Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 58

Memuat...

"Dia hanya seorang diri, dan agaknya tidak seperti perampok, pakaian-nya pantas, hanya sikapnya yang seperti raja memerintah kami.

Ah, kami takut sekali, khawatir kalau sampai suamiku dicelakakan olehnya...." "Siauw-moi, mari kita ke sana!" kata Gak Ciang Hun yang juga sudah marah mendengar kelakuan tamu yang demikian kurang ajar."Mari, Bibi dan Cici, mari antar kami ke rumah kalian.

Kami akan hajar dan usir tamu tak tahu diri itu!" kata Sian Li.

Melihat sikap pemuda dan pemudi itu, ibu dan anak ini menjadi berani dan timbul pula harapan mereka agar cepat terbebas dari ancaman tamu yang jahat itu.

Hari telah menjadi gelap ketika me-reka berempat memasuki dusun.

Suasana dusun yang tadinya ramai itu kini men-dadak menjadi sepi sekali karena semua rumah menutupkan pintu dan jendelanya.

Tak seorang pun berani menampakkan diri di luar rumah, mereka semua telah mendengar akan munculnya seorang manusia yang jahat dan amat lihai di rumah kepala dusun, Ketika mereka berempat tiba di ru-mah Lurah So, dari luar mereka sudah mendengar ribut-ribut, Suara itu datang-nya dari ruangan makan seperti yang di-beritahukan ibu dan anak itu, dan mereka semua langsung menuju ke ruangan makan di sebeah belakang.

Dan mereka melihat betapa laki-laki setengah tua yang tinggi besar itu sedang bertanding melawan seorang gadis yang bersenjatakan siang-kiam (sepasang pedang).

Gadis itu berusia sekitar dua puluh tiga tahun, wajahnya bulat dengan dagu runcing dan rambutnya yang hitam itu lebat dan panjang sekali, digelung dua di belakang kepala.

Matanya bersinar lembut dan mulutnya amat indah, dengan bibir yang kemerahan dan lekuknya amat menggai-rahkan.

Tubuhnya ramping dan gadis ini memang cantik manis.

Juga ilmu se-pasang pedangnya cukup lumayan.

Jelas bahwa ia marah sekali, menyerang pria itu dengan mati-matian, Akan tetapi, Ciang Hun dan Sian Li melihat betapa pria itu memang lihai bukan main, Biarpun hanya menggunakan tangan kosong, namun pria itu sama sekali tidak terdesak oleh sepasang pedang lawannya, bahkan dia menggulung lengan baju dan dengan lengan telanjang dia berani menangkis pedang, seolah--olah lengannya terbuat dari baja saja! Sian Li dan Ciang Hun tidak mengenal wanita cantik manis yang biarpun melihat kehebatan lawan, namun tidak nam-pak gentar dan terus menyerang itu.

Karena mereka tidak tahu siapa gadis itu, Juga ibu dan anak itu tidak mengenalnya, maka Sian Li dan Ciang Hun meragu untuk turun tangan.

Gadis yang mulutnya menggairahkan itu adalah Gan Bi Kim! Para pembaca kisah Si Bangau Merah akan mengenal Gan Bi Kim.

Ia adalah puteri seorang pejabat tinggi, yaitu kepala gudang pu-saka kerajaan dan tinggal di kota raja, bernama Gan Seng.

Ketika Yo Han ta-mat belajar ilmu silat dari kakek yang buntung lengan dan kakinya, yaitu men-diang Ciu Lam Hok, sebelum mati kakek itu memesan kepada muridnya agar suka berkunjung kepada cicinya yang tinggal di kota raja.

Cici dari kakek Ciu Lam Hok adalah nenek Ciu Cing, yaitu ibu kandung Gan Seng ayah Bi Kim.

Ketika Yo Han berkunjung ke sana nenek Ciu Cing menangisi kematian adiknya Ciu Lam Hok dan ketika menyembahyangi arwah adiknya, di depan meja sembah-yang ini nenek itu menjodohkan cucunya, Gan Bi Kim, dengan murid adiknya, yaitu Yo Han.

Dan kebetulan sekali Bi Kim jatuh cinta pula kepada Yo Han, walau-pun Yo Han sendiri tidak mencintanya karena sejak remaja, Yo Han telah jatuh cinta kepada Tan Sian Li, Si Bangau Me-rah! Yo Han meninggalkan keluarga Gan di kota raja.

