Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 59

Memuat...

Tentu saja Lurah So dan tiga orang gadis dusun yang dipaksa menjadi pela-yan tadi merasa ketakutan, apalagi me-lihat betapa tamu yang ditakuti itu mam-pu melawan si gadis yang berpedang hanya dengan tangan kosong saja.

Juga Bi Kim sendiri terkejut bukan main.

Tak disangkanya bahwa penjahat ini memang luar biasa, memiliki kesaktian.

Apalagi ia, bahkan guru-gurunya belum tentu mampu menandingi kakek ini! Pada saat pertandingan itu berlang-sung, muncullah Sian Li dan Ciang Hun.

Akan tetapi karena kedua orang pen-dekar ini tidak mengenal Bi Kim, tentu saja mereka tidak dapat turun tangan membantu.

Mereka tidak tahu apa yang terjadi, siapa gadis ber-siang-kiam itu dan mengapa pula berkelahi melawan ka-kek, yang amat lihai itu.

Seperti yang mereka duga, kakek itu hanya mempermainkan lawannya dan setelah dia me-ngenal benar ilmu pedang pasangan dari Bi Kim, tiba-tiba Siangkoan Kok mem-bentak nyaring dan tahu-tahu sepasang pedang itu telah berpindah tangan! Dia menyeringai ketika Bi Kim meloncat ke belakang dengan kaget.

"Ha-ha-ha, engkau kalah, Nona.

Nah, engkau harus menemani aku makan mi-num sampai mabuk!" "Tidak sudi! Sebelum mati aku tidak akan mengaku kalah!" bentak Bi Kim dan ia pun menerjang lagi, kini dengan ta-ngan kosong.

Kini Sian Li dan Ciang Hun tidak ragu-ragu lagi.

Jelas bahwa gadis itu merupakan orang yang menentang penjahat lihai itu, maka keduanya sudah melompat ke depan untuk mencegah Bi Kim bertindak nekat.

Dengan sepasang pedang saja bukan lawan kakek itu, apa-lagi bertangan kosong.

"Tahan....!" kata Sian Li dan dari samping ia telah menangkap pergelangan tangan Bi Kim dan menariknya ke sam-ping.

Bi Kim yang tertangkap pergelang-an tangannya, merasa tenaganya lumpuh, maka ia terkejut sekali dan menurut saja ditarik ke samping.Siangkoan kok mengerutken alisnya -memandang kepada Sian Li yang ber-pakaian merah dan Ciang Hun yang ga-gah.

"Huh, siapa lagi ini kalian yang datang mengganggu kesenanganku!" kata-nya sambil melemparkan sepasang pedang rampasan itu ke arah Bi Kim.

Biarpun hanya dilempar sambil lalu saja, namun sepasang pedang itu meluncur bagaikan anak panah ke arah Sian Li dan Ciang Hun! Jelas bahwa kakek yang lihai itu sengaja hendak menguji kepandaian dua orang muda yang baru muncul! Dengan tenang Sian Li menangkap pedang yang meluncur ke arahnya, dari samping de-ngan jalan menjepitnya di antara telunjuk dan ibu jarinya, seperti anak-anak menangkap capung pada ekornya.

Sedangkan Ciang Hun lebih repot, mengelak ke samping lalu memutar tubuh dan me-nangkap pedang itu pada gagangnya dari belakang! Dari cara menangkap pedang ini saja sudah dapat dinilai bahwa ting-kat kepandaian Si Bangau Merah lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Gak Ciang Hun! Siangkoan Kok agak terkejut.

Kiranya dua orang muda ini hebat! Sama sekali tidak boleh dipandang ringan, tidak dapat disamakan dengan kepandaian Bi Kim.

Ciang Hun dan Sian Li menyerahkan sepasang pedang itu kembali kepada Bi Kim, kemudian Sian Li menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Siangkoan Kok.

"Engkau ini orang tua yang kelihat-an gagah perkasa, juga memiliki ilmu kepandaian tinggi, sungguh menjijikkan sikapmu di dusun ini, bertindak seperti perampok kecil saja!" Wajah Siangkoan Kok berubah ke-merahan.

"Bocah bermulut lancang!" Se-telah berkata demikian, dia menubruk ke arah Sian Li dan mengirim serangan kilat.

Namun, nampak bayangan merah berkelebat dan Sian Li sudah dapat meng-elak dari serangan dahsyat itu, dan ketika tubuhnya turun, di depan kakek itu, ia sudah memegang sebatang suling ber-selaput emas, sikapnya gagah dan tenang sekali.

