Halo!

Suling Emas Naga Siluman Chapter 63

Memuat...

Dan karena ketidakserasian ini agaknya maka biarpun sudah menikah bertahun-tahun mereka berdua tidak mendapatkan keturunan. Makin dewasa usia Tang Cun Ciu, makin tersiksalah dia karena suaminya menjadi semakin tua dan semakin dingin dalam hubungan jasmani. Ketika dia berusia sekitar dua puluh tujuh tahun dan bagaikan bunga sedang mekar-mekarnya dan sedang panas-panasnya gejolak berahinya, suaminyayang baru berusiaempat puluh dua tahun itu sudah jarang mau mendekatinya! Keadaan seperti ini agaknya tidakakan menimbulkan apa-apa dan lambat-laun Tang Cun Ciu tentu akan terbiasa dan dapat menyesuaikan diri dengan keadaan kalau saja tidak muncul sepasang suami isteri pendekar yang datang bertamu di Lembah Suling Emas. Mereka ini adalah sepasang pendekar yang berusia sekitar tiga puluhan tahun. Pendekar itu dikenal sebagai Bu-taihiap, dan isterinya seorang wanita yang cantik dan juga memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Bu-Taihiap sudah mengenal Cu San Bu, kakak tertua di antara saudara-saudara Cu itu yang memang merupakan satu-satunya orang yang sering kali keluar dari Lembah Suling Emas dan banyak merantau. Mereka, suami isteri itu, diterima sebagai seorang sahabat, bahkan mereka ditahan untuk tinggal di lembah itu selama mereka belum menemukan tempat yang baik untuk bertapa. Memang suami isteri itu datang ke Pegunungan Himalaya untuk bertapa dan mempelajari ilmu yang baru saja mereka dapatkan. Dan pada waktu itulah terjadi godaan yang amat hebat menggerogoti hati Tang Cun Ciu yang selalu kehausan cinta asmara itu! Wajah Bu-taihiap yang tampan, tubuhnya yang gagah, amat menarik hatinya dan mulailah terdapat sinar-sinar cinta asmara berkilatan dari pandang mata dan dari senyumnya terhadap sahabat suaminya itu!

Dan Bu-taihiap biarpun dia merupakan seorang pendekar sakti yang selain berilmu tinggi juga berbatin kuat, tetap saja masih seorang manusia biasa, seorang manusia laki-laki yang masih muda dan akhirnya dia pun tidak kuat menghadapi godaan sinar-sinar cinta asmara yang dikobarkan oleh TangCun Ciu yang kehausan kasih sayang dan mendambakan belaian pria itu. Apa yang tak dapat dihindarkan lagi pun terjadilah. Terjadilah hubungan yang biasanya dinamakan perjinahan antara Tang Cun Ciudan Bu-taihiap! Setelah menderita tekanan batin selama bertahun-tahun di samping suaminya yang kurang memenuhi kebutuhan jasmani dan perasaannya, dan kini bertemu dengan seorang pria muda yang berdarah panas dan tidak kalah besar gelora berahinya dibandingkan dengan dirinya sendiri,

Tentu saja Tang Cun Ciu bagaikan seorang yang telah lama kehausan bertemu dengan sumber air yang segar. Tak puas-puasnya dia meneguk air menyegarkan itu, tak peduli lagi bahwa yang diminumnya adalah air terlarang, Lupa dia bahwa dia menjadi isteri pria lain dan bahwa pria yang dipeluknya penuh kobaran api cinta asmara yang menggelora dan panas itu adalah suami dari seorang wanita lain! Dan tidak aneh pula kalau pada suatu hari mereka tertangkap basah! Semua orang di tempat itu, termasuk suami Tang Cun Ciu dan isteri Bu-taihiap, adalah orang-orang lihai yang berkepandaian tinggi, maka tentu tidak mudah dikelabuhi dan akhirnya perbuatan mereka berdua itu ketahuan! Namun, sebagai seorang pendekar besar yang tidak lagi dimabok berahi dan mudah dikuasai amarah, Cu San Bu tidak menimbulkan keributan.

Bu-taihiap merasa malu sendiri. Kalau seandainya suami wanita itu marah-marah dan menyerangnya, dia tidak akan merasa demikian terpukul dan malu seperti sekarang ini. Sikap Cu San Bu yang diam seperti orang tidak marah itu lebih menyakitkan hati bagi Bu-taihiap, karena membuat dia kelihatan semakin rendah saja! Maka dia pun berpamit dan pergi meninggalkan Lembah Suling Emas bersama isterinya dan semenjak itu tidak pernah nampak lagi atau terdengar beritanya. Bercerita sampai disini, Tang Cun Ciu memejamkan kedua matanya dan diam sampai beberapalama. Ketika dia membuka lagi matanya, kedua mata yang jernih tajam itu agak basah. Dia menarik napas panjang. Dadanya yang masih membusung penuh itu naik turun.