Bi Kim merasa penasaran karena belum mendapatkan kepatian dari Yo Han, maka ia pun mendesak ayahnya untuk mengundang jagoan-jagoan istana dan mengajarkan ilmu silat kepadanya.

Ternyata ia berbakat dan terutama sekali ia pandai memainkan sepasang pedang.

Setelah ditunggu-tunggu tidak juga Yo Han datang, bahkan tidak ada berita, Gan Bi Kim merasa penasaran.

Ia merasa bahwa ia telah menguasai ilmu pedang dan pandai menjaga diri, maka pada suatu hari, ia pun lolos dari gedung ayah-nya, meninggalkan sepucuk surat dan menyatakan kepada ayah ibunya bahwa ia pergi untuk mencari tunangannya, yaitu Yo Han! Pada sore hari itu, kebetulan sekali ia pun tiba di dusunitu.

Ia sudah lelah dan ingin bermalam di dusun itu.

Akan tetapi betapa herannya melihat semua rumah di dusun itu tertutup pintu dan jendelanya, bahkan di jalan pun tidak nampak seorang pun manusiai Akan te-tapi, ia tahu benar bahwa dusun itu bu-kan dusun kosong.

Pekarangan rumah bersih terpelihara, juga sawah ladang dan tanaman di sekeliling perumahan durun.

Dan lebih dari itu, ia pun mendengar gerakan orang-orang di dalam rumah--rumah yang tertutup rapat dan, yang tidak dipasangi lampu walaupun senja telah mendatang.

Karena merasa heran dan penasaran ketika mendengar tangis anak kecil dari sebuah rumah dan tangis itu berhenti tiba-tiba seolah-olah mulut anak yang menangis itu didekap tangan, ia tidak sabar lagi dan mengetuk daun pintu rumah itu."Paman atau bibi, bukalah pintunya.

Aku bukan orang jahat, aku seorang ga-dis yang kebetulan kemalaman dan ingin bermalam di dusun ini.

Biarkan aku me-nginap semalam di rumah kalian, akan kuberi pengganti kerugian!" Setelah beberapa kali mengetuk pintu dan berteriak, akhirnya terdengar jawab-an seorang wanita dari dalam, tanpa membuka pintu.

"Nona, maafkan kami....

tempat kami penuh sesak....

eh, kalau Nona ingin bermalam....

datanglah ke rumah kepala dusun, di sebelah itu, se-puluh rumah dari sini." Terpaksa Bi Kim meninggalkan rumah itu, menuju ke kanan sampai ia tiba di depan rumah kepala dusun.

Mudah saja menemukan rumah itu karena jauh lebih besar dibandingkan rumah-rumah lain, dan hanya rumah besar ini saja yang daun pintu sebelah depan terbuka, dan di dalam rumah itu dipasangi lampu pe-nerangan yang cukup banyak.

Ketika ia memasuki pekarangan, beberapa orang bermunculan dari tempat gelap, agaknya mereka ini pun ketakutan.

"Nona mencari siapakah?" seorang se-tengah tua bertanya dengan suara geme-tar, juga tiga orang temannya nampak ketakutan.

"Aku seorang yang kebetulan lewat dan kemalaman di dusun ini, aku hendak minta pertolongan lurah agar suka me-nerimaku semalam ini." Empat orang itu saling pandang, ke-mudian menengok ke arah dalam rumah dan orang setengah tua tadi berbisik, "Nona, pergilah dari sini.

Di rumah ini kedatangan seorang penjahat yang me-nakutkan.

Dia sedang memaksa lurah un-tuk menjamunya dengan pesta.

Dia jahat sekali!" Mendengar ini, Gan Bi Kim tersenyum dan meraba gagang siang-kiam yang ter-gantung di punggungnya, "Aku tidak takut, bahkan kalau ada penjahat meng-ganggu rumah ini, aku akan mengusirnya." Kembali empat orang itu saling pan-dang.

"Kalau begitu, masuklah, pergilah ke ruangan belakang, ruangan makan.

Akan tetapi, kami tidak berani mengan-tarmu, Nona." kata mereka dan kembali mereka menyelinap ke dalam bayangan--bayangan yang gelap.

Tentu saja Bi Kim merasa heran dan penasaran.

Dengan langkah lebar ia me-masuki rumah itu.