Siangkoan Kok terkejut, apalagi ke-tika melihat suling emas itu" Alisnya berkerut mengingat-ingat.

Pakaian merah! Tentu saja! "Hemmm, apakah engkau ini yang berjuluk Si Bangau Merah?" tanyanya sambil memandang penuh selidik.

Sian Li menggerakkan sulingnya dan terdengar suara berdesing, disusul ucapan-nya yang lantang, "Memang benar aku yang dijuluki Si Bangau Merah." "Bagus! Ha-ha-ha, hari ini aku sung-guh beruntung, dapat bertemu dengan tokoh-tokoh muda dunia kang-ouw.

Dan engkau siapa orang muda?" tanyanya.

"Tidak mengapa, biarkan aku menebak siapa engkau!" Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat dan tangannya men-dorong dengan telapak tangan terbuka ke arah dada Ciang Hun.

Pemuda ini sama sekali tidak menduga akan diserang, maka dia tidak sempat mengelak lagi, lalu mengerahkan tenaga sin-kangnya dan menggerakkan kedua tangan terbuka me-nyambut.

"Dukkkkk!" Keduanya terdorong ke belakang.

Ciang Hun sudah berjongkok dan berlutut dengan sebelah kaki, kedua tangannya depan dada, kedua telapak tangannya menghadap ke atas.

Siangkoan Kok terbelalak.

"Wah, apa-kah engkau memiliki sin-kang yang di-sebut Tenaga Inti Bumi" Engkau meng-ambil tenaga dari tanah?" Diam-diam Gak Ciang Hun tertegun dan kagum.

Sekali beradu tenaga yang membuat dia terlempar dan terpaksa memasang kuda-kuda Dewa Menyangga Bumi untuk memulihkan tenaga dan siap menghadapi serangan lanjutan lawan, dan kakek itu sudah mengenal dasar ilmunya.

Memang dia tadi menggunakan tenaga yang menjadi ilmu warisan keluarga Gak, bahkan mendiang kakeknya, Bu-beng Lo--kai atau dahulu bernama Gak Bun Beng sebelum meninggal dunia telah meng-operkan tenaga kepadanya sehingga biar-pun bakatnya tidak sangat baik, namun dia telah dapat menghimpun tenaga gin-kang itu.

"Orang muda, apa hubunganmu dengan mendiang Beng-san Siang-eng (Sepasang Garuda Beng-san)?" tanyanya lagi.

Ciang Hun tidak ingin menyombong-kan dirinya akan tetapi dia pun bangga dengan nama besar kedua ayahnya.

"Me-reka adalah ayah kandungku!" jawabnya gagah sama sekali tidak merasa sungkan mengaku bahwa dia memiliki dua orang ayah kandung! Memang suatu hal yang aneh dalam keluarga itu.

Ayahnya ada-lah sepasang pendekar kembar yang men-cintai seorang wanita, maka keduanya menjadi suami wanita itu dan lahirlah Ciang Hun, anak dari seorang ibu dan dua orang ayah.

"Ha-ha-ha-ha-ha, pantas kalian berani mengganggu kesenanganku.

Nah, meng-ingat bahwa kalian keturunan orang-orang pandai, mari kuundang kalian makan minum denganku, Bangau Merah dari orang muda she Gak! Dan engkau juga! Nona.

Permainan siang-kiam (sepasang pedang) darimu tadi cukup lumayan, membuktikan bahwa engkau pun telah dilatih oleh guru yang pandai.

Ha-ha-ha, marilah orang-orang muda, kita mempererat perkenalan dengan makan minum!" Siang-koan Kok tidak berpura-pura dengan keramahan ajakannya ini.

Tadinya dia adalah majikan yang dihormati seperti seorang raja kecil.

Akan tetapi sekarang semua kemuliaan itu habislah sudah.anak buahnya dibasmi pasukan pemerintah, Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Setan) telah diobrak-abrik, seluruh hartanya habis.Habislah sudah kesemuanya, bahkan dia kehilangan anak yang disayangnya walau-pun hanya anak tiri, kehilangan isteri yang dia bunuh sendiri, juga kehilangan murid tersayang yang diambilnya secara paksa menjadi isteri, juga murid ini dia bunuh.

Sekarang, dia sebatang kara, tidak memiliki apa-apa lagi.

Karena itu, me-lihat tiga orang muda ini, yang gagah perkasa dan juga dua orang di antaranya adalah gadis-gadis perkasa yang cantik, timbul keinginan hatinya untuk bersahabat dengan mereka.