"Sampai sekarang pun aku tak pernah dapat melupakan dia! Aku mencinta mendiang suamiku, hatiku mencinta suamiku yang amat baik kepadaku, akan tetapi tubuhku rindu kepada Bu-taihiap."

Diam-diam muridnya sendiri, Yu Hwi, menjadi merah mukanya mendengar cerita subonya dan mendengar pengakuan itu.

Pengakuan yang terang-terangan dan yang menurut pendapat dan pandangan umum merupakan pengakuan tidak tahu malu dari seorang isteri! Wanita itu melanjutkan ceritanya. Biarpun pada lahirnya Cu San Bu diam saja seolah-olah perbuatan isterinya yang berjina dengan tamunya itu tidak melukai hatinya, namun sesungguhnya dia merasa tertikam batinnya. Dia amat mencinta isterinya, akan tetapi cintanya tidak terlalu condong kepada nafsu berahi. Dia tidak menyesal karena merasa dirugikan, hanya merasa menyesal mengapa isterinya melakukan perbuatan yang begitu rendah dan memalukan. Yang lebih memberatkan perasaan batin pendekar ini adalah sikap adik-adiknya. Cu San Bu adalah seorang anak angkat dari ayah ketiga orang saudara Cu. Biarpun dia sudah dianggap anak sendiri dan memakai she Cu, namun tiga orang adiknya itu tahu bahwa dia bukanlah darah daging keluarga Cu.

Biasanya memang sikap Cu Han Bu, Cu Seng Bu dan Cu Kang Bu kepadanya biasa saja, tetap menganggapnya sebagai kakak sendiri, kakak terbesar yang selain paling lihai ilmunya, juga dapat mereka hormati karena sikap dan perbuatan Cu San Bu yang gagah perkasa dan baik, yang selalu menjunjung tinggi nama keluarga Cu. Akan tetapi, setelah peristiwa perjinaan antara Tang Cun Ciudan Bu-taihiap, sikap tiga orang pendekar itu berubah sama sekali! Tiga orang kakak beradik Cu itu diam-diam merasa terhina dan marah sekali oleh perbuatan twaso mereka. Menurut pendapat mereka, dosa twaso mereka itu terlampau besar dan biarpun twako mereka tidak menganggapnya sebagai dosa, akan tetapi mereka berpendapat bahwa twaso mereka itu telah menodai nama dan kehormatan keluarga Cu penghuni Lembah Suling Emas!

Maka, sikap twako mereka yang mendiamkannya saja perbuatan hina dan rendah itu, membuat mereka diam-diam merasa penasaran dan membenci twako mereka! Inilah yang membuat Cu San Bu menderita tekanan batin dan akhirnya pendekar ini jatuh sakit! Penyakit yang sukar diobati karena bersumber dari batin yang tertekan. Akhirnya, pendekar ini meninggal dunia dalam usia baru empat puluh tahun lebih! Dan sebelum mati, dia sempat meninggalkan pesan atau permintaan terakhir kepada tiga orang adiknya itu agar mereka suka memaafkan Tang Cun Ciu dan agar wanita itu tetap diperlakukan sebagai twaso mereka, sebagai keluarga mereka. Permintaan yang amat berat bagi Cu Han Bu dan dua orang adiknya, akan tetapi karena merupakan pesan terakhir, mereka tidak tega untuk menentang atau menolaknya.

"Mereka bertiga menerima pesan suamiku, dengan syarat bahwa aku harus tinggal di luar Lembah Suling Emas, dan demikianlah, aku memilih tempat ini, dikaki gunung dan di sebelah bawah dari lembah itu."

Tang Cun Ciu mengakhiri ceritanya yang amat menarik perhatian tiga orang pendengarnya. Akan tetapi kakek berkulit hitam itu, yang biarpun selama hidupnya belum pernah terjerat oleh perangkap-perangkap cinta asmara namun pandangan-nya sudah sedemikian waspada sehingga cerita yang di dengarnya itu tidak menggerakkan hatinya karena dianggapnya wajar dan tidak aneh, lalu bertanya, nadanya penasaran,

"Hemm, ceritamu mungkin menyedihkan, Cui-beng Sian-li, akan tetapi apa hubungannya itu dengan teka-tekimu?"