Sunyi saja, agaknya semua orang, seperti empat orang pria tadi, sudah lari menyingkir dan bersem-bunyi ketakutan.

Akan tetapi terdengar suara di ruangan belakang dan ia pun menuju ke sana.

Ruangan itu luas dan terang sekali.

Sebuah meja makan besar penuh hidangan yang masih mengepulkan uap berada di tengah ruangan.

Seorang pria tinggi be-sar duduk makan minum seorang diri, dilayani oleh tiga orang wanita muda.

Seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, tinggi kurus, berdiri di sudut, me-mandang dengan sikap takut-takut.

Mendengar langkah kaki, pria yang sedang makan itu menoleh dan melihat Bi Kim, wajahnya berseri, matanya me-mandang penuh selidik dan dengan suara-nya yang parau berwibawa dia bertanya, "Siapa kau" Mau apa kau masuk ke sini?" Karena tidak tahu mana, lurah yang ia cari, Bi Kim memandang kepada pria yang sedang makan itu, bertanya, "Aku ingin bertemu dengan lurah dusun ini.

Mana dia?" "Aku....

akulah Lurah So dari dusun ini, Nona...." Lurah So berkata dengan gagap.

Kini Bi Kim menoleh kepada pria tinggi besar yang bukan lain adalah Si-angkoan Kok itu.

"Hemmm, jadi orang inikah yang datang mengacau?" tanya Bi Kim sambil menoleh kepada Lurah So.

Akan tetapi lurah ini tidak berani me-ngeluarkan suara, bahkan menunduk ka-rena takut membuat marah tamunya.

Juga tiga orang wanita muda itu tidak berani bergerak.

"Ha-ha-ha, engkau cantik.

manis, No-na, engkau jauh lebih cantik daripada tiga orang perempuan di dusun ini.

Sayang puteri lurah ini telah melarikan diri.

Biar engkau menjadi penggantinya menemani-ku makan minum.

Mari, Nona, duduklah di sini, makan minum sepuasnya!" "Hemmm, kiranya engkau ini jahanam busuk, manusia tak tahu diri, begitu datang ke rumah orang bertindak se-wenang-wenang.

Setelah aku datang, jangan harap engkau akan dapat menjual lagak lagi.

Hayo pergilah cepat mening-galkan rumah ini, meninggalkan dusun ini, atau sepasang pedangku akan mem-buat engkau menjadi setan tanpa kepala!" Berkata demikian, untuk menggertak, Bi Kim mencabut sepasang pedangnya.

Sepasang pedang yang baik karena ayahnya mencarikan sepasang pedang pilihan un-tuk puterinya.

Nampak kilat menyambar ketika gadis.

itu mencabut sepasang pedangnya.

Akan tetapi, Siangkoan Kok tertawa dan sama sekali tidak kelihatan gentar."Ha-ha-ha, bagus sekali.

Aku memang lebih senang kalau gadis cantik yang me-nemani aku makan minum bukan seorang wanita lemah.

Nah, sekararg kita ber-taruh, Nona.

Kalau aku kalah olehmu, biar aku pergi tanpa banyak cakap lagi.

Akan tetapi kalau engkau yang kalah, engkau harus menemani aku makan mi-num sampai mabuk.

Bagaimana?" Wajah Bi Kim berubah merah sekali, matanya mencorong penuh kemarahan.

"Jahanam busuk!" katanya melihat orang itu bangkit dan menghampirinya.

"Engkau memang layak dibasmi!" Dan sepasang pedangnya sudah menyambar ganas.

Akan tetapi, Siangkoan Kok dapat mengelak dengan mudah dan dia segera mengenal bahwa ilmu pedang nona ini bukan ilmu sembarangan, melainkan ilmu pedang yang tinggi nilainya.

Hal ini tidak mengherankan karena Bi Kim dilatih oleh jagoan-jagoan istana yang lihai.

Maka, timbul penyakit lama Siangkoan Kok.

Dia tidak segera mengalahkan gadis yang tingkatnya masih jauh di bawahnya itu, bahkan dia menggulung kedua lengan bajunya agar tidak sampai robek, meng-gunakan kedua lengan untuk menangkis serangan pedang sambil memperhatikan jurus-jurus ilmu pedang itu untuk menambah pengetahuannya yang sudah ba-nyak.

Post a Comment