Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 56

Memuat...

Andaikata yang datang itu seorang laki-laki muda, tentu So Biauw Hwa, puteri lurah itu, akan masuk ke dalam bersama ibunya.

"Apakah engkau kepala dusun di sini?" tiba-tiba tamu itu mendahului tuan ru-mah.

Suaranya menggelegar dan sikapnya berwibawa, juga sikapnya tidak meng-hormat si kepala dusun seperti sikap penduduk dusun di situ pada umumnya.

Akan tetapi, So-chung-cu tidak marah karena dia menduga bahwa tentu tamu ini seorang dari kota, mungkin pejabat atau pedagang.

Dia hanya memandang sejenak lalu mengangguk."Benar, saya kepala dusun di sini.

Siapakah Saudara dan dari mana hendak ke mana" Ada keperluan apa Saudara berkunjung ke rumah kami?" 174 Siangkoan Kok mengamati lurah itu.

Seorang laki-laki yang sebaya dengannya, tinggi kurus.

Isterinya berusia empat puluhan tahun, masih cantik, dan puterinya yang berusia delapan belas tahun itu berwajah manis dan matanya lebar indah seperti mata kelinci.

Ruangan depan itu pun memiliki prabot rumah yang cukup mewah, tanda bahwa lurah ini memang cukup keadaannya.

"Saya orang yang kebetulan lewat di dusun ini dan karena kemalaman, saya ingin melewatkan malam di sini, di ru-mah ini." kata Siangkoan Kok dengan sikap acuh, seolaholah dia sudah merasa yakin bahwa permintaannya itu pasti dikabulkan.

Mulailah Lurah So mengerut-kan alisnya, juga isteri dan puterinya memandang dengan alis berkerut.

Tamu ini sungguh tidak sopan, dan permintaan-nya agak keterlaluan.

Tidak memper-kenalkan nama, tidak menceritakan mak-sud kedatangannya, datang-datang me-nyatakan ingin menginap di rumah itu, bahkan tidak minta diterima! "Hemmm, kalau ada tamu kemalaman di sini, kami sudah menyediakan tempat umum untuk bermalam, yaitu di balai dusun.

Akan tetapi setiap orang tamu harus mendaftarkan namanya, tempat tinggalnya, agar kami tahu siapa yang datang bermalam.

Nah, Saudara boleh pergi ke balai dusun, itu di sebelah kiri, tiga rumah dari sini, dan di sana sudah ada petugas yang akan melayanimu.

Sila-kan!" kata tuan rumah itu, mengusir dengan nada halus.

Akan tetapi, jawaban yang diberikan tamu itu sungguh membuat keluarga lurah itu menjadi terbelalak.

Siangkoan Kok berkata dengan nada suara marah.

"Lurah So, tidak perlu banyak cakap lagi.

Sediakan sebuah kamar terbaik di rumah ini untukku! Sediakan air hangat untuk mandi.

Setelah itu, aku ingin makan malam yang enak, sediakan masakan yang lengkap, sembelih ayam dan bebek, dan aku ingin makan dilayani wanita yang muda-muda dan cantik-cantik!" ber-kata demikian, Siangkoan Kok menger-ling ke arah isteri dan puteri lurah itu.

Dia bukan seorang mata keranjang, akan tetapi dia ingin memperlihatkan kekuasa-annya, ingin dihormati secara berlebihan.

Kalau dia pernah memaksa mendiang Tio Sui Lan, muridnya karena dia marah kepada isterinya dan ingin mendapatkan ganti isterinya.

Dan Sui Lan yang pada saat itu paling dekat dengannya, maka dia mengambil murid itu sebagai isteri secara paksa.

Sebelum itu, dia tidak pernah mengganggu wanita lain karena bukan kepada wanita cantiklah curahan nafsu dalam diri Siangkoan Kok, melain-kan kepada pengejaran cita-citanya, yaitu membangun kembali kerajaan Beng dan dia yang menjadi kaisar! Tentu saja Lurah So marah bukan main mendengar permintaan kurang ajar seperti itu.

Seorang pejabat tinggi dari kota pun tentu tidak akan mengajukan permintaan seperti itu secara langsung, seolah-olah dia merupakan abdi dari orang itu! Lurah So tidak mau banyak cakap lagi, lalu bertepuk tangan tiga kali dan muncullah lima orang dari samping ru-mah, membawa seekor anjing yang di-rantai.