Siapa tahu dia dapat menguasai mereka dan dengan bantuan tiga orang muda seperti ini dia tentu akan mampu membangun lagi perkumpul-annya yang terbasmi dan dia akan jaya kembali.

Sejak tadi Sian Li memperhatikan pria yang tinggi besar gagah dan berwibawa itu.

Ketika ia melakukan perjalanan untuk menyelidiki Pao-beng-pai, ia telah mencari keterangan tantang perkumpulan itu, tentang ketuanya dan tentang puteri ketua yang pernah datang mengacau pertemuan tiga keluarga besar.

Pao-beng-pai telah terbasmi dan di tempat yang tidak jauh dari bekas sarang Pao-beng-pai, terdapat kakek yang lihai ini.

"Bukankah engkau yang bernama Siangkoan Kok, majikan di Ban-kwi-kok dan ketua Paobeng-pai yan telah hancur?" Pertanyaan yang dilontarkan Sian Li ini sungguh amat mengejutkan hati se-mua orang.

Bukan hanya Gak Ciang Hun dan Dan Bi Kim yang terkejut juga Lurah So dan semua orang yang tadi sibuk melayani kakek itu.

Lurah So dan para pembantunya menjadi pucat men-dengar bahkan kakek itu adalah ketua Pao-beng-pai, perkumpulan yang mereka takuti.

Mereka semua sudah mendengar akan Pao-beng-pai dan ketuanya, yaitu Siangkoan Kok majikan Lembah SelaksaSetan, akan tetapi hanya namanya saja yang mereka ketahui, belum pernah me-lihat orangnya.

"Ha-ha-ha, engkau hebat, Si Bangau Merah! Tidak percuma engkau mendapat julukan itu karena engkau memang cer-dik, lihai dan bermata tajam.

Aku me-mang Siangkoan Kok!" "Bagus! Kiranya engkau ketua Pao--beng-pai! Dan gadis siluman yang berani menantang keluarga kami itu adalah puterimu.

Suruh ia keluar untuk mem-pertanggung-jawabkan perbuatannya!" Sian Li membentak.

"Sian-moi, kiranya tak perlu bicara lagi dengan iblis seperti ini!" kata Ciang Hun yang sudah mencabut pedangnya.

"Benar, jahanam ini iblis yang kejam dan jahat yang harus dibasmi!" kata pula Gan Bi Kim yang sudah siap dengan sepasang pedangnya pula.

"Ha-ha-ha, kiranya kalian hanyalah pendekar-pendekar muda yang menjadi antek penjajah Mancu!" bekas ketua Pao--beng-pai itu mengejek sambil menertawa-kan mereka.

Wajah Sian Li berubah merah.

"Jaha-nam busuk! Kalau kami menentangmu, hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan pemerintah.

Bagi kami, engkau bukanlah pejuang, melainkan penjahat busuk yang suka mengganggu rakyat.

Bersiaplah un-tuk mampus!" Sian Li sudah menerjang dengan senjata sulingnya, Ciang Hun dan Bi Kim juga cepat menggerakkan senjata mereka, mengeroyok.

Siangkoan Kok adalah seorang datuk yang lihai sekali.

Akan tetapi, sekarang dia menghadapi pengeroyokan tiga orang muda yang tangguh, terutama sekali Si Bangau Merah dan Gak Ciang Hun.

Dua orang muda ini adalah keturunan pende-kar-pendekar lihai, maka dia tidak berani memandang rendah dan kakek itu sudah mencabut pedangnya, memutar senjata itu menyambut serangan para pengeroyok-nya.

Kalau tiga orang muda itu menyerang dengan pengerahan seluruh tenaga dan kepandaian mereka, menyerang dengan semangat besar, sebaliknya Siangkoan Kok hanya melindungi dirinya dengan gulungan sinar pedang.

Dia tidak berse-mangat untuk berkelahi.

Apalagi meng-ingat bahwa dua orang di antara para pengeroyoknya adalah keturunan keluarga pendekar yang tangguh.

Dia tidak ingin menambah jumlah musuh di luar pasukan pemerintah yang telah membasmi per-kumpulannya, bahkan mungkin dia ingin bekerja sama dengan kelompok lain untuk membalas dendam kepada pemerintah penjajah Mancu, seperti yang telah di-janjikannya kepada ketua Thian-li-pang di Bukit Setan.

Selain itu, dia juga merasa gentar kalau-kalau Pendekar Bangau Pu-tih, ayah Si Bangau Merah ini, dan juga Pendekar Tangan Sakti Yo Han akan muncul.

Post a Comment