"Tiga tahun yang lalu, aku mendapat tugas untuk menghadapimu, dan karena dalam ilmu silat kita seimbang dan sukar untuk menentukan siapa kalah siapa menang, maka timbul niatku untuk membuka perasaan hatiku yang penasaran terhadap adik-adik suamiku itu melalui teka-teki ini. Nah, itulah sebabnya maka aku mengajukan teka-teki kepadamu, dengan harapan selain engkau tidak akan mampu menebaknya, juga tiga orang adik suamiku itu agar memikirkan pula tentang sifat-sifat cinta pria dan wanita. Sebagai isteri mendiang suamiku yang sungguh kucinta karena kebaikannya, sebagai seorang wanita, aku membutuhkan kasih sayang yang diperlihatkan, butuh dimanjakan, butuh dicinta dengan mesra, dengan lembut, butuh disenangkan dan dipuja. Akan tetapi sikap suamiku yang dingin itu mendatangkan perasaan kepadaku seolah-olah aku tidak dibutuhkannya lagi, tidak di cinta lagi. Seorang wanita, dari yang muda sampai yang tua sekalipun, baru percaya akan cinta kasih seorang pria kalau pria itu memperlihatkannya dengan bukti dalam sikapnya. Dan wanita yang dilimpahi kemesraan baru akan percaya bahwa dia memang dicintai, maka anehkah kalau aku menyerahkan segala-galanya. Suamiku bersikap dingin, dan sebaliknya, Bu-taihiap bersikap mesra sekali kepadaku, maka anehkah kalau aku menyerahkan diri kepadanya untuk memuaskan kehausanku?"

Makin lama makin merah dan jengah rasa hati Yu Hwi mendengarkan kata-kata gurunya itu. Sebagai seorang wanita dewasa, tentu saja dia mengerti semua yang dibicarakan. Sedangkan Ci Sian hanya mendengarkan dengan bengong, biarpun dia merasa kasihan, akan tetapi dia tidak begitu mengerti tentang urusan cinta-mencinta itu.

"Akan tetapi, apa hubungannya orang she Bu itu dengan aku? "Tiba-tiba Ci Sian bertanya, suaranya lantang dan mengejutkan Cui-beng Sian-li yang tidak menyangka-nyangka akan datang pertanyaan dari bocah itu. Dia memandang wajah Ci Sian dan alisnya berkerut, pandangannya menjadi tajam dan tidak senang.

"Mukamu sama benar dengan isteri Bu-taihiap! Dan engkau she Bu pula, maka aku menduga bahwa engkau tentulah puteri mereka!"

Ci Sian adalah seorang yang cerdik. Dia tahu bahwa dugaan itu mungkin saja benar karena bukankah ayah bundanya juga berada di Himalaya seperti yang di ceritakan oleh kakeknya, dan bahwa ayah bundanya adalah orang-orang yang ber ilmu tinggi? Akan tetapi, karena tidak ada bukti dan semua itu hanya dugaan saja, lebih baik kalau dia tidak mengakui hal itu, karena mengakuinya berarti hanya akan menimbulkan permusuhan dari wanita yang lihai ini.

"Hemm, biarpun aku she Bu, akan tetapi tidak ada bukti yang menyatakan bahwa aku adalah puteri mereka, karena itu, jangan engkau sembarangan saja menduga-duga dan secara sewenang-wenang hendak membunuhku."

Kata Ci Sian,suaranya bernada teguran sehingga Tang Cun Ciu merasa terpukul dan malu. Untuk menutupi rasa malunya ditegur oleh anak-anak, dia lalu berkata kepada See-thian Coa-ong.

"Eh, Coa-ong, engkau sekarang mempunyai seorang murid yang agaknya akan menjadi orang yang lihai,biarpun sekarang yang lihai hanya baru mulutnya saja! Pertandingan antara kita sudah selesai, maka marilah kita pertandingkan murid-murid kita dalam waktu lima tahun lagi. Engkau boleh menggembleng muridmu she Bu ini, dan aku akan membimbing muridku Yu Hwi, dan kita pertandingkan mereka...."

"Yu Hwi....? "

Tiba-tiba Ci Sian berseru dan dia kini mencurahkan perhatiannya kepada murid Cui-beng Sian-li itu, memandang tajam karena baru sekarang dia tertarik sedangkan sejak tadi perhatiannya di curahkan seluruhnya kepada Cui-beng Sian-li. Dia mulai melangkah maju mendekati Yu Hwi yang juga memandangnya penuh perhatian, diam-diam Ci Sian harus mengakui bahwa Yu Hwi memiliki wajah yang manis sekali, bentuk tubuh yang ramping padat, kulit yang putih kuning halus mulus. Pendeknya, wanita itu amat cantik menarik dan memang pantas sekali kalau menjadi isteri Pendekar Suling Emas Kam Hong.

"Ada apakah dengan engkau?"

Yu Hwi membentak ketika melihat Ci Sian memandangnya sedemikian rupa setelah tadi mengucapkan namanya.

Post a Comment