Anjing itu besar dan nampaknya menyeramkan.

Lima orang itu adalah penjaga atau peronda yang malam itu akan bertugas jaga di dusun itu, melaku-kan perondaan dan memang rumah sam-ping Lurah So menjadi pusat penjagaan.

"Usir orang yang tidak sopan ini ke-luar dari dusun!" perintah Lurah So de-ngan geram sambil menunjuk ke arah Siangkoan Kok.

Lima orang itu meng-hampiri dengan sikap bengis.

Para pe-tugas ronda di dusun itu memang dipilih warga dusun yang bertubuh kuat dan masih muda.

Biarpun mereka bukan tu-kang pukul, akan tetapi lima orang itu yang merasa mendapat wewenang, lalu menghampiri Siangkoan Kok dengan sikap bengis mengancam.

Sementara itu, isteri dan puteri Lurah So yang merasa ke-takutan, sudah lari masuk ke dalam ru-mah.

"Hayo engkau cepat pergi dari sini!" kata seorang penjaga.

"Kalau tidak cepat pergi, terpaksa kami akan menggunakan kekerasan!" ben-tak orang kedua.

Siangkoan Kok memandang kepada mereka dengan senyum mengejek.

"Aku tidak mau pergi dan hendak kulihat, kekerasan macam apa yang hendak kalian lakukan terhadap diriku!" Mendengar kata-kata dan melihat sikap penuh tantangan ini, lima orang penjaga menjadi marah.

Mereka berlima maju dan mengulur tangan hendak me-nangkap orang setengah tua itu.

Akan tetapi, begitu Siangkoan Kok menggerak-kan kedua tangannya, lima orang itu ter-dorong dan terjengkang, terguling-guling sampai beberapa meter jauhnya! Anjing yang tadinya dipegang ujung rantainya oleh seorang dari mereka, terlepas dan anjing itu menggonggong, lalu menubruk ke arah Siangkoan Kok dengan moncong dibuka lebar, memperlihatkan gigi bertaring yang runcing.

Melihat serangan anjing besar itu, Siangkoan Kok menjadi marah.

Tangan kirinya, dengan jari terbuka menyambut tubrukan anjing itu, menyambar dari samping ke arah kepala anjing.

"Krekkk!" Anjing itu terbanting roboh dan berkelojotan dengan kepala pecah.

Lima orang penjaga itu terkejut dan mereka sudah mencabut golok masing--masing sambil berloncatan berdiri.

Akan tetapi, ketika Siangkoan Kok menggerak-kan kakinya, tubuhnya berkelebat ke depan, kakinya dan tangannya bergerak dan lima batang golok itu beterbangan lepas dari tangan pemegangnya.

"Apakah kalian ingin mampus seperti anjing itu?" bentaknya dan sekali tangan kirinya meraih, dia sudah mencengkeram baju di tengkuk Lurah So.

"Kalau permintaanku yang pantas itu tidak dituruti, aku akan membunuh Lurah So sekeluarganya, dan membakar rumah ini.

Kalau ada penghuni dusun ini berani melawanku, akan kubunuh mereka semua!" Dia melepaskan lagi cengkeramannya dan Lurah So dengan muka pucat lalu me-nyuruh para penjaga itu mundur, kemudi-an dia membungkuk dan memberi hormat kepada Siangkoan Kok.

"Maafkan kami....

karena tidak tahu kami telah berani membangkang perintah Tai-hiap (Pendekar Besar)." "Cukup sudah! Cepat sediakan yang kupinta tadi.

Kamar terbaik, mandi air hangat, lalu makan malam yang meriah dilayani wanita-wanita muda dan cantik!" "Silakan, Taihiap....

silakan, biar Taihiap mempergunakan kamar kami sendiri.

Silakan!" Dengan langkah lebar Siangkoan Kok memasuki rumah lurah itu, diiringkan Lurah So yang masih ketakutan.

Lima orang penjaga membawa pergi bangkai anjing dan dengan ketakutan mereka menceritakan apa yang terjadi di rumah Lurah So kepada penghuni dusun.

