Siangkoan Kok mengamati pemuda itu.
Dia seorang yang berpengalaman dan dari suara tawa pemuda itu tadi saja, dia pun dapat menduga bahwa pemuda ini bukan orang lemah.
Akan tetapi ka-rena dia tidak mengenalnya, maka dia memandang rendah.
"Engkau sudah tahu namaku, mengapa masih berani lancang mencampuri urusan-ku?" bentaknya.
"Siapa engkau?" "Namaku Ouw Seng Bu dan seperti juga engkau, aku seorang pengcu (ketua) pula.
Aku adalah pangcu dari Thian-li--pang." "Bohong!" Siangkoan Kok membentak marah.
Sementara itu, lima orang bekas anak buahnya kini sudah memegang golok masing-masing dan siap untuk membantu ketua mereka kalau diperintahkan.
Ada-pun Kim Giok, walau tidak mengenal siapa pemuda itu, akan tetapi di dalam hatinya ia sudah condong berpihak ke-padanya sehingga kalau sampai pemuda itu terancam bahaya, tanpa diminta pun ia pasti akan membantunya.
"Ha-ha-ha, orang muda.
Jangan eng-kau mencoba untuk membohongi aku.
Kaukira aku tidak tahu siapa ketua Thian--li-pang" Ketuanya adalah Lauw Kang Hui, dan pemimpin besarnya adalah Sin-ciang Tai-hiap Yo Han.
Bukankah begitu" Engkau ini, orang bernama Ouw Seng Bu tidak pernah dikenal.
sebagai ketua Thian--li-pang!" Seng Bu tersenyum dan menggeleng kepala.
"Itu menandakan bahwa Pao-beng--pai yang sudah hancur tidak lagi pandai meneliti keadaan di dunia kang-ouw.
Eng-kau agaknya tidak tahu, Pangcu, bahwa Lauw-pangcu dari Thian-li-pang telah tewas dan akulah yang menjadi penggantinya.
Adapun Yo Han, ah, dia bukan orang Thian-li-pang dan dia tidak mem-punyai urusan apa pun dengan Thian--li-pang." Siangkoan Kok masih sangsi, akan tetapi karena dia memang tidak tahu perkembangan di dunia kang-ouw, maka dia tidak membantah lagi.
"Kalau engkau benar ketua Thian-li-pang, itu pun tidak memberi hak kepadamu untuk mencampuri urusanku! Nah, mau apa engkau datang ke sini?" "Pangcu, aku mendengar bahwa Pao--beng-pai diserbu pasukan pemerintah.
Begitulah jadinya kalau kita tidak mau bekerja sama antara perkumpulan pe-juang.
Aku datang hendak mengulurkan tangan kepadamu, mengajakmu bekerja sama.
Thian-li-pang sejak dahulu terkenal sebagai perkumpulan pejuang yang gigih.
Beberapa kali kami sudah menyusup ke istana dan biarpun belum berhasil, namun nama kami cukup ditakuti.
Akan tetapi setelah tiba di sini, markas Pao-beng--pai sudah hancur, dan aku melihat Pang-cu bahkan bertanding melawan seorang gadis muda.
Siapakah Nona ini dan meng-apa pula bertanding melawan Pangcu?" "Huh, ia berani berkeliaran di sini dan memukul anak buahku!" kata Siangkoan Kok dengan singkat karena dia tidak meng-hendaki orang luar mencampuri urusannya.
Akan tetapi Seng Bu yang amat tertarik kepada gadis cantik manis yang juga lihai ilmu pedangnya itu, kini sudah menghadapi Kim Giok lalu mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat.
"Nona sudah mengenal namaku.
Aku Ouw Seng Bu, ketua Thian-li-pang dan kalau boleh aku bertanya, siapakah Nona dan mengapa bertanding melawan Pangcu dari Pao-beng-pai yang amat lihai?" Kim Giok cepat membalas penghormat-an itu dengan senyum ramah, lalu ia men-jawab, "Namaku Cu Kim Giok dan aku sedang merantau untuk meluaskan penga-laman.
Ketika tiba di sini aku mendengar bahwa Pao-beng-pai dibasmi pasukan pe-merintah, maka aku sengaja hendak me-lihat bekas-bekasnya di sini.
