Baru saja ia mengalami guncang-an batin yang hebat.
Siapa orangnya tidak akan merasa seperti ditikam jan-tungnya kalau mendengar pengakuan, seorang gadis yang dikaguminya bahwa gadis itu saling mencinta dengan pria yang selama ini dicari dan dirindukannya karena pria itu adalah tunangannya! Menurut gejolak hatinya, ingin ia marah-marah kepada Sian Li.
Akan tetapi ia lalu mengingat-ingat kembali, mem-bayangkan sikap Yo Han terhadap diri-nya.
Pemuda yang ditunangkan dengannya oleh neneknya itu belum pernah menyata-kan cinta kepadanya, bahkan minta wak-tu untuk dapat memberi jawaban dan mengambil keputusan tentang niat nenek-nya menjodohkan mereka.
"Kau kenapakah, enci Kim" Kelihatan termenung...." kata Sian Li.
Bi Kim mengangkat muka memandang kepadanya dan tersenyum manis! Lalu ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa--apa, adik manis, hanya aku merasa ter-haru mendengar bahwa pendekar wanita Bangau Merah saling mencinta dengan Pendekar Tangan Sakti.
Li-moi, melihat usiamu yang masih muda, tentu belum lama engkau berkenalan dengan Pendekar Tangan Sakti." Sian Li memandang Bi Kim dengan lucu dan tertawa terkekeh.
"Hi-hi-hik, engkau keliru sama sekali, enci Kim.
Usiaku memang baru delapan belas tahun, akan tetapi aku telah berkenalan dan akrab dengan Han-ko sejak aku berusia empat tahun!" Bi Kim terbelalak, memandang kepada Gak Ciang Hun, lalu menatap lagi wajah Sian Li.
"Aku....
aku tidak mengerti...." katanya bingung.
Sian Li tersenyum dan memegang lengan Bi Kim.
"Tidak perlu heran, enci Kim.
Ketahuilah, ketika aku berusia em-pat tahun, Han-ko ikut orang tuaku, bahkan menjadi murid ayah dan ibu.
Ke-mudian kami berpisah dan baru belasan tahun kemudian kami saling bertemu kembali dan langsung kami saling jatuh cinta, maksudku....
sejak kanak-kanak pun kami sudah saling mencinta, walau-pun sifat cinta itu berubah...." Kembali sepasang pipi itu menjadi merah sekali, semerah warna pakaiannya.Setelah mendengar semua itu tahulah Bi Kim bahwa tidak mungkin ia dapat meng-harapkan Yo Han menjadi calon jodoh-nya.
Bukan Sian Li yang merampas tunangannya.
Gadis ini dan Yo Han sudah saling mencinta, bahkan sejak kecil! Ka-lau ia berkeras mempertahankan usul neneknya mengenai perjodohan itu, ber-arti ialah yang merampas kekasih orang! Keangkuhan yang timbul dari harga diri-nya sebagai seorang dari keluarga bang-sawan, membuat Bi Kim dapat menekan perasaannya dan saat itu juga ia sudah mematahkan hubungan batinnya dengan Yo Han.
Ia tidak boleh dan tidak akan suka mencinta Yo Han yang telah men-jadi kekasih si Bangau Merah! Untuk mengalihkan perhatian dan melupakan rasa nyeri seperti ada pisau menikam ulu hatinya, Bi Kim bertanya dengan suara heran, "Adik manis, kenapa engkau mencari kekasihmu itu" Dan ke-napa pula dia meninggalkanmu?" Per-tanyaan yang wajar saja dari seorang gadis kepada gadis lain, walaupun sesung-guhnya pertanyaan itu mengandung ke-inginan untuk mengetahui lebih jelas tentang hubungan antara Sian Li dan Yo Han.
"Ahhh, banyak sekali yang menyebab-kannya, Enci dan sebetulnya hal ini me-rupakan rahasiaku...." "Siauw-moi, aku merasa lelah dan mengantuk.
Bagaimana kalau engkau lanjutkan percakapanmu dengan adik Bi Kim saja, dan aku beristirahat lebih dulu?" kata Ciang Hun yang merasa ti-dak enak karena agaknya kehadirannya hanya akan membuat canggung dua orang gadis itu bercakap-cakap secara akrab.
Sian Li tersenyum dan mengangguk, diam--diam merasa terharu dan juga senang karena pemuda itu sungguh tahu diri dan dapat memaklumi keadaandirinya.
Ia selalu merasa tidak enak kepada Ciang Hun kalau di depan pemuda itu harus menceritakan segala hal mengenai Yo Han, padahal Ciang Hun mencintanya.
"Gak-toako seorang pemuda yang bi-jaksana dan baik sekali, aku amat kagum dan menghormatinya, apalagi di antara dia dan aku masih ada hubungan keke-luargaan, maksudku, dia masih keturunan keluarga perguruan Pulau Es, sedangkan kakekku keturunan keluarga Gurun Pasir dan nenekku keluarga Pulau Es." kata Sian Li kepada Bi Kim setelah mereka tinggal berdua saja.
"Aku pun kagum kepadanya.
Dia seorang pemuda yang lihai, pendiam dan sopan," kata Bi Kim.
"Akan tetapi, kalau engkau enggan menceritakan tentang dirimu dan kekasihmu, aku pun tidak akan memaksamu, Li-moi." "Ah, tidak sama sekali, Enci.
Kepadamu aku tidak merasa sungkan atau enggan untuk menceritakan, hanya kalau ada Gak-toako...., aku tidak tega untuk banyak bercerita tentang Han-koko dan aku...." "Tidak tega?" Bi Kim memandang penuh selidik, terheran-heran, "Kenapa tidak tega?" "Karena dia mencintaku, enci Kim.