Semua orang dusun dicekam ketakutan, akan tetapi mereka tidak berdaya, takut untuk melakukan sesuatu karena keselamatan keluarga Lurah So telah dicengkeram tamu aneh itu.

Terpaksa Lurah So melayani tamunya, memberikan kamarnya sendiri kepada Siangkoan Kok, menyuruh pelayan me-nyediakan air hangat untuk mandi dan memerintahkan juru masak untuk me-nyembelih ayam dan bebek, membuat masakan dan mempersiapkan makan ma-lam sebaik mungkin untuk tamu aneh yang amat ditakuti itu.

Diam-diam dia menyuruh puterinya pergi meninggalkan rumah, mengungsi ke mana saja agar jangan sampai diganggu tamu itu.

Sementara itu, pada sore hari itu juga, seorang gadis berusia delapan belas tahun lebih juga menuruni lereng Kwi--san.

Gadis ini cantik jelita, dengan wajah yang bulat telur, kulitnya putih kemerah-an, mata lebar dan sinarnya tajam, hi-dungnya mancung dan mulutnya selalu terhias senyum yang amat manis karena ujung bibirnya dimeriahkan lesung pipit.

Dari pakaiannya yang serba merah, mu-dah diduga siapa adanya gadis jelita ini, apalagi kalau nampak sebatang suling berselaput emas terselip di pinggangnya.

Ia adalah Si Bangau Merah Tan Sian Li! Seperti telah kita ketahui, gadis perkasa ini hadir pula bersama ayah ibunya di dalam pesta ulang tahun dan pertemuan keluarga di rumah Suma Ceng Liong.

Diam-diam ia kecewa karena tidak me-lihat Yo Han di sana, kemudian terjadi pengacauan yang dilakukan Eng Eng dari Pao-beng-pai.

Hal ini dijadikan alasan oleh Sian Li untuk meninggalkan ayah ibunya dengan diam-diam di rumah Suma Ceng Liong, meninggalkan surat untuk ayah ibunya bahwa ia pergi untuk mem-bantu Yo Han mencari puteri Sim Houw, yaitu Sim Hui Eng, dan juga untuk me-nyelidiki Pao-beng-pai yang memusuhi tiga keluarga besar.

Karena tidak tahu ke mana Yo Han pergi, maka Sian Li mencari tanpa tuju-an tertentu.

Ke manapun ia pergi, ia bertanya-tanya tentang pendekar yang berjuluk Sin-ciang Tai-hiap (Pendekar Tangan Sakti), namun tidak pernah me-nemukan orang yang dapat menunjukkan di mana adanya pendekar yang dicarinya itu.

Akhirnya, ia menuju ke Bukit Setan untuk menyelidiki Pao-beng-pai.

Dalam perjalanan menuju ke sanalah ia men-dengar akan penyerbuan pasukan peme-rintah terhadap gerombolan pemberontak itu, mendengar betapa Pao-beng-pai di-basmi oleh pasukan pemerintah.

Namun, ia tetap pergi ke sana dan berhasil naik sampai ke Lembah Selaksa Setan, melihat betapa bekas sarang Pao-beng-pai telah menjadi puing karena dibakar oleh pasukan pemerintah.

Sian Li sama sekali tidak tahu bahwa ketika dia meninggalkan lembah itu, di lembah sebelah bawah, terjadi perkelahi-an antara Siangkoan Kok dan Cu Kini Giok yang kemudian dibantu oleh Ouw Seng Bu.

Hanya beberapa jam selisihnya ketika ia melewati lembah itu.

Ia terus menuruni lembah dan ketika tiba di kaki bukit, ia hendak menuju ke dusun yang tadi dilihatnya dari lembah terakhir.

Pada saat itu memasuki hutan kecil yang berada di kaki bukit, untuk menuju ke dusun di seberang hutan, tiba-tiba terdengar suara orang memanggilnya.

"Nona Tan Sian Li....!!" Sian Li terkejut, menghentikan lang-kahnya dan membalikkan tubuhnya me-mandang.

Segera ia mengenal pemuda yang datang berlari-lari menghampirinya itu.

"Twako (Kakak) Gak Ciang Hun....!" serunya girang dan juga heran sekali.

Terakhir ia berjumpa dengan pemuda itu di rumah Suma Ceng Liong ketika diada-kan pertemuan antara tiga keluarga be-sar.

Post a Comment