Tiba-tiba muncul lima orang itu yang hendak me-rampok dan bersikap kurang ajar kepada-ku.
Aku menghajar mereka.
Lalu muncul Pangcu dari Pao-beng-pai ini yang me-maksaku untuk bertanding." Mendengar ini, Seng Bu kembali meng-hadapi Siangkoan Kok, "Aih, Pangcu se-mestinya malu terhadap Cu-siocia (nona Cu) ini.
Anak buahmu yang bersalah, sepantasnya engkau yang minta maaf kepadanya dan menghukum anak buahmu, bukan malah menantang Cusiocia untuk bertanding." katanya mencela.
Wajah ketua Pao-beng-pai menjadi merah sekali dan matanya mencorong tajam.
"Ouw Seng Bu, engkau ini siapa berani berkata seperti itu kepadaku" Kalau engkau mengulurkan tangan ingin bekerja sama dengan aku, setidaknya aku tentu harus tahu orang macam apa eng-kau ini dan apakah engkau pantas duduk sejajar dengan aku!" "Hemmm, sudah kudengar bahwa Si-angkoan Kok adalah seorang yang berwatak angkuh dan selalu memandang rendah orang lain.
Baiklah, akan tetapi bagaimana kalau aku mampu menandingi ilmu silatmu?" "Ouw Seng Bu, kalau engkau dapat mengalahkan aku, barulah aku mau men-jadi sekutumu, bahkan aku akan membantu Thian-li-pang.
Akan tetapi, kalau engkau tidak mampu menandingi aku, engkau harus cepat berlutut minta ampun kepadaku dan tidak mencampuri urusanku lagi.
Kalau engkau bukan ketua Thian--li-pang, tentu akan kubunuh engkau." "Bagus! Nah, aku sudah siap, Siang-koan Pangcu.
Akan tetapi karena aku ingin bersahabat denganmu, bukan ber-musuhan, maka sebaiknya kita bertanding dengan tangan kosong saja." "Baik, sambutlah seranganku ini, orang she Ouw!" setelah berkata demikian, Si-angkoan Kok yang sudah menyimpan pedangnya, menerjang dengan pukulannya yang mengandung tenaga sin-kang yang dahsyat.
Karena dia ingin cepat-cepat mengalahkan lawannya, maka dia mengerahkan tenaganya yang disebut Kang--kin Tiat-kut (Otot Baja Tulang Besi) dan begitu kedua tangan kakinya bergerak menggunakan ilmu ini, terdengar suara berkerotokan pada buku-buku tulangnya! Lima orang anak buah Pao-beng-pai biarpun masih menderita nyeri, kini me-mandang dengan wajah gembira karena mereka merasa yakin bahwa ketua me-reka yang sakti akan dapat mengalahkan pemuda itu pula.
Akan tetapi, Kim Giok memandang dengan sinar mata khawatir.
Pemuda itu jelas muncul dan membantu-nya, bahkan berani menegur bekas ketua Pao-beng-pai untuk membelanya.
Dan ia tahu betapa lihainya Siangkoan Kok, apa-lagi kini mengeluarkan ilmu yang demi-kian mengerikan.
Ia tidak dapat maju membantu, karena satu di antara pesan yang ditekankan ayah bundanya adalah agar ia menjadi seorang yang gagah dan pantang untuk bertindak curang.
Dan maju melakukan pengeroyokan merupakan suatu perbuatan yang curang dan ia tidak mau melakukannya.
Maka ia hanya men-jadi penonton yang risau, dan hanya siap untuk melindungi kalau pemuda she Ouw itu terancam maut.
Menghadapi serangan yang amat dah-syat dari Siangkoan Kok, Ouw Seng Bu juga maklum bahwa kalau dia memper-gunakan ilmu yang dipelajarinya dari Lauw Kang Hui saja, dia tidak akan menang.
Bahkan mendiang gurunya itu, Lauw Kang Hui, masih kalah setingkat dibandingkan bekas ketua Pao-beng-pai ini.
Akan tetapi dia sama sekali tidak merasa gentar.
Dia sudah cepat menge-luarkan ilmu rahasianya, yaitu Bu-kek Hoat-keng! Begitu kedua tangannya ber-gerak, terdengar bunyi aneh bersiutan dan angin pukulan kedua tangannya mendatangkan angin berpusing.