Dan aku tentu saja tidak dapat mem-balas cintanya, walaupun aku suka dan hormat kepadanya.
Aku sudah mencerita-kan tentang hubunganku dengan Han--koko, dan Gak-twako dapat menerima kenyataan itu dengan hati lapang.
Dia bijaksana sekali! Dan aku tidak ingin menyinggung perasaannya kalau banyak bercerita tentang Han-ko di depannya." Bi Kim semakin terheran-heran dan kagum.
Dara ini sungguh luar biasa, pikirnya.
Begitu jujur, begitu terbuka! "Aih, kasihan dia kalau begitu, Li-moi.
Pahit sekali memang kalau orang bertepuk sebelah tangan dalam soal asmara.
Nah, sekarang ceritakan, kenapa engkau saling berpisah dengan kekasihmu?" Sian Li bercerita.
Tanpa tedeng aling--aling lagi.
Diceritakannya tentang ayah ibunya yang agaknya tidak menyetujui hubungan cintanya dengan Yo Han, bah-kan ayah ibunya telah memilihkan jodoh untuknya, yaitu seorang pangeran! "Akan tetapi aku tidak mau, Enci.
Aku tidak sudi dijodohkan dengan pangeran itu, walaupun pangeran itu terkenal gagah dan tampan, kabarnya pandai ilmu silat juga." "Siapakah pangeran itu" Mungkin aku sudah tahu." "Dia Pangeran Cia Sun."Diam-diam Bi Kim semakin heran dan terkejut.
Tentu saja ia tahu siapa pange-ran itu.
Seorang pangeran yang menjadi pujaan hampir semua gadis di kota raja.
Setiap orang gadis merindukannya dan mengharapkan menjadi isterinya! Bahkan ia sendiri, sebelum ditunangkan dengan Yo Han, pernah beberapa kali melihat pangeran itu dan ia sendiri pun merasa terpikat! Dan gadis ini....
Si Bangau Merah ini, malah menolak dijodohkan dengan Pangeran Cia Sun.
Bukan main! "Hem, menurut penilaianku, dia se-orang pangeran yang baik sekali, berbeda dengan para pangeran lainnya.
Dia tidak congkak, manis budi dan dekat dengan rakyat." "Biar seratus kali lebih baik dari itu, aku tidak sudi, Enci.
Aku hanya mau berjodoh dengan Han-ko! Nah, ketika ayah dan ibu mengajakku menghadiri per-temuan tiga keluarga besar, aku meng-harapkan dapat bertemu dengan Han--koko di sana.
Akan tetapi ternyata dia tidak ada.
Lalu muncul puteri ketua Pao--beng-pai membuat kekacauan dan me-nantang-nantang kami.
Setelah ia dapat diusir pergi, aku lalu diam-diam mening-galkan ayah ibu karena aku ingin men-cari Han-koko dan menyelidiki Pao-beng--pai.
Sebetulnya, aku ingin membatalkan niat ayah.
dan ibu mempertemukan aku dengan pangeran itu di kota raja, dan mencari Hankoko sampai dapat." "Ke mana sih perginya kekasihmu itu, Li-moi?" tanya Bi Kim, diam-diam me-rasa heran dan geli juga melihat betapa ada persamaan antara ia dan Si Bangau Merah ini.
Ia pun sedang mencari-cari Yo Han seperti yang dilakukan Sian Li.
Hanya bedanya, ia mencari pemuda itu sebagai tunangan, sedangkan Sian Li sebagai kekasih! Amat besar bedanya memang, dan kenyataan ini menikam hatinya.
Pertunangannya belum resmi itu atas kehendak neneknya, sedangkan saling mencinta tentu saja atas kehendak mere-ka yang bersangkutan! "Han-koko menerima tugas berat, yaitu mencari puteri Pendekar Suling Naga Sim Houw yang hilang diculik orang sejak anak itu masih kecil sekali, baru dua tiga tahun usianya.
Sampai sekarang, dua puluh tahun lebih sudah berlalu dan tak pernah ada berita tentang anak itu.
Semua usaha yang dilakukan Pendekar Suling Naga dan isterinya tidak berhasil.
Bahkan andaikata anak itu ditemukan juga, anak itu tidak mengenal orang tua kandungnya, dan suami isteri itu pun tidak akan dapat mengenal puteri mere-ka.
Dan Han-koko bertugas mencari anak yang hilang itu!" "Aih, betapa sukarnya tugas itu.
Ba-gaimana mungkin dapat mencarinya ka-lau tidak pernah melihat anak yang kini tentu telah menjadi seorang gadis dewasa itu?" kata Bi Kim yang ikut merasa prihatin mendengar betapa tunangannya, pria yang dicintariya akan tetapi yang mencinta gadis lain itu dibebani tugas yang demikian, sulitnya.
Andaikata dapat menemukan gadis itu, bagaimana dapat yakin bahwa ia adalah anak yang hilang itu?" "Memang ada ciri khasnya, Enci.
Me-nurut keterangan orang tuanya, anak itu memiliki dua buah tanda yang khas, ya-itu sebuah tahi lalat hitam di pundak kirinya dan sebuah noda merah di tela-pak kaki kanannya.
Nah, kurasa di dunia ini tidak ada dua orang yang memiliki tandatanda yang serupa seperti itu!" "Aku akan ingat ciri itu, Li-moi, agar aku dapat membantu mencarinya." "Terima kasih, enci Kim.
Engkau baik sekali.
Aku merasa bingung harus ke mana mencari kekasihku itu.
Aku amat merindukannya, Enci, dan dia tentu akan berbahagia sekali kalau dapat mencari gadis itu bersamaku." Tanpa disadarinya, ucapan itu me-nikam ulu hati Bi Kim yang segera ber-pamit untuk beristirahat di kamarnya.