan ular!"

"Soal ilmu perularan ini di Nepal tidak asing lagi, Adik Sian. Akan tetapi aku sendiri selalu takut, ngeri dan jijik terhadap ular. Bukankah binatang itu jahat dan berbahaya sekali?"

"Tidak lebih jahat dan berbahaya daripada manusia, Enci Lian."

"Mengapa kau berkata demikian?"

"Ular tidak pernah pura-pura. Sebagai sahabat dia setia dan sebagai musuh dia jujur dan tidak curang seperti manusia."

Mereka lalu bicara tentang ilmu silat dan dengan sejujurnya karena dia pun mulai merasa suka kepada Siok Lan, Ci Sian memberi petunjuk dalam hal ilmu silat kepada teman barunya ini sehingga hubungan mereka semakin akrab.

Setelah tinggal selama beberapa hari di Lhagat, Ci Sian mendengar berita yang amat menggelisahkan semua orang, terutama sekali golongan atas, para pimpinan pasukan Nepal, yaitu bahwa ada seorang tokoh besar, seorang jenderal yang berilmu tinggi dari Kerajaan Ceng hendak datang melakukan penyelidikan ke Lhagat dengan tugas untuk menolong dan membebaskan pasukan Ceng yang terkepung di lembah itu. Bahkan Siok Lan membuka rahasia siasat ibunya yang menjadi panglima bahwa pengepungan pasukan itu memang sengaja dilakukan untuk memancing datangnya tokoh-tokoh Kerajaan Ceng untuk kemudian ditangkap dan dijadikan sandera untuk memaksa Kerajaan Ceng menarik mundur semua pasukannya dan tidak melakukan "campur tangan"

Terhadap gerakan Nepal untuk menyerbu dan menguasai Tibet.

Ci Sian mulai dipercaya oleh Siok Lan, bahkan panglima wanita yang bernama Puteri Nandini, ibu Siok Lan itu juga tidak begitu memperhatikan Ci Sian yang dianggapnya hanya seorang dara kang-ouw yang baru turun dari perguruannya, apalagi ketika dia mendengar dari puterinya bahwa Ci Sian adalah murid See-thian Coa-ong seperti yang memang te-lah diduganya semula ketika dia melihat dara itu pandai menguasai ular-ular. Begitu sukanya Siok Lan kepada sahabat barunya ini, dan begitu percayanya sehingga tidak jarang Ci Sian diajak oleh puteri panglima itu melakukan perondaan disekitar Lhagat untuk meneliti keadaan dalam tugasnya membantu pekerjaan ibunya. Pada suatu senja, dua orang dara remaja itu melakukan perondaan dan seperti biasa kalau melakukan perodaan seperti itu,

Mereka menggunakan ilmu kepandaian mereka, berloncatan ke atas genteng-ganteng rumah untuk melihat kalau-kalau ada penjahat beraksi, atau untuk mendengar-dengarkan kalau-kalau mereka akan dapat menangkap rahasia apakah Jenderal Ceng atau tokoh pandai pihak musuh sudah ada yang menyelundup ke dalam kota Lhagat. Selagi dia menggunakan gin-kang dengan cepat berkelebat di atas genteng-genteng rumah, tiba-tiba Ci Sian berhenti karena telinganya menangkap rintihan atau keluhan wanita yang sedang keta-kutan, di antaranya tangis seorang bayi! Melihat Ci Sian berhenti lalu mendekati sahabatnya yang berdiri di atas genteng dan kemudian dia mengikuti Ci Sian yang meloncat ke atas genteng rumah di sebelah kiri, lalu keduanya berjongkok di atas sebuah kamar rumah darimana terdengar keluhan dan tangis bayi itu.

"Kalau engkau tetap keras kepala dan menolak, bayimu ini akan kukirim ke neraka lebih dulu!"

Terdengar suara bentakan tertahan, agaknya orang yang membentak itu pun tidak ingin membuat gaduh.

"Jangan.... ohh, Jangan bunuh Anakku...."

Terdengar suara seorang wanita sambil terisak ketakutan. Ci Sian cepat membuka genteng dan mereka berdua mengintai ke dalam.

Apa yang mereka lihat di sebelah dalam kamar itu membuat keduanya terbelalak dengan muka berubah merah dan pandang mata penuh kemarahan! Seorang laki-laki tinggi besar bermuka bengis, pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang perwira rendahan dari pasukan Nepal, sedang mencengkeram baju seorang anak kecil berusia kurang dari setahun, mengangkat anak itu dengan tangan kirinya ke atas sedangkan tangan kanannya yang memegang sebatang golok besar itu diancamkan ke leher anak itu yang seolah-olah hendak disembelihnya! Anak itu meronta-ronta lemah dan menangis. Seorang wanita muda, paling banyak dua puluh dua tahun usianya, berwajah manis dan bertubuh montok karena masih menyusui, berlutut dengan air mata bercucuran dan kedua tangan menyembah-nyembah minta diampuni.

"Engkau masih menolak kehendakku?"

Bentak laki-laki itu bengis.

"Aku mau.... ah, aku mau.... lepaskan Anakku...."

Wanita itu menangis sambil dengan tangan gemetar mulai menanggalkan bajunya. Melihat ini, perwira rendahan itu tertawa, melemparkan anak itu ke atas pembaringan, menancapkan goloknya di atas meja dan dengan buas dia menubruk wanita itu lalu memeluk dan menciuminya penuh nafsu. Wanita itu, demi keselamatan anaknya, hanya merintih dan menangis, tidak berani menolak atau melawan lagi. Tentu saja Ci Sian dan Siok Lan marah bukan main. Akan tetapi sebelum dua orang dara ini mampu melakukan sesuatu, tiba-tiba jendela kamar itu jebol dan dari luar melayang sesosok tubuh yang gerakannya ringan sekali.

Tahu-tahu di situ telah berdiri seorang pria berpakaian perajurit Nepal akan tetapi wajah orang ini tidak dapat nampak jelas dari atas genteng. Perwira yang sedang menciumi wanita itu dan tangannya mulai merobeki pakaian korbannya, terkejut dan kelihatan marah. Akan tetapi, sebelum dia mampu mengeluarkan suara, tangan kiri perajurit itu bergerak dan terdengar suara benda pecah ketika tangan itu menampar dan mengenai kepala perwira itu! Tubuh perwira itu terpelanting dan tewas seketika! Wanita itu terbelalak ketakutan, lalu menghamplri anaknya yang masih menangis, mendekap anaknya sambil menangis sesenggukan. Perajurit yang tubuhnya tidak seberapa besar itu mengeluarkan sekantung uang dan menaruh kantung itu ke atas meja. Terdengar suaranya lembut, suara dalam bahasa daerah yang tidak kaku.

"Jangan takut, aku akan menyingkirkan mayat. Sebaiknya engkau bawa pindah anakmu dari Lhagat, dan uang ini dapat kau pergunakan untuk biaya."

Post a Comment