Dengan mudah saja dia menangkis lima kali pukulan lawan yang datang beruntung susul me-nyusul, kemudian dia pun membalas de-ngan cepat dan tak kalah dahsyatnya! Siangkoan Kok terkejut bukan main.
Sedikit banyak, dia sudah mengenal ilmu andalan dari Lauw Kang Hui.
Biarpun dia belum dapat menirukan, namun dia sudah banyak mendengar dua ilmu andalan Thian--li-pang, yaitu Tok-jiauw-kang dan Kiam--ciang.
Dia akan mengenal dua ilmu ini.
Dan karena mengenal, setidaknya dia akan lebih mudah menghadapi dan me-lawannya.
Akan tetapi, gerakan pemuda ini sama sekali tidak dikenalnya! Dia hanya merasa ada angin berpusing datang menyambar dan dia harus mengerahkan seluruh tenaga untuk menyambutnya.
"Plak! Desss....!!" Siangkoan Kok berjungkir balik ke belakang, dan setelah membuat salto tiga kali barulah dia ter-bebas dari dorongan tenaga yang tentu akan membuatnya terjengkang kalau saja dia tidak membuat salto tadi.
Seng Bu sendiri terkejut dan kagum melihat gin-kang yang diperlihatkan la-wan.
Akan tetapi dia menyerang terus dan sekali ini, Siangkoan Kok yang maklum bahwa lawan memiliki tenaga yang mujijat, tidak mau mengadu tenaga se-cara langsung, melainkan menggunakan kecepatan gerakan untuk menghindar dan membalas serangan itu dengan sepenuh tenaga.
Terjadilah perkelahian yang amat hebat! Beberapa kali kalau kedua tangan mereka saling bertemu, keduanya ter-dorong mundur.
Tanpa diketahui orang lain, terjadi perubahan pada diri Seng Bu, seperti biasa kalau dia memainkan ilmunya itu.
Sepasang matanya menjadi liar, senyumnya menjadi dingin mengeri-kan dan beberapa kali dia mengeluarkan suara tawa yang aneh.
"Siangkoan Kok, engkau takkan me-nang melawanku!" beberapa kali dia me-ngeluarkan ucapan ini yang didahului dan diakhiri suara tawa ha-ha-hi-hi-hi seperti orang gila.
Hal ini membuat Siangkoan Kok merasa penasaran dan semakin ma-rah.
Dia sudah mengerahkan semua jurus yang menjadi andalannya, namun dia tidak mampu menembus benteng per-tahanan lawan, biarpun lawannya juga belum mampu merobohkan atau mendesaknya.
Mereka memiliki tingkat yang seimbang! "Ouw Seng Bu, mari kita bertanding dengan senjata!" bentaknya sambil meloncat ke belakang dan mencabut pe-dangnya.
Seng Bu hanya terkekeh dan melihat pemuda itu agaknya tidak membawa senjata, Kim Giok cepat menghampiri dan menyodorkan pedangnya.
"Kau pergunakanlah pedangku ini!" Ouw Seng Bu memandang gadis itu dengan matanya yang mencorong liar sehingga Kim Giok terkejut, akan tetapi pemuda itu menerima juga Koai--liong-kiam, lalu menghadap siangkoan Kok dan tertawa.
"Heh-heh-heh, Siangkoan Kok.
Perlu-kah diteruskan" Kalau aku membiarkan saja pun engkau akan mampus.
Lihat baik-baik kedua telapak tanganmu." Mendengar ini, Siangkoan Kok cepat memeriksa kedua tangannya dan wajah-nya berubah pucat.
Kedua telapak tangan-nya berwarna menghitam dan terasa panas bukan main! "Kau....! Aku....
keracunan....!" kata-nya.
"Ha-ha-ha, dalam waktu beberapa jam saja, kalau tidak kusedot kembali hawa beracun itu, engkau akan mati.
Perlukah dilanjutkan" Atau engkau mengaku kalah?" Siangkoan Kok menarik napas panjang dan menyarungkan pedangnya.
Dia harus mengaku kalah, kalau ingin hidup! "Baik-lah, Ouw-pangcu.
Aku mengaku kalah.